
.
.
.
.
Orang-orang menatap ngeri ke pada gadis cantik yang terlihat begitu menakutkan. Rambut yang acak-acakan, wajah pucat, dengan mata merah. Gadis itu berteriak pada orang-orang yang di temui di rumah sakit itu.
"Kemana anak ku?! Kau mengambilnya huh!" Teriaknya mencekal tangan orang-orang yang ada di sana.
"Yaks! Dasar gila!" Teriak wanita cantik itu lalu mendorong Bella sampai tersungkur.
Gadis itu kembali berdiri membuat beberapa orang mudur takut di amuk."Gadis ******! Kesini kau! Kau mau merebut anakku kan! Kembali kan putraku. ******!" Teriak Bella mencoba menarik rambut yang lain.
Untung keamanan rumah sakit dengan beberapa suster datang. Hingga Bella dapat di lumpuhkan. Tak jauh dari tempat Yaitu berada wanita tua itu tertawa pelan. Ah! Betapa leganya melihat bagaimana gadis itu gila. Harusnya memang begitu bukan? Tapi kenapa Sena masih merasa kurang ya?
Apa kehilangan anak saja kurang sebagai hukuman? Entahlah. Mbok Siti merasa masih kurang. "Seperti kalau dia mendekam di Rumah Sakit Jiwa sudah cukup belum ya?" tanya nya pada diri sendiri.
Wanita tua itu menggeleng. Lucas harus menceraikan nya bukan. Agar Bella merasakan penderitaan yang sempurna, kehilangan putra yang di kandung dan kehilangan lelaki yang di cintai? Wah. Tangan wanita tua itu mulai terasa gatal.
Getar ponsel di tas sandangnya membuat wanita tua itu merogoh tasnya. Mengeluarkan benda pipih yang ada. Dahinya berlipat kala membaca pesan yang ia dapatkan. Lama berpikir membuat dahi seribu kerutan itu semakin mengerut. Sebelum ia tau apa maksudnya. Dengan langkah lebar, wanita paruh baya itu melangkah menuju pintu keluar dari Rumah Sakit besar itu.
Sedangkan di lain tempat. Wanita cantik bermata bulat itu merasa pening saja. Bagaimana tidak? Saat ini Ibu mertua nya berlutut di depannya. Wanita tua itu menangis. Membuat Dea merasa sakit kepala.
"Mama mohon Dea. Kali ini saja, hanya kali ini saja. Tolong putra Mama, kau juga seorang Ibu. Mama mungkin egois karena meminta hal ini padamu. Tapi Mama tak bisa melihat Putra Mama seperti itu!" Pinta Santi dengan mengusap telapak tangan yang terlihat mengerut.
"Jangan seperti ini Ma! Mama tak pantas melakukan hal seperti ini." Ucap Dea membantu Santi berdiri dari posisi berlutut nya.
Dea membawa Santi duduk di sofa Apartemen nya. Wanita paruh baya itu menangis. Ia begitu panik saat tau Lucas masuk Rumah Sakit. Dan pingsan saat tau penyakit sang putra. Sebagai Ibu, Santi bisa egois. Ingat! Ibu adalah wanita yang bisa melakukan apa saja untuk anaknya. Berlutut berapa hari pun ia rela. Asalkan sang putra bisa baik-baik saja.
"Tolong Lucas, Dea!" Ujar Santi meraih tangan sang menantu. Menggenggamnya sangat kuat.
"Ma!" panggil Dea lirih.
Tak jauh dari ruangan tamu. Jun mengintip dan mencuri dengar apa yang membuat neneknya seperti itu. Namun yang dapat di tangkap jika Ayah nya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Entah kenapa tiba-tiba hatinya terasa tak enak.
Ok! Dia membenci Ayahnya. Namun tidak ada niatan agar Ayahnya dalam bahaya. Bencinya seorang anak tidak dalam meminta kematian bagi orang tua yang mereka benci. Namun jika anak yang benci sampai ingin orang tuanya mati. Maka dia bukanlah seorang anak!!!
"Hanya kau yang bisa memberikan Lucas semangat. Mama mohon Dea. Kali ini yang terakhir kalinya. Ini pertama kalinya Mama meminta hal yang seperti ini padamu. Selama kau menjadi menantu Mama." Pinta Santi dengan mengiba. Wanita itu bahkan merendahkan kepalanya. Yang tak seharusnya di lakukan seorang mertua pada menantu yang harus nya menghormati mertua.
__ADS_1
Dea melepaskan genggaman tangan Santi lalu membantu wanita tua itu menegakkan tubuhnya."Aku akan membantu semampuku Ma!" pada akhirnya Dea menyerah.
