
.
.
.
.
.
Manik mata bulat itu melotot menatap lelaki di depan nya kini. Sedangkan lelaki itu terlihat sangat santai. Ia menyilang kan salah satu kakinya. Terlihat sangat santai. Berbanding terbalik dengan Dea. Wanita berpakaian rapi itu menatap lelaki berkulit sawo matang di depannya ini dengan pandangan menguliti.
"Sayang! Tak perlu menatapku seperti itu. Aku tau aku sangatlah tampan Babby," ujarnya dengan wajah yang sangat menyebalkan di mata Dea.
"Yaks!" teriak Dea membuat lelaki itu terkejut,"Kenapa kau ada di Indonesia?" tanya Dea menurunkan nada suara nya.
"Aku ada keperluan. Kau tau kan penyelidikan itu sudah membuahkan hasil. Meski dia tak akan melepaskan gadis itu hidup-hidup," jawab lelaki bermata kelam itu.
Dea menghembuskan napas kasar. Lalu meraih gelar es lemon sekali teguk. Ia butuh sesuatu mengatasi keresahannya.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Dea lebih tenang dari sebelumnya.
"Yang mana?"
"Kau tau maksud ku Leo!" ujar Dea dengan mata tajam.
Lelaki yang di tatap tajam itu terkekeh pelan. Ia tau siapa yang di tanyakan oleh sepupu jauhnya ini. Hanya saja, ia ingin melihat bagaimana kemarahan dan keresahan Dea.
"Dia sangat baik. Dan aku tidak tau jika kau punya sifat egois juga Dea," jawab nya dengan selenggehan.
"Dan Sera bagaimana dengan dia?" tanya Dea tanpa menangapi apa yang di katakan oleh Leo.
"Hem. Tentu saja sebagai Kakak dari Sasa. Kau pikir satu tahun mencari bukti-bukti jika kecelakaan itu bukanlah kecelakaan biasa. Dia baik-baik saja? Adik yang dia cintai meregang nyawa hanya karena mengetahui suami orang berselingkuh," ucap Leo dengan mata meremehkan,"Dia masih sangat marah. Jika Lucas tidak sakit saat itu. Mungkin dia akan berhasil menggoda mantan suami mu itu sepupu," lanjut nya mampu membuat kepalanya berasap.
"Dan kau rela melihat kekasih mu tidur dengan suamiku?" kesal Dea.
Leo tertawa keras. Dea memang suka meledak-ledak ternyata. Sifat ini yang tak banyak orang tau. Pengunjung cafe menatap ke arah meja mereka dengan pandangan terganggu. Dea berdiri dan menundukkan tubuh nya sambil melontarkan kata maaf. Berulang-ulang kali pada pengunjung.
"Hentikan tawamu hitam!" ujar Dea dengan wajah marah.
Leo menutup mulutnya. Dan mengangkat ke dua tangan nya. Bahaya jika wanita cantik itu marah. Bisa-bisa ia tidak mendapatkan uang lebih lagi darinya.
"Oke! Maaf!" ujarnya dengan menampilkan deretan gigi putih rapinya.
Dea kembali duduk. Mendengus pelan, Leo mulai memasang wajah serius untuk Dea."Sampai kapan kau akan menjanda Sepupu?" tanya membuat Dea merasa ingin menarik setiap helai rambut yang berwarna coklat terang itu.
"Lalu kau sendiri? Sampai kapan akan menjadi perjaka!" balas Dea.
"Aku tidak perjaka Sepupu. Hanya belum nikah saja, kawin mah sering!" jawabnya begitu vulgar.
"Wah! Tinggal di Amerika dan Jepang membuat kepalamu sudah tidak benar lagi. Moral mu sudah kau tinggalkan di mana huh!" sinis Dea.
"Di kolong tempat tidur!"
Dea tersenyum dengan gigi mengeram. Sepupu jauhnya ini benar-benar ingin sekali ia habisi jika tidak ada orang. Sayang sekali banyak orang di sini.
"Kembali lah ke Jepang!" Ujar Dea lalu berdiri dari tempat duduk nya.
"Baiklah. Aku tunggu undangan pernikahan mu yang ke dua sepupu dengan yang tiang listrik itu!" goda Leo.
Dea yang baru ingin melangkah berbalik dengan tatapan maut nya. Mimpi apa Sera, bisa jatuh cinta pada lelaki berotak mesum itu. Meskipun lelaki itu pintar sangat pintar. Namun otak mesum nya sangat luar biasa. Seluar biasa otak jenius lelaki itu.
***
"Bagaimana kabar anak-anak sekarang?" seru Chandra di sela memotong daging steak miliknya.
"Mereka sehat-sehat saja. Dan Jun beberapa kali menanyaiku kenapa kau jarang datang ke rumah lagi," jawab Dea seadanya.
