Momy? I'Am (Season 2)

Momy? I'Am (Season 2)
Chapter 6 (Season 2)


__ADS_3

.


.


.


.


.


Baju Rumah Sakit masih melekat apik di tubuh lelaki tampan itu. Ia memeluk anak lelaki berumur sepuluh tahun yang kebetulan bertemu saat ia kesulitan tidur. Melihat anak itu menangis sungguh membuat dirinya merasa tercabik. Meski Jun bukanlah anak biologis nya. Namun jiwa seorang Ayah telah terlanjur melekat padanya.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" pertanyaan yang hanya bisa tercetus dalam hati.


Anak yang kini menatap kosong ke arah ranjang wanita cantik itu. Sedangkan Lucas, ah iya! Chandra tidak melihat lelaki itu kala masuk ke dalam ruangan Dea. Wanita yang menutup mata itu menelan obat tidur karena sakit. Tapi lelaki Winata itu merasa agak aneh. Karena Jun! Anak yang ia peluk ini tidak menangis semata-mata karena panik saja.


Ia merasa pandangan kecewa dan penuh amarah. Saat di tanyai anak itu engan menjawab. Hanya memanggilnya saja tanpa mengatakan alasannya.


"Jun! Tidur di tempat tidur saja ya. Besok Jun kan harus sekolah. Paman akan menjaga Mama, Jun!" tutur Chandra dengan pelan.


Jun memutar lehernya. Menatap wajah tampan Chandra. Ia terlihat berpikir lama."Baiklah. Tapi saat Papa datang bisakah paman membangunkan aku?" balas Jun dengan suara serak karena selesai menangis.


Kepala Chandra mengangguk. Jun turun dari pangkuan Chandra. Lalu menaiki ranjang besar yang memang di peruntukan untuk keluarga yang menunggu pasien. Chandra berdiri dari duduknya. Membenarkan selimut yang di pakai Jun. Lalu mengusap puncak kepala anak tampan itu. Setelah itu ia melangkah menuju sisi ranjang Dea.


Menarik kursi dan duduk dengan pandangan mata aneh. Wanita itu masih sangat cantik. Tiada duanya, tidak terdapat kerutan di wajah cantik itu. Meski pucat yang kini terlihat, tak menghalangi kecantikan terpancar. Mata yang bulat, hidung mancung dan bibir merah merekah. Benar-benar sempurna. Jika Dea masuk ke sekolah menengah atas. Sudah sangat di pastikan. Anak-anak remaja tidak akan tau jika Dea adalah seorang Ibu dengan dua anak.


"Cantik," kagum Chandra begitu saja. Lesung dalam terlihat menghiasi wajah tampan nya.


Tiga tahun tak bertemu dengan Dea. Membuat rasa itu kembali hadir. Dea Amelia Wijayanto, cinta pertama nya. Sulit untuk move on dari wanita yang menjadi seorang istri Lucas Sandoro itu. Tapi akan jauh lebih sulit lagi tetap berada di sisi Dea. Ia bisa saja merebut Dea, menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Dea dan Lucas.


Chandra sudah sangat sering mengalah. Dari Kris dan juga Lucas. Jika saja ia tau dari awal Kris adalah kakak beda Ibu. Maka ia akan maju menikahi Dea. Sayangnya ia tidak beruntung. Lalu saat perpecahan hubungan Lucas dan Dea. Ia memilih menyadarkan Lucas. Karena perasaan cinta Dea pada Lucas begitu terlihat.


Namun jika saat ini rasa itu masih saja utuh di sudut hatinya. Dan Lucas kembali menyakitkan Dea. Apakah lelaki Winata itu bisa egois? Merebut Dea dari Lucas. Menghancurkan persahabatan mereka? Ah! Entahlah.


Tangan Chandra terangkat. Mengusap peluh yang menetes di dahi Dea. Hingga jari jemari Chandra turun pada pipi yang mulai tirus."Apa yang harus aku lakukan Dea. Saat aku kehilangan wanita yang aku sayangi. Cintaku padamu mampu mengobati lukaku, tapi aku takut menyakiti mu. Aku takut berubah menjadi egois. Menyakiti Lucas," ujarnya dengan nada pelan.


***


Keadaan Dea sudah membaik setelah mendapat suntik vitamin dan beberapa perawatan lain nya. Namun tak menutup kemungkinan ia akan kembali down jika terlalu letih, stress dan kurang gizi.


"Bagaimana? Apa kau ingin memakan sesuatu?" tanya Lucas dengan nada lembut.


