Monik Gadis kecilku dulu

Monik Gadis kecilku dulu
Monik dapat pesan dari mamanya


__ADS_3

**oan merasa sangat geram atas penolakan mamanya atas diri Monik adik tercintanya.


"Dimana kasih sayang serta kelembutanmu sama kami, Ma?" Joan tak akan percaya kalau tak melihat rekaman cctv. Betapa Monik merangkulnya penuh kerinduan, tapi mamanya malah minta dilepaskan takut dilihat pengawalnya.


"Ma Monik kangen tapi mama menolaknya. Apa Mama lupa Monik?


Lupa juga pada Jo?


Melupakan penusukan papa?


Oh ini nggak benar, Ma!


Ini harusnya tak terjadi!


Hatinya betul betul hancur. Rasanya sia sia mengharapkan pertemuan dengan mamanya terjadi. Sudah disusunnya rencana, begitu dirinya diwisudah ia akan mencari pekerjaan. Selama ini ia hanya menerima perlakuan Siril untuk dijadikan budak sex, selain karena terikat janji yang bisa membinasakannya jika menolak, sekalian bisa melanjutkan sekolah dan kuliah.


"Wanita itu Nyonya pemilik Mal ini..." teringat ucapan.si meneger. Mamanya hidup dalam gelimang harta dengan.suami barunya. Papanya telah terlupakan. Anak anaknya pun sudah tak ada artinya lagi.


"Mama kenapa jadi berubah begitu, Ma..." sungguh Joan seperti tak mengenali sikap mamanya yang berubah total itu.


Tapi Joan tak mau tinggal diam. Pemuda itu enam tahun lalu berhasil lepas dari penculiknya dan sembunyi di mobil suami isteri Herman, dimana Siril sang isteri telah mempekerjakannya sebagai pemuda memuas nafsu bejad komunitasnya itu, akan menyelidiki siapa pemilik Mal yang kabarnya suami mamanya.


Otomatis waktu istirahatnya dalam persiapan untuk hari wisudahnya, terganggu dengan penemuan yang sangat membuatnya sangat terpukul.


Tak perduli berapa banyak rintangan untuk dapat mengetahui suami mamanya. Adakah dia terlubat dengan pembunuhan papanya?


Oh kalau benar suami mamanya itu adalah orang yang ada dibalik pembunuhan papanya, sungguh ia tak akan memaafkan mereka!


Tiba tiba raut muka Joan tegang. Dadanya berdebar hebat. Kalau memang benar suami baru mamamya itu terlibat dalam pembunuh papanya?


"Monik...!" Joan berdiri panik, "Monik dalam bahaya...!" Desisnya berjalan mondar mandir di kamar kosnya.


Panik, cemas memenuhi dadanya. Adiknya dalam bahaya. Pasti suami mamanya sudah melihat wajah Monik lewat rekaman cctv.


Oh mama kenapa engkau membahaya membahayakan sampai hati membahayakan putrimu sendiri? Kalau mananya menikah dengan pembunuh papanya, apa tujuannya? Akan membunuhnya juga diam diam di dalam kamar mereka?


Ah, Joan tak bisa berpikir yang jauh, selain hanya memikirkan bagaimana caranya bisa menemukan adiknya.


"Tadi sudah dijemput sama kakaknya, " teringat ucapan satpam.di Mal tempat Monik bertemu dengan mamanya.


"Farel..."


Ya nama yang menjemput Monik Farel. Mengaku sebagai kakaknya. Padahal jelas kakaknya Monik hanya satu, dirinya.


Sayang yak sempat minta diperlihatkan sosok Farel lewat cctv. Ah, waktunya tak memungkinkah untuk meminta lihat rekaman Farel menjemput Monik. Lalu kemana harus mencari Farel?


Bagaimana kalau Farel pemuda jahat, dan memperdaya Minik?


Joan tertegun. Cemas pada keselamatan adiknya. Tapi, bukankah Monik itu si gadis tupai? Kalau benar adiknya gadis yang mampu menjejakkan kakinya di pohon untu beberapa detik lamanya, berarti Monik memiliki suatu nilai lebih. Atau mungkin adiknya selama menghilang telah menimba ilmu bela diri dari aliran kuno, yang juga diajari ilmu meringankan diri seperti di film film klasik.

__ADS_1


Joan bimbang. Masa iya. Tapi, ia berharap mudah mudahan saja adiknya memiliki sesuatu untuk menjaga dirinya.