__ADS_1
"Aku sangat ingin. Hanya saja, perusahaan sangat dalam keadaan yang benar-benar sibuk," balas Chandra.
"Bagaimana dengan kerja sama dengan perusahaan Kak Kris?"
"Berjalan sangat lancar. Karena bantuan Kakakmu, perusahaan ku berkembang sangat pesat."
"Baguslah kalau begitu."
"Mungkin bulan depan jadwalku akan berkurang karena perusahaan tidak memiliki kesibukan seperti setahun belakangan ini. Kau mau berpergian bersamaku?" tanya Chandra dengan nada pelan.
Dea yang ingin memasukan potong daging ke dalam mulutnya terhenti. Ia menatap lama Chandra. Lelaki di depan nya ini sangat dan sudah lama mengutarakan perasaan nya. Pada diri nya. Hanya saja, Dea tidak memiliki perasaan yang sama pada Chandra. Sangat sulit menumbuhkan perasaan yang sama pada Chandra. Perasaan yang lebih dari adik pada kakaknya.
"Kau tidak mau?" tanya Chandra melihat bagaimana ke bungkam Dea.
Dea tersenyum."Kenapa Kakak berpikir seperti itu?" tanya Dea.
"Karena kau sangat lama menjawab. Biasanya orang yang enggan menjawab akan sangat lama berpikir," balas Chandra memaksakan senyum.
"Tidak juga. Aku hanya berpikir kemana akan berlibur."
"Benarkah?"
"Ya. Aku sangat ingin mengunjungi Hawaii."
"Hawaii?" ulang Chandra,"Bagus juga. Kita bisa bersama ke sana. Karena Bintang dan Jun pasti sangat menyukai nya. Tapi Jino, aku pikir itu akan sangat melelahkan bagi balita lucu itu," lanjut Chandra lesu.
Dea memasukkan potong daging yang tidak tak sempat ia masukan ke dalam mulutnya. Mengunyah pelan, lalu terlihat berpikir sejenak."Kalau begitu Bali saja," jawab Dea enteng setelah selesai meneguk daging yang telah hancur di kunyah.
"Boleh juga," ujar Chandra menyetujui usulan Dea. Tak masalah liburan di mana pun. Yang terpenting bersama Dea bukan? Itulah yang membuat liburan terasa lebih menyenangkan.
Di lain tempat, gadis cantik itu menatap jijik gadis berdarah Cina yang meringkuk di balik jeruji Pintu rumah sakit jiwa."Bagaimana keadaan nya setahun belakangan ini?" tanya Sera pada pengasuh Bella.
"Nona Bella menjadi benar-benar gila seperti nya," jawabnya menatap tubuh Bella.
"Kurang puas," ujar Sera membuat perawat wanita itu bingung.
"Dia membunuh adikku. Hanya di buat gila dengan siksaan di sini. Sedangkan aku kehilangan orang yang berharga. Menurut mu itu adil?" tanya Sera dengan wajah datar dan dingin.
"Tentu tidak adil."
"Aku ingin dia hancur sehancur-hancurnya." Ujar Sera dengan ke dua tangan mengepal.
"Apa yang ingin Nona Miyawaki lakukan?"
"Bersihkan tubuh nya. Aku ingin mengeluarkan nya dari sini. Dan membuangnya ke tempat yang sangat ekstrim," ujar gadis berdarah Jepang itu dengan senyum ganjil.
"Baiklah Nona!" jawab Perawat wanita itu pelan.
Apapun yang ingin di lakukan oleh Sera. Yang terpenting ia mendapat uang bukan. Itulah yang di pikiran si perawat.
***
Dea menatap balita lelaki itu dengan pandangan tak rela. Wanita tua yang mengendong sang putra itu memberikan senyuman lembut. Agar wanita bermata bulat itu tidak khawatir.
"Sudah sana masuk. Kami akan menjaganya," ujar Ani melihat bagaimana kekhawatiran Dea.
"Benar. Ada dua Ibu yang menjaganya apa yang kau takutkan huh!" kini giliran Santi yang meyakini Dea.
"Tapi aku akan merindukan si kecil," jawab Dea dengan wajah memelas.
"Kalau begitu, cepat lah urusi perusahaan di Jepang. Agar bisa cepat pulang!" seru Ani dengan lembut.
"Baiklah. Tolong jaga Jino ya Ma!" Pinta Dea mengecup pipi Jino membuat anak balita itu terkekeh pelan.
Sebelum pamit pada ke dua wanita tua itu. Dea menarik koper ukuran sedang. Masuk ke dalam pintu ruangan tunggu keberangkatan ke Jepang. Di dalam sana Sera terlihat menunggu Dea bersama sepupu mesum wanita cantik itu.
