Monik Gadis kecilku dulu

Monik Gadis kecilku dulu
Bertemu mama dan ditolak


__ADS_3

Karena komentar dari mas Jonya, Monik jadi sangat kangen pada kakaknya itu. Makanya ia sepanjang malam menangis tak henti hentinya, hingga matanya menjadi sembab.


Jika mas Jonya tak mengaku secara terus terang, itu dikarenakan posisi mereka dalam kehati hatian, dan barangkali orang jahat yang telah membunuh papanya masih berkeliaran mencarinya. Hem serba sulit memang.


Ingin membalas komentar mas Jonya jelas tak mungkin, kan nggak mau ketahuan yang lain kalau sebenarnya gadis tupai itu dirinya. Lalu bagaimana dong harus menghubungi kakaknya?


Tapi ada bahagia dan rasa bersyukur, walau belum bisa bertemu kakaknya, yang penting sudah tahu kalau mas Jonya itu selamat. Dan ia mereka reka mas Jonya sekarang ini pasti sudah jadi pemuda berumur dua puluh satu tahun, pastinya tampan. Apa Mas Jo kuliah, ya?


Ah, muda mudahan nasib baik Mas Jo bisa kuliah, begitu harapan Monik.untuk kakaknya.


Oh Monik sangat gemas dan begitu tertekan karena belum mendapatkan solusi. Dan tentu saja Rima teman barunya di kampus calon mereka menimba ilmu terheran heran.


"Diputusi pacar, ya?" Rima menggoda Monik.


"Nggaklah aku lagi kangen sama kakakku, " duh Monik ketelepasan ngomong.


"Emang kakakmu ada dimana?" Rima menatap Monik.


"Dia kerja jauh..." agak bingung mulanya Monik, untung segera ia dapat akal.


"Jauhnya dimana, sih, sampai kamu nangisi dia kayak gitu, " rupanya Rima belum mau berhenti membicarakan kakaknya Monik.


"Di pedalaman kalimantan, " ujar Monik asal nyeplos.


"Udah berapa kakakmu di pedalaman Kalimantan?" Duh si Rima nanya terus, jadinya Monik kelimpungan lagih, deh.


"Enam tahunan..."


"Segitu lamanya gak pulang kakakmu?!" Rima terbelalak.


"He eh, " angguk Monik asal saja, eh, tapi kan benar dirinya dan Joan memang enam tahun tak saling bertemu.


"Lalu ayahmu, Putri?"


"Sudah meninggal, " tertunduk Monik, ia tak boleh berterus terang tentang kematian papanya. Tangis pilu itu menghentak hentak dadanya. Kedua matanya memerah. Dan air matanya mengalir begitu saja.


"Yang sabar, ya, Putri..." Rima menyentuh pundak Monik, "Maaf, ya, Putri karena pertanyaanku kamu jadi sedih..." ujarnya penuh rasa bersalah.


Monik menghapus air matanya, ini, kan di taman kampus, nggak bagus dilihat mahasiswa senior dan calon mahasiswa.


"Nggak apa apa, Kok..." Monik tersenyum. "Yuk kita lihat penguman apa saja yang diperlukan untuk hari perkenalan kita dengan para senior di sini, " ajaknya.


*


Setelah urusan persiapan untuk Orientasi perkenalan kampus, atau Ospek, segera Monik meninggalkan kampus. Tapi gadis yang mengenakan baju panjang coklat muda semburat kuning sewarna dengan hijabnya itu, tak langsung pulang ke kampusnya, tapi ia mengikuti kata hatinya untuk bersantai dulu ke sebuah mal, siapa tahu bisa bertemu mas Jonya.


Hem waktunya menggunakan masker. Segera Monik memakaikan masker ke wajahnya. Untungnya jaman now ini jamannya orang pakai masker, agak terlindungilah dirinya.


Bus way yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah Mal. Hati Monik tercekat. Bukankah Mal ini dulu beberapa kali didatanginya bersama mama dan mas Jo?


Hanya sekarang si Mal ini lebih diperindah lagi. Lebih diperlebar lagi, hingga terkesan lebih megah. Tanpa pikir panjang Monik langsung berdiri dan ikut antrian penumpang yang mau turun.


Menarik napas panjang di pintu masuk Mal. Ia melihat dengan mata batinnya seorang mama cantik berpakaian bagus, tapi sesuai dengan usianya waktu itu jelang empat puluh tahun. Mama cantik itu dengan lembut melayani keinginan putrinya yang berumur sebelas tahun lebih beberapa bulan untuk membeli boneka frozen dan kawan kawannya. Tidak cukup hanya itu, anak perempuan itu menarik tangan si mama cantik ke etalase yang memajang peralatan rumah boneka dengan pernak perniknya.


Mama cantik itu membawa anak gadis kecilnya dan menemaninya memilih pernak pernik untuk boneka frozennya. Bukan hanya untuk anak wanitanya. Buat jagoan gantenya mama keren ini ikut memilihkan ukuran kaos untuk main bola. Mama dan anak anaknya tampak sangat bahagia. Keluar dari mal menenteng kesukaan putra putrinya.


