
Musik hingar bingar memenuhi suasana di ruang diskotik. Joan duduk lesuh di depan Miko yang bertugas sebagai bartender. Ia memperhatikan Miko yang tengah mempersiapkan berbagai jenis minuman pelanggan.
Miko kerjanya yang tangkas, membuat para tamu merasa dimanja, maka pemuda kurus yang sudah bekerja di Marla Diskotik selama tujuh tahun itu kerap mendapat tip dari tamu. Ada larangan khusus untuk tidak memberikan tip, tapi sekarang sudah tak berlaku lagi. Karena tip dari tamu bukan merupakan pemaksaan, atau merugikan diskotik. Tak heran Miko bisa mengirim lebih pada orang tua dan adiknya di kampung halamannya.
Walau hanya sebagai bartender, tapi bagi Joan Miko memiliki kehormatan dan harga diri, dibanding dirinya yang harus memuaskan para perempuan yang pantasnya dipanggil tante itu. Para tante yang berparas cantik, dan memiliki prilaku menjijikkan dan menurutnya bak binatang itu, memuakkan dirinya. Semua terpaksa dilayaninya. Untuk bisa menjalankan tugasnya Joan memerlukan ransangan, hingga dirinya lupa keadaan. Dan obat perangsang sigap menolongnya. Kalau tidak, hih, mana bisa ia bergelut dengan mereka yang menurutnya, cantik cantik bejat.
"Minum?" Miko menawari Joan yang sejak tadi bagai orang sakit gigi.
"Air putih ajah, " ujar cowok mengenakan kaos warna putih dan celana jeans biru belel, serta topi warna hitam. Pemuda itu melenguh bagai sapi kelelahan.
Miko segera mengambil apa yang diminta Joan. Dan saat ia membuka botol air meneral untuk dituang ke gelas yang telah ia siapkan pula, segera tangan Joan mengambil botol di tangannya.
"Aku bukan tamumu, Bro..." setelah menuang isi botol sebagian je gelas, segera dihabiskannya segelas penuh air itu. "Daripada memberimu tip lebih baik uangnya kubuat nonton, " lanjutnya sambil meletakkan gelas.
"Suwek..." Miko tertawa, "Emang masih sempat nonton?" Miko yang lebih tua lima tahun dari Joan.yang saat ini memasuki umur dua puluh satu tahun itu menggoda.
"Kamu dasar suwek...!" Joan yang tahu kemana arah ucapan Miko menggerutu.
Miko tertawa.
"Kalau saja kita bisa bertukar tempat..." Joan mengetuk ngetukkan jarinya ke meja tanpa menatap Miko. Apa yang diucapkannya.memang benar. Apa enaknya jadi dirinya yang hanya dibuat pejantan tangguh untuk pelanggan suami isteri yang mengaku sebagai orang tua angkatnya. Ibarat pepatah mereka itu tak ubahnya musang berbula domba. Dan bagi Joan diibaratkan kaki dilepas tapi kepala taruhannya.
Miko tertawa senang, "Tuhan memberiku raut wajah pas pasan dinilai angka enam koma dua, rupanya untuk memberikan keberuntungan diatas dirimu yang ketampananmu bernilai sembilan koma enam, "
"Tambah suwek kamu...!" Joan mendengus. Lalu menuang sisa air di botol ke gelas.
"Awas kembung, kan ada minuman tambahan nanti..." Miko mengerling.
"Nggak perlu langsung tancap ajah!" Suara Joan jelas kesal.
__ADS_1
"Wow segitunya?" Miko terus menggoda.
"Ya, besok aku cuti, " legah suara Joan, jari tangannya mempermainkan pinggiran gelas warna putih bening itu.
"Ngambek kamu?" Miko serius menatap Joan, "Kok bisa, "
"Makanya sekolah kamu." Mendelik Joan, "Aku besok wisudah, " lanjutnya.
"Oh..." tersedak Miko, tiba tiba sepasang matanya meredup. Ada sejuta haru dan bangga memenuhi dadanya.
"Tuh pelangganmu, nggak udah kayak sinetron pakek terharu padaku..." Joan menunjuk dengan kepalanya pada sosok yang menuju ke meja. Ada WA masuk, dibacanya sebentar, "Aku harus je hotel, gasak ajah biar cepet kelar...!" lalu berdiri, "Lumayan nggak usah dansa dansi segala, " ada nada agak legah .
"Senjatamu, Bro..." Miko mengingatkan.
"Tenang di mobil aku minum kubawa botolmu..." Joan mengambil botol mineral yang masih ada susa airnya. Lumayan untuk mendorong obat perangsang yang merupakan senjatanya. Dan tanpa disadarinya hal itu membuat para tante bejat itu mempromosikannya pada komunitas mereka yang rata rata memang tak takut akan dosa akan prilaku perzinahan yang dilaknat Tuhan pemilik semesta alam ini.
Joan masuk ke mobil yang sudah menunggunya. Selalu saja ia duduk di samping pak Min sopir yang ditugaskan mengantar dirinya berkegiatan. Baik ke kampus, dan menemui tante tante yang telah membookingnya.
"Ya, Den, "
. "Kenapa masih panggil saya Den, nggak pantas, santai ajalah..." Joan memang jengah dipanggil Den,.karena dirinya tak lebih sapi piaraan bos mereka yang selalu memerahnya tanpa ampun.
