
.
.
.
Samar-samar lelaki bermata coklat hangat itu mengikuti dua orang yang terlihat aneh. Masuk ke sebuah rumah yang kini menampilkan seorang lelaki yang terlihat tidak sadarkan diri. Wajah lelaki itu terlihat buram. Dua orang wanita yang satu menggenggam tangan sang lelaki. Sedangkan yang satu lagi terlihat menyalakan lilin di beberapa sudut di ruangan.
"Apakah sudah bisa di mulai?" tanya wanita cantik yang terlihat tidak asing di matanya.
"Hem." Jawab wanita dengan jas putih kebesaran. Terlihat wanita yang mengangguk itu mendekatkan bibirnya ke daun telinga sang lelaki.
"Lucas Sandoro. Kau akan menghapus kenangan indah di otakmu. Ingat kau hanya mencintai Bella. Dia adalah wanita yang kau cintai. Kau tidak bisa melihat nya bersedih sedikitpun. Kau begitu mencintai
Kau mengerti? Jika 'Iya' anggukan kepalamu!" titahnya.
Terlihat lelaki yang tertidur itu mengangguk. Wanita cantik itu tersenyum. Sedangan wanita yang memberikan perintah masih memberikan beberapa masukan. Sugesti yang akan langsung di proses oleh otaknya.
Kepala nya terasa terputar. Dunia buram itu seketika menghilang.
Deru napas kasar menyentak kesadaran lelaki yang masih memakai perban di wajahnya. Ia membuka mata menyapu sekitar ruangan. Manik mata sipit itu membulat sempurna kala menoleh kesamping. Ia hapal betul dengan siapa yang meletakkan kepalanya di tempat tidur. Dan menggenggam tangannya.
"Dea!" panggilnya dengan serak.
Merasa ada pergerakan di tangannya. Dea meraih kesadarannya. Ia menegakkan kepalanya. Menatap wajah yang kini di perban. Cukup lama Dea menatap wajah yang masih tersembunyi.
"Kenapa kau di sini?" tanya dengan nada khawatir.
Dea melepaskan genggaman nya. Ia malah memangku tangannya di depan dada. Menatap tajam pada lelaki Sandoro yang sebentar lagi harus menunjukkan jati dirinya. Sudah payah, Dea menyembunyikan nya. Namun apa daya, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan tergelincir juga bukan.
"Kau marah?" tanya Lucas dengan nada lirih. Kala tidak mendapatkan jawaban dari Dea. Dari wanita yang ia cintai.
Dea menghembuskan napas kasar. "Tidak. Ini keputusan mu bukan?" jawab Dea pada akhirnya,"Namun apakah kau sanggup menerima apa yang akan terjadi nantinya?" tanya Dea dengan manik mata menelisik.
Bibir Lucas tertarik ke atas. Ia begitu mendambakan wanita yang kini menatap menyelidik ke arahnya."Aku siap menjadi siapapun. Asalkan kau di sampingku." Ujarnya dengan meraih tangan Dea. Menggenggamnya dengan erat.
Dea tidak ingin kehilangan Lucas. Tidak ingin ada yang merebut lelaki ini lagi. Tidak untuk ketiga kalinya.
"Apa kau akan siap di panggil Lucas? Bukan Hiro?" tanya Dea memastikan.
"Ya. Aku siap, tapi entah kenapa lama-lama kelamaan. Aku merasakan nama itu tidak asing di telinga ku," ujar Lucas dengan senyum selengehen.
Dea berdiri dari posisi duduknya. Baekhyun terlihat sigap memberikan ruang di ranjangnya. Bergeser agar Dea bisa duduk di atas ranjang yang cukup sempit untuk dua orang. Dea tersenyum lebar. Ia merebahkan tubuhnya di samping Lucas. Lelaki Sandoro itu mengikuti jejak Dea. Melepaskan tangan yang sempat ia genggam. Malah memeluk Dea dengan erat. Dea menyelusup kan wajahnya ke dalam dada bidang Lucas.
__ADS_1
Di balik pintu Leo mendesah kasar. Ia mengusap puncak kepalanya. Yang masih terasa berdenyut, ia tidak menyangka jika Dea Amelia Wijayanto begitu gila. Dea menarik dan memukuli kepalanya berulangkali. Saat ia mendapat fakta. Jika Leo mengoperasikan wajah Lucas seperti semula. Cukup menyebalkan di mata Leo.
Ia merasa kapok berurusan dengan Dea Amelia Wijayanto. Ibu tiga anak itu seperti singa lapar saja. Begitu menyeramkan di matanya. Awalnya ia berpikir Dea akan mengamuk pada Lucas. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Wanita itu malah terlihat Iba pada Lucas. Dan berakhir tidur satu ranjang di rumah sakit.
