
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gaung tangis menyapa rungu, ruangan tengah di rumah besar keluarga Sandoro tampak mengelap. Tangisan mewarnai percakapan tak mampu membawa kata maaf di hati sang Tuan muda pertama dalam keluarga Sandoro. Dua lelaki dengan dua wajah yang sama, hanya cara mereka menatap saja yang beda. Wanita tua itu masih begitu bersahabat dengan tangisnya. Memeluk erat tubuh kokoh dan keras. Sekeras hati yang membeku di musim panas.
Sang kepala keluarga menatap sang putra dengan mata basah. Jika di tanya dengan si bungsu, lelaki itu hanya diam setelah teriakan dan makian tertuju padanya. Lucas pasrah dengan amukan amarah sang Kakak. Bagi Lucas tak masalah. Bahkan jika Billi membunuh nya saat ini ia tak akan masalah. Rasa bersalah dalam hatinya begitu besar. Melebihi kemarahan Billi padanya.
"Billi!" seru sang Ibu lirih.
Billi masih bungkam dengan ke egoisan nya. Namun apakah itu masih akan tetap bertahan. Bahkan di kaya bukti-bukti yang menyatakan jika Ibu dan Ayahnya benar-benar mencarinya. Memikirkan nya siang dan malam. Meski Lucas bersama mereka, ada yang kosong di dalam dada ke duanya. Orang tuanya bagaikan hidup dengan satu ginjal. Sering kali merasa lelah dan sakit. Kala wajah Lucas terlihat.
Pencarinya untuk nya bahkan tidak pernah berhenti. Hanya takdir saja yang bermain-main pada mereka.
"Ibu dan Ayahmu tidak pernah melupakan mu. Jika kami menganggap mu mati. Maka sudah pasti ada makam yang kami buat untuk mu. Tapi apakah pernah ada nama Billi di salah satu nisan?" Tanya Sang Ibu meyakinkan Billi.
Billi membuang muka. Ia tak mau dan masih mengeraskan hati. Bagi Billi itu hanya sebuah pembelaan saja. Agar ke duanya tak punya rasa bersalah.
"Kak!" Panggil Lucas lirih menatap wajah yang sama persis dengan nya.
"Maafkan ke dua orang tua kita. Mereka tak bersalah. Akulah yang salah, jika saat itu aku tidak bersikeras mengajakmu. Maka semua nya tidak terjadi jangan benci mereka!" pinta Lucas dengan nada serak.
Billi tersenyum mencemooh. Hidup yang di jalani tidak lah mudah. Tak seindah dan semudah hidup Lucas. Apakah jika posisi di tukar, Lucas masih mengatakan hal yang sama? Entahlah.
***
1 Tahun kemudian
Pelukan hangat mampu membawa hati resah itu mereda dari kerisauan yang melanda. Kecupan basah di layanan di dada bidang sang pria. Dua kali dua orang yang tengah menghantarkan kehangatan bagi satu sama lain itu di goncang badai yang dahsyat. Kebencian, pengkhianatan dan kemurkaan mereka rasakan.
Terombang-ambing dalam mahligai rumah tangga. Asam, manis, pahit dan pedasnya kehidupan rumah tangga mereka alami. Bahkan perceraian ikut serta memberikan kehancuran. Apa boleh buat, kisah mereka belum usai. Hingga kembali bersama merajut asa yang putus. Angan yang kandas.
Saling jujur dan terbuka adalah kunci utama dalam berumah tangga. Membangun keluarga bukanlah perkara gampang. Bukan perkara kita saling mengasihi. Memberikan penerus keturunan. Namun lebih dari itu semua.
"Apakah Kak Billi masih tidak mau memaafkan mu, Kak?" tanya Dea lembut.
Tidak ada gunanya ke bohongan. Lelaki ini jujur dengan semuanya. Meski kemarahan di dapat kan di awal. Bahkan penolakan dari Bintang dan Jun sempat ia terima. Lucas tak menyerah. Semua adalah kelalaian dan kesalahan nya. Berani bertindak maka berani bertanggung jawab.