Dea hanya menipis kan bibirnya. Lalu memandang lekat-lekat wajah Lucas ."Kak Lucas! Bolehkah aku bertanya?" ujar Dea membuat jantung Lucas berlomba dengan debaran ketakutan.


"B-boleh," jawabnya tergagap.


"Kenapa dengan Jun? Dia terlihat aneh. Bahkan ia bertingkah sangat kurang ajar padamu?"


Lucas bungkam. Apa yang harus ia katakan. Memang benar, beberapa hari ini Jun terlihat dan sangat kentara memperlihatkan ketidak sukaan nya pada Lucas. Menolak apa yang Lucas suruh. Bahkan dengan lantangnya ia mengatakan dia tidak suka mendengar suara Lucas dan wajahnya. Jujur saja Dea merasa anak nya itu seperti orang lain saja. Tidak lagi seperti Jun Sandoro yang manis.


"Dia hanya marah karena aku menyuruhnya tinggal di rumah. Dan bersekolah, sementara kau di rawat di rumah sakit,"kilah Lucas.

__ADS_1


Dea memicing, menatap sang suami penuh dengan tatapan curiga. Lucas tersenyum, mencoba membuat Dea yakin jika Jun hanya marah karena ia tak bisa bersama Dea. Sejujurnya ada banyak hal yang membuat Lucas menahan Jun di rumah.


Lelaki itu tak ingin putranya mengatakan apa yang ia lihat. Dan Lucas sangat tak ingin itu terjadi. Lebih baik saat ini di pandang dan di teriaki dengan lantang. Dari pada Dea pergi dari kehidupan nya.


"Benarkah itu?" tanya Dea mencoba memastikan.


"Ya, sayang. Kenapa aku harus bohong. Lagi pula kan Minggu depan ia akan melakukan ujian semester awal. Jadi dia harus belajar, aku bisa merawat mu sayang. Agar Jun tak khawatir," bohong Lucas lagi. Kebohongan harus kembali di tutupi dengan kebohongan.


Begitulah cara kerja dari bohong. Lucas memeluk Dea. Lalu mengelus perut Dea dengan penuh kasih sayang.


"Jangan memikirkan apa pun sayang. Karena aku tidak ingin lagi kau down dan anak kita dalam bahaya. Aku mencintaimu dan anak-anak kita," bisik Lucas pelan.


Dea tersenyum lebar. Membalas pelukan Lucas. Menghirup aroma maskulin sang suami. Beberapa kali Lucas mengecup dahi Dea. Mengembangkan senyum dari wanita cantik itu.


KLIK !


Pintu kamar terbuka. Membuat ke duanya melepaskan pelukan dan menatap siapa yang datang. Senyum Dea mengembang melihat siapa yang kini berjalan masuk ke dalam kamar rawatnya.


"Pagi Dea! Pagi Lucas!" Ujarnya dengan senyum lebar.


Ah! Hot Duda. Lelaki yang membawa buket bunga itu begitu mempesona. Lucas mau tak mau memberikan senyum namun merasa ganjil dengan Chandra Lelaki itu tak pernah luput menjenguk sang istri. Pagi dan malam ia selalu datang. Itu membuat Lucas tidak nyaman. Sungguh tak nyaman.


"Pagi!" jawab ke duanya serentak.


Chandra mengulurkan buket bunga yang ia bawa ke Dea. Wanita itu menerimanya dengan senyum. Menyesap aroma segar bunga yang Chandra bawa.


"Bagaimana keadaanmu Dea?" tanya Chandra.


"Sudah lebih baik, berkat kau!" jawab Chandra santai. Kelewat santai.


Ke duanya lupa. Jika ada sosok lain di dalam kamar itu. Lucas memutar malas bola matanya. Lalu menarik bunga yang Chandra bawa. Mengantikan bunga yang layu dengan yang baru."Kenapa kau selalu datang kesini. Bahkan datang dua kali dalam sehari Chandra?" keluh Lucas secara langsung.


Dea menatap lambat wajah sang suami yang kentara tak suka. Sedangkan Chandra terlihat acuh tak acuh. Ia tau Lucas tidak akan suka dengan kehadiran nya. Namun mau bagaimana lagi, ia merindukan istri orang. Gila? Ya begitulah.


Chandra lebih baik di hantam tinju suami Dea. Dari pada di hantam rindu dari dalam. Lelaki Winata itu melangkah menuju Sofa yang berada di dalam ruangan itu. Duduk dengan nyaman menghadap ke arah Dea dan Lucas.


"Aku merindukan istrimu," kelakar Chandra dengan wajah menggoda Dea. Lucas mendengus malas. Dan menatap tajam Chandra.


"Kau mau mati huh!" Kesal Lucas memperlihatkan tinju tangan nya ke arah Chandra.


