Monik Gadis kecilku dulu

Monik Gadis kecilku dulu
Bubur buatan Mama


__ADS_3

Joan serasa tepar badannya. Berkeliling Jakarta dengan seoeda motornya. Lalu naik bus way. Naik bus Ac berbagai jurusan. Naik angkot. Jauh malam baru pulang ke kosnya. Serasa badannya rentek. Mau patah. Selonjor di sofa panjang untuk meluruskan kedua kakinya yang serasa nyilu karena tertekuk terus.


Kelakuannya dua hari ini hanya ingin jumpa dengan sosok adik tercintanya. Hingga beberapa kali ia dicurigai sebagai tukang ngintili cewek, karena mengikuti gadis yang berhijab dan bercadar atau maskeran.


"Maaf, mbak saya adik saya..." beruntung ia cuma diperenguti.


Tapi tadi kejadiannya parah. Dari dalam bus Ac ia mengikuti seorang gadis berhijab dan bermasker. Melihat gestur tubuhnya mirip dengan Monik. Dan saat gadis itu menoleh dengan pedenya langsung mendekat.


"Hei kamu dari tadi ngikuti gue terus mau ngerampok, ya?" Gadid itu mendelik dan merengut. Kenapa Joan tahu gadis itu merengut, karena si gadis begitu berbalik membuka maskernya. Dan langsung berteriak.


"Tolong ada begaaalll....!"


Joan terkejut. Mau menjelaskan keburu gadis itu seperti disiram air panas lompat lompat tak karuan, sambil terus berteriak.


"Tolooong..."


Orang datang berkerumun.


"Mana begalnya, mana....!"


...Joan sudah tak bisa lari lagi.


"Laki laki itu...!" Cewek itu menunjuk Joan yang tercengang bingung mau lari kemana lagi.


"Ayo kita hajar...!"


"Gebuk!"


"Telanjangi....!"


"Bakar....!"


Semua orang yang berkerumun satu persatu memberi usul sambil bergerak mendekat pada Joan yang mulai panik.


"Tungguuuuu...!!!" Menggelegar suara Joan sambil memasang kuda kuda siap untuk melawan orang orang yang mendekat.


Mendengar teriakannya serta aksi dan gayanya yang sudah siap menangkis dan menerjang, karuan orang orang yang tadi mengancam dan siap mengeksekusi dirinya, mendadak menghentikan langkah.


Nah selagi para penyerangnya pada bengong itulah Joan langsung pasang gaya sewibawa mungkin.


"Saudara saudara sekalian perkenalkan nama saya Jo, dua hari lagi di wisudah sebagai Sarjana Hukum, tapi bukan hukum karma. Bercanda jangan tegang. Tapi suwer (ngangkat jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya) saya memang calon pengacara. Jadi jrlas saya bukan begal. Ini negara merdeka, di sini jalan milik semua warga. Apakah salah jika saya berjalan di sini, dan kebetulan.di belakang adik yang teriak teriak tadi...?"


Orang orang yang berdiri saling pandang dengan tatap membenarkan ucapan Joan.


Mumpung pada memberikan respon pisitif pada dirinya, maka Joan pura pura marah pada gadis yang tadi diikutinya dan ketakutan.


"Dalam ilmu yang saya pelajari adik ini sudah mencemarkan nama baik saya, bahkan menuduh tanpa bukti bahwa saya begal, nah ini ada pasalnya, dan jika saya laporkan kamu kena pasal pencemaran nama baik..."


Gadis itu terkejut. Lho kok jadi aku yang mau dilapori? Mungkin begitu pikir si gadis, daripada dilaporkan mending aku minta maaf.


"Oh maaf Mas saya khilaf, habis kan sekarang jaman begal...please maafkan, Mas, jangan laporkan saya, tolong ya, Mas, ya..." memelas gadis itu di hadapan Joan dengan kedua telapak tangan disatukan di dadanya.


"Gimana ini...?" Seru salah seorang warga.


"Ya dimaafkan saja, Mas, " usul yang lainnya.

__ADS_1


"Ya kita sebagai umat manusia sesama ciptaan Allah memang disarankan dan diharuskan saling memaafkan..." ujar Joan. Maka acara pengoroyokan urung dan mereka saling berjabat tangan.


Joan tersenyum geli mengingat peristiwa tadi. Hampir saja dirinya diamuk massa kalau tak cerdik merangkai kata.


"Duh Monik dimana kamu adikku, aku takut kamu dalam bahaya..." Joan tertidur dalam kelelahannya di sofa, dan dengkurnya terdengar sebagai tanda ia memang kelelahan.


Monik selesai login dengan email barunya, untuk ikut berkomentar di tulisan gadis tupai tiga hari lalu. Muda mudahan mas Jonya membaca.


