
Monik baru saja mau memejamkan kedua matanya, saat hapenya memberi isyarat ada WA yang masuk. Sudah bisa ditebak pasti dari kak Ratunya, siapa lagi, toh sementara ini baru kak Ratunya yang tahu nomornya. Tapi kampus calon tempatnya kuliah juga sudah ia beri nomor WAnya.
Ah lihat dululah. Nah benarkan dari kak Ratu. Bibir Monik menyungging senyum. Tanpa menunggu langsung saja dibukanya pesan dari perempuan penolongnya itu.
"O...oooh...." Monik membatin begitu melihat melihat gambar yang dikirim kak Ratunya. "Ini aku..." mulai panik gadis itu begitu melihat foto gadis berhijab warna hijau muda senada dengan setelan blous longgar serta kulot longgar, yang kedua kakinya bagai merayap di pohon tanpa pegangan, sementara cipratan air dari mobil hampir menyentuhnya. Tapi Monik masih beruntung kareba wajahnya berpaling membelajangi jalanan, artinya sekaligus membelakangi camera orang yang secara tanggap mengambil gambarnya.
"Apa ini Monik?" Hanya itu pertanyaan Ratu.
Dan Monik perlu mengklarifikasinya. Tapi tunggu dulu, harus mengambil jaket di dalam tasnya, supaya blous yang dikenakan saat ini tertutup warna coklat jaketnya. Hem masih kurang, segeta diambilnya syal untuk sedikit memberi variasi pada hijab yang dikenakan. Otomatis dengan adanya syal warna coklat muda gradasi pekat coklat, membuat hijabnya tak sama persis dengan hijab dirinya yang merayap di pohon seperti di foto itu.
"Kak Ratu maaf spontan menghindari cipratan air, reflek, maaf, lain kali lebih bisa hati hati emotion kedua telapan tangan disatukan." Bukan itu saja, ia sertakan pula penampilan hasil hasil jepretan camera hapenya atas penampilannya barusan, "Untuk membedakan penampilanku saat ini, Kak Ratu, soalnya masih di dalam bus siapa tahu ada yang ngebanding bandingi..."
"Ya lain kali jangan gampang reflek mengeluarkan ilmu seringan kapasmu. Ini jaman medsos, semua gampanh tersebar, banyak camera di sekitarmu ... dan banyak orang yang atraktif sekarang..."
"Ya Kak Ratu..."
"Ya hati hati..."
Monik langsung mencari berita sesuai dengan gambar yang dikirim kak Ratunya. Ini dia. Monik terbelalak membaca head linenya. #Gadis cicak di jaman Now...# lalu gambar dirinya yang menjejakkan kedua kakinya di pohon tanpa pegangan.
"Huh pasti viral, deh..." gumam batin Monik, tapi lagi lagi ia merasa beruntung karena wajahnya tengah berpaling membelakangi camera.
Iseng Monik larak lirik ke kanan kirinya. Hatinya tercekat saat ada dua penumpang yang tengah memperhatikan layar hapenya dimana gambar dirinya berdiri di pohon sedang jadi perhatian mereka.
"Gadis cicak...." seru perempuan yang masih memandang gambar di layar hapenya.
"Ini bukan rekayasa memang asli cewek hijab ini bisa berdiri di pohon..!" Sahut yang duduk di sebelahnya.
"Kok bisa, ya?"
"Pasti gadis ini berilmu, "
"Heh ini bukan jaman kuda gigit besi, ini jaman now udah nggak ada ilmu ilmuan..." bantah teman sebelah duduknya.
Monik senyum senyum mendengar perdebatan mereka, namun tak urung dadanya berdebar debar juga ingin cepat turun dari bus.
Joan
Dan Joan perutnya sudah kenyang. Satu apel luar negeri yang berwarna pink pucat sudah masuk di perutnya.
"Sudah Tante... sudah kenyang..." ujar Joan menatap perempuan yang tampak santai belum ada tanda tanda untuk membuka pakaiannya, dan lampu kamar masih terang benderang. Duh gimana ini nggak lama lagi senjatanya, alias obat peransang yang sudah ditelannya akan beriaksi, nih, si Tante masih asyik dengan aktivitas yang tak pernah dilakukan tante tante ginit yang lainnya, yang telah menerima jasa servicenya.
"Hem apa aku terjang ajah untuk memulai supaya cepat selesai, ya..." Joan mulai tak sabar ingin segera menuntaskan tugasnya.
"Jo, "
"Ya, Tante, " udah mulai manggil, pikirnya melirik perempuan yang kini sudah mengakhiri aktivitasnya, tapi belum ada tanda tanda beranjak je tempat tidur, malah duduk kembali dengan gaya yang sopan. Sungguh berbeda dengan perempuan perempuan laun yang begitu rakus tak sabar menggorogoti dirinya. Huh, untung saja ada obat peransang yang membantu aktivitasnya, kalau nggak huh muak dan muntah menghadapi kebinalan perempuan yang bukan pada tempatnya itu.