Lucas Sandoro menanggung semuanya. Penolakan dari Bintang dan Jun. Dan dari Billi, lelaki itu masih belum memaafkan nya. Dea mengusap punggung belakang sang suami dengan lembut. Ke dua nya kembali menikah, meresmikan hubungan mereka. Meski tanpa restu Bintang dan Jun. Dea tau Putra dan putri nya bukan nya tidak ingin menerima sang Ayah kembali. Hanya saja, ke duanya masih mendendam pada Lucas.
Membuat sang Ayah sadar. Jika apa yang di perbuat ada ganjaran yang harus di terima. Meski sang Ibu memaafkan tanpa hukuman. Rasa tidak adil, menurut mereka berdua. Hanya Jino saja yang bisa menerima Lucas. Lantaran anak itu tak mengerti apa yang terjadi. Anak lelaki berusia tiga tahun itu menerima Lucas dengan ceria. Mengucap kata Ayah dengan sangat lantang dan ceria.
__ADS_1
"Masih sama. Aku tak tau akan sampai kapan ini mereka tak memaafkan ku," keluh Lucas.
Dea tersenyum lembut. Melepaskan pelukannya dari Lucas. Mengusap lembut permukaan wajah Lucas yang terlihat lelah.
"Berusaha lah sedikit lagi. Dan berikan waktu untuk mereka sedikit lebih banyak. Mereka akan memaafkan mu, Kak!" Ujar Dea membelai wajah Lucas.
Senyum terukir di wajah Lucas. Sering kali Lucas bertanya pada hatinya. Terbuat dari apa hati wanita di depan nya ini. Berkali-kali di sakiti dan di khianati baik secara sadar dan tidak sadar. Namun Dea berkali-kali pula menerimanya dan memaafkannya. Bodoh! Ia begitu bodoh.
Wanita sekaligus istri nya ini adalah wanita yang begitu hebat dan berarti baginya. Meski Dea muda beberapa tahun darinya. Namun wanita itu begitu hebat dan dewasa. Melebihi dirinya, ribuan bahkan jutaan lebih dewasa. Wanita yang lembut dan penuh dengan pesona. Tak salah jika banyak yang jatuh hati pada Dea.
Bahkan Billi saja menyukai istri nya ini. Terang-terangan mengatakan jika ia lebih baik bersama wanita lain. Dari pada bersama Dea. Karena wanita ini begitu hebat. Tak pantas untuk dirinya.
Bukankah itu benar? Billi lebih baik dari pada Lucas Sandoro. Lelaki itu setara dengan Dea yang begitu hebat. Tidak hanya cantik saja, tapi juga cerdas berhati lembut.
"Ya. Aku akan berusaha lebih keras lagi. Terimakasih sayang!" Ujar Lucas mengecup dahi Dea lama.
Wanita itu menutup kelopak matanya. Menikmati kecupan yang di layangkan oleh Lucas. Jika hati Lucas penuh dengan penyesalan dan rasa bersalah. Maka di hati Dea penuh dengan rasa bahagia. Bagi orang lain Dea adalah wanita bodoh yang mau menerima lelaki yang sama untuk ke dua kalinya. Menerima pengkhianatan yang sama untuk ke dua kalinya.
Namun bagi Dea itu berbeda. Kesalahan dan luka yang Lucas torehkan padanya memang sangat besar dan begitu dalam. Orang-orang lupa, siapa yang mampu mengobati luka yang telah tertoreh selain orang yang menoreh nya. Siapa yang bisa menutupi lubang yang kosong yang telah di buat jika bukan oleh sang pembuat sendiri.
Kemarahan, memang sempat menghentak dan mencekik nya. Sungguh! Sangat terasa begitu sakit saat itu. Ia membenci lelaki ini sungguh sangatlah membenci. Ia ingin membunuh dan menikam Lucas berkali-kali. Sampai rasa sakit dan dahaga nya terpuaskan.
