Momy? I'Am (Season 2)

Momy? I'Am (Season 2)
Chapter 30 (Season 2)


__ADS_3

Ruangan yang tertata rapi dengan beberapa berkas yang tersusun apik di atas meja, Memiliki aura yang berbeda. Kala tamu tidak di undang dengan percaya dirinya duduk di sofa. Sebelah kakinya di silang. Punggung kokohnya di sandarkan dengan begitu santai di sofa berharga fantasi itu. Lain sang lelaki maka lain pula sang wanita.


Wanita cantik itu terlihat tak suka. Ia benar-benar tidak suka dengan lelaki yang terlihat sok polos yang tersenyum menyeringai padanya. Lelaki bermata tajam itu memangku wajah nya. Terlihat menggoda namun sayang yang di goda tidak tertarik sama sekali.


Dea yang berdiri di samping jendela. Memilih menatap kendaraan yang ada di bawah sana. Ia menyembunyikan wajah jengkelnya. Namun ia tidak bisa memperlihatkan nya terlalu kentara. Lantaran ia harus ikuti sandiwara lelaki itu. Lelaki yang masih belum tau asal usulnya. Lelaki yang masih belum terbaca maunya.


Bukankah untuk bisa membaca lawan yang bersandiwara. Maka harus itu juga bersandiwara. Agar bisa dengan muda tau maksud dari sandiwara nya. Begitu pula Dea. Ia harus tau apa yang di mau dan siapa lelaki yang menjadi Mantan suami palsu nya ini.


"Dea!" panggilnya pada akhirnya.


Billi merasa jengah. Namun ia harus berperilaku manis bukan agar bisa mendapatkan hati dari wanita ini. Dea mendesah kasar. Namun membalik tubuh nya dengan senyum palsunya.


"Ya. Kak!" jawab Dea masih dengan senyum semanis mungkin.


Billi ikut tersenyum."Duduklah di samping ku. Aku ingin berbincang banyak hal dengan mu. Mengenai perusahan ini, saat aku tidak ada." Ujar Billi sambil menepuk sisi kosong di sebelah kanannya.


Dea masih memperlihatkan wajah ceria nya. Namun otak nya menerima sinyal waspada. "Apakah kau tidak mau berbincang dengan ku tentang Perusahan ini Dea?" tanya Billi yang melihat kebungkaman Dea.


"Ah! Bukan. Hanya saja aku memikirkan bagaimana dan kenapa takdir terasa begitu unik untuk kau dan aku, Kak!" bohong Dea.


Billi menampilkan senyum semenawan mungkin. Dea melangkah mendekati Billi. Ia cukup bingung, harus berbohong kah? Atau harus jujur. Karena ia takut salah berkata. Maka lawan bisa mencari celah untuk bisa masuk. Bersandiwara senatural mungkin adalah jalan satu-satunya. Agar bisa mengecoh lawan.


Di lain tempat. Lelaki berlesung pipi dengan wajah lesu terlihat jelas. Lelaki di depannya menatap aneh Chandra.


"Hei! Apakah begini caramu menyambut sepupu mu?" tegur nya dengan wajah kesal.


Chandra tersenyum tipis. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi Cafe. Lelaki bermata tajam itu menelisik wajah sepupunya di pihak Ibu.


"Apakah kau masih terjebak pada cinta pertama mu, huh?" ledek Kris. Membuat Chandra berdecak sebal.


"Kau begitu mengesalkan!" ucap Chandra mendapatkan tawa dari Kris.


"Aku tau adikku begitu mempesona. Hingga bisa membuat kau seperti saat ini," ujar Kris setelah mampu mengontrol tawanya.


"Kau sendiri juga pernah jatuh pada pesona nya. Dan kau sok lupa kawan!" sindir Chandra membuat Kris tersenyum tipis.


"Aku tidak tau awalnya. Membedakan perasaan sayang dan cinta. Aku pikir aku mencintainya. Namun aku keliru, karena perasaan aneh. Yang ingin melindungi nya, ingin ia selalu tersenyum dan merasa marah saat ia tersakiti. Perasaan seorang kakak lelaki pada adiknya. Jika saja saat itu aku tau jika Dea adalah adik tiri ku. Dan perasaanku adalah perasaan seorang Kakak. Maka aku pasti akan membuat jalanmu lancar bisa bersamanya. Maafkan aku sepupu," papar Kris dengan lugas tanpa beban.


