Momy? I'Am (Season 2)

Momy? I'Am (Season 2)
Chapter 33 (Season 2)


__ADS_3

33


.


.


.


BRAK!!


BRAS !


BRAK!


"Sialan kau Dea Amelia Wijayanto! Aku akan menghancurkan mu!" Teriak Billi dengan wajah murka.


Rio hanya bisa menatap seluruh benda di dalam ruangan kerja Billi hancur lebur. Lelaki Sandoro itu mengusap kasar wajahnya. Ia tidak menyangka jika Dea mampu mengalahkannya. Bahkan memblokir seluruh akses nya. Otak jenius nya seketika beku karena kehebatan Dea. Ia lupa jika tidak seharusnya ia meremehkan Dea Amelia Wijayanto.


Ibu dari tiga anak itu begitu hebat. Hingga bisa membaca setiap langka sempurna yang telah ia rancang.


"Billi!" seru Rio pelan.


Billi menoleh pada Rio. Lelaki yang sudah amat lama bersamanya itu mendesah kasar."Apa tidak sebaiknya kau melepaskan dendam mu? Karena ini akan membahayakan dirimu sendiri. Kau lupa bagaimana tatapan mematikan nya padamu terakhir kali?" tanya Rio membuat ke dua tangan Billi mengepal.


"Melepaskan, huh?" tanya Billi dengan dengusan di akhir. Di angguki oleh Rio ragu-ragu.


Billi tertawa setan. Ia tidak akan pernah melepaskan nya. Ia masih bisa merasakan dinginnya air hari itu. Bagaimana ia jatuh ke tangan para ********. Membuat nya menjadi pengemis. Dan berakhir menyedihkan. Beruntung kecerdasan nya mampu membangun Perusahaan besar di Belanda. Tapi siapa sangka, Dea mampu membuat dirinya menjadi tak berarti. Bahkan mengguncang Perusahaan raksasa nya di Belanda saat ini.


"Perusahaan di Belanda adalah Perusahaan yang kau bangun dari nol Billi! Lalu apa kau akan menghancurkan nya begitu saja di tangan wanita yang di cintai oleh Lucas?" tanya Rio dengan nada serius.


"Tidak. Tidak ada yang bisa mengalahkan ku. Termasuk wanita satu itu!" Keukeh Billi dengan mengertakkan gerahamnya.


Di lain tempat Dea mengetuk jari nya di atas meja. Kehebatan di miliki nya, tentu saja dari Wang Feng. Lelaki tua itu memiliki banyak relasi bisnis. Sang Ayah membuat ia dengan sangat mudah membaca gerak Billi. Dan juga memblokir seluruh pergerakan nya. Membuat Perubahan di Belanda milik Billi kacau balau.


"Dea!" Panggil yang lembut membuat ia menoleh ke arah selatan.


Dengan sigap Dea berdiri dari posisi duduk nya. Ia melangkah mendekati Lucas. Lelaki Sandoro itu mengembangkan senyum nya.

__ADS_1


"Kapan kau sampai?" tanya Dea dengan wajah senormal mungkin.


"Baru saja," ujar Lucas dengan nada lambat,"Ayo! Kau pasti lapar. Kita akan makan siang di luar," ajaknya.


"Ayo!" Balas Dea dengan nada manja.


***


"Apa ini?" tanya Tuan Sandoro dengan nada tak percaya.


"Tuan Billi. Akhirnya kita bisa menemukan nya Tuan Sandoro. Maafkan kami karena baru bisa menemukan nya sekarang!" seru lelaki yang sudah sangat tua.


Tuan Sandoro mendesah kasar."Jadi maksudnya yang datang kesini adalah Billi bukan Lucas?" tanya Tuan Sandoro dengan nada berat.


"Ya. Namun ada kabar baik pula Tuan Sandoro. Tuan muda Lucas selama ini bersama Nyonya Dea. Kami sudah lama bertemu dengan nya. Hanya saja Tuan muda Sandoro meminta untuk merahasiakan nya. Sampai dia bisa merebut kembali Nyonya Dea. Membuat Nyonya Dea memaafkan nya dan juga kembali mencintai nya!" papar lelaki itu.


"Ini membuat kepalaku merasa ingin pecah!" Ucap Tuan Sandoro memijit perlahan ke dua sisi dahinya.


Di balik pintu. Santi merasa lemas. Bagaimana bisa? Putra pertama nya masih hidup?


Wajah tua itu merasa haru. Sudah sangat lama rindu ini ia pendam sendiri. Kenyataan demi kenyataan mulai bermunculan.


