
Tulisan yang berjudul gadis tupai jadi viral di sosmed. Bertebaran saling kirim dan teruskan. Di Instagram, di Twitter, facebook. Pokoknya bertebaranlah gambar gadis berhijap setelan warna kuning muda yang membelakangi camera sedang berdiri di atas pohon, dengan posisi miring itu diperjelas oleh rekaman cctv di sekitar tempat itu, yang jadi ikut ikutan memposting kejadian menarik di sekitar halte itu.
Pertama gadis itu berdiri menghadap jalan? Tidak jelas wajahnya, selain mengenakan masker video juga agak jauh. Tiba tiba muncul mobil sedan yang menerobos genangan air, sehingga gadis berhijap kuning muda itu reflek menghindari cipratan air, dengan berbalik dan langsung kedua kakinya singgah dengan posisi kokoh pada pohon yang berdiri, tanpa berpegang pada apa pun tangan gadis itu, sehingga jika gayanya disebut mirip tupai yang merayap di pohon memang tepat.
Maka foto dan video itu menjadi pusat perhatian orang. Di screen shot, di update ulang rejaman cctv itu sehingga menjadi koleksi yang dijadikan topik pembicaraan.
Monik yang sedang mengurus kekengkapan sebagai calin mahasiswi baru, tentu saja tercengang akan viralnya gambar dirinya yang sedang jadi topik hangat. Ada rasa khawatir juga bila suatu saat ada pakar yang bisa membuka marker yang dikenakan. Huh amit amit jangan sampai.
"Putri..." seseorang memanggil namanya.
Monik masih tak beriaksi memikirkan keviralan tindakan refleknya yang jadi tulisan artikel banyak orang, yang mendadak kagum dan menebak nebak jika dirinya punya ilmu kesaktian.
Atau ada lagi yang berkomentar begini, "Ih jangan jangan itu demit tang nyamar jadi gadis, ih ngeri...!"
Monik meringis sendiri dirinya dibilang demit.
Atau gini, "Lagi ngilmu terbang, " ini, sih masih mending.
."Ati ati nih cewek keturunan Alien..."
"Siapa pun dia gua salut dah.nih cewek bisa jaga diri pastinya, " hem.Monik senyum senyum.
"Putri kamu dari tadi ngapain, sih nyengir gak jelas...?" Rima menepuk Monik, mereka sama sama calon mahasiswa, satu jurusan pula.
"Oh ...ya... " Monik lagi lagi nyengir lupa kalau dia tak lagi boleh memperkenalkan nama Monik, khawatir musuh lama masih penasaran, tapi mempopulerkan nama Putri.
"Gila, ya, kok bisa cewek ini nemplok begini di pohon....!" Rima memperlihatkan sosok Monik yang beraksi nemplok di pohon dalam.ketinggkian sekitar dua meteran..." berdecak Rima, "Aku yakin nih cewek pasti punya ilmu meringankan tubuhnya seringan kapas..." lanjut cewek kurus itu serius menonton aksi Monik.
"Kok tahu?" Monik bertanya ketelepasan.
"Ya, pasti aku tahu, " angguk Rima yakin.
"Serius, lo?" Monik tertarik, nih, cewek ngerti soal ilmu meringankan tubuh. Jangan jangan dia juga punya ilmu meringankan tubuhnya, batinnya menebak nebak.
.."Ya seperti di film silat, film kungfu..."Rima nyengir menatap Monik yang menghela napas.
"Kirain lamu bisa ilmu meringankan diri, ".ujar Monik memperhatikan video dirinya di layar hapenya.
"Yuk ke kantin, lapar juga ngurusi ini itu, " ujar Rima menarik tangan Monik.
."Yuk, " angguk Monik. Perutnya terasa lapar. Tapi ia harus tahu diri, tak boleh boros mempergunakan uang pemberian kak Ratunya.
"Jangan nahan lapar, makan yang benar supaya kosentrasimu belajar tak terganggu perut keroncongan, " pesan Ratu yang tak memperbolehkan Monik nganggur alias tidak kuliah, "Aku cukup punya uang untuk biaya kuliahmu, " mewanti wanti Monik. Lalu membongkar rahasianya, bahwa ia punya tabungan lumayan peninggalan orang tuanya.
"Tapi, kan itu uang orang tua Kak Ratu, " waktu itu Monik masih segan untuk kuliah bila merepotkan Ratu yang telah banyak menolongnya.