"Hai kakak yang penyayang adiknya... Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuu... Kasihan deh dikerjai adiknya, aku juga punya kakak yang baik hati. Pokoknya paling baik sedunia. Kita sharing dong, situ punya adik yang suka ngumpet di lemari mama, aku punya kakak yang pernah kelempar sepatu kepalanya waktu main futsal. Maklum sepatunya kebesaran, he...he...emang enak...main dong ke emailku, Joviilang@gmail.com.


Assalamu alaikum kakak....


Monik senyum senyum membaca ketikannya. Panjang, tapi biar ajah. Tinggal menunggu mas Jo mengiriminya email.


Kalau mas Jonya baca pasti langsung ngerti kalau dirinya yang ngetik komentar dulu. Bukankah dulu sepatu mas Jonya memang kebesaran, hingga saat menendang bola sepatunya terlepas dan melayang ke kepalanya sendiri.


"Ayo mas Jo balik ke tulisan gadis tupaimu, buruan email aku..." Monik ngoceh sendiri tak sabar ingin segera bertemu kakaknya.


Huh, kenapa baru terpikir membuat email baru untuk sementara, dan setelah bisa terhubung dengan mas Jonya, toh email barunya bisa dinonaktifkan. Bukan bermaksud mempermainkan email, tapi khawatir akunnya diretas musuh dan terbaca semua pembicaraan dengan mas Jonya, terlacak dirinya kalau tak langsung ditutup.


Berharap semoga mas Jonya membaca permintaannya Sekarang tinggal memikirkan bagaimana cara memberitahu Farel supaya berhati hati. Tapi kalau pemuda itu menuduhnys carmuk alias cari muka gimana, duh repot juga, ya.. lagi suntuk begini, masuk WA dari Rima.


"Halo Monik udah siap besok mau orientasian, ya, kata Mama jangan gugup, tenang. Besok aku bawain aku puding, ya, buatan mamaku, sampai jumpa besok pagi..."


."Oke sampai besok pagi..."


*


Rima memapak Monik di gerbang kampus. Seragam yang dikenakan gadis lembut itu sama dengan yang dikenakannya. Kemeja putih rok lipit lipit warna putih melewati lututnya karena Rima tak berhijab rambutnya diberi bando warna putih salur merah. Sedangkan Monik hijabnya sewarna dengan Rima. Begitu pun dengan mahasiswa baru yang mulai berdatangan.


"Kita mengenakan seragam yang fresh dan simple, tapi tetap dapat kesan jiwa dan semangat kepatriotan sebagai generasi muda harapan bangsa, " begitu keterangan dari panitia acara waktu pembinaan tiga hari lalu.


"Ya kita tidak mengadakan acara yang aneh aneh, misalnya bawa kodok, atau wanitanya harus merayu mahasiswa senior, gak, karena itu memalukan wanits, ya, gak...?" Sambung panitia lainnya dengan gaya akrab.


"Betuull..." sahut serentak dari calon mahadiswa wanita.


"La iyalah...karena kemoderan kita jangan kebalasan, sampai kapan pun cewek itu nggak boleh nyosor duluan, tetep nunggu, ya kalau cuma ngasih kode dengan mengirim senyum, atau lewat bolak balik depan cowok yang ditaksir boleh, nah tinggal berdoa nunggu respon cowoknya... " yang disambut tawa lebar oleh calon mahasiswa bagian pria.


Monik sangat bangga melihat suasana yang diwarnai seragam putih putih, wanitanya bando putih salur merah, dan cowoknya dasinya serupa bando atau hijab.


.Seandainya ada mama yang menunggunya di rumah pasti sepulang dari sini Monik akan menceritakannya pada Mamanya.


"Ma, tahu, nggak sekarang Monik sedang berada di ambang untuk jadi mahasiswi..." tapi ucapan itu hanya disuarakan batinnya saja. Ingin rasanya mengirim fotonya untuk mamanya, tapi tak mungkin. Mama melarangnya untuk kirim WA kalau bukan mamanya yang duluan.


Rima sibuk dengan aksinya mrngambil foto dirinyacdari berbagai enggle. Hingga terakhir gadis itu menarik Monik.


"Putri kita foto berdua..."


Klik...klik...klik...


Tiga pose mereka berdua. Tiga senyum kebahagiaan Rima. Dan tiga wajah Monik yang menyimpan sedih tersembunyi.


"Kok kamu nggak senyum, sih..." sungut Rima melihat hasil jepretannya di layar hapenya keluaran terbaru. Dan Monik sempat kaget karena hape teman barunya itu persis dengan hape milik mamanya yang diselipkan di tasnya, "Hei, Put, kok jadi ngelamun, sih, yuk senyum..." dan jadilah foto Monik berdua Rima dalam senyum manisnya.


Seperti janji Rima semalam di WA-nya. Gadis itu benar benar membawa puding. Puding rasa pandan.