Di saat Lucas sakit dan di nyatakan meninggalkan saat itu. Ada yang berbeda, hati wanita ini yang terluka malah semakin terluka dan berdarah. Hatinya terasa tertibkan berkali-kali. Bukan karena pengkhianatan! Namun karena kehilangan. Saat itu Dea sadar, jikalau cinta nya lebih besar dari benci nya.
Pintu di tutup perlahan oleh Bintang. Anak gadis cantik itu mendesah kesal. Sang Ayah selalu memonopoli sang Ibu. Selalu menempel bagikan perangko dan surat. Bayangan Kan saja? Kerja berdua. Dimana Lucas Sandoro sebagai Presdir utama dan Dea sebagai Sekretaris.
Lalu saat di rumah masih saja bersama. Jika Dea bersama Lucas maka Bintang tidak akan mendekati sang ibu. Bintang Sandoro masih marah dengan sang Ayah. Meski sudah satu tahun tinggal bersama.
"Cemberut lagi. Apakah Papa memonopoli Mama?" tanya Jun tetap sasaran tanpa mengalihkan pandangannya dari Jino yang bermain di lantai dengan mobil-mobilan.
Bintang mendesah kasar. Dan duduk di sofa tetap di sebelah Jun. Jun hanya menggeleng pelan. Jun tidak marah pada sang Ayah, hanya saja ia meras harus berada di kubu sang Kakak. Karena sesekali sang Ayah harus di berikan pelajaran.
"Papamu benar-benar menyebalkan Jun!" gerutu Bintang.
"Tidak dia Papamu! Bukan Papaku!" kesal Bintang.
Jun berdecis kesal. Jino berdiri dari posisi duduknya. Mendekati sang kakak. Menyadarkan kepalanya pada dada Jun.
"Itu Papa, Jin!o" ujar anak berusia tiga tahun itu dengan ceria.
Ke dua kakak beradik itu mendesah kesal di sertai geli. Jino selalu menjadi penengah dan selalu memberikan kehangatan bagi sang Ayah. Kala Bintang dan Jun menolak mentah-mentah sang Ayah.
***
Lorong Rumah Sakit menggema keras kala beberapa pasang kaki berlarian. Hembusan napas memburu terdengar jelas di samping tangis keras. Vian menatap sendu ke arah Bintamg dan Jun.
Sedangan Sanyi dan Billi terlihat mematung. Dea menangis keras di dalam ruangan salah satu kamar di rumah sakit.
"Apa yang terjadi dengan Papaku?" tanya Bimtang panik pada Vian.
Lelaki itu menatap intens Bintang dengan mata tak tega. Sebelum beralih pada lelaki yang berwajah sama berdiri di belakang tubuh ke dua kakak beradik Sandoro itu.
"Ayahmu, mendapatkan serangan jantung mendadak kala menyentuh mobil. Ia ingin membelikan hadiah Natal untuk mu dan Jun," ujar Vian pelan.
"Tidak itu tidak mungkin!" Tolak Bintang dengan kepala menggeleng.
Air mata mengalir deras. Santi hampir saja ambruk jika tidak di tahan oleh Billi. Jun berlari masuk terlebih dahulu. Air mata mengalir di pipi Bintang. Billi membimbing sang Ibunda masuk ke dalam ruangan. Kaki Bintang terasa tak bertulang, tangan kokoh Vian membawa tidak tubuh Bintang masuk ke dalam ruangan.
Semakin masuk ke dalam semakin jelas tangis pilu Dea. Wanita itu mengguncang tubuh penuh darah Lucas dan meraung keras. Dokter dan suster menangani Lucas menunduk dalam.
"Kakak——hiks..." Suara Dea yang pecah membuat tubuh Bintang merosot kelantai.
__ADS_1
Sedangkan Jun sudah menangis tersedu-sedu di samping yang tubuh bersimbah darah. Billi menatap nanar Lucas. Sang Ibu entah sejak kapan sudah berada di samping Dea ikut meraung.
Usapkan pelan di punggung Bintang di berikan oleh Vian. Ada rasa sesak di hati Billi. Bukankah ini yang di inginkan nya? Kematian Lucas? Namun apa ini kenapa ia merasa sakit.