Chandra mengangkat tangannya seolah menyerah. Lelaki Winata itu jujur dalam balutan lelucon bagi mereka yang tak mampu menyelam rasa. Namun akan berbeda dengan mereka yang peka pada rasa. Mereka akan tau nada yang di hempaskan bukanlah kelakar atau pun godaan. Namun itu murni berasal dari dalam hati lelaki itu.


"Sudah-sudah! Kalian berdua seperti Tom and Jerry saja. Padahal saat jauh merindu. Dan kalau bertemu bertengkar," lerai Dea dengan nada menggoda.


"Siapa yang bilang begitu," kesal Lucas.


Dea menatap Lucas dengan mata dan wajah seolah-olah tak percaya."Lalu siapa yang kemarin-kemarin bilang rindu dan butuh?" ucap Dea membuat Lucas terdiam.


Benar sih. Dia yang bilang rindu Chandra dan butuh lelaki Winata itu di sisinya. Sebagai sahabat dan mitra bisnis. Bukan dalam saingan.


"Benarkan?" ulang Dea mendesak Lucas.

__ADS_1


Lucas mendesah kasar."Ya ya ya! Aku memang berkata demikian," akunya jujur.


Dea dan Chandra mengulum senyum geli."Wah! Aku merindukan Istrimu dan kau merindukanku aku, Lucas? Jangan-jangan kau tidak normal lagi," canda Chandra membuat tawa Dea pecah melihat wajah memerah Lucas.


Di lain tempat gadis remaja itu menatap bunga-bunga dengan pandangan rindu. Ia merindukan Sasa. Bibi yang ia sayangi, yang selalu ada seperti apa pun kondisinya. Sasa adalah tangan kirinya. Tapi sayang sekali wanita itu sudah tak ada lagi.


"Bintang!" Panggilan di belakang tubuhnya membuat Bintang menoleh.


"Kakak?" seru Bintang dengan pandangan berbinar.


Lelaki tampan itu mendekati gadis remaja itu. Ia tau Bintang dalam masa yang sulit. Karena kehilangan, di tambah Ibu wanita itu di kabarkan tengah sakit. Namun karena ia sudah debut dan akan melakukan konser ke dua. Membuat Bintang tak bisa dan memiliki waktu luang.


"Dari tadi aku cari kau kemana-mana ternya kau di sini," ujarnya dengan ekspresi wajah yang mempesona.


Bintang melangkah mendekati lelaki yang duduk di bangku semester dua universitas itu.


***


"Apa yang ingin Anda katakan?" seru suara dengan intonasi datar dan tatapan tak suka.


Lucas mendesah. Ia menatap Jun dengan pandangan lelah. Ia sudah berkali-kali mencegat dan berbicara baik-baik pada Jun. Namun anak lelaki itu tak bisa melakukan negosiasi padanya.


"Bicara yang benar pada Papamu!" kesal Lucas.


Rumah besar itu kosong. Lucas memberikan perintah agar para pembantu tak di rumah. Dea akan pulang malam nanti. Akan sangat gawat jika Jun masih bersikap seperti saat ini.


"Sopan? Pada Anda?" tanya Jun dengan nada remeh,"Aku pikir Anda tidak berhak lagi mendapatkan nya," lanjut Jun dengan senyum remeh.


"Kau benar anak kurang ajar!"


Sudah! Cukup sudah. Lucas Sandoro tak lagi bisa mengontrol emosi nya.


"Aku begini karena Kau juga! Kau yang membuat aku seperti ini. Lalu kau mau apa?" teriak Jun dengan keras.


PLAK !!!!


BRUK !


"Jun Sandoro!" Teriak Lucas delapan oktaf. Ia marah sangat, hingga urat lehernya mencuat.


Jun memegang pipi kirinya yang di tampar keras. Ia dapat merasakan denyutan. Di pipi bahkan di body belakang yang menghantam lantai.


"Kau bukan Papa ku! Kau jahat! Kau berselingkuh! Kau bahkan menampar ku dan mengurungku di kamar untuk tidak bertemu dengan Mamaku! Aku membencimu!" Teriak Jun tak kalah tantangnya. Matanya merah.


Air mata mengalir deras namun tak ada Isak tangis. Rahang Lucas mengeras."Kau--"


BRAK!!!!!


Keduanya terkejut. Sontak menatap ke arah pintu kamar. Dua wanita beda usia menatap tak percaya pada Lucas. Dan menatap Jun yang masih terduduk di lantai kamar lelaki itu.


Lucas merasa dunia runtuh. Tatapan yang di layangkan mampu mengartikan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2