
.
.
.
.
.
Air mata mengalir deras namun tak ada Isak tangis. Rahang Lucas mengeras."Kau--"
BRAK!!!!!
Keduanya terkejut. Sontak menatap ke arah pintu kamar. Dua wanita beda usia menatap tak percaya pada Lucas. Dan menatap Jun yang masih terduduk di lantai kamar lelaki itu.
Lucas merasa dunia runtuh. Tatapan yang di layangkan mampu mengartikan semuanya.
"Papa!" seru Bintang dengan pandangan tak percaya. Mata sempit itu langsung melempar tatap ke arah sang adik yang ada di lantai. Bahkan cap lima jari terlihat kontras dengan wajah putih sang adik.
Bintang berlari mendekati sang adik. Melewati sang Ayah, ia memeluk Jun dengan erat. Tangis Jun pecah, sungguh sangat sakit. Bukan tamparan itu yang membuat ia merasa sakit. Namun wajah di ambang pintu itu yang membuat Jun merasa begitu sakit. Ia begitu, sangat benci dengan wajah itu.
"Tidak apa-apa, Kakak di sini. Jun tidak perlu takut." Ujar Bintang menenangkan sang adik yang masih menangis. Menepuk-nepuk punggung belakang Jun. Penuh kasih sayang.
Jun menatap tajam masih dengan linangan air mata. Di mana wajah sang Ayah menatap Chou Bella di ambang pintu. Kakaknya datang dengan wanita ular itu. Jun mengusap kasar air matanya. Lalu berdiri, di bantu oleh Bintang yang melepaskan pelukan nya.
"Kakak! Kenapa kau ke sini bersama wanita ular itu!" Tanya Jun dengan menunjuk Bella membuat Bintang meliput dahi.
"Jun! Apa maksudmu apa——" perkataan Bintang terhenti. Kala otaknya kembali mengulang apa yang ia dengar dan apa yang baru saja di katakan oleh adik satu-satunya itu.
Pupil matanya melebar. Menatap Lucas dan Bella berganti-gantian. Ke duanya terlihat masih saling tatap dalam ke bungkaman. Bintang menggeleng keras, seolah menolak kenyataan. Bagaimana bisa, wanita yang selalu memperhatikan nya. Selalu terlihat sayang padanya dari pada anak didik yang lain adalah selingkuhan dari Ayahnya.
Wanita itu sudah seperti Sasa. Di anggap sebagai Bibi ke dua. Tapi apa? Wah! Bintang merasa mereka memang kejam. Orang terdekat punya peluang menyakiti lebih besar dari pada musuh. Harusnya Bintang tau akan hal itu dengan pasti. Jika dulu ia lah yang memergoki sang Ayah dengan kakak Ibunya. Kini adiknya mendapatkan hal yang sama.
"Bintang!" seru Lucas yang mulai sadar. Membuang tatapan pada Bintang dan Jun.
Bintang dengan sigap menyembunyikan tubuh adiknya di belakang tubuhnya. Menatap nyalang dua orang yang berlainan jenis itu.
"Bagaimana bisa?" tanya Bintang dengan nada pecah,"Bagaimana bisa kau mengulang kembali kebejatan mu, Papa!" lanjut nya dengan teriakkan di akhir kata.
__ADS_1
Lucas diam. Bella melangkah mendekati ke tiganya. Namun teriakkan dari Bintang membuat langkah nya berhenti begitu saja.
"Berhenti di sana! Kau begitu menjijikan. Dan kau juga! Kau begitu mengerikan. Kalian berdua benar-benar menjijikkan!" teriak Bintang dengan nada delapan oktaf.
Lucas membuka mulutnya. Namun terkatup kembali. Manik mata hitam legam gadis remaja itu memerah. Tatapan benci, marah, jijik dan kecewa menjadi satu.
Bintang menarik tangan Jun. Anak lelaki itu mengikutinya, membuat Lucas kalang kabut. Ia berlari mengikuti ke dua anaknya.
"Bintang! Jun! Dengarkan Papa dulu!" teriak Lucas.
Tidak. Mereka berdua tak butuh penjelasan dari sesuatu yang pecah. Karena yang pecah hanya butuh di buang dan beli yang baru. Bukan mendengar kan apa yang di katakan oleh yang membuat itu pecah. Karena mendengar kan tidak akan membuat yang pecah kembali seperti semula.
Lucas mencekal pergelangan tangan Bintang. Membuat langkah lebar itu terhenti. "Papa! Mohon Bintang!" ujar Lucas dengan nada letih.
