Monik Gadis kecilku dulu

Monik Gadis kecilku dulu
Monik belum aman


__ADS_3

Malam hari di sekitar bukit sangatlah sepi. Sekitarnya gelap. Hanya ada sinar bulan di balik bukit yang sebagian terhalang dedaunan dari pohon yang menjulang.


Monik berdiri mengintip dari balik jendela yang berkaca. Merupakan satu satunya kaca di tuga jendela rumah kecil yang terbuat dari papan, penolongnya.


Ada rasa ngeri di dadanya melihat suasana malam di bukit itu. Dan membalikkan badan, memperhatikan keadaan di dalam rumah yang sedikit remang. Hanya ada mangkok yang berisi minyak kelapa dimana diatasnya mengambang sebuah seng bulat kecil yang tengahnya dilubangi untuk memasukkan sulu dari kapas. Permukaan kapas yang tak terendam minyak kelapa, tapi basa oleh aliran minyak menyala api, cahaya kecil itu membias ke seluruh ruangan. Begitu juga di kamar yang berisi dua bale bale ukuran kecil. Satu untuk tempat tidur pemilik rumah, dan satunya lagi bagian Monik.


"Aku tidak pakai lilin karena dengan penerangan begini lebih aman. Jika minyak kelapa habis, kapas padam. Jika seandainya kapas yang menyala itu roboh ke monyak kelapa, langsung padam apinya. Amankan?" Ratu memberi ulasan pada Monik saat gadis itu bertanya lewat riak matanya.


"Kenapa aneh, ya?" Ratu sengaja tak mau membandingkan rumahnya ini dengan kemewahan di keluarga Monik, hal itu dikhawtirkan mengundang kesedihan di hati gadis kecil itu.


"He...he.." Monik tertawa kecil berbalik memandang Ratu di depannya."Lucu lampunya, " ujarnya dengan mimik muka sesuai dengan yang dirasakan dan diucapkannya.


"Ya beginilah keadaannya kalau malam, tapi nggak usah takut, di sini aman, kok, " dirangkulnya Monik.


"Kakak pemberani, ya, " gumam Monik, "Dari kecil tinggal di sini, Kak?"


"Kakak dulu tinggal di kota dengan ayah dan ibu, nah di sini tempat tinggal kakek, tapi setiap liburan Kakak tinggal di sini belajar bela diri sama kakek, "


"Oh Kak Ratu pintar ilmu bela diri?" Monik keluar dari rangkulan Ratu, mendongakkan wajahnya menata wajah cantik yang mengangguk.


"Nggak pintar, tapi bisa, "


"Kak Ratu juga bisa sulap?"


Ratu tertawa kecil, "Sulap?!"


"Ya, " angguk Monik.


"Aku nggak pernah belajar sulap, " geleng Ratu.


"Tapi Kak Ratu tadi bisa membuatcwedang jahe panas jadi dingin hanya dengan pegang gelasnya saja, terus air kendi yang sedingin es begitu Kak Ratu pegang kendinya, eh airnya langsung nggak dingin lagi.:."


Ratu tertawa kecil, "Itu bukan sulap sayang, nantilah.aku jelaskan, ya, "


. "Terus Kak Ratu juga bisa kayak orang terbang, nemplok dari cabang pohon ke pohon lainnya terus berdiri di pohon kelapa..."


Ratu tertawa, "Oh itu, nantilah aku ceritakan, kalau kamu mau bisa kok belajar, "


"Hah...?!" Monik tercengang.


Ratu tersenyum. Ah, sayang sepertinya kamu memang sangat perlu punya ilmu untuk melindungi dirimu, batinnya tanpa suara.


"Nanti saja kita lanjutkan pembicaraan ini, yuk kita tidur..." ajak Ratu mengerling. Lalu menuntun gadis kecil itu ke kamar mereka berdua. Dibantunya Monik naik ke tempat tidur, lalu diselimutinya penuh sayang, "Tidur yang nyenyak, ya, besok pagi kita ke pasar, "


"Kak Ratu, " tangan Monik meraih tangan Ratu, membuat perempuan itu menghentikan kakinya yang sudah mau melangkah ke tempat tidurnya sendiri."Kak Ratu baik sekali mau menolong aku..." kali ini wajah ceria Monik beruba jadi sendu, "Padahal kan Kak Ratu nggak kenal aku..." sedih dan terisak.