" Kak! Maafkan aku!"
"Aku tidak akan pernah memaafkan mu!"
"Apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkan ku?"
"Mati! Kau harus mati. Saat kau mati aku akan memaafkan mu!"
Pembicaraan nya dengan Lucas dua bulan yang lalu kembali berputar di otaknya. Air mata mengalir begitu saja. Bintang meraung dengan keras. Tidak ada kata yang mampu di ucapkan oleh bibir kala takdir membawa kata duka hadir.
***
Bulir salju air hujan memghujami bumi. Beberapa pohon natal menghiasi rumah-rumah. Nyanyian di temani dengan teh hangat yang menguap di udara.
Beberapa anak-anak merebut kado yang ada di pohon natal. Rumah besar itu begitu hangat. Hanya saja wanita cantik duduk di kursi goyang menatap foto kecil yang di ambil saat ia dan sang suami. Saat itu juga Natal, Natal pertama yang mereka rayakan sebagai sepasang suami istri yang saling mencintai. Ah! Begitu indah saat itu. Dea tersenyum lirih.
"Kakak!" Seru Dea mengusap permukaan foto kusam yang ada di tangan nya.
Tiba-tiba saja setangkai bunga berada di depan matanya. Dengan seruan hangat mengetarkan.
"Kenangan indah tetap menjadi kenangan, Dea!" Ujarnya pelan,"Foto kusam itu harus di ganti agar tidak ada kesan seram dan sendu!" Lanjut nya membuat senyum tipis di bibir Dea.
Dea tersenyum lebar. Hangat dan kehangatan, sungguh menyenangkan dan menenangkan. Di luar kaca transparan terlihat jelas bulir air hujan melebat menghujami bumi.
"Selamat Natal! Sayang!" Bisiknya dengan nada berat.
Dea menerima bunga yang di berikan. Sebelum berdiri dari posisi duduk nya. Meletakan secarik foto di atas kursi kayu. Ia tersenyum lembut pada Billi.
"Kakak selalu menggodaku," ujar Dea dengan nada lucu.
"Karena kau cantik!"
"Kau tak takut pada Lucas, adikmu?"
"Apa gunanya takut? Diakan sudah mati!" Ujar Billi dengan senyum menggoda.
BRAK !
Pintu kamar terbuka kasar. Di ambang pintu tubuh kekar itu memerah.
"Yaks! Kau masih menggoda istri mu, Kak! Dan aku masih hidup tau!" Kesal Lucas pada sang kakak.
"CK! Kau sudah mati dua bulan yang lalu!"
"Aku hanya pura-pura tau!"
"Ya. Pura-pura hanya untuk mendapatkan maafku dan Bintamg kan? Kau licik!" tutur Billi dengan wajah mengesalkan,"Jadi aku anggap kau sudah mati dan istri mu jadi milik ku!" ujarnya.
Dea hanya terkekeh pelan. Semenjak kematian pura-pura itu. Hubungan Billi dan sang suami sudah membaik. Dan tak jarang perang mulut seperti saat ini. Begitu juga dengan Byul. Billi dan Bintang menangis tersedu-sedu dan menanyakan akan memaafkan Lucas jika Lucas kembali hidup.
Rencana gila dari Jun mendapatkan kebahagiaan bagi mereka semua. Keluarga itu kembali memberikan sinar kebahagiaan. Tawa Dea meledak kala dua orang dengan wajah yang sama saling pukul dengan bantal. Sudah mau tua masih seperti anak-anak.
Namun Dea bahagia. Melihat nya.
END
__ADS_1
"Tidak ada yang alur yang sesuai dengan keinginan kita. Luka dan derita tidak akan pernah berjalan tanpa adanya bahagia mengiringi. Kala kau membuka hati memafkan kesalahan yang mungkin memuakkan bagimu. Itu bukan berarti kau itu bodoh! Namun karena kau tak ingin menyimpan kebusukan dalam hati. Hingga menghambat datangnya bahagia!"
~Momy? I'am!~