
Semua pengawal Sudibyo sibuk dengan kedatangan Bos besar mereka. Terlebih lelaki itu sangat berang dengan laporan tentang gadis bernama Monik yang mengakui Vina isterinya sebagai mamanya, laporan kedua pengawal pribadi yang bertugas mengawal isterinya pergi itu telah membuatnya mengadakan pertemuan khusus, dan memanggil satpam Mal yang bertugas siang saat kejadian, serta meneger Mal dan untuk melengjapi si operstor cctv pun harus bersiap membawa copy rekaman kejadian.
"Kamu nggak apa apa sayang..." Sudibyo merangkul pundak Vina. Ia masih percaya pada akhting Vina yang masih amnesia.
Vina menggeleng, "Nggak apa aps, " sebenarnya ingin ia mrngusulkan tak perlu sampai gempar.seisi rumah. Tak perlu mempersoalkan peristiwa itu. Tapi jika ia banyak berkomentar dikhawatirkan kepura puraannya amnesia terbongkar. Lalu bagaimana ini?
Oh harus mengirim pesan pada nomor hape yang diberikan pada Monik, sebelum nomornya di blokir. Setelah Sudibyo keluar kamar dan dipastikan sibuk dengan para kaki tangan dan pengawalnya, segera ia mengirim WA pada Monik.
"Sayang Monik kirimkan nomormu pada Mama sekarang, nomor ini akan segera diblokir. Nanti kita berhubungan menggunakan nomor baru yang Mama kirimkan. Cup...cup...cup...hati hati kalian berdua..." kalu diberikan gambar hati atau love berwarna merah sebanyak tiga kali. Setelah WAnya terkirim, segera ia menghapus ketikannya untuk dirinya sendiri. Aman. Setidaknya Monik sudah menerima permintaannya.
Rekaman kejadian di Mal saat Monik berusaha untuk menggugah Vina dengan pelukannya membuat Sudibyo cemas dan gusar. Ia tak tahu pasti apakah itu memang gadis kecilnya Vina dulu atau bukan. Tapi jika bukan kenapa namanya Monik, dan begitu menunjukkan kerinduannya pada isterinya?
Ia khawatir kejadian itu membuat Vina akan tersadar dari amnesianya, sehingga semua akan kacau dan kedoknya terbongkar.
"Tapi Bos Nyonya berpaling tidak merespon.." seru lelaki bertato kalajengking ingin menenangkan lelaki yang telah banyak berjasa dalam hidupnya. Selain memberikan kesenangan dengan harta dan uang, bosnya itu telah menyelamatkannya dari sindikat perdagangan narkoba yang hampir saja menghabisi nyawanya tujuh lalu.
Sudibyo mengangguk anggukkan kepala merasa isterinya betul betul tak menggubris gadis bernama Monik itu.
."Herman..."
."Ya, Bos, " tanggap lelaki bertato kalajengking di lengannya itu memandang pada Sudibyo.
"Menurutmu ini anak Johan bukan, sih...?" Sudibyo sangat khawatir kalau gadis bernama Monik itu benar putri dari mantan rivalnya dalam memperebutkan cinta Vina selagi di bangku kuliah. Dan Sudibyo yang lebih agresif mendekati Vina berhasil meminangnya, sedangkan dirinya yang waktu itu tak berani mengutarakan isi hatinya, selain hanya mengagumi serta memuja diam diam itu merasa kecewa. "Ada sedikit kemiripannya dengan Vina, " sambung lelaki yang juga pernah menjadi rival Johan pula dalam saingan untuk urusan bisnis.
Saat itu mereka sama sama lulus sebagai Insinyur Tekhnik Sipil. Dan Orang tua Sudibyo yang pengusaha kontraktor bangunan sangat terkesan pada hasil kerja Jogab. Saat itu sama sama mengajukan sebuah rancangan sebuah proyek sebuah gedung, tapi hasil rancangan Johan dinilai lebih fungsional oleh ayahnya, hingga hasil kerja Johanlah yang dipakai ayahnya, dan Johan memperoleh kontrak kerja di perusahaan milik ayahnya.
Tentu saja hal itu semakin memicu rasa iri dan sakit hati Sudibyo yang selalu dikalahkan oleh Johan. Urusan merebut perhatian Vina ia dikalahkan, kini urusan pekerjaan. Dan puncaknya saat tiga tahun kemudian Johan yang sukses dengan rancangan pembangunan proyek mega yang dipercayakan kepada PT. Bangun Jaya milik ayahnya, Johan memperoleh bea siswa untuk meraih S2nya di bidangnya. Sedangkan Sudibyo walau putra pemilik Pt. Bangun Jaya tetap menjadi wakil dari Johan.