Jika Lucas mungkin Dea bisa menolak. Namun saat wanita tua ini yang meminta dengan dalil sesama Ibu. Apakah ia bisa menolak meski dengan cara yang halus. Jawaban sudah pasti tidak."Terimakasih Dea!" Ujar Santi dengan air mata yang mengalir deras.
Ke dua Ibu jari Dea menyapu lembut air mata yang mengalir di ke dua pipi Ibu mertua nya."Jangan menangis Ma!"
***
"Apa-apaan ini!" teriak Mutia dengan wajah tak suka.
Jackson mengusap punggung belakang sang istri. Wanita cantik itu langsung menuju ke diaman Dea dan Lucas. Meninggalkan putri mereka di rumah Ibunya. Hanya untuk datang melabrak Bella dan Lucas. Namun yang ia dapatkan adalah rumah yang kosong. Dan ke datang wanita tua yang entah dari mana.
"Di mana Dra sekarang?" tanya Mutia dengan nada marah.
"Nyonya Dea ada di Apartemen baru yang dia beli," jawab Mbok Siti.
"Bodoh! Bagaimana ia pasrah saja. Harusnya dia jambak rambut nya dan bertahan. Seperti dia menghadapi ku. Apa anak itu tidak belajar. Bagaimana bisa ia meninggal Rumah pada ****** licik itu!" omel Mutia dengan wajah memerah.
"Mungkin ini adalah keputusan yang baik untuk Dea, sayang!" nasehat Jackson dengan lembut.
"Baik apa nya? Jika dia ingin meningkatkan Lucas. Maka tinggal kan saja. Jangan seperti ini, bagaimana dia menahan hinaan orang-orang padanya," bantah Mutia dengan nada yang kini turun berapa oktaf.
Wanita itu menangis. Terbukti tangan itu menyeka kasar air mata yang keluar. Awal nya ia ingin memberikan Dea dan keluarga mereka kejutan. Jika Mutia bisa mendapatkan keturunan dengan pengobatan yang panjang dan usaha yang keras. Lalu apa yang dia dapat kan?
"Sudahlah sayang. Tenang, kau bisa darah tinggi jika marah-marah seperti ini." Bujuk Jackson mengusap punggung belakang sang istri.
Mutia menghembuskan napas kasar melalui mulut. Ia mencoba mengatur emosinya. Lalu menatap wanita paru baya yang sudah lama ia kenal."Lalu di mana ****** itu?" tanya Mutia dengan nada pelan.
"Dia ada di rumah Sakit Jakarta Hospital. Dia jatuh dari tangga hingga menyebabkan bayi di kandungan nya mati di rahim. Seperti nya di terguncang," jelas wanita tua itu.
Ada sebuah senyuman yang menakutkan terbit di wajah wanita cantik itu. Membuat Jackson selaku sang suami merasa bergidik ngeri."Lalu apa dia tak mati?"
Pertanyaan yang di lemparkan oleh Mutia membuat para Maid yang ada di sana membesar mata. Begitu juga dengan Jackson. Baru tau, Jackson. Jika seorang Mutia Wijayanto begitu kejam saat marah.
"Sayangnya belum," jawab Mbok Siti.
"Lalu di mana Lucas?" tanyanya lagi.
"Tuan berada di rumah sakit juga. Hanya saja beda Rumah Sakit," Jawab Mbok Siti.
"Berikan alamat Dea. Dan nomor kamar gadis ****** itu padaku," titah Mutia membuat Jackson hanya dapat mendesah letih.
__ADS_1
***
Erangan pelan sebelum membuka mata. Lelaki bermata coklat hangat itu menggerjab pelan. Ia menoleh ke samping, ke dua matanya terbelalak kala melihat sesosok malaikat kecil yang tidur di kursi di sebelah kanannya. Dimana posisi kepala ada di atas ranjang.
"Jun?" serunya lirih.
Anaknya datang? Apakah Lucas tidak bermimpi. Lucas merasa bulir bening bergulir begitu saja melewati celah ujung ekor matanya. Putranya tidur dengan nyenyak dengan posisi itu. Lucas melemparkan tatapan nya di jendela luar. Di mana terlihat gelap. Lalu beralih pada jam didinding. Yang menuju pukul dua belas malam.
Dengan gerakan pelan lucas duduk mencoba meraih tubuh kecil putranya. Yang sudah pasti berat. Ia mengangkatnya sampai di ranjang. Memasang pembatas ranjang dengan sangat pelan. Meski di selang infus terlihat darah yang naik akibat dari tekanan tangan yang membawa tubuh Jun ke atas ranjang.
Ia bahkan mencabut Infus. Membiarkan tangannya terasa dingin karena darah yang mengalir. Lucas menjadikan lengan ototnya sebagai bantal Jun. Lalu menyelimuti dirinya dan sang putra. Lucas begitu rindu memeluk putranya seperti ini.