Bintang menatap Lucas dengan wajah merah. Menghempaskan kasar tangan Lucas. "Apa yang kau inginkan?" tanya Bintang tak ada lagi sopan di dalam nada terselip.
"Jangan pergi!" Hanya itu yang bisa Lucas katakan. Membuat kekehhan sinis dan cibiran dari Bintang terdengar.
"Kau yang mendorong aku pergi, lalu kenapa harus menahan. Ingat! Anda telah membuat keluarga kita hancur lagi. Jadi jangan berharap untuk kembali pada ku dan Jun. Untuk Mama, aku yang akan mengurus nya. Kau bisa menikahi wanita di dalam kamar itu. Dan aku bisa menghidupkan Mama dan adikku. Seperti yang pernah aku rencanakan dulu. Saat pertama kali kau selingkuh," ujar Bintang mampu membuat Lucas semakin gila saja.
"Bintang!" Seru Lucas menarik pergelangan tangan Bintang menahan langkah kaki yang akan kembali tercipta.
BRUK!!!
"Papa mohon. Papa tidak bisa hidup tanpa kalian dan Mamamu!" ucap Lucas dengan nada bergetar. Ke dua matanya memerah.
Bintang melirik wajah sang adik. Ia menatap kasihan sang adik. Ia tau ini berat bagi Jun. Karena dia pernah berada di posisi Jun. Namun bedanya ia belum pernah mendapat kan tamparan dari Lucas. Sebelah tangan yang bebas terangkat. Mengusap pelan pipi merah Jun. Tanpa mau menatap wajah sang Ayah yang kini bersujud padanya.
"Ini pasti sangat sakit sekali, maafkan Kakak yang datang terlambat sayang. Jun tidak perlu takut. Mama adalah wanita yang kuat. Dia bisa hidup tanpa Papa. Dan Jun tidak perlu takut akan hal itu. Kakak sudah menjadi artis sekarang. Kakak bisa menyekolah kan Jun sampai tamat. Cukup hanya kita saja, dan adik kecil nanti," ujar Bintang menatap penuh kasih sayang mata sang adik.
Lucas. Lelaki itu menangis, hatinya terasa di tampar berkali-kali. Ia kehilangan peran Ayah. Dan hak nya sebagai Ayah. Mendengar perkataan Bintang membuat ia merasa begitu hancur. Bella tak ikut campur, ia tidak bisa masuk dalam pusaran air keruh. Jika tak ingin memperkeruh suasana.
Bintang melepaskan cekalan tangan Lucas. Lalu melangkah bersama Jun. Lucas terisak-isak. Bella melangkah mendekati Lucas yang masih di posisi semula.
Di lain tempat, Dea menatap lelaki Winata itu dengan dahi berlipat. Melihat bagaimana perhatian nya Chandra padanya. Ia bahkan membawa wanita cantik yang tengah hamil itu keluar dari rumah Sakit diam-diam. Hingga mereka di restoran kesukaan Dea.
"Ayo, makan lagi." Ujarnya meletakan udang tepung di atas mangkok Dea.
"Kau juga harus makan Kak? Semua makanan kau letakkan di atas mangkok ku." Ujar Dea kini meletakan sayuran di atas mangkok Chandra.
__ADS_1
Lelaki Winata itu memperdalam lesung di pipi nya. Menyumpit sayuran dan nasi memasukan ke dalam mulutnya. Perlahan ia mengunyah dengan rasa bahagia.
"Aku merasa kau sangat aneh Kak, kau begitu perhatian. Melebihi Kak Lucas padaku. Apa-apa kau akan panik. Seperti suami siaga saya," ujar Dea melepaskan uneg-uneg nya.
Chandra menelan makanan nya. Ia meraih air mineral yang sudah di tuang di gelas. Menegak nya sampai habis. Lalu menipiskan bibir nya."Kau tau Dea! Saat Karina hamil anak ku. Saat itu aku begitu sibuk. Baik di perusahaan dan di rumah. Aku jarang memperhatikan lebih pada Karina. Ia tak pernah mengeluhkan itu. Sampai anak kami lahir. Dia begitu tampan seperti aku," ujar Chandra dengan kekehhan pelan,"Namanya Leondra Winata, dia lebih mirip dengan aku. Aku bahagia, sungguh. Namun semuanya lenyap sekejap mata. Sebelum aku bisa memberikan banyak waktu pada mereka berdua mereka pergi bersama dalam kecelakaan maut. Andaikan saja aku mengantarkan mereka pulang saat itu. Maka mungkin kematian tidak akan ada. Aku tak ingin kehilanganmu," lanjut Chandra.