"Dimana Dea?" tanya Sera pada sang kekasih.
__ADS_1
"Pasti sebentar lagi kelihatan," jawab Leo acuh.
Sera mengedarkan pandangannya ke pintu masuk. Ingin membuka mulut nya lagi. Tubuh wanita yang di cari akhirnya muncul juga. Dea melambai kan tangan nya pada Sera. Lalu melangkah semakin mendekati ke duanya. Sera berdiri dari posisi duduknya. Lalu memeluk Dea.
"Lama tidak bertemu Dea!" Ujar Sera di sela peluk kan nya.
"Hem!" Jawab Dea sambil mengusap punggung belakang Sera.
Leo hanya menggeleng kepalanya. Melihat interaksi ke dua wanita cantik itu. Ia kembali sibuk bermain ponsel pintarnya. Dea dan Sera melepaskan pelukan mereka. Duduk berdampingan.
"Bagaimana dengan gadis gila itu?" tanya Dea membuka obrolan.
"Tenang saja dia ikut bersama kita. Hanya saja, di akan berpisah saat sampai di Jepang."
"Mau kau apakan dia?"
"Aku akan menjadikan nya Geisha Jepang."
"Hanya itu saja?"
"Setelah puas aku akan melakukan hal yang sama pada dia seperti apa yang dia lakukan pada Sasa!" ujar Sera dengan nada pelan. Namun ke dua matanya terlihat api yang membara.
"Aku sangat merasa menyesal. Karena masalah ku, Sasa menjadi korbannya," ucap Dea penuh sesal.
"Sasa merasa bersalah padamu. Jika bukan karena dia bersahabat dengan gadis gila itu sudah pasti suami mu dulu tidak akan bertemu dengan nya," balas Sera yang tak ingin Dea menyalahkan diri sendiri.
"Dia seperti itu karena dia anak yatim piatu," timpal Leo mendapatkan pelototan tak suka oleh ke duanya.
"Apa hubungannya?" tanya Sera kesal.
"Dia kurang kasih sayang saja," jawab Leo dengan wajah sok mengerti.
"Kau membela nya huh!" seru Sera dengan wajah yang menakutkan.
Leo menggeleng keras. Bisa mati dia jika Sera marah. Gagal nikah jika wanita Cantik itu memusuhinya.
"Tidak! Bukan begitu saja. Aku hanya mencoba meringankan dendam mu saja," ujar Leo dengan panik.
Dea hanya menggeleng melihat ke duanya. Sudah sama-sama berumur lebih dari tiga puluh tahun. Namun ke duanya terlihat seperti anak remaja saja.
***
Tangan kekar itu melingkar di pinggang ramping wanita Wijayanto itu. Dea mengerang, ia membalik kan tubuh nya tersenyum melihat lelaki yang begitu terlihat tampan. Meski baru bangun tidur.
"Good Morning Honey!" serunya lalu mengecup bibir Dea dengan sigap.
Ke dua pipi Dea merona."G—good Morning too, Hiro!" seru Dea terlihat malu-malu.
Wanita bermata bulat itu bahkan menyelusup kan wajahnya di dada bidang yang tak terbalut apa pun."Kapan kau akan membawaku ke Indonesia? Mengenal kan aku pada keluarga mu? Aku mau menjadi Daddy ketiga anakmu!" serunya pelan.
Dea menengadah. Melihat wajah memelas Hiro Yamato. Lelaki berambut merah menyala agak nyentrik itu terlihat begitu lucu saat merajuk.
"Kau tak masalah dengan seorang Janda?" Goda Dea dengan mengedipkan ke dua matanya beberapa kali.
Hiro gemas saja."Tidak. Jika wanita itu adalah kamu, Honey!" jawabnya lagi-lagi membuat Dea memerah.
Dea kembali memasukan wajahnya ke dada bidang Hiro. Menghirup aroma maskulin lelaki itu.
TOK!
TOK!
TOK!
"Bisakah kalian berdua keluar dari dalam kamar. Berhenti kawin! Aku dan Sera akan keluar. Sebelum itu makan pagi lah bersama kami. Jika kalian berdua tidak keluar akan aku adukan pada anak-anakmu Dea, bahwa Ibunya sedang membuat adik!" seru Leo mampu membuat wajah Dea seperti kepiting rebus.
Hiro terkekeh pelan. Sepupu wanita nya itu memang unik."Ayo keluar," ujar Hiro.
__ADS_1
Dea mengangguk pelan. Setiap mengurus proyek di Jepang. Maka Hiro akan menjadi pertama baginya. Untuk ia kunjungi. Lelaki yang dia temukan saat musim semi lalu. Hingga sekarang. Menjadi sosok yang spesial bagi Dea.