"Ya benar. Aku terlalu baik padamu," sesal Chandra.

__ADS_1


Membuat Kris melototi nya. Chandra malah terkekeh."Kau menyesali nya?"


"Tentu saja. Jika saja kau tidak memperlihatkan perasaanmu. Mungkin dia bisa bersamaku. Menjadi Ibu dari anak-anakku. Karena mengalah padamu. Aku malah kehilangan nya," ucap Chandra dengan wajah berpura-pura kesal dan sedih.


"Ah! Maafkan aku. Tapi setidaknya kau masih cinta kan. Dengan moto,'Kutunggu Jandamu' benarkan?" goda Kris membuat Chandra ingin memukul puncak kepala Kris dengan botol soda.


Melihat wajah masam Chandra, Kris terlihat begitu bahagia.


***


.


"Hei! Kau merajuk?" Tanya Dea dengan menusuk pinggang Lucas dengan jari telunjuk nya.


Lucas terlihat menghindar dari gelitikan Dea. Dea memonyongkan bibirnya. Lucas melangkah menuju kursi besi di samping kaca transparan. Yang memperlihatkan kegiatan di bawah sana.


Dea tidak tinggal diam. Ia melangkah mendekati Lucas. Dengan menarik kursi. Duduk di depan Lucas yang tengah merajuk.


"Kau kesal padaku huh?" Seru Dea dengan wajah cemberut.


Nah! Jika sudah begini. Bagaimana lagi ini? Lucas Sandoro yang ingin merajuk wanita Kim itu selalu dengan mudah membalikkan keadaan. Lucas yang awalnya memalingkan wajahnya. Saat Dea menarik kursi di depan nya. Kini menoleh ke arah Dea yang terlihat cemberut.


Diam-diam Dea tersenyum sangat tipis. Ia tidak tau bagaimana bisa membuat Lucas menjadi yang sebaliknya mengalah. Sama seperti nya yang selalu memaafkan kesalahan Lucas. Maka Lucas pun sebenarnya begitu. Namun dulu Baekhyun jarang jujur pada dirinya. Jika mereka sedang dalam ke adaan bertengkar. Maka mereka akan saling berjauhan. Namun tanpa Dea sadari. Kala malam menyapa, Lucas akan mengangkat Dea dari kamar tamu ke kamar mereka. Dan menyelimuti Dea agar wanita itu tidak kedinginan. Bahkan mengecup dahi Dea.


Begitulah, sifat Lucas. Ia tidak ingin terlihat lunak pada Dea secara langsung. Namun akan melakukan nya saat sembunyi-sembunyi. Sedangkan Dea. Wanita cantik bermata bulat bening itu melakukan hal yang sama.


Ia akan menanyai sekretaris Lucas. Apakah lelaki itu sudah makan. Atau bahkan mengirimkan makanan buatan nya kekantor. Dengan alasan, Lucas yang memintanya. Karena merasa Lucas kerja dengan keras. Begitu lah ego mereka yang mereka pertahankan satu sama lain. Tapi di balik itu semua, mereka berdua sangat mencintai satu sama lain dengan cara yang unik.


"Kau mengesalkan!" celetuk Dea dengan nada kesal.


Lucas berdiri dari duduknya. Melangkah mendekati Dea. Ia menunduk menyamakan wajahnya dengan Dea. Menatap lambat wajah cantik itu. Seakan memindai wajah cantik Dea. Membuat Dea menahan napas dengan debaran yang seirama dengan sang lelaki.


Meski sering melakukan hal lebih. Namun apa yang di lakukan Lucas selalu memiliki rasa aneh tersendiri. Apalagi Dea selama ini berpuasa satu tahun tidak melihat wajah lelaki yang ia cintai ini.


"Mari menikah!" seru Lucas membuat manik mata Dea semakin membulat,"Mari kita berdua menikah. Kau menjadi milikku dan aku menjadi milikmu. Aku bahkan bersedia berlutut di depan ke dua anakmu agar memberikan restu," lanjut dengan mata sungguh-sungguh.


Dea sontak saja mengembuskan napas kasar. Yang sudah lama di simpan di paru-paru. Ia cukup Syok di lamar dengan keadaan yang tidak romantis. Dan tidak ada momen indah, malah momen saat mereka saling kesal.