"Sudah nyaman, Den, " ujar pak Min sambil menjalankan mobilnya. Lelaki itu sudah tahu harus ke hotel mana.
"Kita akan berbuat dosa lagi, nih, " ujar Joan ringan dan terjesan santai, "Pak Min ikut dosa,.lho..." serunya merasa ibah pada pak Min yang sudah lima puluh tahun masih saja bekerja dalam gelimang dosa. Apa tak dosa namanya, jika selalu menyupiri orang yang mau mau maksiat di hotel?
"Allah maha pengampun, " ujar pak Min lirih. "Biaya operasi kanker otak anak saya masih.jauh dari lunas, Den, " lanjutnya tentang keterlibatannya bekerja pada nyonya Seril yang sudah menolongnya untuk mengoperasi otak anaknya yang terjangkit kanker dan bakteri yang bisa membahayakan nyawa anaknya, yang saat itu akan menempuh ujian kelulusan di kampusnya.
"Sekarang anaknya sudah.kerja, Pak?" Joan meraba obat yang menjelang turun dari mobil harus diminum,.supaya jika nanti tugasnya memuaskan perempuan tak takut hukuman Allah itu, tak ada gamang dan lancar, hingga si tante girang akan memujinya, dan tentu saja yang terpuaskan tak tahu bagaimana remuk hati Joan. Betapa badannya.seperti mau copot persendiannya,.karena kebanyakan diantara perempuan empat puluhan yang haus nafsu itu juga memakai obat kuat.
__ADS_1
"Awas air Pak Min...!"
.Pak Min yang memikirkan tentang dosa yang diingatkan Joan terkejut saat mobil menerobos genangan air. Tapi yang membuat Joan terperangah adalah gerak reflek seorang gadis yang menghindari cipratan air yang diterobos pak Min.
Joan memutar kepalanya ke belakang, hampir tak percaya gadis yang berdiri di pinggir jalan itu, spontan melompat ke pohon di sampingnya, bukan melompat sembarangan, tapi kedua kakinya bagai merayap di pohon itu.
"Luar biasa...!" Joan berdecak, "Gadis cicak...!" Serunya kagum akan gerakan gadis yang diperkirakannya itu bukan gadis biasa. Pasti gadis berilmu, pikirnya.
Dan gadis itu tak lain adalah Monik yang sedang menunggu bus yang akan membawanya pulang ke tempat kosnya. Gerakan.meringankan badannya barusan adalah reflek. Saat melompat dan berdiri bagai cicik merayap di pohon, ia kebetulan membelakangi jalan, hingga saat beberapa orang mengambil gambarnya ia tak menyadari. Namun merasa tak nyaman juga dengan kerefkannya itu, maka segera Monik turun dan berlari ke depan mengejar bus entah jurusan mana, tang penting bisa menghindar dari banyak orang tadi. Kan nggak lucu kalau nanti mereka bertanya kok bisa dirinya kayak cicak nempel di pohon?
Ah di sini Jakarta. Semua orang sibuk dengan urusan masing masing. Jadi tak perlu risau. Pasti apa.yang dilakukannya secara reflek tadi merayap di pohon lepas dari perhatian mereka. Jika sudah demikian legalah hati Monik. Karena ia harus ingat pesan Kak Ratunya, bahwa tidak boleh pamer ilmu. Sebisa mungkin jangan ada yang tahu tentang kebisaan dirinya.
"Maafkan aku Kak Ratu, tak sengaja, dan aku reflek tadi, " gumam batinnya merasa bersalah, ah, selanjutnya aku harus bisa menahan reflekku!
Karena bukan jurusan yang menuju ke tempat kosnya, maka Monik turun di halte pertama. Dan dua pemuda yang turun juga. Tanpa curiga Monik duduk di halte memperhatikan suasana malam Jakarta yang ditinggalkannya selama enam tahun itu.
Tapa terasa kedua matanya basa. Segera disekanya. Saat ini ia teringat papanya, mamanya dan mas Jonya. Mereka sering bermobil bersama. Papa yang nyetir, mama di samping papanya, sedangkan dirinya berdua mas Jo di belakang. Berputar putar Jakarta. Makan bersama, nonton film kartun dan banyak lagi.
"Papa yang tenang di sans, ya..." dikirimnya sang papa doa dalam hati, "Mama dimana Monik kangen, Ma, Mas Jo apakah kamu dibawa penjahat itu?
.Ada cemas pada diri kakaknya. "Mas Jo masih hidup, kan?" Batinnya terus bertanya tanya.
Walau dalam keadaan sedih, tapi dalam diri gadis itu tetap peka pada keadaannya, pada sekelilingnya. Makanya saat kedua pemuda tadi memepetnya dari kanan dan kiri, ia waspada tapi pura pura tak menyadari. Bahkan salah satu dari mereka mulai menekankan ujung pisau di pinggang kirinya.
"Ambil.dompet elo kasih teman gue kalau eli mau selamat!" Ancam salah seorang dari pemuda itu pelan di dekat kupingnya.
Tunggu lanjutannya, ya...
Bagaimana mulanya Joan atau mas Jonya Monik ini terjun sebagai pejantan?
__ADS_1
Bersambung.