
"Bajumu aku cuci dulu nanti, terus yang sobek aku jahit setelah kering baru bisa dipake, kalau lebam pipimu sudah menghilang kita ke pasar beli bsjumu, atau beli bahan saja biar aku yang buati baju kamu, "
"Kakak bisa jahit?"
"Diusahakan, " angguk perempuan itu.
"Mau Kak duh Kakak baik sekali, terima kasih ya, Kak, aku sudah ditolong dan diberi numpang di sini..."
"Duh kamu menggemaskan amat, sih..." perempuan itu mencium ubun ubun si gadis kecil penuh sayang, "Kamu boleh tinggal di sini sampai kapan pun, tapi tempatnya hanya begini mohon dimaaf..." mereka berpelukan. "Oh ya aku mau lihat bubur dulu, ya, " segera ditinggalkannya gadis kecil itu kecdapur. Tak lama kemudian kembali lagi, "Nah bubur sudah matang, setelah jalan di sekitar bukit adik kecil mandi lalu makan bubur, ya,"
"Duh Kakak jadi repot, " ujar gadis kecil itu malu malu.
"Yuk kita jalan...."
Gadis kecil itu keluar dari rumah mungil perempuan yang sangat baik pada dirinya.
Begitu kekuar rumah segera udara dingin menyergapnya. Terasa sejuk dan segar. Diarahkannya pandangannya ke sekitar halaman rumah yang dipenuhi oleh tumbuhan yang bisa dibuat sayur. Ada bayam, tomat, cabai serta pihon pepaya, dan yang paling rindang berjejer adalah pohon singkong. Dan di kanan kiri rumah madih banyakntumbuhan yang pohonnya tinggi serta daunnya rindang. Walau bukan jenis sayuran, tapi pohon berdaun rindang itu bisa dibuat berteduh jika turun terik mata hari.
"Ada rumah..." gadis kecil itu menunjuk bangunan kecil beberapa buah yang berjarak sekitar lima ratus meter dengan tempat tinggal perempuan itu.
"Ya ada beberapa rumah di sekitar perbukitan ini, ayo kita hirup udara pagi, " ajak perempuan itu menggandeng tangan si gadis kecil.
Berdua mereka berkeliling di sekitar bukit. Gadis kecil yang terbiasa hidup di Jakarta di dalam kemewahan, seringkali tercengang melihat pepohonan, tempat yang berliku naik turun yang dilapisi rumput hijau yang masih basah oleh embun.
"Wow indah sekali.." decak gadis kecil lupa sejenak pada kesedihannya. Sepasang matanya begitu ceria memandang pemandangan bukit. "Itu ada air, segera sepasang kakinya menuju pada air yang memacar dari bambu."Oh dingin, air ini bersih, kan?" Menoleh pada perempuan yang berdiri di belakangnya.
"Ya airnya bersih dari pegunungan sana..." angguk perempuan itu tersenyum.
Gadis kecil itu segera membasuh wajahnya berkali kali dengan air yang memancar dari bambu yang ditanam di celah pertemuan dua batas dinding tanah di perbukitan itu.
"Segar?" Tanya perempuan itu tersenyum.
"Ya seger..." gadis kecil itu mengangguk.
"Bagaimana pagi ini sekian dulu, sekarang kita pulang, Adik kecil mandi dan makan bubur, baru kita bercakap cakap, setuju?"
"Setuju, " angguk gadis kecil itu.
Seperti yang sudah dijadwalkan, setelah mandi di kamar mandi sederhana, segera perempuan itu menghidangkan semangkok bubur nasih.
"Hanya ini sarapan kita, " ujar perempuan itu ikut duduk di bale bale di sampaing gadis kecilnya.
"Nggak apa Kakak, " ujar si gadis kecil menerima adanya, " lalu mulai menikmati bubur hangat dengan lahap. Perutnya yang sejak kemarin malam belum diisi hanya tadi sepertiga gelas wedang jahe, menerima bubur tanpa lauk itu. Habis semangkok bubur membuat perempuan di sampingnya, yang juga sudah menghabiskan bubur di mangkoknya tersenyum.