Joan menepuk jidatnya ingat akan status yang ditulis Farel untuk menjemput Monik. Bukankah ia menulis statusnya sebagai mahasiswa jurusan hukum?


Benarkah?


. Joan menebak nebak. Kalau memang benar pemuda itu kuliah di jurusan hukum, tapi Universitasnya apa?


"Kalau aku tulis di sosmed pencarian Farel, bisakah membantu?"


Tapi bagaimana kalau sampai terbaca oleh pihak pembunuh papanya? Lagi lagi Joan menemukan jalan buntu untuk mencari tahu adanya Farel. Tak mungkin, kan, melacak satu persatu mahasiswa jurusan fakultas hukum di seluruh universitas di Jakarta ini.


Lapor polisi.


Benarkah tindakannya untuk minta bantuan polisi untuk menemukan Farel?


"Ribet nanti..." Joan ragu melibatkan polisi untuk menemukan Farel. Nanti gimana kalau diminta fotonya Monik, masa seorang kakak tak punya foto adiknya, kan nggak lucu...!


Pusing lagi Joan memikirkan cara untuk menemukan Monik atau Farel. Apa kembali ke Mal lagi minta diperlihatkan rekaman Farel yang menjemput Monik. Tapi itu tak aman.


Joan semakin kebingungan. Jalan buntu untuk melacak keberadaan Farel. Dicari ke setiap Universitas, pasti banyak yang bernama Farel. Huh, mana nggak tahu tampang tuh anak yang bernama Farel.


Untuk sementara jalan buntu bagi Joan untuk menemukan Farel yang bisa menjadi kunci untuk menemukan Monik.


"Duh Monik dimana kamu, Dik..?" Joan jadi lesuh belum dapat jalan untuk menemukan adik tercintamya...


Bisa saja mamanya tak mau mengenalinya, karena pertimbangan untuk keamanannya. Seperti yang dikatakan kak Ratunya.


Monik terkejut. Itu artinya, mamanya dalam posisi tertekan. Mamamya kalau begitu tak aman. Duh benarkah demikian. Benarkah demikian adanya?


Monik terus berpikir kemungkinan kemungkinan mamanya hidup dalam tekanan seseorang. Apakah itu orang yang yang juga terlibat dengan pembunuh papanya?


Lalu apakah harus menyelidiki suami mamanya, dan juga mencari tahu kenapa sampai hati mamanya menikah lagi?


Suami mamanya menurut meneger Mal adalah pemilik Mal. Hem sebenarnya bisa dilacak. Dan Monik bermaksud untuk memulai penyelidikannya. Pertama harus mencari tahu tentang pemilik Mal. Walau Monik yakin pasti biodata yang tulis di google pasti yang bagud bagus saja.


Tiba tiba saja Monik ingat mas Jonya. Seandainya kakaknya itu ada bersamanya, akan membuat dirinya bisa berunding. Tapi kakaknya tak diketahui keberadaannya.


"Mas Jo dimana berada. Monik ingin bertemu, Mas, mungkin Mama dalam kesulitan..."


Tiba tiba ada bunyi sesuatu dari dalam tasnya. Monik tahu itu bunyi hape, tapi hape siapa, jan hape miliknya ada di atas kasur. Tak mungkin hape milik Ratu karena baru saja perempuan yang teramat baik pada dirinya itu mengabarkan sudah sampai di rumah bukitnya, dan Ratu minta supaya dirinya jaga kesehatan, jangan lagi lalai.


Monik berdiri meraih tasnya yang digantung. Dan betapa terkejutnya saat menemukan sebuah hape bagus di tasnya. Walau sudah lama tinggal di bukit, tapi melihat dari merk dan looknya, ia tahu hape di tangannya itu bukan hape murah.


Terdiam Monik menebak nebak milik siapa hape yang di tangannya saat ini.


Tak mungkin punya Rima, sahabat barunya itu tadi mengirim WA, menanyakan kesiapannya untuk menjalani orientasi.


Monik terdiam.

__ADS_1


Tapi tak menemukan jawaban siapa gerangan pemilik hape keren di tangannya itu.


"Bissmillah..." serunya, lalu menyalakan tombol on pada hape di tangannya. Kalau tak dibuka mana ia tahu itu hape siapa. Jika nanti ada alamat pemiliknya akan diantarkannya segera.


