
.
.
.
.
.
"Siapa Lucas Sandoro!" teriaknya dengan wajah memerah dan napas memburu.
"Lucas Sandoro?" tanya Leo dengan wajah syok.
"Kau-"
Leo menatap Hiro dengan wajah menelisik. Lelaki bermata coklat hangat itu terlihat linglung."Apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Leo terlihat berhati-hati.
"Aku memimpikan dia bersama Dea. Dia ingin merebut Dea dariku? Siapa dia sebenarnya huh?" tanya Hiro dengan napas yang sesak.
Hembusan napas lega begitu saja Leo lakukan. Lelaki berkulit eksotis itu hanya tersenyum tak enak."Dia masa lalu Dee sebenarnya," jawab Leo dengan wajah tak enak.
"Bukankah Kau dan Sera mengatakan dia adalah aktris Indonesia?" tanya Hiro dengan manik mata menyelidik.
Leo terlihat kelimpungan. Dia membohongi Hiro akan hal itu. Tapi, bagaimana lagi jika ia sendiri yang menginformasikan jika Lucas Sandoro adalah masa lalu nya Dea.
"Ah! Sebaiknya kau tanya kan saja pada Dea untuk kelanjutan nya ya!" Ucap Leo langsung berdiri dari posisi duduk nya. Ia akan kabur jika di tanyakan hal seperti ini.
"Hei! Leo!" Teriak Hiro dengan posisi tangan mengambang. Terlambat lelaki itu sudah masuk ke dalam kamar.
Hiro mendesah kasar. Lalu kembali ke dalam kamar dengan langkah kaki gontai.
***
Senyum Dea melebar. Kala belaian dari angin pantai mengelus pipinya. Menerbangkan beberapa helaian anak rambut yang tidak sempat di ikat. Sepasang tangan melingkar indah di perut ratanya. Wanita cantik masih menyembunyikan netra hitam legamnya di balik kelopak matanya.
"Aku bahagia kala hanya kau dan aku di sini." Seru sang lelaki meletakan dagunya di atas bahu terbuka Dea.
Tangan yang melingkar tiba-tiba saja kini sampai di ikat rambut Dea. Melepaskan ikatan rambut Dea. Membuat angin menerbangkan rambut yang lepas. Rambut yang lepas menari indah begitu saja. Lelaki itu begitu suka dengan aroma rambut Dea.
"Aku mencintaimu, Dea!" bisik Lucas di telinga kiri Dea dengan sangat lembut.
Dea tersenyum dengan warna alami di ke dua pipinya. Yang menghangat karena bisikkan Lucas"Aku juga," jawab Dea dengan nada yang terdengar begitu pelan.
Lucas Sandoro lelaki itu membalikkan tubuh Dea dengan sigap saling tatap. Seuntai senyum terpahat apik di wajah ke duanya.
"Aku berharap tidak ada yang akan memisah kan kau atau aku lagi," seru Lucas menatap lekat wajah Dea.
"Ya." Jawab Dea memilih masuk ke dalam dada bidang Lucas karena merasa malu karena di tatap oleh sang suami.
Libur yang ke dua dapatkan. Sebagai hadiah setelah mengurusi putra ke duanya. Berlibur hanya berdua. Hanya mereka berdua, itu yang di rencanakan oleh Ke dua orang tau mereka.
Meleleh. Air mata Dea meleleh begitu saja. Mimpi yang membawa hatinya ikut terlibat. Ke dua kelopak matanya terbuka perlahan. Netra hitam bening itu menatap sekitar. Ia baru saja tidur satu jam. Namun ia sudah kembali memimpin kan momen dirinya dan Lucas.
Dea mengusap kasar air mata yang mengalir. Lalu mendudukkan dirinya. Wanita cantik itu turun dari ranjang menuju pintu keluar. Menuruni beberapa undak tangga. Ia melangkah menuju lemari pendingin. Meraih minuman berwarna merah keunguan. Menuang nya ke dalam gelas.
"Bagaimana bisa masih terasa?" tanya Dea pada dirinya sendiri.
Dea Amelia Wijayanto. Wanita cantik itu membawa gelas minumannya ke meja makan. Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Di siang bolong ia malah meneguk minuman memabukkan itu. Berharap bisa melupakan rasa sesak di dada.
"Dia menjebak nya?"
"Maksudnya?"
