Momy? I'Am (Season 2)

Momy? I'Am (Season 2)
Chapter 16 (Season 2)


__ADS_3

16


.


.


.


.


.


PRANG !


BRUK !


BRAK !


Para Maid terlihat menguping di luar pintu ruangan kerja sang Bos. Teriakan dan barang yang di hempasan terdengar cukup jelas. Belum lagi teriakkan dari Nyonya ke dua Sandoro itu. Membuat mereka begitu penasaran. Sedangkan di dalam ruangan. Lelaki imut itu hanya menyandarkan punggung belakang nya di kursi.


"Kau masih tak mau mengaku Kak Lucas?" teriaknya entah sudah untuk ke berapa kalinya.


"Aku sudah bilang tidak! Aku tidak berselingkuh dengan siapapun," jawab Lucas jengah.


Bella tersenyum sinis. Ia tak bisa mempercayai perkataan sang suami. Bagaimana ada asap tanpa ada api? Lalu dari mana datangnya noda lipstik dan juga bau parfum wanita itu.


"Apa karena aku tak lagi menarik di mana mu, huh?!" lagi-lagi gadis berbadan dua itu membuat asumsi.


Lucas memutar bola matanya jengah. Seluruh ruangan kerjanya berantakan. Jika saja Lucas ada tenaga lebih untuk berteriak dan membentak sudah dia lakukan sejak tadi. Saat Bella masuk langsung menghempaskan dokumen yang ia baca. Begitu juga dengan apa yang ada di atas meja.


Sayangnya, lelaki Sandoro itu sedang dalam keadaan yang tak enak badan. Ia baru saja merasakan jantungnya di remas kasar. Hingga peluh dingin membasahi tubuhnya. Tidak bisakah Bella bertanya keadaanya? Melihat dirinya. Sebelum mendakwa dan meneriaki nya. Sekeras apa pun ia berkata ia tidak melakukan hal itu. Gadis itu keuhkeh menuduhnya.


"Tolong! Aku sedang dalam ke adaan tidak baik saja saat ini. Jangan bawa aku ke dalam spekulasi murahan mu," seru Lucas dengan kesal.


"Oh! Begitu. Jadi aku hanya berspekulasi murahan, begit Kak Licas?" ujar Bella dengan nada bergetar.


Lucas mengusap kasar wajahnya. Ibu hamil memang terlalu sensitif. Namun kenapa gadis itu tidak sensitif dengan keadaan nya. Di mana Bella yang mengerti dirinya. Dimana Bella yang selalu khawatir pada nya? Dan di mana Bella yang selalu memperhatikan nya Bella yang dulu?


Gadis itu jauh berubah. Dulu, sangat dulu. Gadis itu selalu menjadi gadis lembut dan begitu ceria. Namun setelah ia nikahi gadis itu menuntut ini dan itu. Membuat Lucas gerah saja, bagaimana bisa ia berubah begitu pesat.


"Istirahatlah, hari sudah malam. Aku tidak ingin kau dan bayimu kenapa-napa," usir Lucas halus.


Hembusan napas kasar melalui mulut gadis itu dengan wajah memerah karena marah. Bagaimana bisa Lucas terlihat tenang dan acuh. Apakah lelaki itu juga begitu pada Dea. Saat ketahuan? Begitulah yang ada di benak Bella.


"Kau berubah, Kak Lucas!" ujar Bella dengan suara lemah,"Tidak akan aku biarkan satu wanita mana pun merebut mu dari aku. Tidak akan pernah. Jadi camkan itu dengan baik di telinga dan otakmu!" lanjut Bella dengan penuh penekanan.


Ia menghapus kasar air matanya. Lalu melangkah keluar dari ruangan."Aku tidak berubah. Kau yang berubah Bella. Dea! Aku merindukanmu," ujar Lucas lirih dengan wajah pucat pasi.


***


"Bagaimana menurut mu Dea dengan kantor baru ini?" tanya Chandra pada Dea yang berdiri di samping kanan nya.