__ADS_1


"Puding rasa pandan, "


"Puding rasa pandan?!" Mata Monik beriak, puding pandan adalah puding kesukaannya, puding vavorit kelusrganya. Dan puding buatan mamanya sangat lezat. Apalagi mad Jonya, huh, sering nambah berkali kali.


"Rasanya jangan disangsikan lagi. Sedap nggak kalah sama yang di jual di Mal. Yuk rasain, nih..." lalu Rima memberikan puding rasa pandannya yang ditutup dengan siraman santal kental.


.Rupanya gadis itu sudah mempersiapkan dua tempat yang masing masing berisi puding lengkap dengan sendoknya.


"Nih untuk kamu satu dan aku satu. Enak pasti topingnya dari santan asli tanpa campuran. Buatan Mama tercinta penuh dengan kasih sayang..." celoteh Rima dengan nada sangat bangga dengan mamanya.


Monik membuka tutup box mungil tempat puding yang disodorkan Rima. Seketika ingatannya melayang pada mamanya yang juga sering membawakannya bekal puding.


"Ayo dicoba, Putri, " seru Rima yang sudah menghabiskan dua sendok dengan cepat."Kata Mama puding itu cocok dimakan kalau kita lagi ngadepin masa masa stres, ys, sepertib saat ini, kan bubur gampang ditelan, gampang pula dicernah di dalam perut..." ehem Rima memasukkan lagi satu sendok puding ke mulutnya.


Apa yang dikatakan mamanya Rima sana dengan yang pernah dikatakan mamanya. Dulu saat mad Jonya akan masuk sekolah es em pe pada hari pertama, mamanya juga membuatkan puding pagi pagi.


"Jo minum ajah, Ma, nggak sarapan..." ujar mas Jonya, mungkin karena perasaannya gugup jelang ke sekolah di hari pertama.


Mama tersenyum, "Kamu sedang nggak enak makan karena gugup dan senang hati mau masuk di hari pertama sekolah. Ayo Mama buatin puding vavorit kita,.puding rasa pandan. Lembut, nggak paje dikunyah tinggal engglek...engklek...perut dingin dan mesin perutmu pagi ini nggak usah ngegiling lama lama, oke sayang..."


Dan bujukan mamanya manjur, ternyata perasaan mas Jonya yang tak karuan di hari pertama sekolahnya itu, tak membuatnya malas sarapan. Semangkok kecik puding rasa pandan yang bertoping santan itu.


.."Bagaimana perut terisi, nyaman tidak memberatkan perut disaat jagoan Mama ini mengalami rasa agak gugup di hari pertama sekolah, " penuh sayang mama merangkul mas Jonya.


Dan sekarang Rima juga dibuatin puding rasa pandan bertoping santan disaat menghadapi masa masa orientasi yang membuat perasaan mahasiswa baru seperti dirinya tak luput dari rasa gugup. Kok bisa sama, ya. Berarti mamanya Rima perasaannya sangat peka seperti perasaan mamanya.


"Hei Putri kok dilihati ajag ayo dirasain deh sumpah kamu bakalan ketagian puding buatan mamaku..." promosi Rima menggebu gebu.


Monik akhir menyendok pudingnya. Dan sungguh rasanya persis dengan puding buatan mamanya.


"Mama puding ini seperti puding buatan Mama dulu..." Monik membatin sambil menelan pudingnya.


"Enak, kan?"


"Ya, " angguk Monik yang sibuk bernostalgia dengan puding buatan mamanya dulu.


"Pandannya diambil dari tanaman Mama di halaman belakang rumah. Kata Mama kalau punya tanaman pandan sendiri kita bisa petik kapan saja mau buat puding..."


Monik ternganga itu juga ucapan mamanya dulu. Saat mas Jonya bertanya, "Mama kan tinggal beli di Super market kalau mau buat puding?"


Mamanya yang sedang menanam pandan dibantu bibik tersenyun, "Sayang kalau kita punya tanaman pandan sendiri kita tinggal metik kalau anak Mama mau makan puding..."


Kok bisa sama, ya...


Monik jadi semakin rindu mananya...


Rasanya Monik ingin memotret puding buatan mamanya Rima dan mengirimkannya pada mamanya hasil fotonya, disertai kalimat begini. "Mama pagi ini aku makan puding buatan mama sahabat baruku. Hampir tak percaya ada seorang mama yang buatan pudingnya persis dengan puding buatan mama. Aku rindu makan puding buatan Mama yang dibuat khusus anak anak kesayangan Mama seperti dulu..."


Monik menghela napas karena ia tak bisa mengabarkan tentang puding buatan mamanya Rima pada mama tercintanya....


Bersambung.


ikuti terus, ya


makacih

__ADS_1


__ADS_2