Gambar layar di wallpaper hape berupa bunga melati. Bibirnya tersenyum melihat lebatnya bunga kecil warna putih kesukaannya itu. Juga kesukaan mamanya. Terlupa sejenak ia pada niatnya untuk melihat foto pemilik hape seperti di layar hape kebanyakan ada foto pemiliknya, atau anak, atau apalah yang memiliki arti. Ini gambar bunga melati yang mekar serta lebat tumbuh diantara daun hijau yang subur dan segar sangat menyita perhatiannya


Tiba tiba Monik teringat pada pohon melati di taman belakang rumag mereka. Berbunga lebat seperti yang ada di layar hape yang dipegangnya saat ini.


"Melati kesukaan Mama..." tiba tiba ada getar rindu menggebu di dada Monik pada mamanya yang memang penggemar bunga melati.


Setiap hari di kamar tidur mamanya selalu ada vas yang isinya beberapa tangkai melati dengan daunnya. Sehingga kamar yang sejuk itu beraroma melati. Dan mamanya tak perlu membeli tangkai melati ke toko bunga, karena pohon melati di taman rumah mereja selalu berbunga lebat. Dan bukan hanya satu pohon melati yang sitanam mamanya. Tapi ada tiga pohon melati. Masing masing ada di setiap sudut taman.


"Melati walau bunganya kecil harumnya sedap..." pernah mamanya berkata demikian. "Kita nggak perlu beli ke toko bunga, kan sudah punya pohonnya, lengkap dengan akarnya, dan tumbuh subur dan berbunga lebat. Lagipula jarang ada melati dijual di toko bunga."


"Monik juga suka melati, Ma, " ujar Monik yang tak henti hentinya menghirup wangi yang disebar oleh siputih mungil itu.


"Mama aku rindu Mama..." gumam Monik.


Ada WA masuk. Monik bukannya lancang dan sok ingin tahu urusan orang lain, terutama urusan pemilik hape Tapi kalau tak membuka WA mana tahu siapa pemiliknya.


"Monik maafkan Mama cepat catat no baru ini, karena nomer hape ini segera tidak aktif lagi. Jangan menghubungi atau kirim pesan jika Mama tak memulai. Jaga dirimu, apa kamu bersama Mas Jomu? Cup...cup..cup... mama sayang Monik..sayang kalian berdua, Nak....😂😂😂❤❤❤"


"Mama...benarkah ini Mama yang kirim WA..." Monik mencium layar hape itu berulang kali. Cup...cup...cup.. "Mama sayang..." lahi lagi Monik menangis, dan saat ia ingin membalas teringat pesan mamanya supaya tidak menghubunginya, jika mamanya tak memulai.


Gadis itu menangis sesunggukan. Tak tahan merasakan kerinduan pada mamanya, serta rasa bahagia tak alang kepalang karena mamanya ternyata ingat dirinya.


"Terima kasih Ya Allah, ternyata Mama tak berubah..." bersujud Monik merasa sangat bersyukur atas pertemuan kemarin.


"Mama Monik kangen, Ma..."lagi Monik sesunggukan merasa kerinduan yang teramat sangat.


Kalau begitu hape ini milik mamanya, tapi kenapa ada di tasnya. Atau waktu kemarin ia memeluk mamanya, sengaja mamanya menyelipkan. Oh, ternyata mamanya diam kemarin, tapi kini ada alat penghubung untuk melepas rindu.


Mama terima kasih. Monik memeluk hape itu, "Kita bisa saling berkirim pesan, " tersenyum monik dan mencium hapenya berulang kali.


"Mama kapan kita bertemu...?" Tapi Monik tercekat ingat akan pesan mamanya yang penuh rahasia itu.


"Kak Ratu kamu benar Mama masih sayang aku..." serunya mengirim WA pada Ratu. Dan segera menyimpan nomer baru yang dikirim mamanya. Lalu diberi nama 'Kesayangan Monik'.


"Mas Jo aku dikasih hape sama Mama, ternyata Mama sayang kita, Mas Jo. Ayo segera ketemu Mas Jo kita akan menolong Mama.


Lalu Monik.membuka galeri foto. Ada beberapa foto mamanya dengam gadis kecil sekitar sebelas, atau lebih, seta dengan bayi dan dengan balita.


Monik bingung mamanya berfoto dengan siapa, tak ada keterangan. Anak perempuan bersama mamanya kelihatannya foto lama. Lalu foto mamanya memangku bayi juga sudah agak lama. Tapi beberapa foto mamanya yang bersama anak lelaki empat tahunan terlihat masih baru.


"Siapa mereka...?"


Duh Mas Jo dimana kamu..? Jerit hati Monik memenihi rongga dadanya...


ikuti terus, ya petualangan Monik**

__ADS_1


__ADS_2