Ratu mengelus punggung tangan Monik, "Karena kita hidup harus tolong menolong, satu lagi, kamu itu anaknya manis dan hati kecilku mengatakan hatimu juga baik, " dan ternyata kamu memang harus dilindungi sayang, batin Ratu, "Ya sudah sekarang tidur, "


"Ya, " angguk Monik.


"Jangan sedih lagi, ya, kalau kita selalu bersedih nanti pikiran kita sulit berpikir, oke?"


"Ya, " gadis itu tersenyum, "Kak Ratu..."


Ratu menoleh, menghentikan langkahnya.


"Kak Ratu orang baik, terima kasih, "


"Sama sama sayang..."


Sepeninggal Ratu Monik menitikkan air mata. Ingat Papa yang terkulai dengan perut bersimbah darah. Ingat Mama yang dibawa paksa oleh dua orang dari empat orang yang masuk ke rumahnya. Lalu dua orang lagi memaksanya bersama Mas Jo memasukkan ke mobil. Bayangan mas Jonya yang ditampar membuatnya ngenes, lalu dirinya yang ditampar pula karena membela mas Jonya, lalu pintu mobil terbuka dan dirinya terpental jatuh dan pinsan tak ingat apa pun. Setelah siuman sudah berada di rumah perempuan baik hati yang bernama Ratu.


"Papa..." gumam hatinya dengan air mata yang semakin deras mengalir, "Mama....Mas Jo dimana kalian, Monik kangen ingin bertemu..."


Pagi hari yang sejuk


Seperti yang dijanjikan Ratu pagi ini mereka akan kepasar. Setelah Monik mandi segera Ratu memberikan baju miliknya sendiri yang sobeknya sudah tak terlihat lagi, karena jahitan Ratu begitu rapinya.


Monik tertegun memperhatikan bajunya. Baju warna pink muda yang betenda di bagian leher serta bagian pinggang itu, adalah oleh oleh mama dan papanya saat mereka pulang bepergian ke luar negeri beberapa bulan lalu.


Terbayang saat ia berputar putar di depan kaca mencoba baju barunya diksasikan mama dan papanya.


"Aduh adikku yang cantik makin cantik lagi, nih..." muncul mas Jonya yang mengenakan seragam sepakbola yang juga oleh oleh dari mama dan papanya.


Perlahan air mata Monik mengaliri kedua pipinya. Melihat itu segera Ratu memeluknya.


"Sayang ayo hapus air matamu, sedih boleh tapi janga selalu menangis. Monik harus strong, harus jadi anak yang kuat...!"


"Ya, Kak Ratu..." angguk Monik menyeka air matanya dengan punggung tangannya.


"Nah cantikkan?" Ratu tersenyum, lalu ia teringat sesuatu. Bukankah gadis kecil ini ditemukan di sekitar jurang di bawah sana? Berarti penculiknya besar kemungkinan bisa berkeliaran mencarinya. Hem bahaya. Segera ia mengambil kerudungnya,"Bagaimana kalau Monik pakek kerudung..?"

__ADS_1


"Biar seperti Kak Ratu?" Monik menatap kerudung Ratu.


"Ya, " angguk Monik, "Aku kalau pergi sekolah pakai kerudung kok, " ujarnya yang tak lagi canggung saat Ratu memakaikan kerudung ke ke kepalanya.


"Wah bagus itu, " masih kurang, harus pakai masker, "tunggu dulu, " segera Ratu mengambil masker yang baru, "Pakai masker ya, "


"Memangnya pasarnya banyak debunya?" Monik bertanya polos.


"Ya, " angguk Ratu memasangkan masker pada Monik, "Aman...!"


"Kak Ratu, "


"Ya, "


.."Di sini kota apa?"


"Desa Leuwiliang,"


"Desa Keuwiliang?"