"Ini pasti sangat sakit sekali saat Papa menampar mu bukan?" tanya Lucas dengan lirih. Ia menyentuh pipi kiri sang putra dengan pelan,"Maafkan Papa, maafkan Papa yang begitu jahat pada Jun. Tapi Jun tenang saja, sebentar lagi Papa akan pergi dari kehidupan Jun, Bintang dan Mama. Menyusul adik bayi, Papa tidak akan bisa lagi menyakiti Jun, Bintang dan Mama," lanjut Lucas dengan suara pecah.
Lucas tak mampu berbicara lagi. Jika tak ingin Isak tangis yang terdengar dan menganggu sang putra. Mungkin ini adalah karma baginya. Tak apa. Ia akan menerima rasa sakit ini. Lalu meninggalkan wanita yang dia cintai dan anak-anak nya. Agar tidak menyakiti mereka lagi.
Tubuh Jun terasa hangat. Tidak lelaki Bintang itu sadari. Jun juga menangis, ia terbangun saat merasa tubuhnya melayang. Ia tak ingin membuka mata. Agar Lucas tak malu. Ingin sekali Jun mengatakan pada Lucas. Ia sudah memaafkan Lucas. Dan tak ingin Lucas kemana-mana. Rasa benci memang besar. Namun rasa sayang jauh lebih besar. Hingga mampu mengalah kan rasa sakit yang Pernah di ciptakan oleh Lucas.
Di balik pintu. Santi dan Anto berdiri diam. Jika Santi menangis maka Tuan besar Sandoro hanya diam dan bungkam. Jun mengatakan pada sang nenek untuk ikut ke Rumah Sakit saat Neneknya akan keluar dari Apartemen mereka. Dan mendapatkan izin Dea saat melihat bagaimana berairnya mata sang putra.
"S-sayang!" panggil Santi pada sang suami.
Lelaki itu enggan menemui Lucas. Meski putranya sudah sekarat. Namun pada akhirnya ia juga datang."Jangan meminta yang aneh-aneh padaku!" peringat sang suami.
Santi hanya bisa mendesah letih di sela tangis nya. Ia ingat sang suami melakukan sesuatu agar Lucas bahagia dan bisa kembali sehat. Penyakit yang di dapat kan oleh Putra mereka bukanlah penyakit biasa.
***
"Kenapa kau tidak mengatakan apa-apa pada Kakak?" ujar Mutia membuat Dea mendesah letih.
"Ini bukanlah masalah besar Kak!" ujar Dea pelan.
"Bukan? CK! Kau bodoh huh! Harusnya kau menghubungi aku. Agar aku bisa menjambak rambut nya sampai botak! Mengeluarkan bayi itu dari perut nya. Hingga memberikan dirinya pelajaran!" Ujar Mutiamenggebu-gebu.
Dea terkekeh pelan mendengar penuturan kakak sepupu nya."Aku tidak ingin mempermalukan diriku sendiri Kak," ujar Dea lembut.
Mutia diam. Wanita itu meraih tangan Dea dengan erat."Maafkan Kakak Dea! Karena Kakak pertama yang berbuat seperti itu padamu. Kakak menyesal. Jika bisa membalik kembali waktu. Maka Kakak tidak akan melakukan hal gila dan rendah itu padamu Dea! Jujur Kakak malu hingga tidak bisa pulang ke Indonesia. Tapi kau begitu baik memaafkan Kakak dan membuat Kakak mendapatkan kebahagiaan yang sempurna bersama Kak Jackson!" Papar Mutia dengan wajah penuh sesal.
"Itu karena kebodohan kita, Kak! Jangan terus merasa bersalah. Tinggal lah di Internet agar Papa dan Mama tidak kesepian," ujar Dea dengan lembut.
"Kakak janji. Akan melakukan apa pun agar kau bahagia. Ingat Dea, Kakak dan yang lainnya ada padamu. Jika kau masih mencintainya pertahankan. Mereka yang mencintai mampu memberikan maaf dan bertahan. Bukalah karena mereka bodoh. Namun karena cinta sejati mampu bertahan di tengah ujian badai dan hujan batu. Cinta tak luput dari luka. Namun itulah benar-benar cinta. Jangan mengalah pada dia yang ingin milikmu menjadi miliknya. Tapi kuatlah dan hadapi mereka dengan kuat. Buktikan kau lah pemilik Baekhyun. Bukan wanita murahan itu, seperti kau menghadapi aku dulu," nasehat Mutia mendapatkan anggukan dari Dea.
__ADS_1
Wanita bermata bulat itu di tarik masuk ke dalam pelukannya. Mutia mengusap punggung belakang Dea. Ke dua nya menangis dalam pelukan."Adik mu yang tangguh!" Ucap Mutia dengan rasa bangga.