"Wah! Aku pikir akan ada antraksi yang mendebarkan. Tapi ini apa? Tidak ada yang menarik." Kesal Leo memilih meninggalkan kamar Lucas.
Ia menggerutu di lorong rumah sakit. Masih kesal pada Sepupu nya itu. Ia berharap ada Sera di sini. Wanita itu pasti membelanya apapun kondisinya. Dea sangat berani saat tidak ada Sera. Terkadang Leo berpikir sepupu nya siapa sebenarnya. Sera atau dirinya? Sampai Dea hanya menghormati Sera. Tapi padanya galaknya minta ampun.
Di lain tempat, rumah besar Sandoro haru biru. Santi terlihat memeluk tubuh lelaki yang mengakui dirinya sebagai Lucas Sandoro dengan banyak kebohongan. Air mata Santi masih mengalir deras. Sedangkan Tuan Sandoro terlihat tak kalah harunya. Meski marah pada Lucas Sandoro. Namun lelaki yang masih terlihat tampan di usia tuanya itu begitu mencintai putranya.
"Mama tidak menyangka jika kau masih hidup sayang!" Seru Santi mengelus pelan wajah Billi.
"Aku juga Ma! Aku tidak tau saat aku sadar aku sudah berada di tempat asing. Dan beruntung aku cepat meraih ingatkan ku," bohong Billi dengan wajah yang begitu mendramatisir.
"Puji Tuhan! Kau masih bisa bertemu dengan kami nak!" ujar Tuan Sandoro dengan penuh syukur.
Diam-diam Billi tersenyum sinis."Kalian bahagia karena putra kalian kembali hidup? Namun kenapa kalian tidak sedih saat membuang ku?" pertanyaan yang hanya dapat di lontarkan di dalam sanubari. Billi memastikan senyuman nya.
***
Suasana terasa begitu aneh. Setelah dramanya, Billi bertemu dengan ketiga anak dari adiknya. Lalu berakhir di ruangan kamar bersama Dea Amelia Wijayanto. Dea, wanita cantik itu tidak banyak bicara. Ia terlihat begitu aneh, baik cara menatap, berbicara sampai bertingkah. Tidak seperti seorang wanita yang bahagia melihat mantan suaminya kembali hidup.
"Siapa kau sebenarnya?"
Akhir nya kata tanya terlepas juga dari mulut Dea. Ia menatap awas namun kesan sinis tidak dapat di hindari. Billi terkekeh pelan melihat bagaimana adik Iparnya menatap nya.
Dea kini yang mengantikan Billi terkekeh. Dea Amelia Wijayanto, wanita yang sudah hidup sangat lama dengan Lucas. Meskipun lelaki di depannya kini terlihat sangat mirip dengan Lucas. Hingga tidak ada celah yang mampu membedakan Lucas yang ini dan Lucas yang asli. Namun sayang! Sungguh sangat di sayangkan jika Dea sangat tau apa peda merak.
Lucas Sandoro lelaki yang di cintai memiliki pandangan mata yang hangat dan teduh. Namun lelaki yang duduk santai di depannya ini tidak begitu. Meski memiliki netra coklat yang sama seperti milik Lucas. Akan tetapi lelaki di depan nya ini cenderung tajam dan menusuk. Bahkan auranya sangat berbeda. Yang sangat penting dari pada itu semua adalah, jantung Sohyun tidak berdebar keras. Tidak ada debaran aneh di sana. Melainkan debaran biasa.
"Seperti nya kau benar masih marah padaku sayang!" seru Billi dengan wajah yang kini berubah sendu.
Dea memangku tangan di depan dada. Menatap lama lelaki di depannya. Ia terlihat memindai, apakah lelaki di depannya ini operasi? Apa yang di inginkan oleh Lucas palsu ini? Siapa yang mengutusnya? Begitu banyak pertanyaan yang berputar-putar di otak Dea.
Billi berdiri dari posisi duduk nya. Menghampiri Dea, tak segan-segan ia mempersempit jaraknya dan Dea.
"Maafkan aku sayang. Aku tau aku bersalah. Namun satu hal yang pasti aku sangat mencintaimu. Dan berharap akan bisa bersamamu lagi. Bersama dengan anak-anak kita," ujarnya dengan wajah memelas dan nada yang mengiba.
Dengan perlahan Dea mendorong dada bidang Billi. Memberikan jadi antara mereka."Aku butuh waktu untuk mempercayai ini semua nya. Dan untuk kembali maaf, aku tidak bisa," ujar Dea dengan tegas."Dan maaf saja, kau tidak bisa membodohi aku Lucas palsu. Kau bukan Lucas ku dan tidak akan pernah bisa mempengaruhi aku," lanjut hati kecil Dea.
