
Joan merasakan kenikmatan dalam perasaannya setelah beribadah, berdoa dan berpasrah diri pada Yang Maha Kuasa.
"Allah itu maha pengampun, sangat mengasihi umatnya, maka bertobatlah jika merasa diri ini bersalah, dan jauhi laranganNya supaya kita hidup dalam perintahnya, Nak Jo, " seru ustadz Rahman setelah selesai menjadi imam pada sholat magrib.
"Ya Pak Ustadz, " sangat menyentuh kalbu apa yang diucapkan ustadz Rahman.
"Oh ya, rumahku tak jauh dari sini hanya berjarak sekitar lima puluh meteran, kalau Nak Jo mau bisa main ke rumah, "
"Terima kasih Ustadz Rahman, " angguk Joan terharu pada kebaikan ustadz yang baru dikenalnya.
"Ya kalau suatu hari ingin msmpir jangan sungkan, ya, Nak Jo, " tangan ustadz Rahman menepuk pundak Joan.
"Ya, Pak Ustadz, InsyaAllah nanti, " angguk Joan tersenyum menatap raut muka ustadz yang bersahaja itu.
Tentu saja Joan terkejut setelah melihat kelebat dua orang di luar mesjid. Ia kenal keduanya walau berusaha menutupinya dengan hoodie dan marker muka. Mereka adalah orangnya Siril. Joan tahu mereka pasti diperintah Siril untuk mengikutinya.
Karena khawatir ada keributan segera Joan pamit pada Ustadz Rahman.
"Hati hati Bak Jo, ingat pesan Ustadz, ya, sering seringlah datang ke rumah Allah," lagi ustadz Rahman menepuk pundak Joan.
"Saya akan selalu ingat pesan Pak Ustadz Rahman, terima kasih, assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam, hati hati..." ustadz Rahman melambai, "Ya Allah lindungilah Jo anak muda yang terlihat tulus ingin memperbaiki hidupnya..." serunya memintakan keselamatan Jo pada Sang Pencipta langit dan bumi ini.
\*
Monik segera membuka hape pemberian mamanya saat ada WA masuk.
"Monik sayang mama sangat kangen ingin memeluk putri jesayangan mama ini..."
Oh Mama. Monik tersenyum lebar. Lalu membalas, "Monik juga Mama..."emition rindu.
"Sabar, sayang, Mama juga terys mencari jalan kita bersama lagi..."
Sebenarnya Monik.ingin bertanya benarkah mamanya menikah drngan pemilik Mal. Tapi ia takut mananya marah, nanti kalau marah nggak mau WA lagi, kan repot, pikir Monik.
"Apakah kamu pernah tinggal sama Ratu?"
"Oh Mama tahu Ratu?" Berdebar Monik.
__ADS_1
"Kak Ratu perempuan baik, aku dibiayai kuliah dan sayang padaku." Monik menjawab.
"Suruh hati hati mereka mau bergerak ke bukit."
"Mereka itu siapa, Ma?"
"Tak ada waktu menjelaskan, "
"Oh...!" Monik panik.
"Kirim rekeningmu, cari rumah yang aman..." singkat mamanya mengakhiri WAnya.
Monik panik karena mereka malam ini akan bergerak ke bukit. Duh seandainya Mama bisa menjelaskan mereka itu siapa?
Mereka?
Berarti lebih dari satu orang. Bisa dua, tiga dan suka suka merekalah.
Monik terkejut.
Tapi mengingat ilmu yang dimiliki kak Ratunya sebenarnya ia tak perlu cemas. Ilmu penyejuk panas bisa membuat penyerangnya itu beku, dan ilmu pembakar sejuknya bisa membuat penyerangnya dalam hitungan detik bisa kebakar. Semua sudah ia buktikan saat kak Ratunya menurunkan ilmunya itu. Hanya butuh satu tak sampai satu menit itu untuk menciptakan kedua ilmu dahsyat itu. Tergantung besar kecilnya obyek yang dituju.
Begitu juga dengan ilmu Pembakar Sejuknya. Dan latihan terakhir Ratu meminta Monik memanaskan satu panci air dingin. Dan dengan ilmu Penyejuk Panasnya, hanya dalam waktu kurang dari satu menit saat tangannya mengirim udara panas ke panci, maka panaslah seperti air mendidih air yang semula sedingin es itu.