Setelah menyelesaikan S2nya Direksi sepakat untuk mengangkatnya sebagai Direktur Operasional, yang semakin memberikan keleluasaan pada Jihan untuk berkarier dan menuangkan ide ide briliannya untuk setiap rancangannya. Hal itu semakin memicu rasa sakit hati Sudibyo.
"Ini putriku namanya Monik, dan ini jagoanku namanya Joan, " pernah Johan memperkenalkan kedua buah hatinya dari pernikahannya dengan wanita yang tak bisa dilupakan oleh Sudibyo. Saat itu mereka hadir dalam peresmian sebuah gedung yang dirancang oleh Johan.
"Cantik dan tampan, " ujar Sudibyo berbasa basi pada lelaki yang telah mengalahkannya dalam segala hal. Karier dan wanita.
"Ya Monik mewarisi kecantikan mamanya..." ujar Johan dengan binar bahagia yang memancar.
Ada yang sakit pada hati Sudibyo mendengar sanjungan Johan pada Vina, wanita yang tak pernah bisa dilupakannya itu.
Sudibyo terpengaruh ucapan Johan langsung menatap lekat pada Monik, yang diakuinya memang mewarisi kecantikan Vina. Saat itu Vina mendekat. Dengan mesra Johan merangkul pundak Vina.
"Hai Dibyo apa kabar...." Vina menjabat tangan Sudibyo akrab.
Sudibyo sangat menikmati genggam tangan Vina dan enggan untuk melepaskannya.
__ADS_1
"Mana gandengannya, masa kalah sama kita yang udah punya dua ..." Vina tertawa menggoda dan ia tak keberatan Sudibyo masih menggenggam tangannya, karen sejak sama sama satu kampus walau beda jurusan lelaki itu sangat baik pada dirinya.
"Aku sangat ingin punya anak darimu, Vina..." Tapi itu hanya diserukan dalam hati saja oleh Sudibyo.
"Ya kita punya dua bukti cinta kira ya, sayang..." dengan mesra Johan mengecup pipi isterinya. Vina menarik tangannya daringenggam Sudibyo, lalu meraih tangan Johan danb tersenyum mesra pada suaminya.
Sudibyo tampak geram oleh ulah mereka. Diam diam ia menyimpan rasa sakit karena cemburu di dadanya, yang berbaur dengan rasa sakit hati dan hal itu menjadikan sebuah dendam yang tersembunyi semakin hari, dan semakin dan semakin lama semakin mengganggunya.
"Ada sedikit kemiripannya dengan Nyonya, Bos..." ucapan Herman membuyarkan lamunan Sudibyo.
"Begitu, ya, " lelaki itu menatap Herman, "Apa itu memang Monik yang dulu terlepas dan hilang?" Ada nada cemas pada suara Sudibyo.
"Entah..." Herman terdiam sesaat, "Menurut laporan dulu Monik jatuh ke jurang dan nggak ketemu, kemungkinan mati di dasar yang curam itu, atau terbawa arus, karena jurangnya bersebelahan dengan parit yang airnya mengalir ke sungai di balik bukit, "
.."Kau yakin?" Sudibyo menatap lekat Herman.
"Memang begitu kondisi tempat Monik terjatuh, " angguk Herman.
"Kau sudah memeriksanya sendiri?" Sudibyo ingin lebih meyakinkan.
"Ya, dulu saya pernah tinggal bersama isteri saya di sana, " angguk Herman.
"Nah coba kamu cari ahli komputer, gadis ini jilbabnya diganti rambut biasa..." Sudibyo masih penasaran dengan gambar Monik yang berjilbab.
"Coba mana yang namanya Farel...."
Operator segera menyetel kejadian dimana Farel menjemput Monik.
"Ganteng juga tuh anak, tapi apa benar Monik itu adiknya? Kalau benar berarti pemuda itu anaknya Johan, dan Monik kurang waras...?" Sudibyo tampak berpikir, "Ah pasti akal akalannya nih anak supaya adiknya terbebas, " ujarnya dapat menebak tipu muslihat Farel. "Coba cetak gambar mereka!" Sambungnya dengan nada tak suka.
"Baik, Pak, " angguk si operator dengan patuh.
Lalu pada si menrger, "Anda mendapat tugas tambahan, "
"Siap, Pak, "
"Koordinasikan secara diam diam gambar gadis dan pemuda itu dengan Mal dibawah kewenangan Pt. Bangun Jaya, lalukan penangkapan pada mereka jika ada di areal Mal.."