"Ya, "


.."Dimana itu, Kak Ratu, "


"Masuk kabupaten Bogor. Cuma tempat tinggal Kakak jauh dari kota, di pedesaan, bahkan di kaki bukit, "


Monik kurang nangkap dengan keterangan Ratu. Yang ada di benaknya hanyalah kata desa dan kaki bukit. Berarti saat ini dirinya berada di luar Jakarta, di desa yang jauh dari kota.


"Ayo kita siap ke pasar?"


"Siap, " angguk Monik.


"Yuk, " tangan Ratu menuntun Monik keluar rumah. Jarak rumahnya ke bawah sana untuk menunggu angkot tujuan pasar lumayan jauh. Sekitar dua ribu meter. Mana jalannya tidak rata. Sudah kepalang tanggung mau mengangkat gadis kecil itu sebagai murid untuk menurunkan ilmu silatnya, maka sebelum Monik menyadari, segera ia membawa gadis kecil itu terangkat ke atas. Dengan ilmu meringankan diri yang sempurna kakinya menjejak pada ranring satu.je ranting yang lainnya, pun saat melompati bongkahan batu ke bongkahan lainnya mulus sambil memegang pergelangan tanfan Monik, dan gadis itu terkejut langsung memeluk pinggangnya.


Monik tak mau kehilangan momen. Sepanjang dirinya berada dalam pelukan Ratu, ia tak mau memejamkan mata. Berusaha berani melihat sekitarnya, hingga kemudian dirinya dan Ratu mendarat di tanah.


"Bagaimana?" Ratu tersenyum.


"Kak Ratu hebat!" Monik berdecak.


"Tadi takut, nggak?"


"Ngeri, tapi aku suka, kok bisa Kak Ratu terbang, gitu?" Sepasang mata Monik memancarkan sinar kekaguman atas apa yang dilihatnya dan dirasakannya langsung barusan.


"Tapi apa namanya, "


"Lari dengan meringankan berat badan kita, kita bisa terbawa angin, "


"Bagaimana caranya?" Monik ingin tahu.


"Nanti kalau Monik mau bisa kita pelajari bersama, " sedikit sedikit Ratu memang ingin membuat gadis kecil itu tertarik akan ilmu bela diri.


"Aku mau belajar, Kak Ratu..." Monik menunjukkan ketertarikannya.


"Ya nanti pelan pelan akan Kakak ajari, " angguk Ratu.


"Sungguh Kak Ratu?"


"Sungguh,"


"Janji?"


. "Janji, " angguk Ratu, "Asal...."


"Asal apa?" Monik tak menyerah.


"Asal Monik inginnya dari hati, dan nggak bosenan kalau latihan, terus bukan untuk gaya gayaan di depan orang. Karena kalau kita belajar sesuatu untuk gaya gayaan, itu jadinya tidak baik. Juga kita sejali waktu akan kehilangan apa yang telah kita bisa, "


Monik berusaha mencernah ucapan Ratu yang cukup panjang untuk anak sebaya dirinya itu.


"Begini, kalau Monik mau belajar karena keinginan dari hati, mau Kakak ajari, "


"Ya dari hati, " angguk Monik cepat.


"Serius berlatih, "


"Ya aku pasti serius, Kak Ratu, " sebisa mungkin Monik inginrmbuat Ratu yakin akan keinginannya.


"Tidak untuk dipamerkan, artinya kita tidak boleh gaya gayaan melakukannya di depan orang, "


"Ya," karena Ratu satu persatu menjelaskan Monik mengerti.

__ADS_1


"Tidak boleh untuk.sombong dan sok, "


."Ya, "


"Jalau kita dalam bahaya boleh melakukannya walau di depan orang, artinya untuk menyelamatkan diri, "


"Ya, " angguk Monik paham.


"Kalau menyalahi semuanya maka kita akan kehilangan ilmu meringankan badan kita, "


:Ya, "


."Juga semua ilmu lainnya.yang kita pelajari akan menghilang, "


"Ya, Kak,"


"Nah kalau begitu Kalak mau ngajarinya, " seru Ratu.yang mbuat Monik bersorak karena gembira.