"Bella! Gadis ular itu memberikan sedikit demi sedikit obat perangsang pada Lucas!"
"Lalu?"
"Dia tidak hamil anak Lucas. Menurut seorang informan. Itu adalah anak seorang lelaki bayaran. Yang sengaja untuk menghamili nya. Agar bisa membuat Lucas menikahinya. Dengan kata lain, gadis ****** itu tidak mendapatkan benih Lucas. Lelaki itu hanya di jebak beberapa kali saat lelah. Dan itu baru aku ketahui saat melakukan hipnotis padanya. Dan kau tau? Gadis itu mengakui semua nya. Pembunuh Sasa dan juga tentang bayi itu. Bukan hanya perselingkuhan yang Sasa ketahui. Tapi juga soal Bayi itu. Adikku harus memegang nyawa!"
"Tidak mungkin!"
Suara percakapan nya dengan Sera kembali berputar di benak Dea. Membuat ia memejamkan mata lalu membukanya dengan perlahan.
PRANG !!!!
Setelah meneguk seluruh isinya. Dea memecahkan gelas kosong itu dengan kasar. Hingga pecah begitu saja sampai di lantai marmer putih.
"Harusnya kau mati di tanganku! Agar aku bisa lebih tenang!" seru Dea dengan nada berat,"Sial! Ini begitu menyiksa!" lanjut nya dengan mengusap wajah cantik nya.
Dea wanita itu tidak ingin lemah. Menangis dan menangis, ia harus kuat. Dari arah belakang wanita tua mengendong anak balita imut itu terhenti. Ia menatap pecahan gelas yang ada. Lalu beralih pada sang Nyonya.
__ADS_1
"Nyonya Kim?" seru Mbok Siti.
Dea mengangkat wajahnya. Menatap wanita tua yang begitu baik dan sangat berjasa padanya. Lalu beralih pada wajah imut sang putra. Anak berusia lebih setahun itu menatap sang Ibu dengan manik mata polos.
Dea tersenyum. Lebih tepatnya memaksakan senyum nya. Lalu melangkah mendekati ke duanya. Yang tidak terlalu jauh dari posisi ia berada, melewati gelas yang hancur di lantai dengan sendal rumahnya. Mbok Siti menatap khawatir pada Dea
"Nyonya tidak apa-apa?"
"Tidak. Aku tidak apa-apa Mbok. Berikan Jino padaku, aku begitu merindukan nya." Ucap Dea membentang tangan nya. Menyambut Jino. Anak balita lelaki itu tersenyum lalu merentangkan tangannya. Menyambut sang Ibu.
Dea mengecup brutal anak lelaki itu. Membuat Jino terkekeh dan menghindari sang Ibu. Celoteh aneh mulai terdengar. Mbok Siti hanya tersenyum lembut. Namun tatapan ke kekhwatiran tak bisa terhindari. Setahun di lewati dengan baik oleh Dea. Namun bukan berarti wanita cantik itu baik-baik saja.
***
Jari jemari membentuk dawai gitar dengan lembut. Nyanyian mengalun dengan begitu indah. Suara serak begitu memukau banyak orang. Chandra Winata menyanyikan lagu dengan sangat indah. Lelaki Winata itu begitu menghayati setiap bait yang ia dendang kan. Di meja bernomor tiga wanita cantik itu terlihat begitu menghayati. Bukan menatap wajah Chandra di atas panggung. Malah membayangkan wajah lelaki lain. Wajah lelaki imut yang bersuara emas yang biasanya juga melakukan hal yang sama.
Setelah aku berjumpa denganmu, dengan alasan itu
Aku bahagia dengan perubahan kecil yang ada
Di pagi yang mempesona
Aku membuka mataku sambil memikirkanmu
Aku duduk berhadap denganmu di meja
Aku bertanya tentang harimu
Bahkan hariku itu terasa cukup bagus
Aku ingin menjawabnya dengan senyuman
Saat kita saling memahami hal-hal kecil
Aku terkejut dengan kenyataan bahwa kita sudah saling terbiasa
Aku mencintaimu
Sama seperti sekarang, saat itu terasa begitu damai
Aku ingin bersamamu untuk selamanya
Aku memikirkan hal itu saat aku tengah melihatmu
Aku begitu bahagia setelah aku berjumpa denganmu
Aku bisa sangat mencintaimu
Pikiran muda dan kekanak-kanakkanku dengan hangat
Saat kita saling menyakiti dengan nada yang santai
Aku tak bisa menahan hubungan kita yang kian menjauh
Karena itu maafkanlah aku
Bahkan sekarang di saat aku tengah merasa cemas
Aku ingin bersamamu untuk selamanya
Aku memikirkan hal itu saat aku tengah melihatmu
Aku begitu bahagia setelah aku berjumpa denganmu
Aku bisa sangat mencintaimu
Pikiran muda dan kekanak-kanakkanku dengan hangat
Setelah musim panas berlalu
Bersama dengan suara hujan yang akan aku rindukan
Saat pipiku memerah karena malu
Aku akan mengecup matamu, saat kau memiliki banyak pikiran
Ayo kita melangkah maju bersama
Apakah kau juga bahagia setelah berjumpa denganku?