Monik mengerjap. Bayangan mama cantik keren dengan anak anak tercintanya lenyap. Air matanya mengaliri kedua pipinya dibalik masker yang dikenakannya. Hatinya sedih, ada sesuatu yang hilang. Karena mama dan putra putrinya itu adalah mama dan dirinya, serta mas Jonya.


Menghela napas panjang. Lalu melangkah menyusuri tempat tempat yang pernah didatanginya bersama mama dan mas Jonya. Berhenti pada setiap tempat mereka singgah dulu. Ada gejolak dalam dadanya. Rasa rindu berbaur dengan kesedihan. Air matanya tak pernah bisa ditahan setiap kakinya berhenti di tempat tempat yang disinggahinya bersama mama dan mas Jonya.

__ADS_1


Hingga kemudian di depan sana berjalan seorang wanita cantik dan berpakaian rapih dan terlihat berkelas, yang di sebelahnya melangkah perempuan muda, mungkin asistennya, dan di belakang wanita itu berjalan dua lelaki tegap tampak seperti pengawalnya.


Monik tak tahan untuk tak berlari mendekat . Walau perpusahan itu sudah berjalan enam tahun, tapi, ia tak lupa wajah mamanya. Wajah ibu kandungnya itu selalu di pelupuk mamanya. Dada Monik berdebar dengan mata berbinar bahagia. Di depan matanya sosok yang sangat dirindukannya nyata adanya.


"Mama...." Monik tak dapak menahan kerinduannya, segera memeluk wanita yang diyakininya memang mamanya. Sepasang mata wanita itu menatapnya. Monik segera menarik maskernya, hingga kini wajah remajanya jelas terlihat oleh wanita yang masih dipeluknya erat. "Ma ini Monik sudah besar..." hampir menjerit Monik ingin meyakinkan wanita itu.


Wanita yang hanya diam itu sempat terkejut, dan bibirnya seperti ingin mengucap sesuatu tapi tak jadi. "Anak cantik kamu keliru, aku bukan mamamu, nama anakku bukan Monik..." ujarnya lembut menyentuh pundak Monik lembut.


"Mama aku Monik anakmu Mama Vina...kita terpisah dulu, papa dibunuh, Mama dibawa pergi dan aku bersama Mas Jo diculik mereka...oh...ayo Ma aku Monik...jangan begini aku rindu Mama..." Monik berusaha meyakinkan wanita yang diyakininya adalah mamanya, tapi, tak mau mengakuinya.


"Sayang mungkin kamu salah orang..." wanita itu diam diam meletakkan hapenya ke dalam tas Monik tanpa gadis itu tahu, "Ayo lepaskan nanti pengawal Ibu marah..."


Monik terperangah. Ucapan sayang itu milik mamanya dan memang selalu digunakan jika berbicara baik dengan dirinya mau pun pada mas Jonya.


Mereka bertatapan tanpa suara. Dan dua pengawal si wanita segera menarik Monik yang masih enggan melepaskan pelukannya.


"Gadis sinting ngaku anaknya Nyonya, ayo ke sana...!" Pengawal menarik kasar tangan Monik, lalu mendorongnya pula dengan kasar, sedangkan wanita itu sudah berbalik menjauh ditemani asisten perempuannya. Tak ada yang tahu di hati wanita itu luka lama yang sedang berdarah, mengucur perih menusuk kesetiap pori porinya.


."Mama jangan tinggalkan Monik, Ma..." pekik Monik dengan suara sedih.


"Kalau sampai gadis gila ini nggak diam Mal ini akan bermasalah...!" Ancam pengawal itu pada satpam yang memegangi Monik.


Tahu pengawal siapa yang mengancam, dan wanita yang dibuat tak nyaman oleh Monik tak lain adalah isteri pemilik Mal megah itu. Maka kedua satpam itu langsung meringkus Monik.


Dan para pengunjung yang sempat berkerumun itu, bubar dan melanjutkan acara mereka masing masing.


Melihat kerumunan Joan yang kebetulan ada diantara pengunjung bertanya pada satpam yang berjaga jaga.


"Ada apa, Bang...?"


"Sudah aman silakan dilanjut acaranya yang tertunda, maaf ada gangguan tadi..." ujar si satpam yang tak memberi jawaban pasti atas pertanyaannya.


"Itu lho Mas ada gadis yang mengakui seorang pengunjung mamanya..."


"Ya anaknya berjilbab..." sambung seorang ibu, "Mungkin mirip dengan ibunya, kasihan..."


Joan tiba tiba ingat Monik. Tapi tak mungkin Monik ketemu mamanya. Kan perempuan itu bukan mamanya, seru hatinya menebak nebak.


"Tadi sih nyebut namanya Monik gitu...tapi si ibu memang bukan ibunya..."