"Kak Ratu baik sekali...." Monik memeluk Ratu dengan riang


Beberapa orang yang melintas disekitar mereka menoleh. Monik seketika melepaskan pelukan ketatnya pada Ratu, dan menutup mulutnya sendiri.


Ratu tersenyum.


"Apakah mereka melihat tadi Kak Ratu membawaku pakai ilmu meringankan diri?" Monik berbisik.


"Tentu tidak, karena kita jika tidak terpaksa tidak boleh dilihat siapa pun, " ujar Ratu yang mempergunakan ilmu selimut bayangan, sehingga tak seorang pun bisa melihatnya sepak terjangnya yang bak orang terbang itu."Sabar nanti jika kamu sudah menguasai ilmu meringankan badan otimatis juga memiliki penangkalnya supaya tidak ada yang melihat gerakanmu, supaya orang tidak geger melihatmu, " dan Ratu semakin menebarkan ranjau untuk menangkap ketertarikan Monik untuk menjadi muridnya.


"Jadi Kak Ratu bisa membuat orang itu tak melihat kita tadi?!"


"Ya, "


"Oh kok bisa, ya, " tatap Monik terkagum kagum menatap Ratu.


"Ayo itu angkotnya udah datang, " ajak Ratu sambil memegang pergelangan tangan Monik.


"Kita naik angkot?" Monik memandang angkutan yang mendekat.


"Kamu belum pernah naik angkutan umum pasti, kan?" Ratu tersenyum pada Monik.


Monik menggeleng. Manamungkin papa dan mamanya membiarkannya naik angkuran umum? Pulang pergi sekolah diantar jemput mang Karta. Terkadang papanya kalau tak terlalu sibuk. Sering juga mamanya.


"Mama dimana Mama?" Gumam Monik tapi hanya di dalam hati saja.


"Monik..." Ratu menggoyanv tangan Monik.


"Ya... Kak Ratu..." buyar lamunan Monik.


"Monik nggak mau naik mobil itu?" Ratu bertanya pelan.


"Mau...mau..." jawab Monik buru buru, seakan ia tahu diri bahwa sekarang ini hanya Ratu yang jadi tempatnya menumpang.


Ratu berbisik di telingah Monik, "Ilmu meringankan diri nggak boleh dipakai kalau nggak terpaksa, "


"Ya," angguk Monik.


"Yuk kita naik, tuh angkotnya sudah berhenti.


Monik duduk di samping Ratu. Dan mobil pun melaju. Baru beberapa menit terdengar percakapan dua orang yang duduk di depan Ratu dan Monik.


"Tahu entek?" Ujar lelaki di sebelah kanan pada teman seperjalanannya.


"Apaan?" Jawab lelaki di sebelahnya.


"Jemarin ramai di dekat jurang orang, "


"Ayak naon?(ada apa)?"


"Katanya ayak budak awewek terjatuh hilang," ujar lelaki pertama memberitahu bahwa ada anak kecil perempuan terjatuh di jurang.


Tanpa sadar Ratu menggenggam erat tangan Monik. Batinnya merasa Monik yang dibicarakan.


"Kasihan atuh, ketemu budakna?"


"Belum,.padahal lelaki yang datang dari Jakarta itu akan memberikan upah besar bagi siapa saja yang menemukan budak awewek itu, "


Setelah mengambil uang hasil penjualan baju abaya, dan mengambil.pesanan bahan, serta membeli tiga potong bahan baju bermotif anak anak untuk membuat baju Monik, segera perempuan yang sehari hari menggeluti usaha membuat baju, lalu dijual di pasar itu mengajak Monik pulang.


Nalurinya menangkap aura negatif di sekitar pasar. Apalagi saat melihat dua lelaki yang berjalan celingak celinguk, seperti mencari seseorang. Dan dari prnampilan serta gerak gerik keduanya bukanlah orang baik baik.


Bagaimana nasib Monik selanjutnya?

__ADS_1


Vote ya


Bersambung


__ADS_2