Tunggu! Apa yang Chandra katakan di akhir tadi?! Tidak ingin kehilangan dirinya. Dea menatap lekat Chandra Membuat lelaki itu sadar apa yang baru saja ia ucapkan."Ah! Maksudku adalah aku tidak ingin kau sakiti. Agar tidak terjadi apa-apa pada bayimu dan kamu. Dan aku bisa selalu melihat kau bahagia. Karena kau adalah adikku," ujar Chandra berkilah.
Ayolah! Dia tidak mungkin mengatakan jika ia mencintai Dea. Tak ingin Dea kenapa-kenapa. Mengatakan hal seperti itu pada Istri orang.
Dea tersenyum. Ia merasa hatinya menghangatkan. Dea bisa merasakan ketulusan dari apa yang keluar dari mulut Chandra. Tidak ada kata-kata modus di sana. Ia telah kenal Chandra sejak lama. Lelaki tampan itu adalah pribadi yang baik dan setia. Mendengar kan cerita Chandra. Ia merasa kasihan pada lelaki di depan nya ini.
Dea kasihan pada Chandra. Namun ia tak tau seperti apa takdir yang akan ia dapat. Mungkin lebih buruk dari pada kematian. Suami selingkuh, dan telah menikah dengan gadis itu. Memiliki anak bersama, bukankah tidak ada yang lebih kejam dari pada pengkhianatan. Tidak ada yang lebih sakit dari pada apa yang kau percaya malah menusuk mu dari belakang?
***
Deburan ombak membuat tidur panjang wanita cantik itu terganggu. Ia membuka kelopak matanya. Mengedar mengapa sekitar ruangan kamar. Yang bernuansa coklat elegan.
"Dimana ini?" serunya dengan suara serak khas bangun tidur.
Wanita cantik itu mengucek beberapa kali matanya sebelum duduk dari posisi tidur. Bau anyir dari air laut dapat ia cium kala angin menerbangkan helaian gorden pintu jendela. Wanita berbadan dua itu turun dari tempat tidur yang ia naungi beberapa jam lalu. Bukan pintu keluar yang ia cari. Namun jendela transparan yang terbuka. Ia berdiri di balkon.
Hembusan angin pantai langsung menampar wajah pucat nya. Di bawah sana buru air laut langsung bertabrakan dengan lensa hitam legamnya. Gulungan ombak kecil mendambakan keindahan.
"Mama!" seruan di belakang tubuh nya membuat Dea membalikkan tubuhnya.
"Oh! Jun! Bintang!" seru Dea kaget.
Bintang dan Jun tersenyum. Ke duanya melangkah memeluk Dea. Jun hanya bisa memeluk pinggang sang Ibu.
"Bintang, rindu Mama," ujar Bintang.
"Aku juga rindu Mama," timpal Jun.
Dea tersenyum. Ia memeluk ke dua buah hatinya dengan erat. Begitu nyaman dan menyenangkan. "Mama juga! Mama sangat sayang Bintang dan Jun!" Ucap Dea membuat Jun dan Bintang tersenyum lebar.
Di balik pintu kamar Chandra mendesah kasar. Saat mengantar kan Dea kembali ke Rumah Sakit. Ia bertemu dengan Bintang. Anak itu menceritakan apa yang mampu membuat ia mendidih. Dengan penuh perencanaan Chandra membawa Dea. Membius Dea membawanya ke pulau Jeju. Salah satu Villanya. Bersama dengan ke dua anak wanita yang ia cintai itu.
Bintang meminta agar Chandra menjauhkan Dea dari Lucas. Dan memberikan Dea ketenangan. Agar kandungan Dea tidak bermasalah. Bintang bisa saja mengatakan apa yang terjadi pada sang Ibu. Namun kondisi Dea harus menghindari hal seperti itu.
__ADS_1
Chandra sangat bersedia membantu Bintang. Anak remaja itu begitu dewasa. Ia mampu memikirkan banyak hal. Membuat Chandra begitu mengagumi Bintang. Gatal rasanya tangan Chandra memberi kan bogem mentah pada Lucas. Namun untuk saat ini lebih penting Kebahagiaan dan kenyamanan Dea dan calon bayi Dea.
"Aku harap kau akan bisa menerima ini semua Dea. Hingga kau bisa berdiri lagi," ujar Chandra dengan nada lirih.