Gadis kecil itu melirik air di kendi. Ia sempat menyentuh kendi tadi, dingin. Pasti airnya pun sangat dingin. Padahal jika masih pagi di rumah mama tidak pernah memberinya air dingin, tapi air putih yang tidak dingin dan tidak panas, berdampingan dengan susu putih di gelas. Setelah menghabiskan segelas susu hangat, ia akan meminum air putih hampir setengah gelas untuk mengusir rasa manis di tenggorokan.
__ADS_1
Perempuan itu mengerti, segera bertindak. Dengan mengerahkan sedikit ilmu pelebur sejuj pada kendi air yang dipegangnya, maka air dingin di kendi langsung kehilangan dinginnya, air menjadi netral, bahkan sedikit hangat.
"Minum air, ya, Adik..." segera dituangnya air kendi ke gelas di tangan gadis kecil itu.
Gadis kecil itu lagi lagi dibuat bertanya tanya. Kalau tadi wedang jahe panas mendadak jadi hangat setelah dipegang, sekarang air dingin kendi menjadi hangat.
Perempuan itu tersenyum memandang gadis kecil yang belum meminum airnya, justru tercenung. Dalam pikirannya menyimpan rasa heran tak alang kepalang. Kalau memang perempuan penolongnya itu ahli sulap, bisa menghangatkan air dingin, atau sebaliknya tudak mungkin. Bukankah menurut mas Jonya sulap itu kecepatan tangan, dan tipuan mata? Sejak tadi ia tak berkedip memperhatikan tangan perempuan itu, yang tak melakukan apa apa, selain hanya menuang air dari kendi ke gelas di tangannya.
"Adik kecil kok bengong?" Perempuan itu menyentuh lembut tangan gadis kecil yang pikirannya masih berputar putar seputar air dingin jadi hangat, dan wedang jahe panas jadi mendadak hangat.
"Ya...ya..." segera gadis kecil itu menghabiskan setengah isi gelas di tangannya.
Rupanya keheranan gadis kecil itu semakin menjadi jadi. Tanpa sengaja saat akan keluar pintu ia melihat menyentuh batang bagian bawah pohon singkong ukuran tingga satu meter lebih. Tak perlu lunggis atau pacul. Cukup dengan sedikit memutar tangannya pada bagian bawah batang pohon, akarnya yang tak lain singkong itu sudah keluar dari dalam tanah. Begitu seterusnya untuk pohon singkong yang kedua.
"Aneh...!" Gadis kecil itu bergumam, apalah itu adalah sulap asli? Tiba tiba saja ia dikejutkan oleh kelakuan perempuan itu yang melompat dari dahan pohon yang datu ke ranting pohon yang lebih tinggi, hingga berhasil menapakkan kedua kakinya di atas pohon kelapa. Dengan sekali tarik satu kelapa lepas dari pohonnya. Setelah itu perempuan yang badannya serasa seringan kapas itu, kembali hinggap ke ranting dekat pohon kelapa, lalu melompat kevdahan yang lain, dan kini kedua kakinya jejek berdiri di atas rumput.
Gadis kecil yang berdiri di balik pintu itu melebarkan kedua matanya melihat kejadian yang hamya bisa disaksikan di filem kunfu, dimana para jagoannya sangat lincah hingga di ranting kecil satu ke lainnya seakan tubuhnya seringan kapas.
"Dik kamu suka banget sih nonton film kungfu, " suatu hari mas Jonya menanyakan tentang kesukaannya nonton kungfu kid yang cerita berbeda pada setiap episodenya. Mereka kakak beradik mendapat kebebasan untuk melakukan hobby pada hari libur sekolah. Jika Jo suka main bola bersama sama teman lelakinya yang seumuran lima belas tahun, tapi gadis kecil itu sukanya nonton film silat atau kungfu yang dimainkan.anak anak.
..."Aku ingin seperti mereka, bisa terbang..."
