
Sebuah terowongan di tempat sepi, diantara semak dan tumbuhan liar. angin malam bertiup mengoyang-goyangkan daun daun di pohon, hingga menimbulkan gemerisik pertemuan daun satu dan lainnya. Malam yang dingin tanpa penerangan itu tampak semakin mencekam. Asap tebal bak kabut putih bergulung. Dari gulungan asap yang mengabut itu tampak bayangan tubuh ramping bersalto dengan lincah. Baju warna kuning yang kontras dengan warna putih lembut yang menggulungnya. Bayangan ramping itu adalah seorang gadis remaja cantik.
Gadis itu akan menjejakkan kakinya ke tanah, saat rentetan api dengan gencarnya memberondong menyambut kedua kakinya yang terbalut sepatu yang terbuat dari kulit.
"Oft...!" Terbelalak mata jelinya, seketika tubuhnya berkelit dengan lincahnya"Yaak..." sambil meloncat ke dahan pohon tangan kanannya bagai melempar sesuatu ke arah api yang terus mencecarnya. Ternyata dari tangannya berupa asap atau uap dingin yang seketika memadamkan api yang mengejarnya.
Bertengger di dahan pohon dengan senyum manis tersungging .di bibir mungilnya. Angin yang bertiup mempermainkan rambut lurusnya yang tergantung di atas bahunya.
Terdengar tepuk tangan bersamaan dengan melesatnya bayangan menuju kearah gadis itu. Dengan ringan menjejakkan kedua kakinya berdiri di dahan tepat di depan gadis yang terlepas dari kejaran api itu.
Sosok yang terbalut baju panjang warna putih menjuntai ke atas ranting dahan yang diinjaknya itu, tersenyum pada gadis di depannya. Ia adalah perempuan dewasa yang bertubuh kurus dan berwajah cekung. Sinar matanya kebalikan dari gadis di depannya yang bening dan terkadang jenaka. Sorot matanya yang tajam meneliti gadis belia di hadapannya yang terayun ayun di atas dahan yang kalau dilihat secara seksama, sulit dipercaya bisa menampung berat tubuh gadis yang beratnya sekitar empat puluh lima kilogram itu. Namun dengan ilmu meringankan diri seringan kapas yang dimiliknya, menjadikannya bisa nangkring dimana pun sesuai keinginannya..
Mereka saling tatap. Gadis belia itu masih menyungging senyum. Tapi sedetik kemudian sepasang matanya tercengang melihat gerakan perempuan di depannya. Ia tak tinggal diam langsung melejit turun ke tanah saat dedaunan yang secepat kilat dipetik perempuan itu seketika berubah menjadi daun yang membara, siap menghanguskan ranting pijakannnya yang telah ia tinggalkan. Sudah dipastikan ranting itu hangus saat bara daun itu menghantanmnya.
"Hebat kamu sudah pantas berkelana di dunia luar sana.." seru perempuan yang mencecar serangan bunga api ciptaannya.
Gadis itu membalikkan tubuhnya berhadapan dengan perempuan yang menjadi guru ilmu januragannya."Terima kasih Kakak Guru..." ujar gadis itu.
Perempuan bertampang dingin yang menutup rambutnya dengan kerudung itu tersenyum. Menatap lekat gadis binaannya. Tak sia sia menggembleng gadis yang semula tak bisa apa apa, sehingga kini mahir dalam ilmu kunuragan yang berselimut yang turun diwariskan leluhurnya.
"Saatnya kamu turun dari bukit ini.."
"Jadi aku sudah boleh bertemu orang banyak, Kakak Guru...?" Betapa riang suara gadis belia itu. Keinginannya untuk bertemu kakak dan keluarganya akan segera terwujud.
"Baiklah, pergilah, dirimu kini memiliki kekuatan yang luar biasa. Sesuai dengan sikapmu yang lembut, maka api pun tunduk pada asap dingin telapak tanganmu. Dirimu dari yang hanya tanpa arti, kini menjadi sesuatu yang bisa merubah dirimu menjadi gadis kebanggaanku..."
"Terima kasih Kakak Guru.." angguk si gadis belia tak menyangkal bahwa perempuan yang dipanggilnya kakak guru menempa dirinya yang hanya anak kecil, tanpa kekuatan, hingga kini menguasai ilmu silat serta dari ketekunannya pula, dirinya bisa mendatangkan hawa dingin.
.Pertemuannya dengan perempuan itu telah merubah segalanya. Dari yang tak bisa apa pun, hingga kini bisa menguasai ilmu silat serta meringankan tubuh, dan puncaknya adalah menciptakan hawa dingin.
*
Lorong itu sangat gelap. Hening dan mencekam. Sosok gadis kecil itu tampak terseok seok. Sesekali terjatuh. Bangkit lagi berjalan terseok seok, lalu terjatuh lagi. Hal itu terjadi terus menerus, hingga sebuah tangan dingin menyanggah tangannya ketika akan terjatuh untuk kesekian kalinya.
Rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya, ia tahan. Bukan itu saja. Rasa nyilu di wajahnya bekas tamparan dua kali itu pun radanya masih meninggalkan denyutan di kedua pipinya.