Billi hanya memberikan senyuman lembut. Meski pandangan matanya tidak menampilkan itu."Manarik! Bagaimana bisa ia tidak gentar sama sekali? Apakah Lucas menyakitinya terlalu dalam. Hingga ia tidak merasa apa-apa saat aku mendekati nya seperti tadi?" tanya hati kecil Billi. Lelaki bermata tajam itu masih memperhatikan Dea.
Dea berdiri dari duduknya. Ia membalik kan tubuh."Aku akan keluar. Kau boleh mendekatkan dirimu pada anak-anak," ujar Dea sebelum melangkah keluar dari ruangan.
__ADS_1
Billi menatap pintu punggung belakang Dea dengan senyum Evil nya.
***
Beberapa perawat dan Leo berdiri di samping ranjang. Dengan telaten Leo memotong dan memutar perban. Sekarang adalah hari di mana Lucas Sandoro kembali seperti dirinya semula. Dea menggenggam tangan Lucas. Dengan harap cemas.
"Wah! Imut sekali! Dan hasilnya begitu mulus," seru salah satu perawat yang mendampingi Leo. Kala perban sudah terbuka sempurna.
DEG!
DEG !
DEG !
Jantung Dea terdengar begitu keras. Wajah itu terlihat membuat jiwanya semakin galau. Di satu sisi ia merindukan wajah imut yang kini terlihat. Namun di sisi lain, ia takut. Sangat ketakutan. Ia tidak ingin ada yang mengenali Lucas. Meskipun Lucas palsu tengah memerankan perannya dengan apik.
"Bagaimana Dea? Bagus bukan hasil karyaku?" tanya Leo bangga.
Perawat lain memberikan kaca pada Lucas. Lelaki Sandoro itu mengusap wajahnya. Begitu mulus tanpa cacat. Entah kenapa wajah yang kini ia dapat membuat ia merasa begitu aneh. Tidak ada perasaan asing di hati kecilnya.
"Dea!!" Panggil Leo menyenggol pergelangan tangan Dea.
Wanita itu melamun di tengah menatap wajah Lucas. Dea menoleh ke arah sang sepupu."Iya," jawabnya asal.
Leo memutar bola matanya malas. Perawat di memberikode melalui mata. Untuk meninggalkan mereka bertiga saja di sana.
"Terimakasih Leo! Ini begitu bagus," puji Lucas pada hasil wajahnya.
Wajah Leo langsung bersinar mendapatkan pujian dari Lucas. Dea hanya mendesah letih."Kau kenapa masih di sini? Sana keluar!" usir Dea membuat senyum lebar penuh kebanggaan milik Leo patah begitu saja.
"Hei!! Kau begitu kasar. Tidak ada terimakasih nya padaku!" teriak Leo tak terima.
"Keluar atau—"
"Ya. Aku keluar. Dasar Singa betina!" potong Leo kala mendapatkan tatapan yang mematikan dari Dea.
Dea terkekeh pelan melihat internaksi ke duanya. Dea masih memasang wajah sangar kala Leo menoleh kebelakang di sela langkah nya.
"Dea! Bagaimana? Kau suka?" tanya Lucas mengalihkan pandangan dari punggung belakang Leo ke arah Lucas.
Dea tersenyum lembut."Ya, aku suka," ujar Dea lembut,"Lebih tempat nya aku suka kau apa adanya. Dengan wajah apapun. Asalkan itu kamu!" Lanjut Dea meletakan telapak tangan sebelah kanannya di sisi wajah kiri Lucas.
Mengusap nya dengan perlahan. Membuat Lucas menutup ke dua manik matanya. Menikmati elusan Dea. Ke dua manik mata coklat hangat di tutupi oleh kelopak mata. Saat itu diam-diam. Air mata Dea mengalir. Ia takut saat ingatan Lucas kembali. Ia takut jika kelak Lucas akan menanyakan di mana gadis ular itu. Dea masih tidak tau apa yang terjadi pada Lucas. Ia tidak tau jika lelaki yang kini masih memejamkan mata mendapatkan hipnotis sugesti.
__ADS_1
Hingga ia masih bermimpi buruk. Takut seandainya jika Lucas kembali mengkhianati nya. Bersama wanita ular itu atau wanita lain.
"Aku sangat mencintaimu, Dea!" Ucap Lucas ketika membuka perlahan ke dua kelopak matanya. Dengan sigap Dea menarik leher belakang Lucas. Menyembunyikan wajahnya dengan memeluk Lucas. Ia tak ingin Lucas bertanya kenapa ia menangis.