"Maaf ya, Jo, ini pertemuan kuta pertama kali, bukan?" Perempuan itu justru mengajak berbasa basi lagi, semakin membuat Joan muak dan tak sabar ingin segera menyelesaikan tugas akhir sebelum dua dapat cuti dua minggu untuk persiapan wisudah.
__ADS_1
"Ya, " angguk Jo pura pura antusias.
"Dan aku bergabung dengan komunitas perempuan brengsek ini sudah satu bulan..." ujar perempuan itu serius membuat Joan terkejut, "Maaf, Joan kalau ucapanku barusan kasar pada semua pelangganmu, " sambungnya semakin membuat Joan tertarik, "Aku akan memberimu tip tapi bukan untuk melayaniku, karena aku masih punya iman dan aku ingin kita mengobrol saja, " lalu dikeluarkannya amplop dan sedikit dibuka sedikit ujung amplop itu, sehingga terlihat susunan uang seratusan ribu rupiah, "Ambillah ini rahasia kita berdua..." diberikannya uang itu pada Joan, "Untukmu mendengar apa yang akan kuutarakan padamu, " tersenyum perempuan itu.
Joan terperangah tanpa suara memegang amplop berisi uang pemberian perempuan yang ia sendiri belum jelas apa maunya.
"Aku Indira, panggil Ibu Indira, "
"Ibu Indira?!" Joan belum mengerti.
Perempuan yang minta dipanggil Ibu Indira itu mengangguk, "Ya, " serunya.
"Maksudnya?" Joan masih dibalut kebingungan.
"Aku memerlukanmu, "
"Memerlukan saya untuk...?!" Joan mengernyitkan kedua alisnya, tak mengerti kemana arah ucapan perempuan itu.
"Baiklah begini, " ujar Indira, "Aku seorang ibu, suamiku selingkuh dengan sekretarisnya yang umurnya masih tiga puluh tahun. Umurku saat ini empat puluh lima, sedangkan suamiku lima puluh tahun. kuceritakan supaya kamu lebih mengenal aku, "
Joan hanya manggut manggut.
"Aku seorang Psikolog, "
"Oh..!" Joan terkejut, "Tapi kenapa Ibu Indira bergabung dengan komunitas milik Tante Siril?"
..indira tersenyum. "Aku ingn mendalami sepak terjang kelompok komunitas terlarang ini, "
"Maaf bukan untuk memata mataimu, hanya ingin fakta bahwa komunitas begini memang ada, maaf Jo, "
"Lalu untuk apa, Bu Indira?" Sebenarnya ini angin baik bagi Joan kalau ada yang memberantas, sementara dirinya belum memiliki kekuatan untuk melepaskan diri dari belitan Siril ini.
"Nanti juga kamu tahu, " ujar Indira.
"Ibu tahu dari mana komunitasnya tante Siril ini?" Joan semakin berani mengeluarkan pertanyaannya.
"Itu diluar dugaanku. Bulan lalu aku melihat kenalanku yang isteri pejabat orang terhormat menyetir mobil hampir menabrak, maka kuajak dua ke rumahku, ternyata dia mabuk dan ngoceh tentang komunitasnya, yang sungguh membuatku terkejut, katanya suaminya impoten makanya dia masuk komunitas kalian..."
"Oh!" Joan sebenarnya mau protes saat dirinya dikatagorikan dalam komunitas perempuan pereguk dosa itu.
"Aku pura pura tertarik dan minta bergabung bulan lalu dan dapat giliran malam ini denganmu..." tertawa Indira."Aku tak berminat dengan anak muda atau siapa pun,.aku tak bisa, karena aku punya iman,"
"Oh itu bagus seharusnya memang begitu, Bu, " meluncur begitu saja suara Joan, dan rupanya obat perangsang di dalam dirinya sudah beriaksi, sebisa mungkin Joan bersikap biasa, dan meminta air putih, "Ibu maaf bisa saya minta air putih?"
"Oh ya, " segera Indira mengambilkan Joan sebotol air dari kulkas.
Tanpa menunggu segera Joan menenggak isi botol hingga tuntas.
"Maaf, ya, Bu urgent, " ujar Joan pada Indira yang memperhatikannya.
__ADS_1
"Nggak apa apa, " angguk Indira dengan sikap sabarnya.
Sebagai seorang konseler, yang mengerti sikap dan tindak tanduk seseorang, ada yang ia tangkap gelisah tersembunyu, serta gestur tubuh Joan tidak sesuai dengan keberadaannya di kamar hotel. Sinar mata pemuda itu terkesan jijik dengan keadaannya. Ada kejenuhan, bahkan keengganan atas keberadaan dirinya di tempat yang orang dewasa bisa melakukan apa saja.