Manik mata yang menatap ruangan luas itu kini beralih pada wajah tampan Chandra. Meski ia harus menengadah karena tingginya dan Chandra berbeda.


"Bagus dan dekat dengan Apartemen kita," jawab Dea.


"Apa kau mau menjadi sekretaris ku?"

__ADS_1


"Aku belum memutuskan untuk bekerja lagi Kak."


"Ah! Sayang sekali. Aku berharap bisa selalu bersamamu," ucap Chandra membuat kerutan di dahi Dea.


"Maksudnya?" tanya Dea dengan nada aneh.


Chandra melemparkan senyum lembut. Membuat lesung menampilkan lubang dalam di salah satu pipinya."Aku sangat merasa nyaman saat bisa selalu bersamaku," jawab Chandra jujur.


Dea mengigit bibir bawahnya. Menundukkan pandangan nya hanya menatap lantai marmer perusahaan besar itu. Membuat Chandra semakin mengembangkan senyum.


"Aku tau, kau pasti tau perasaanku kini Dea!" ujar Chandra dengan nada serak milik nya.


Ya. Wanita itu tau tentang rasa Chandra. Saat lelaki itu hampir saja menciumnya. Dea Amelia Wijayanto. Wanita itu tak tau bagaimana dengan perasaan nya. Ia masih merasa kacau dalam gelombang dendam dan benci. Membuat ia tak bisa waras dalam rasa. Ke diaman Dea membuat Chandra mengerti. Jika wanita di samping nya ini masih belum bisa menjawabnya.


"Tidak usah di jawab, jika kau masih tak tau jawabannya. Aku bersedia menunggu," ujar Chandra lagi.


"Maaf dan terimakasih atas pengertiannya, Kak!" jawab Dea lirih.


Tangan kekar itu meraih tangan Dea. Menggenggamnya erat, lalu mengusap punggung belakang tangan Dea. Ia ingin memberikan Dea rasa nyaman dan aman. Ia tak ingin memaksa Dea. Ia akan memberikan banyak waktu untuk Dea. Wanita di samping nya masih seorang istri dan juga seorang Ibu.


Bukan hanya kebahagiaan nya sendiri yang ia pikirkan. Wanita cantik itu juga memikirkan kebahagiaan anak-anak nya. Lagi pula, ia tau Lucas akan mengamuk saat tau jika Chandra menyatakan cinta pada istri nya.


"Kau bisa berpikir sepuasmu Dea. Aku akan menunggu mu dan berada di sampingmu apa pun yang terjadi. Jangan takut jika aku akan pergi meninggalkan mu hanya karena rasa yang mungkin nanti tak terbalas." Ujar Chandra dengan menarik tubuh Dea lebih dekat lagi dengan nya.


Membawa Dea masuk ke dalam pelukannya. Dadanya bergemuruh, hingga sampai ke Indra pendengaran Dea. Jantung nya berdebar begitu keras. Membuat Dea bertanya-tanya sejak kapan lelaki ini mencintai nya? Kenapa ia tak tau jika Chandra menyimpan rasa padanya. Hingga baru sekarang lelaki itu berani mengungkap rasa padanya.


"Memeluk mu seperti ini membuat aku merasa tenang Dea. Aku tau kau bisa mendengar bagaimana gemuruh dari jantungku hanya karena mu." Seru Chandra semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Dea.


Tak ada jawaban dari Dea. Wanita bermata bulat itu hanya bungkam. Di lain tempat, wanita cantik dan lelaki tampan sampai di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Lelaki berlesung itu mengendong anak perempuan yang berumur dua tahun. Wanita cantik itu tersenyum lebar karena kembali menghirup udara segar Indonesia.


"Korea! Aku disini lagi. Aku begitu merindukan kalian semua," ujarnya dengan nada bahagia.


"Tentu saja. Apa lagi sekarang kita di sini tidak lagi berdua. Ada my Baby yang lucu ini," ujarnya mengusap pipi putrinya yang tertidur di gendong sang suami.