Maafkanlah aku karena aku memiliki banyak hal yang tak bisa ku berikan padamu
__ADS_1
Aku egois dan tak berpendirian
Namun aku ingin memperlakukanmu dengan baik
Sepertinya aku sudah meenmukan cinta yang sempurna
Yang sudah aku tunggu-tunggu begitu lama
Karena kau memelukku dan memberiku kekuatan
Karena kau memelukku dengan penuh perhatian
Setelah aku berjumpa denganmu
Lagu di akhiri dengan tepukan tangan yang meriah dari penonton. Lagu Me After You dari Paul Kim. Begitu menyentuh banyak orang-orang. Dea menatap Chandra dengan senyum lembut. Isi hati Chandra begitu menggugah hati. Namun salahkan jika hati tidak bisa berubah meskipun dunia berubah.
Chandra turun dari pentas kecil cafe. Lalu melangkah dengan lebar mendekati meja Dea. Wanita cantik itu memberikan air minum pada Chandra. Agar lelaki bermata bulat itu tidak merasa kekeringan pada tenggorokan nya.
"Terimakasih Dea!" Seru Chandra menerima air mineral di gelas. Dengan meneguknya nya perlahan. Hanya membasahi tenggorokan yang terasa agak kering. Dea tersenyum lagi.
"Bagaimana lagunya?"
"Bagus. Sangat bagus aku suka."
"Ah! Benarkah?"
"Ya. Tentu saja. Kakak menyanyikannya dengan sangat merdu."
"Aku senang jika kau suka."
"Tentu saja. Karena lagu yang Kakak bawa selalu begitu bagus. Dan terasa menghanyutkan," puji Dea lagi.
Chandra malu. Lelaki itu menunduk dengan pipi memerah. Dea terkekeh pelan melihat bagaimana ekspresi Chandra. Bagaimana caranya? Jika ia mengatakan hal yang akan membuat surut senyum hangatnya? Chandra akan terluka.
"Bagaimana perusahaan di Jepang?" tanya Chandra mencoba membuka topik baru. Agar wajahnya tidak lagi bersemu.
"Sangat baik. Sera membantu perusahaan di sana. Setelah ia sampai di sana," jawab Dea santai.
"Syukurlah kalau begitu. Kapan kita kan melakukan libur bersama?"
"Bagaimana jika Minggu besok?" usul Dea.
"Baik. Aku juga tidak ada pekerjaan." Balas Chandra dengan penuh semangat.
"Kakak!" panggil Dea dengan pelan.
"Ya. Ada apa Dea? Kenapa kau terlihat serius sekali?" tanya Chandra yang melihat ekspresi Dea.
"I—itu aku ada sesuatu yang ingin aku katakan."
"Apa itu?" tanya Chandra penasaran.
"Aku sebenarnya ada—"
TRING~~~~
Bunyi berisik dari ponsel Dea membuat laju perkataannya terhenti. Dea menatap layar ponsel nya dengan dahi berlipat.
"Kenapa?" tanya Chandra.
"Ini, Leo mengubungiku. Maaf, aku harus menggangkatya dulu ya, Kak!" pamit Dea.
"Ya. Silahkan," jawab Chandra pelan.
Wanita cantik itu menjauh kala menggeser layar. Untuk menjawab.
"Ya. Ada apa?"
"......."
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Dea dengan wajah panik.
" ........"
"Apa yang kau katakan padanya?" tanya Dea dengan nada yang menahan emosi.
"....."
TUT.......!
"Aish! Sial!" maki Dea dengan wajah panik.
__ADS_1