Bahkan sejak pertama melihatnya tadi, sudah tertangkap kesan ketidaksukaan pada mata yang sempat beberapa lama memberikan pandangan mencemooh pada dirinya. Mungkin karena mengira dirinya adalah perempuan rakus brondong.
"Bagaimana bisa kita lanjutkan?" Indira memandang Joan, sungguh.ia tak tahu kalau pemuda di depannya sedang berusaha menenangkan gejolak akibat dari obat perangsang yang kini mulai beriaksi itu.
"Hem.." hanya deheman yang keluar dari mulut Joan.
"Pernakah kamu bersama perempuan ini?" Indira memperlihatkan foto perempuan cantik di layar hapenya, "Namanta lisa mantan sekretaris suamiku yang sekarang menikah sirih dengan suamiku, " inilah tujuannya mengapa sampai ia rela masuk komunitas para perempuan pengkhianat pada suaminya, ingin membongkar kelakuan buruk Lisa yang telah berhasil membius suaminya itu. Setelah berhasil membongkar kelakuan busuknya, maka ia akan membuka mata suaminya perempuan macam apa yang digandrunginya itu.
"Maaf Bu Indira kepala saya pusing, tolong kirum saha fotonya je hape saya, maaf boleh saya rebahan?" Tanpa menunggu segera Joan meloncat ke kasur tanpa membuka sepatunya.
Indira berdiri setelah mengirim foto Lisa ke hape Joan. Dipandangnya Joan cemas.
"Kamu baik baik saja, Jo?" Indira cemas, "Kupanggilkan dokter?" Bagaimana pun tak mungkin ia membiarkan pemuda itu kesakitan tanpa pengobatan.
"Nggak usah, Bu," sungguh Joan ingin ditinggal sendirian.
Indira masih berdiri mematung cemas memandang Joan yang memeluk guling membelakanginya.
"Maaf Ibu Indira tinggalkan saya sendiri, " pada akhirnya terpaksa mengatakan juga pada Indira.
"Baiklah, Jo, " angguk Indira, "Istirahatlah kalau ada apa apa tak usah segan hubungi aku, oh ya kamar ini sudah aku bayar normal, selamat malam..." segera ditinggalkannya Joan sendirian .
Jelang subuh Joan baru terjaga. Segera pemuda itu menuju ke kamar mandi. Mandi sepuasnya. Setelah menjalankan kewajibannya menghadap Sang Pencipta dengan doa permohonan maaf sujudnya, pemuda yang bersyukur malam tadi lolis dari perbuatan maksiatnya, langsung menemui pak Min yang ketiduran di parkir mobil.
"Maaf Pak Min saya pusing ketiduran, " ujarnya pada pak Min yang langsung menjalankab mobil. Biasanya memang tak sampai pagi jika ia menservice pelanggan tante Sirilnya. "Nih Pak Min, " diletakkannya satu juta di pangkuan kelaki yang tak pernah mempersoalkan waktu itu.
"Apa ini, Den?" Memang bukan untuk.pertama kalinya menerima uang dari Joan, tapi kali ini jumlahnya berlipat.
"Rejeki halal Pak.Min..."
Pak Min tak bertanya lagi, walau ucapan Joan membuatnya ingin bertanya. Tak biasanya pemuda itu berkata demikian.
"Semoga Tuhan mengampuni kuta, Pak Min, " biasanya demikian ucapan Joan. Tapi kali ini beda.
Sedangkan Joan sibuk memandang foto perempuan cantik berkulit putih bersih. Hem siapa saja lelaki yang melihat foto perempuan.yang dikirim Indira ke hapenya, pasti suka. Hem pantas suami perempuan itu tergila gila.
Tentu saja Joan kenal dengan perempuan bernama Lisa yang dipanggilnya Mbak itu. Si Lisa ini perempuan termuda yang dalam komunitas yang menggilirnya. Umurnya tiga puluh tahun. Bahkan yang terbaru pula bergabung. Sekitar setahunan. Dan termasuk sering mendapat jatah bersamanya. Ia tahu hal itu, karena perempuan itu pasti berani lebih besar membayar pada tante Sirilnya.
Dan perempuan itu memberi alasan klise atas pengkhiyanatan pada suaminya yang sudah setengah abad umurnya itu.
"Suamiku terlalu sibuk, dia gampang lelah, suka ketiduran. Ah pokoknya cuma bulan bulan pertama pernikahan kami dia romantis, ah, payah..." begitu keluhan pertama pertemuan mereka. Selanjutnya dia sudah lupa akan kekurangan suaminya, karena sibuk dengan memuaskan dirinya sebelum tiga jam pertemuan mereka berakhir.
"Hem ternyata kamu ini pelakor, perebut suami orang, menjijikkan juga, ya, nggak puas dengan suami curiannya cari brondong untuk kepuasan nafsu bejadnya!
Dan Joan mengutuk gambar perempuan di tangannya!
__ADS_1
Ikuti kelanjutannya, ya...
Bersambung