"Kau mau bukan?" tanya Lucas lagi memastikan.

__ADS_1


Bibir Dea terbuka. Namun tertutup kembali. Terbuka kembali dan tertutup kembali. Ah! Sungguh. Dea Amelia Wijayanto tidak mampu berkata-kata.


TLING!!!!


Bunyi pintu terbuka. Sudah pasti yang masuk dengan kartu adalah Leo. Lelaki berkulit eksotis itu menyelamatkan Dea. Itu bagi Dea. Tidak bagi Lucas, ia malah kesal. Karena Leo menggangu nya.


Lucas menegakkan kembali tubuh nya. Ia membalik kan tubuh nya ingin menyemprot Leo dengan sumpah serapah. Gila bukan? Apartemen siapa yang punya. Malah siapa yang ingin marah? Leo merasa Apartemen nya dan Sera serasa milik Dea dan Lucas.


Sumpah serapah yang ingin keluar tertahan kala melihat siapa yang di bawa oleh Leo. Lelaki itu mengendong Jino. Balita satu tahun itu terlihat tersenyum pada ke duanya. Meski matanya terlihat basah.


"Apa?" kesal Leo yang seperti tau apa yang ada di otak Lucas,"Jino menangis tidak ingin berhenti. Jadi aku memutuskan membawanya kesini. Karena Ibunya, berada di sini lebih sering dari pada di rumah," sindir Leo.


Dea hanya mendengus. Ia berdiri dari duduknya. Putranya terlihat berceloteh tanpa ia tau apa yang di katakan. Dengan ke dua tangan yang menggawang minta di gendong. Matanya tak berpaling dari wajah Lucas. Meskipun tubuhnya ada pada gendongan Dea saat ini.


Lucas mendekati Ibu dan anak balita lelaki itu. Jari jemarinya mencolek pipi chubby Jino. Membuat anak balita itu tertawa riang. Membuat hati Dea menghangatkan. Lucas tak segan-segan mencoba bercanda. Jino membawa tangan Lucas ke dalam mulutnya. Hingga mendapatkan teguran dari Dea. Leo hanya menjadi penonton yang tidak di anggap.


***


"Pa——pa?" seruan itu terdengar cukup meragu.


Dea menoleh kebelakang. Ia tersenyum pada Jun. Jun melangkah pelan, Lucas bertekad akan merebut hati Jun.


"Hai! Jagoan. Bagaimana harimu?" tanya Lucas dengan antusias.


Jun memperhatikan wajah Lucas cukup lama. Berbeda, Ayah yang di temui beberapa Minggu yang lalu dengan yang hari ini berbeda. Jika yang kemarin hanya merasa nyaman melihat wajah sang Ayah. Namun hari ini, ia merasa nyaman dan ada di sudut hatinya yang merasakan perasaan yang penuh. Sebuah rindu yang terpenuhi.


"Mana pelukan nya?" Tanya Lucas merentangkan tangannya.


Jun tersenyum. Ia berlari kecil memeluk Lucas. Hangat, dan bau Lucas sama seperti dulu. Tidak berbeda. Lucas tak segan-segan mengangkat tubuh Jun. Yang sudah cukup tinggi dan terlihat berisi.


"Turunkan aku Papa! Aku sudah sangat berat," tutur Jun dengan malu.


Lucas terkekeh pelan. Ia menurunkan Jun perlahan. Ia tau anak lelaki berusia sebelas tahun itu pasti malu pada teman-teman. Ia hanya memilih menggandeng tangan Jun.


"Apa mau bermain di taman bermain berdua?" tanya Lucas,"Papa sudah meminta izin pada Mamamu," lanjut nya yang melihat ada keraguan di mata Jun.


Mendengar perkataan sang Ayah. Jun mengangguk antusias. Lucas tersenyum imut. Lalu melangkah menuju mobil yang di parkir tidak jauh dari halaman sekolah.


Lelaki bermata tajam yang ingin membuka pintu mobil nya terhenti. Melihat sosok yang menggandeng tangan Jun. Manik mata tajam itu membulat sempurna. Ia merasa pening seketika.

__ADS_1


"Apa ini?" Tanya mengucek ke dua matanya."Dia tidak mungkin benar-benar masih hidup?" Ucapan nya lagi menajamkan penglihatan nya.


__ADS_2