Momy? I'Am (Season 2)

Momy? I'Am (Season 2)
Chapter 32 (Season 2)


__ADS_3

.


.


Beberapa kali tangan Lucas mengusap kasar wajahnya. Pertemuan nya dengan kembarannya membuat ia merasa risau. Kehancuran yang di tawarkan oleh Billi tidak lah main-main. Ia dapat melihat dengan sangat jelas di ke dua netra tajam milik Billi.


"Maafkan aku, Kak!" sesal Lucas dengan nada lirih.


Kepalanya menunduk dalam. Bayangan masa lalu kembali mengambang. Masih melekat di ingatan Lucas apa yang terjadi puluhan tahun yang lalu. Waktu itu adalah hari bahagia. Sebelum berubah menjadi menakutkan baginya.


Flashback on


Kota Amsterdam terlihat begitu ramai di tahun baru. Keluarga Sandoro melakukan perjalanan Bisnis sekaligus berlibur bersama. Satu Minggu di habiskan berjalan-jalan di sore harinya setelah kepala keluarga pulang dari tempat pertemuan.


Lucas Sandoro dan Billi Sandoro adalah anak yang begitu manis di mata orang-orang. Selain karena kembar mereka juga begitu pintar. Apa lagi Billi, ia dapat dengan mudah mengingat sesuatu cukup satu kali lihat saja. Beda dengan Lucas. Lelaki itu butuh waktu cukup lebih lama dari sang Kakak.


Namun ke pintaran ke duanya selalu begitu membuat ke dua orang tua mereka bangga. Sore hari salju turun menyelimuti kota Amsterdam. Dua anak lelaki berumur tujuh tahun itu menunggu Ibu mereka berbelanja oleh-oleh untuk keluarga di Indonesia. Karena malam nanti mereka akan kembali ke Indonesia.


Ke duanya duduk di salah satu Caffe. Sedangkan Santi berbelanja di seberang Caffe. Wanita itu yakin putranya tidak akan kemana-mana. Lucas terlihat bosan menunggu. Sedangkan kakaknya terlihat begitu asik dengan buku bacaannya.


"Kak!" panggil Lucas membuat Billi menurunkan buku bacaan nya. Menatap wajah imut sang adik.


"Kau bosan?" tanya Billi dengan nada lembut. Netra coklat nya terlihat begitu terang dan tajam. Cukup membedakan mereka hanya cara tatap.


Lucas kecil mengangguk. Billi menutup buku Mandarin meletakkan nya di atas meja Cafe. Buku dengan tulisan Kanji itu tak pernah sulit untuk di baca oleh Billi. Beda dengan Lucas, adiknya itu lebih suka dengan Bahasa Jepang. Menurut Lucas bahasa Jepang tidak sesulit huruf Kanji.


Hiragana dan Katakana tak serumit huruf Kanji. Billi melambaikan tangannya pada pegawai Caffe. Waiters menghampiri ke duanya. Ibu mereka sudah menitipkan ke dua buah hatinya pada beberapa waiters Cafe.


Billi begitu patuh pada orang tuanya. Beda dengan Lucas, adiknya itu cukup jahil dan nakal. Namun bedanya Lucas berhati lembut di balik kenakalannya. Sedangkan Billi cukup berhati dingin jika tidak ada hubungannya dengan dirinya ia cenderung cuek. Tidak terlalu peduli dengan segitar. Berbanding terbalik dengan Lucas.


"Kak! Hari ini hari terakhir aku mohon!" pukul Lucas dengan wajah memelas.


Billi menghembuskan napas kasar. Manik mata tajamnya menoleh ke samping kanan menatap di seberang jalan. Ibu mereka terlihat masih sibuk memilih beberapa oleh-oleh.

__ADS_1


"Hanya sebentar!" peringat Billi.


Lucas berteriak kecil pertanda ia bahagia. Karena sang Kakak mau menurutinya. Sebelum ke duanya berdiri, waiters wanita yang tadi mereka panggil datang membawa pesanan ke dua nya.


"Letakkan saja di atas meja. Aku akan ke belakang gedung sebentar." Tutur Billi meraih tangan Lucas.


Wanita bermata hijau itu hanya diam. Sebelum mengangguk, anak berumur tujuh tahun itu sudah memiliki aura pemimpin yang kental. Wanita itu hanya menatap punggung ke duanya keluar dari bangunan Cafe.


Ke duanya menyusuri badan jalan. Lucas terlihat terkagum-kagum menatap bangunan tua yang terlihat ateistik dan juga begitu mempesona. Ke duanya sampai di tempat yang di ingin di kunjungi oleh Lucas. Air mengalir dengan tenang dengan beberapa bot kecil yang melintas mengangkut wisatawan.


"Kakak lihat!" Tunjuk Lucas pada bot yang melintas. Billi tersenyum melihat adiknya begitu antusias.


Lucas melepaskan tangan Billi. Ia turun ke anak tangga menuju air. Di ikuti oleh Billi dari belakang. Lucas menyentuh air Kanal yang begitu dingin.