"Benar. Apa kita langsung menuju rumah," seru sang suami tak kalah semangat nya.


Ke duanya langsung melangkah dengan menari troli menuju pintu kedatangan Luar negeri.


***


"Apa apa lagi?" tanya sinis. Wanita cantik itu melipat tangan nya di depan dada.


"Tidak bolehkah, aku merindukan istriku?" ucap Lucas dengan bibir pucat.


Manik mata Dea berotasi. Mereka bertemu di sungai. Atas permintaan Lucas. Dea tersenyum sinis mendengar perkataan Lucas.


"Masih ingat ternyata jika aku


ad-"


Perkataan Dea terhenti. Kala tubuh nya di tarik masuk ke dalam pelukan Lucas. Lelaki Sandro itu memeluk Dea dengan erat kala wanita bermata hitam legam ingin melepaskan tubuhnya. Meski sakit, kekuatan lelaki tidak bisa di remehkan.


"Biarkan seperti ini hanya beberapa saat saja. Hanya beberapa saat saja, aku mohon!" Ujar Lucas meletakkan dagunya di atas bahu Dea.


Perlawanan Dea tak lagi terasa. Tubuhnya diam begitu saja, angin malam menerbangkan setiap helaan anak rambut nakal Dea. Air yang beriak berkilau karena cahaya lampu jalan. Lucas berharap waktu bisa berhenti saat ini juga. Ia begitu sangat merindukan aroma tubuh Dea. Tubuh wanita yang ia cintai.


Debaran terasa mengisi gendang telinga masing-masing. Teratur dan mendebarkan. Baik Lucas maupun Dea. Masih sama dan seirama. Cinta yang tumbuh bukan hitungan bulan namun dalam hitungan puluhan tahun. Gadis kecil yang melamarnya dengan wajah cantik nya. Lalu berubah menjadi gadis cantik dewasa yang ia nikahi di altar.

__ADS_1


Banyak yang mereka alami hingga cinta tubuh begitu besar. Ke duanya tak hanya memiliki hati saja. Ada anak-anak di antara mereka. Terutama Dea, wanita itu memberikan seluruh hatinya pada Lucas. Dengan sangat tulus, hingga tak tersisa lagi untuk lelaki lain.


Saat wanita jatuh cinta. Maka sepenuhnya akan di berikan pada lelaki itu. Meski pada akhirnya akan terkoyak atau pun tercabik. Hati yang luka itu akan tetap ada untuk satu orang. Begitulah keunikan seorang wanita dari pada lelaki. Yang hanya memakai otak bukan hati.


Udara dingin tak mampu menyengat kulit ke duanya. Lucas masih saja tetap dalam posisinya. Sampai tangan lelaki itu melemah. Kelopak matanya tertutup sempurna. Membuat Dea hampir saja terjengkang kebelakang jika tak berdiri dengan benar.


"Kakak!" Panggil Dea dengan suara panik.


Tidak ada jawaban. Membuat wajah cantik itu semakin panik. Ia mengoyangkan tubuh Dea."Kakak! Hei! Ini tidak lucu. Ayolah!" Seru Dea masih mencoba mengguncang tubuh Lucas. Tidak ada respon apapun. Membuat wanita cantik itu berteriak panik meminta pertolongan.


***


Wanita cantik itu kacau. Menatap wajah yang tergolek lemah di atas ranjang. Lelaki yang memakai alat bantu pernapasan. Ke dua matanya bengkak. Bukan kah dia bodoh? Kenapa harus menangis' hanya karena lelaki jahat itu. Kenapa harus terluka melihat lelaki itu pingsan hingga membuat udara di paru-paru nya menipis.


Ujung hidung terlihat memerah karena menangis. Lucas Sandoro, lelaki itu mengkhianati nya. Membuat ia dan anak-anak menderita. Harusnya Dea bahagia melihat lelaki itu menderita. Lalu kenapa ia tak begitu? Apa yang salah dengan dirinya?