"Itu bukan terbang, tapi menggunakan ilmu meringankan tubuh, " ujar Jo.
"Caranya?"
"Wah hebat....!" Tepuk tangan gadis kecil itu memenuhi ruangan, hingga papa dan mamanya datang bersamaan.
"Ada apa anak Papa kok riang banget?" Papanya merangkul gadis kecilnya dari belakang.
"Adik, Pa, pengen seperti jagoannya, tuh, " ujar Jo menggoda adiknya.
"Oh ya sayang?" Si mama tak mau kalah memeluk putrinya.
"Pengen jadi jagoan, tuh..." ledek Jo sambik berlalu ke depan, "Pa, Ma Jo main bola dulu..."
"Jangan terlalu sore pulangnya Jo, " seru mamamya.
"Jangan ragu kalau mendang bola, Jo..." papanya memberi dorongan atas hobby putranya.
"Hai Adik kecil..." perenpuan itu mengagetkan gadis kecil yang sedang melamun itu.
"Oh Kakak..." ujar si gadis kecil memandang perempuan yang membuatnya takjub itu tengah menenteng empat batang singkong, serta kelapa yang sudah dikuliti, dan daun singkong.
"Kamu suka singkong?"
__ADS_1
Gadis kecil itu mengangguk. Bik Ti pernah beberapa kali menggoreng singkong yang diberi toping mentega, hem enak.juga.
"Nah daun singkon ini akan kubuat sayur santan, pernah makan sayur singkong?"
Gadis kecil itu menggeleng. Memang ia belum pernah bersayur daun singkong. Bagaimana rasanya?
"Nanti setelah matang kamu boleh cicipi dulu, oke?"
"Ya, "
"Untuk lauknya aku masih punya simpanan separuh ekor ayam,"
"Fried chiken..." celetuk gadis kecil itu tertawa. Terbayang sepasang dada dan paha dari fried chiken kesukaannya. Liurnya hampir menetes, tapi segera ditelannya.
"Bukan, tapi diungkep dan digoreng model orang kampung, " ujar perempuan itu."Mungkin tak sekezat fried chiken vavoritmu, ya,.tapi rasanya enak juga, kok. Nanti deh kalau sudah digoreng dimakan hangat hangat, nikmat dengan daun singkong, "
"Aku akan bantu Kakak, " ujar gadis kecil itu.
"Bisa masak?" Perempuan itu menatap dan tersenyum.
Gadis kecil itu menjawab lirih, "Aku nggak bisa madak, Kak, " mana pernah tangannya berkotor kotor di dapur. Saatnya makan tiba ia akan dirangkul mamanya ke ruang makan, di sana sudah menunggu Mas Jo dan papanya. Tak lama kemudian mereka makan dengan lauk pauk beragam. Ada yang dipesan dari testaurant, ada yang khusuk dimasak oleh bik Ti atad intruksi resep dari mamamya.
"Ayo ke dapur menemaniku saja nggak apa, kamu terlalu kecil jika harus memasak, "
"Baik, Kak, "
"Umurmu berapa?" Tanya perempuan itu.
"Sebelas tahun, aku baru lulus dari sekolah dasar swasta, " ujar gadis kecil itu lalu menyebut nama sekolahnya.
."Wow sekolahmu bertaraf Internarional, ya, hebat...!" Seru perempuan itu yang sudah curiga gadis kecil yang ditemukannya bukan anak dari pinggiran, tapi anak.orang terpandang.
."Namaku Monik, " ujar gadis kecil itu.
"Monik?"
"Ya, ".Monik.mengangguk.
."Namamu indah dan cocok untukmu yang menggemeskan, " ujar perempuan itu yang sambil berbicara tangannya menarut kelapa, sedangkan di tungku sedang merebus daun singkong.
"Kakak namanya siapa?" Monik balik bertanya sekarang.
"Aku Ratu..."
"Oh Kak Ratu namamu juga bagus, " ujar Monik yang membuat Ratu tersenyum.
__ADS_1
Siapakah Ratu?
Bersambung