__ADS_1
"Itu sudah jadi milikku, nah, jika uang itu kupergunakan untuk kebaikan kedua orang tuaku dapat pahala, " ujar Ratu yang tetap berjualan busana muslim, walau memiliki sejumlah tabungan. "Plis Monik, jangan kecewakan aku, kamu juga perlu ilmu..."
Monik akhirnya menyerah, dan di dalam hati ia berjanji untuk mencari pekerjaan sambilan supaya bisa membantu biaya kuliahnya.
"Putri kamu kok bengong, sih?" Rima menepuk tangan Monik yang sering lupa kalau panggilannya bukan Monik lagi.
"Eh...ya....ya... enak sotonya, " decak Monik karena ia memang lapar. Tadi tak sarapan, hanya minum air putih,.untuk irit.
"Kamu nggak mesen sop buah, segar, lho...." Rima mengaduk sop buah yang terdiri dari beragam buah buahan itu yang sebenarnya menggoda selera Monik.
"Nggak, " geleng Monik.
"Juice jeruk apa gitu?"
"Nggak air putih ajah aku udag kenyang..." Monik berdesis mulutnya merasakan pedes.
"Biar kutraktir awal kita akrab, " tangan Rima sudah mau memberi kode pada pelayan. Tapi segera ditahan oleh Monik, "Kenapa?"
.."Perutku ngga muat, kenyang..." Monik nyengir, malu, ah, baru kenal ajah udah minta traktir. Cukup makan sesuai kemampuan, begitu tekadnya tak mau manjakan perut. Jangan berlebihan.
"Oh gitu, yaudah deh..." Rima menyerah, "Oh ya kamu di sini sama ortu?" Maksudnya orang tua.
Monik langsung teringat pada keluarganya. Seketika rasa rindu campur sedih sangat mengaduk aduk ulu hatinya. Rasanya ingin menangis. Wajah mama dan mas Jonya terbayang, lalu papanya yang terkulai.
"Oh ya...aku kos sendiri, " segera Monik memberitahu keadaannya di Jakarta ini.
"Orang tuamu?" Rima masih saja butuh menggali informasi, padahal Monik sudah berharap tak ada lagi yang mengorek luka hatinya.
"Di Leuwiliang..." cepat Monik menjawab.
..."Oh kamu dari desa itu?" Rima menatap Monik.
"Ya, " angguk Monik.
"Mbak di rumahku juga berasal dari Leuwiliang, " ujar Rima memberitahukan kalau asisten rumah tangga di rumahnya itu berasal dari desa dimana Monik berasal.
"Oh ya?" Monik mengangguk anggukkan kepalanya.
"Ya, " segera Rima mengelap bibirnya dengan tissue. Semanfkok soto dan semangkok sop buah berdesakan di perutnya hingga ia rasakan kulit perutnya melar, "Ya, tapi desa dan kota itu sama saja, kita tetap satu tanah air Indonesia, " lanjutnya bijak, "Kamu nggak usah minder walau dari desa, di sini kita satu naungan sama sama menuntut ilmu, " sambungnya lagi bersikap bijak.
Monik tak menanggapi hanya senyum kecil berdiri. Perutnya sudah kenyang. Mau pulang untuk istirahat, besok masih ada acara yang harus diikutinya masa perkenalan bagi mahasiswa baru dengan para seniornya.
Joan
Pemuda itu duduk selonjoran menyandarkan kepalanya ke dinding. Nikmat sekali menikmati waktu tanpa diganggu. Jangan ditanya masalah badannya, huh, serasa mau remuk karena dalam seminggu ia harus menjalankan tugas selama empat haru. Huh menyebalkan...!
__ADS_1
Waktu dua minggu walau sibuk dengan urusan kampusnya, toh dirinya istrahat total dari pekerjaan yang membuatnya mau muntah sebenarnya. Mengembalikan stamina yang terkuras. Memanjakan tubuhnya sendiri. Itu sangat luar biasa. Biasanya hal itu didapatnya jika saat cuti tiba.
Selama empat tahun dibawa kuasa Siril, ia mendapat cuti.sudah empat kali. Tak ubahnya dengan orang kerja. Satu tahun dapat cuti hari. Jika kerja di perusahaan sabtu dan minggu libur, tapi bagi Joan justru sabtu sampai minggu adalah hari sibuk. Dimana para komunitas berebut minta dilayani.