KLIK!


Pintu ruangan perawatan terbuka. Lelaki tua dengan jubah Dokter masuk dengan data Lucas di tangannya. Dea langsung berdiri. Ia membungkuk pada Dokter yang menangani sang suami. Dokter tua itu juga melakukan hal yang sama.


"Bagaimana dengan keadaan suami saya Dokter?" tanya Dea dengan nada serak.


Dokter Doni mendesah kasar. Ia menatap lama wajah istri pasien nya dengan wajah letih."Mohon maaf Nyonya Dea. Beberapa kali kami melakukan tes pada jantung Tuan Lucas. Dan hasilnya positif terkena tumor yang mulai aktif," ujarnya dengan nada berat.


Mulut Dea terbuka lebar. Ia tak percaya. Apa-apaan ini, setelah apa yang lelaki itu lakukan pada nya. Seenak hatinya dia sakit keras. Dea bahkan baru memulai permainan. Untuk menghancurkan lelaki itu. Bukan untuk membuat lelaki itu mati. Bukankah kematian terlalu mudah?


Dea merasa tak bertenaga. Hingga terduduk kembali di kursi. Ia meneguk kasar air liur nya. Menengadah menatap sang dokter.


"Apakah itu parah?" tanya Dea dengan wajah khawatir.


"Cukup mengkhawatirkan. Karena seperti yang kita semua tau. Jika Tumor jantung jarang di alami oleh orang Korea. Terutama yang di bawah umur lima puluh tahun. Dan karena penyakit ini juga sangat mematikan. Kami hanya bisa melakukan operasi pada Tuan Lucas. Hanya saja, tidak menampik akan adanya sel baru lagi yang akan tubuh. Karena itu Tuan Lucas di usahakan untuk tidak dalam keadaan stres agar bisa meminimalisir pembesaran lebih lagi pada katup jantung nya," papar Doni.


Dea linglung. Bagaimana bisa? Apa itu alasan lelaki yang terbaring di ranjang pesakitan ini terlihat lebih pucat.


"Terimakasih Dokter. Mohon bantuannya untuk selanjutnya," ucap Dea dengan pandangan mata kosong.


"Sama-sama Nyonya Dea. Kami akan membantu Tuan Lucas sekuat tenaga," ujarnya pelan.


Dokter Doni pamit dan keluar dari ruangan rawat Lucas. Di lain tempat Bella terlihat mondar mandir di kamar. Hatinya terasa panas, pikirkan buruk mulai meraja Lela di sel-sel otaknya. Ia berpikir jika Lucas tak pulang. Pasti menghabiskan hari bersama selingkuh nya. Puncak kepala Bella berasap. Memikirkan kemungkinan lebih buruk lagi.


"Tidak bisa aku biarkan," ujarnya dengan nada kesal.


Bella meraih jaket tebalnya. Dan kunci mobil keluar dari kamar terburu-buru. Wajahnya terlihat memerah karena kesal.


KREK!


AAAAAAAA!!!


BRAK


BRUK


AKH!!!


Tubuh gadis itu menggelinding jatuh dari tangga karena tersandung kakinya sendiri. Darah segar mengalir di pahanya. Hingga merembes di lantai. Ia bahkan tidak bisa berteriak nyaring. Karena sakit yang kini menghantam perut besarnya. Darah amis bercampur air ketuban yang pecah semakin membuat basah lantai.


Dari arah Utara wanita tua itu ingin memberikan kejutan untuk Bella. Namun sayang, gadis itulah yang memberikan kejutan lebih dahulu. Ia ingin tertawa lebar. Namun bibir tuanya di katup rapat dengan senyum sinis. Ia bersembunyi di balik pilar, menghindari CCTV. Ia akan menonton saja sampai satu jam. Maybe.

__ADS_1


Saat Mbok Siti mencoba melenyapkan kandungan itu tak lenyap. Tapi sepertinya, karma sangat bijak. Hingga tidak pernah mengotori tangganya.


__ADS_2