Billi menatap ke arah beberapa rombongan yang terlihat melambai padanya. Belum sempat Billi berkata pada Lucas. Adiknya itu tidak di sisinya. Membuat manik mata coklat tajam itu mengedar. Tidak di temukan sang adik. Namun teriakan membuat Billi menoleh. Manik matanya melebar kala melihat sang adik telah jatuh ke air.


"K—ka——k!" Teriak Lucas tersengal-sengal.


Setelah hari itu. Lucas beruntung dapat di selamat kan. Sedangkan Billi menghilangkan. Ke dua orang tua mereka begitu marah dan frustasi. Namun bisa apa? Beberapa kali menurunkan team pencarian tidak di temukan tanda-tanda jika putra pertama mereka masih hidup.


Lucas mengalami syok dan trauma. Sejak itu keluar Sandoro tidak lagi membicarakan tentang musibah itu. Nama Billi kata terlarang. Agar tidak ada luka. Terutama bagi Tuan Sandoro. Ia harus melupakan putranya. Agar bisa kembali menata kehidupan. Santi yang terguncang membuat kepala keluarga Sandoro itu menghapus fakta jika memiliki dua putra.


Semenjak itu pula, Lucas menjadi pribadi yang berbeda. Meski ia terlihat ceria dan sedikit nakal. Ia melakukan semuanya sesempurna Billi. Menjadi sosok Billi untuk ke dua orang tuanya. Meski Lucas tidak suka belajar atau pun Perusahaan. Ia mengambil alih tanggung jawab yang harusnya Billi pikul. Menjadi tanggung jawabnya. Bahkan tidak membantah permintaan Ibu dan Ayahnya. Karena rasa bersalah.


Flashback off


Lucas mendesah kasar sebelum melangkah memasuki kamarnya. Pintu terbuka perlahan. Hampir saja Lucas terjerembab kebelakang jika tidak mampu menyeimbangkan tubuh nya. Ia terkejut dengan Dea. Wanita cantik itu menatapnya dengan pandangan aneh.


Lucas berpikir jika Dea masih terlelap di ranjang. Karena wanita cantik itu pulang larut malam. Namun wanita nya duduk di pinggir ranjang terlihat menunggu nya.


"Dari mana saja?" tanya Dea dengan nada serak khas bangun tidur.


Lucas tersenyum lembut. Ia melangkah mendekati Dea. Dea masih menatap gerak-gerik lelaki imut itu. Lucas naik keranjang, merebahkan tubuhnya. Dan melegakan kepalanya di paha Dea. Dea tersenyum manis. Jari jemari Dea mengusap rambut coklat gelap milik Lucas.

__ADS_1


"Aku merasa sangat letih," keluh Lucas pelan. Manik mata coklat hangat miliknya bersembunyi di balik kelopak matanya.


"Kalau begitu jangan lakukan apapun," jawab Dea sontak saja membuat kelopak itu terbuka.


"Apakah akan baik-baik saja jika aku tidak melakukan apapun?"


"Tentu saja. Aku akan melakukan semua untuk mu," tutur Dea pelan.


Lucas meraih tangan Dea. Mengecup beberapa kali punggung tangan Dea. Kecupan yang di kayangan mampu membuat ke dua sudut bibir Dea tertarik ke atas.


***


"Bukankah ini menarik?" seru Billi masih menatap Dea di sudut ruangan.


"Hem!" dehem Dea pelan,"Menarik sangat. Tapi sayangnya tidak terlalu seru," lanjut Dea dengan remeh.


"Kau memilih nya? Meski tau jika dia membohongi mu?" tanya Billi dengan ekspresi tak percaya.


"Ya. Aku begitulah!"


"Cinta memang bodoh!" sinis Billi membuat Dea terkekeh pelan.


Wanita itu turun dari atas meja kerjanya. Mendekati Billi dengan langkah perlahan."Karena kau belum menemui cinta yang seperti itu. Jadi kau tidak akan tau bagaimana rasanya tuan!" Ucap Dea dengan pelan.


"Apa perlunya itu. Kau bahkan terkhinati bukan? Cinta hanya akan menyakiti dan membodohi!" tutur Billi dengan sarkas.


"Anggap saja begitu. Tapi asal kau tau, Kakak Ipar. Aku bisa membuatmu menemukan jalan terbaik. Namun jika kau menempuh jalan terburuk aku tidak punya pilihan untuk tidak menghancurkan mu dengan tanganku. Kau menyentuh nya maka kau akan terluka!" bisik Dea tepat di daun telinga Billi.


Billi mengeleng pelan. Dea kembali menegakkan tubuhnya. Tersenyum semanis mungkin.


"Kita lihat saja. Apakah kalian mampu bertahan atau tidak!" Ucap Billi sebelum melangkah keluar dari kantor.


Dea hanya mendesah kasar. Melihat punggung belakang Billi yang semakin menjauh.

__ADS_1


__ADS_2