Sebagai gantinya, maka ia mendapat libur di hari yang lain, waktunya tidak tentu. Bisa diatur, yang penting dua hari dalam seminggu ia mendapat libur, bebas tugas. Jika saat ini ia mendapat libur dua minggu, itu adalah liburan khusus. Persiapan menghadapi hari wisudah, yang kemudian disambung dengan berbagai acara yang diadakan kampus sebagai perpisahan dengan almameternya, juga acara acara.yang tak kalah heboh yang diadakan dengan teman temannya.
Lupakan semua tugas rutinitas yang membuatnya muak. Wajah wajah cantik yang sok suci. Maka segera ia mengirim WA kesemua pelanggan dari komunitas terlarang itu, bahwa selama dua minggu ia tidak menerima WA dan tidak membalas WA.
"Jo selamat ya, moga dengan gelar sarjanamu pekerjaan terhormat menunggumu" hem WA dari Indira, satu satunya anggota yang memiliki moralitas.
Sekarang buka sosmed dulu. Dan sungguh ia terkejut dengan berita gadis tupai yang sedang viral.
"Ini kan yang semalam?" Joan ingat atraksi gadis itu saat menghindari cipratan dari genangan air yang diterobos mobil yang disetir pak Min.
.."Wah hebat juga nih cewek bisa merayap kayak tupai kedua kakinya di pohon.
Berulang ulang ia menonton gerakan gadis itu dari trotoar ke pohon, dan bertahan beberapa detik kedua kakinya di pohon. Hingga kemudian matanya menangkap gelang rantai yang dikenakan gadis iti di pergelangan tangannya yang kedua ujungnya dibatasi oleh masing masing bentuk lonceng.
Seketika hatinya berdebar. Segera dizoomnya bagian pergelangan kiri gadis itu. Dan matanya berbinar seketika. Ia merasa tak salah lagi dengan gelang rantai yang ada gambar lonceng di kedua ujungnya itu. Karena benda yang terbuat dari emas sepuluh gram itu adalah pembeliannya, hasil dari tabungannya untuk Monik.
"Monik..?" Joan berseru senang, seketika kerinduannya membludak hampir menecahkan dadanya. Ia yakin gadis itu Monik, karena gelang emas itu adalah pesanannya untuk hadiah ulang tahun Monik yang ke sebelas tahun, sebelum musibah itu terjadi.
.."Bagus banget Mas Jo, terima kasih, ya..." kedua tangan kecil Monik mencubit gemas kedua pipinya.
"Untuk adik tersayang harus pulang yang terbagus..." sambut Joan tentang gelang yang bisa di lebarkan supaya bisa dikenakan oleh adiknya hingga remaja nanti.
Joan lama memperhatikan pergelangan tangan gadis tupai itu yang mengenakan gelang, yang diyakininya adalah pemberiannya ke Monik.
"Kaukah ini, Dik?" Tanyanya penuh harap. Dan ia ingat pinggir jari kelingking Monik yang sebelah kanan ada tahi lalatnya, yang kebetulan pergelangan tangannya mengenakan gelang rantai.
Untuk lebih meyakinkan segera Joan menzoom jari kelingking gadis yang membelakangi camera. Seketika air matanya mengalir. Tanda milik Monik ada di jari kelingking gadis cicak itu.
"Monik...adikku...oh kamu sudah besar, Dik, maafkan aku telah berusaha mencarimu tapi nggak berhasil..." Joan yakin kalau gadis itu Monik. Dua tanda yang tak mungkin dua duanya secara kebetulan dimiliki orang lain. Tahi lalat itu, dan gelang pemberiannya. Diciumnya berulang kali foto dan video gadis yang diyakininya adalah Monik.
"Terima kasih Tuhan adikku masih hidup. Mama Monik hidup, Ma, tenang, Ma aku akan menjemputmu, aku akan mempertemukanmu dengan gadis kecilmu dulu..." kebahagiaan tiada terkira bagi Joan. Didekapnya layar hape yang berisi video Monik. Kalau melihat kelakuannya seperti orang kurangvwaras. Menangis dan tertawa bahagia mencium video Monik, kadang mendekapnya.
Walau dalam video wajah gadis itu tak jelas, selain suasana malam yang tak mendukung, gadis itu mengenakan masker. Namun Joan meyakini bahwa gadis itu adiknya.
Tapi tiba tiba Joan teringat sesuatu. Raut mukanya sangat serius memandang atraksi gadis yang begitu ringannya menapakkan kedua kakinya di pohon tanpa pegangan.
"Dik ini kamu, kan? " Serunya pilu, "Kamu sekarang bisa melompat seperti tupai ....?!"
Ikuti terus ya
Bersambung
__ADS_1