***


Manik mata tajam terlihat beberapa kali mencuri pandang ke arah pintu masuk Cafe. Ketika bunyi lonceng berdenting saat itu lelaki bermata elang itu tersenyum lembut.


Dea melangkah mendekati meja lelaki tampan itu. Menarik kursi untuk duduk dengan nyaman. Di atas meja telah tersedia minuman dan makanan.


"Sebelumnya terimakasih telah datang menemui ku, Nona Dea" serunya dengan nada berat.


Dea mengulas senyum sopan. Ia melipat tangan di bawah dada. Menatap bawahan lelaki yang sedang berada di ujung tanduk. Dea tak tau apa yang di inginkan oleh pria di depannya ini. Hingga meminta nya untuk bertemu.


"Ya. Tidak masalah. Aku pikir ada hal penting yang mungkin ingin Anda dengar dariku Tuan Rio?" tutur Dea.


Rio mengangguk pelan. Ia butuh wanita ini. Rio tak menyangka jika kemarahan Dea yang begitu menakutkan. Membuat sahabat nya kalang kabut. Karena dendam membuat Billi berambisi besar menjatuhkan saudara kembarnya sendiri.


"Masalah Perusahaan di Belanda. Bisakah Nona melepaskan nya?"

__ADS_1


"Kenapa harus?"


"Bagaimana pun, Billi adalah saudara kembar Tuan Sandoro. Lelaki yang anda Cintai."


"Saya tidak akan menggangu nya. Jika tidak mengusik terlebih dahulu," cibir Dea.


Rio paham maksud dari perkataan Dea. Namun sebagian seorang yang sudah lama bersama. Rio merasa Billi adalah seorang yang begitu kasihan. Ia bertahan dalam kesendirian. Berjuang hanya sendiri tanpa bantuan. Hingga bisa mendirikan perusahaan yang besar hanya berbekal kecerdasan otak yang mumpuni. Berbanding terbalik dengan Baekhyun. Hanya menguap saja bisa mendapatkan apapun yang ia mau tanpa kerja keras.


"Tolong mengerti keadaan nya, Nona Dea. Billi bukanlah orang yang jahat, ia memiliki hati yang hangat. Aku tidaklah mengada-ada. Jika bukan karena rasa sakit ia tidak akan begitu pada saudara sedarah nya bukan?" tutur Rio dengan wajah sedih,"Aku akan berusaha menyadarkan nya. Aku mohon, jangan hancur kan sesuatu yang di bangun dengan keringat dan air mata. Aku yakin, Nona Dea adalah orang yang sangat bijak," lanjut Rio mengakhiri percakapan.


****


Hembusan angin menerbangkan anak rambut Dea. Wanita cantik itu masih betah bermain bersama angin malam. Dingin nya belaian angin malam tak terlalu ia peduli kan. Pikiran nya terbang entah kemana.


"Dea!" Seruan dan lilitan di perut datarnya membuat garis senyum tercipta begitu saja.


Lucas memeluk Dea dari belakang. Meletakkan dagunya di puncak kepala Dea. Ia ikut menatap laju mobil di bawah sana. Balkon apartemen mewah itu selalu menyuguhkan pemandangan yang indah di kala malam menyapa.


"Kenapa kau selalu suka berdiam dan berdiri di balkon, hem?" ujar Lucas dengan nada lembut.


"Aku hanya memikirkan banyak hal yang agak menganggu," jawab Dea jujur.


"Apa yang menganggu wanita cantik ku ini, Hem?"


"Bukan masalah besar."


"Bukan masalah besar. Namun mampu membuat kerutan halus di dahi mu!"


Dea terkekeh pelan. Lucas selalu mampu membuat ia merasa terhibur hanya dengan berbicara. Lucas melepaskan belitan tangannya di perut Dea. Membalik tubuh Dea menghadap ke arahnya. Wanita itu menengadah menatap wajah Lucas dengan manik mata terang nya.


Jari jemari Lucas membelai pipi Dea. Membuat manik mata hitam terang itu bersembunyi di balik kelopak mata. Ia menikmati elusan lembut penuh kasih dari lelaki ini.


"Aku mencintaimu Dea Amelia Wijayanto." Ucap Lucas masih mengusap lembut pipi Dea.


Manik mata hitam terang itu menampakkan diri. Detak jantung nya terasa tak pernah normal kala lelaki itu menyatakan perasaannya. Padahal itu hanya kata cinta yang ringan. Namun terasa begitu dalam dan menyentuh.


"Aku juga. Mencintai mu," balas Dea membuat debaran tersendiri bagi ke dua insan yang saling cinta itu.

__ADS_1


__ADS_2