"Monik?!" Joan tanpa menunggu langsung berlari kearah yang ditunjuk orang dimana tadi Monik digotong dua orang satpam.


Saat Joan sampai di kantor pengelola Mal, ternyata Monik sudah tak ada.


"Maaf Pak kemana gadis tadi?" Joan sangat menyesal terlambat bertemu dengan gadis yang membuat satpam dan meneger Mal panik, karena gadis itu mengganggu kenyamanan dari isteri pemilik Mal.


"Dibawa kakaknya, " ujar satpam.


"Kakaknya?" Joan melongoh.


"Ya, untung saja kakaknya mau tanggung jawab membuat perjanjian untuk tidak terulang lagi peristiwa tadi, katanya adiknya itu memang stres sejak ibunya pergi..."


"Berarti bukan Monik..." Joan kecewa bergumam tapi cukup keras, hingga satpam mendengar gumamannya ungkapan kecewanya, karena gadis itu bukan Moniknya.


"Namanya memang Monik, Mas, " ujar si satpam, "Kasihan cantik cantik stres..."


"Ya sudah, Bang, makasih... " ngeluyur Joan meninggalkan satpam dengan kecewa, padahal ia berharap gadis bernama Monik itu adalah Monik adiknya, yang salah mengenai orang. Karena saking rindu pada mamanya hingga ngawur.


Saat ini Monik berada di dalam sebuah sedan yang sejuk. Dan di sebelahnya Farel menyetir dengan tenang.

__ADS_1


"Terima kasih, ya, sudah menolongku, " hih Monik merinding mendengar ancaman meneger Mal tadi.


"Kamu sudah membuat pengunjung istimewa kami terganggu, kamu tahu siapa nyonya yang kamu akui sebagai ibu tadi?"


Dia memang mamaku, tapi hanya disuarakan dalam hati. Kecewa jelas karena mamanya tak mau mengenalinya. Mamanya melupakannya.


Monik tak perduli. Ia diam.


"Beliau itu Nyonya Sudibyo. Suaminya Pak Sudibyo pemilih Mal ini, " si Meneger menjelaskan.dengan sikap congkaknya.


Monik terkejut kedua matamya menatap nanar pada si meneger. Jadi Mama sudah menikah lagi?!


"Hai kok melamun, " Farel mengejutkan Monik.


"Oh maaf..." Monik menoleh pada pemuda yang menyelamatkannya.


"Maaf, Pak itu adik saya memang stress, maaf saya mau jemput dia, kalau nggak segera diberi obat bahaya dia bisa ngamuk...!" Farel muncul langsung menghadap pada meneger yang sedang memarahi Monik.


Tentu saja Monik terkejut, tapi, dia diam saja, bahkan kemunculan pemuda yang tak dikenalnya itu merupaksn penolongnya.


"Oh ya..ya..." ujar sang meneger. Dan Farel harus membuat surat perjanjian bahwa adiknya tak akan bikin kacau lagi di Mal.


"Sori, ya, aku bilang kamu stres..." ujar Farel setelah mereka di luar Mal, "Oh ya aku anak fakultas Hukum semester enam. Kampus kita sama..." ujar pemuda yang menyaksikan aksi Monik saat memeluk wanita yang diakui sebagai mamanya. Antara percaya dan tidak, ada haru di hatinya melihat kadaan Monik.


Monik menatap Farel.


"Kamu calon mahasiswi baru, kan?" Farel tersenyum.


"Ya, " angguk Monik.


"Aku suka lihat kamu duduk termenung di taman, " ujar pemuda yang memang beberapa kali melihat Monik duduk menyendiri di taman kampus setelah dari sekretariat mengurus administrasi, "Ayo cepat kita pergi dari sini sebelum mereka tahu aku berbohong..."


Monik enggan masuk ke mobil Farel mulanya, tapi Farel menakut nakuti.


"Ayo cepat naik nanti ketahuan satpam kita bukan kakak adik, mau kamu dikurung?"


Monik terkejut.


Farel tersemyum membuka pintu mobil. Karena takut Monik kangsung masuk ke mobil. Ah, padahal tadi dengan ilmu yang dimilikinya, dirinya bisa melepaskan diri dari bopongan dua satpam. Tapi Monik tak mau nyari sensasi.


"Tuh, kan kamu melamun lagi..." Lagi lagi Farel mengejutkan Monik lagi.


"Oh ya.... maaf, aku turun di halte depan, sekali lagi terima kasih ya, atas bantuannya, "


"Namamu?" Tanya Farel saat Monik mau turun.


"Putri, "


"Putri?" Farel heran tadi ia jelas mendengar gadis itu menyebut Monik namanya pada wanita yang menolaknya.


"Ya, " angguk Monik.


"Tapi tadi namamu Monik?"


"Lupajan saja..." Monik langsung keluar mobil.


Farel mengernyitkan alis heran. Dan ia lupa memberitahikan namanya sendiri...


Ikuti terus, ya

__ADS_1


13


__ADS_2