Sosok kecil yang berusaha keras untuk melangkah di lorong gelap itu terkejut ada yang memegang pergelangan tangannya.
Gadis kecil itu mundur tanpa suara dengan berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cekalan orang tak dikenalnya.
"Jangan takut," terdengar suara perempuan. Kering dan dingin.
Sosok pemilik suara itu masih mencekal tangannya.
"Apa engkau tak merasakan kehadiranku?" Terdengar lagi suara kering dan dingin di lorong gelap itu.
"Aku merasakan cekalan tanganmu, " gadis kecil itu menjawab lirih."Tapi kamu siapa?" Lanjutnya berusaha untuk melawan takutnya. Atau jangan jangan salah satu dari mereka yang telah mengibrak abrik rumahnya.
"Tenanglah bertemu denganku dirimu aman anak kecil, " ujar perempuan itu.
"Tapi aku tak kenal kamu," ujar gadis kecil itu tak menutupi kecurigaannya.
"Ya karena kita memang baru bertemu di sini, dan untuk apa kamu gelap gelapan di sini, bocah nakal?"
Gadis kecil itu marah disebut bocah nakal. Sekali lagi ditariknya tangannya dari cekalan perempuan itu. Tapi semakin ditarik cekalan.di pergelangan tangannya semakin kuat, hingga saat dipaksakan terasa sakit pergelangan tangannya.
Perempuan yang mencekal pergelangan tangan sosok kecil itu tertawa.
__ADS_1
"Kenapa tertawa?" Sosok yang dicekal tangannya itu merasa heran mendengar tawa perempuan itu menggema di tempat gelap dan sumpek itu.
"Aku senang akhirnya datang juga muridku," ujar perempuan itu belum melepas cekalan tangannya.
"Murid?!" Gadis kecil itu heran, mencoba untuk bisa melihat raut wajah perempuan di depannya. Tapi kegelapan menghalanginya.
"Engkau masih belia, dan mata batinmu belum memiliki kekuatan apa apa. "
"Mata batinku?" sosok belia itu tercekat.
"Ya. hanya dengan mata batin kita bisa melihat dikegelapan," ujat perempuan itu lagi yang membuat gadis kecil itu semakin penasaran.
"Bagaimana caranya?" Rasa lelah sirna pada sosok kecil yang sudah berjam jam berada di tempat gelap untuk menyelamatkan dirinya, tepatnya terselamatkan dari peristiwa berdarah yang terjadi pada keluarganya.
"Jawab dulu apakah kamu mau jadi muridku?"
"Memangnya Kakak ini seorang guru?"
"Tergantung, " jawab perempuan itu santai.
"Kok tergantung?" Gadis kecil itu bingung.
"Ya tergantung kamu, "
"Tergantung aku?" Heran gadis kecil itu.
"Ya, kalau kamu mau jadi muridku berarti aku ini guru, "
"Oh begitu?"
"Ya, ada guru pasti ada murid, jadi gimana?" Tanya perempuan itu lagi.
"Hei kamu kenapa?" Perempuan itu segera segera meraih tubuh mungil yang pinsan tak sadarkan diri, "Oh anak ini nadinya lemah sekali, " tanpa menunggu, segera dibopongnya gadis kecil itu meninggalkan tempat gelap itu.
Dengan ilmu meringankan diri yang sudah sempurna, membawa gadis yang berberat sekitar tiga puluh lima kilo itu serasa memegang kapas. Gerakan kakinya sangat ringan menembus malam, melewati bebatuan, melompati pohon yang berserakan tumbuh begitu menuju ke balik bukit, dimana di sana sebuah rumah yang tak terlalu besar tapi asri tempatnya berdiam seumur hidupnya.
"Oh anak ini bajunya sangat kotor, " segera dibukanya baju gadis kecil itu, diganti dengan bajunya yang tentu saja ukurannya kebesaran di tubuh mungil yang tampak bagai tidur nyenyak itu.
Dipandangnya gadis kecil berkulit bersih itu, berambut lurus menggantung di atas pundaknya. Dan ia terkejut saat menyadari wajah manisnya lebam, ada luka di lengan dan kedua kakinya yang telanjang, alias tak beralas kaki. Bukan itu saja. Tampak darah di beberapa luka itu sudah mengering.
Sebenarnya perempuan itu ingin membersihkan kedua telapak kaki kotor dan bekas luka itu. Tapi ditundanya, karena harus menyadarkan gadis itu terlebih dulu.
Segera diambilnya minyak serai, dan dioleskan ke dahi serta pafa kedua pipinya yang lebam, dan ke lubang hidung gadis kecil itu berulang kali. Hingga ulasan yang ketiga gadis itu membuka matanya dan bersin.
"Syukurlah kamu sudah sadar..."
"Oh dimana ini...!" Gadis kecil itu langsung duduk. Celingak celinguk ke sekelilingnya yang serbah bersih dan berperkakas yang kesemuanya terbuat dari kayu. Seperangkat kursi dan mejanya dari kayu, lalu ada ada bufet juga terbuat dari kayu. Dan tempaynya kini duduk, yang tadi dibuat tempat berbaring saat pinsan, juga terbuat dari kayu yang diberi alas tikar.