."Siap, Pak, Pak, ".angguk si meneger.
"Pak.Satpam, "
"Siap, Tuan..."
__ADS_1
"Awasi gadis bernama Monik di Mal, jika dia terlihat di Mal lagi, segera diamankan dan jangan dilepas sampai aku datang.
.."Baik, Tuan, "
"Hem terima kasih untuk keperdulian kalian, untuk lain lainnya silahkan atur dengan Herman, " setelah itu Sudibyo meninggalkan ruang pertemuan membawa gambar Monik dan Farel yang sudah dicetak.
Herman yang sudah mengerti maksud bosnya itu segera memberi isyarat pada asistennya yang sejak tadi memegang sebuah tas.
"Ya, Bos, "
Herman mengambil bungkusan kertas ukuran cukup besar yang isinya adalah uang yang jika dikalikan bisa lima kali gaji meneger dan seluruh satpam di Mal dimana Monik terekam canera cctv.
"Pak Meneger untuk kerja keras Anda dan Satpam di Mal. Turuti perintah Bos!" Herman menyerahkan bungkusan uang itu pada si meneger disaksikan dua satpam yang sumringah. Dan sayangnya mereka tak tahu ada apa dibalik peristiwa itu...
Monik tercengan membaca WA mamanya. Tak mau membuang waktu segera dikirimnya nomor WAnya pada sang mama.
"Mama kesayangan Monik, terima kasih minta nomor Monik. Ini, Ma, dan doa Monik untuk Mama ❤❤❤" tak lupa dibubuhinya tanda sayang gambar daun waru warna merah.
Monik senang nomor hapenya terkirim ke mamanya. Jangan ditanya, bagaimana perasaannya saat ini. Antara senang, bahagia dan cemas dengan keadaan mamanya.
Monik sengaja tak berterus terang kalau dirinya tak bersama mad Jonya, supaya mamanya jangan sedih dan cemas.
"Mas Jo dimana, mungkin Mama butuh bantuan kita, Mas..." rasanya ingin keliling Jakarta untuk menemukan mas Jonya. Duh lagian mana bisa dirinya menyelusup je seantero Jakarta raya kota megapolitan yang sebegitu luas dan ramainya,.untuk menemukan seorang Joan.
Jadi gimana, dong?
Ah, Monik sangat memikirkan keselamatan mamanya yang jelas secara fisik berada di posisi super aman dalam perlindungan bos besar yang kaya raya dan banyak kaki tangannya. Justru dirinyalah saat ini yang sedang dalam pengawasan dan incaran Sudibyo yang takut pada ancaman papanya sebelum menghembuskan napas terakhirnya.
"Anak anakku akan mencari kalian, akan membalaskan semua ini..."
Dan Sudibyo semakin geram setelah gambar Monik yang berhijab itu telah direkayasa oleh kecanggihan komputer, berganti sudah hijab gadis remaja cantik dengan rambut hitam legam sebatas pundak.
Terkesiap Sudibyo memandang wajah Monik yang tanpa hijab memang ada kemeripan dengan Vina . Jelas Monik memang putri Johan bersama Vina.
Saat dibandingjan dengan Farel mereka sama sekali tak memiliki garis kemiripan satu dan lainnya. Jadi tak mungkin pemuda itu kakaknya Monik.
Tapi kalau bukan kakaknya, kenapa mengaku kakaknya, dan mengatakan adiknya itu kalau terlambat minum obat akan mengamuk.
"Benarkah Monik sakit jiwa?" Sudibyo bertanya tanya. Untuk sakit jiwa memang bisa diterima, terpisah dari orang tua, dan melihat keluarganya betantakan. Kalau memang demikian itu lebih baik. Sekarang tinggal mencari pemuda bernama Farel. Terlepas pemuda itu kakak Monik atau tidak. Yang jelas dia sudah mengenal Monik.
Lalu dimana anak lelaki Johan kalau memang pemuda yang menjemput Monik itu tak ada hubungan darah dengan Monik?
Lalu siapa yang menolong Monik saat ia terjatuh ke jurang terjal saat perjalanan menuju ke srbuah desa terpencil, untuk disekap di sana bersama kakaknya, yang juga dapat meloloskan diri setelah menggigit dua pengawal yang waktu itu tertidur, hingga kedua pengawalnya itu harus menanggung akibat bukan hanya dipecat, tapi juga menerima siksaan, hingga salah satu dari mereka ada yang cacat.
__ADS_1
Tugas Hermanlah yang akan menyelidiki siapa yang menolong Monik di jurang terjal yang masih wilayah mantan isterinya itu, serta mencari tahu dimana dan siapa Farel.