"Ayo minum dulu ini supaya dirimu segar kembali, " perempuan itu mendekatkan cangkir yang berisi air kelapa yang sudah dibubuhi gila aren yang direbus.
Gadis kecil itu menurut. Beberapa tegukan membuatnya nyaman. Bukan iru saja perutnya yang kosong lumayan kini dapat asupan. Karena lapar itulah tadi pinsan.
"Habiskan saja tak perlu malu malu, " ujar perempuan itu."Ini rumahku, tadi kita bertemu di balik bukit dekat jurang.
Gadis kecil itu pun menyeruput habis campuran air kelapa dengan gula aren itu.
"Bagaimana enakan?" Perempuan itu menatap sepasang mata bening yang tiba tiba tergenang air. Dan gadis kecil itu sesunggukan.
__ADS_1
"He kenapa nangis, kamu, kan sudah siuman. Lagipula di sini aman, " ujar perempuan itu.
"Mereka membunuh Papa... dan Mama dibawa pergi dan aku dikejar oleh salah satu dari mereka, dan aku tertangkap bersama Mas Jo tertangkap. Mereka memukuli Mas Jo karena melawan. Aku juga dipukuli karena membela Mas Jo...hu...hu...hu...."
Perempuan itu tercengang mendengar ucapan gadis kecil yang masih sesunggukan menangis sedih itu.
"Mas Jo entah kemana atau...!" Gadis itu menghentikan tangisnya. Matanya melebar dengan bibir terkatup rapat, sehingga wajah manisnya itu tegang.
"Siapa mas Jo itu?" Perempuan itu bertanya hati hati.
"Kakakku...apakah... apakah mereka membunuhnya juga?" Terbayang papanya yang ditikam dengan pisau di ruang tamu.
"Papa...!"
"Cepat pergi Baby, cepat bawa adikmu pergi Jo... kalian saksiku anak anakku...." setelah itu papamya roboh bersimbah darah, dan orang orang yang menghadapi papanya, menarik mamanya pergi, serta mengejar dirinya yang lari bersama Jo untuk menyelamatkan diri.
"Jangan sakiti anakku...!" Terdengar jerit mamanya, "Sayang cepat pergi....!"
"Mas Jo kakakku, aku takut mereka membunuhnya juga..." lalu gadis kecil itu menangis lagi.
"Mereka itu siapa?"
"Orang jahat..." bergetar suara gadis kecil itu membayangkan.apa yang telah terjadi pada keluarga yang semula sangat kompak serta selalu dalam kebahagiaan itu.
Malam itu mereka berempat, mama dan papanya, serta Jo kakaknya berkumpul di ruang keluarga. Suasana di luar hujan deras. Tiba tiba kaca jendela dipecah orang.
Masuk empat orang mengenakan masker membuat suasana harmonis itu jadi pertumpahan darah.
Sebelum papanya ditikam, salah seorang dari mereka menyerahkan surat untuk ditandatangani.
"Cepat tanda tangani...!" Seru salah seorang dari dua orang yang berdiri sangar di depan papanya, sedangkan yang dua orang lagi memegangi mamanya yang terus merontah.
"Aku tak.mau menandatangani yang tidak kuperbuat...!" Ujar papanya menepis kertas yang didekatkan itu.
"Sikat saja!" Seru yang satunya, dan secepat kilat salah seorang dari mereka menikam.papanya.
"Papa....!" Jerit mamanya.
"Papa..."
"Papa....!" Ia dan Jo bermaksud mendekat ke papanya, tapi dipegang oleh dua orang yang tadi menikam papanya salah satunya, lalu mereka menyeret dirinya dan Jo keluar rumah.
Terjadi saling berkutet untuk membela diri. Sepasang kakak adik belasan tahun dengan dua lelaki dewasa yang beringas. Dimana salah satunya bertato kalajengking di lengan bagian bawah.
Bagaimana pun tenaga mereka tak seimbang dengan dua orang tinggi besar itu.
"Kalian kejam membunuh suamiku!" Terdengar pekikan kemarahan mamamya, "Lepaskan anak anakku...!!" Setelah itu ia tak lagi mendengar suara mamanya karena suara hujan begitu, lagipula berdua Jo sudah dimasukkan.ke mobil.
"Mama....!" Saat dirinya berontak mau keluar mobil, tanpa ampun laki laki yang menggiringnya ke mobil menamparnya dua kali.
"Jangan sakiti adikku...!" Jo menggigit lelaki yang menggampar adiknya, hingga ia harus menerima tinju dua kali di mukanya, lalu tersungkur dengan mulut berdarah.
"Mas Jo...!" Dipeluknya kakaknya. Mereka berpelukan, hingga suatu ketika mobil oleng dan pintu mobil terbuka, ia terpental keluar mobil terjatuh ke parit di sebelah jurang yang gelap. Setelah tak sadarkan diri, siuman dirinya sendirian di tempat gelap.
Siapa gadis kecil itu?
Mengapa keluarga gadis kecil ini dibantai?
__ADS_1
Bersambung.