."Bagaimana kalau mereka mempergunakan senjata pistol seperti jagoan jagoan di film Barat? " Monik panik, bukankah para penjahat sering menggunakan pistol. Tapi dengan ilmunya pasti kak Ratunya bisa membuat pistol atau peluruh mereka membeku seperti es."Tapi bagaimana kalau mereka semua pakai pistol dan bersamaan. Duh, kan kerepotan juga.
Monik tak bisa tinggal diam. Segera ia bersiap untuk ke rumah bukit. Bagaimana pun ia tak mau jika kak Ratunya menghadapi mereka seorang diri.
Kini Monik semakin yakin kalau mamanya berada di tangan pembunuh papanya.
"Mas Jo Mama kita butuh pertolongan, Mas..."
Monik mempergunakan ojek online ke tempat penyetopan Bus yang menuju ke terminal Bogor. Tapi saat ojek berada di jalan layang sepi ia melihat di jalanan bawah sebuah sepeda motor yang dikendarai seorang pemuda tengah dikejar oleh sepeda motor, dimana satu motor itu dipergunakan dua orang. Artinya satu yang ngendarai motor dan satunya ladi diboncengan.
Monik segera tahu bahwa mereka itu begal yang menginginkan sepeda motor besar yang kini dipepetnya. Hem, jika sepeda motor besar itu didapatnya, maka dua begal itu akan naik motor seorang satu.
Dan kini mereka sudah berhasil mencegat motor besar itu. Tentu saja pemilik motor tak tinggal diam. Dan Monik tak ingin hanya jadi penonton di atas ojek yang melaju di atas jalan layang. Maka segera ia menyisipkan uang ke saku jaket pengendara ojek onlinenya. Jaga jaga ia tak bisa meneruskan perjalanan dengan ojeknya itu. Dan masalah helm gimana, nih?
Kan kasihan kalau helmnya nggak dikembalikan. Setelah beberapa detik berpikir, dan dengan gerakan ringan segera ia mengikat helm di belakang jok dengan saputangannya. Nggak apa deh korban saputangan, serunya dalam hati. Kemudian dengan ilmu seringan kapasnya Monik meluncur ke jalanan di bawah jalan layang, dimana telah terjadi perkelahian satu lawan dua. Antara pengendara motor tadi dengan dua orang yang disangkanya begal, yang ingin merampas pengguna motor.
__ADS_1
Sebenarnya lelaki gagah yang mengenakan jaket serta mukanya sebagian tertutup masker itu adalah Joan, sedangkan kedua lelaki yang wajahnya bermasker pula dan mengenakan jaket hoodie adalah tukang pukul suruhan Siril untuk menaklukkan Joan, supaya bisa kembali pada Siril dan dijadikan budak nafsu komunitasnya yang membayar mahal.
"Aku tahu siapa kalian..." seru Joan, "Sadarlah jangan hanya karena uang kalian mau melakukan pekerjaan ini, mencegatku, dan akan menyerangku untuk kalian bawa ke majikan yang membayar kalian, kan..." Joan bertolak pinggang. Bagaimana pun ia tak mau kembali pada Siril. Ia tahu harus mengerahkan seluruh kebisaannya berkelahi untuk melawan mereka. Padahal salah satu dari dua orang bayaran Siril ini adalah orang yang mengajarinya ilmu bela diri.
Hem murid lawan guru plus satu orang lagi, tapi Joan tak gentar walau harus babak belur ia tak sudih jika dirinya kembali berkubang dengan noda yang berhadiah dosa dan siksa kelak.
"Serang!" Seru lelaki yang badannya gempal. Dan lelaki itulah yang mengajari Joan bela diri. Sekarang ilmu yang diberikan pada Joan dipergunakan untuk melawannya.
Begitu dapat perintah lelaki satunya langsung menerjang pada Joan yang segera berkelit sehingga hanya mendapati tempat kosong. Dan si guru bela diri Joan rupanya tak menyia nyiakan peluang yang ada. Dimana saat Joan menghindar tadi, langsung ia serang dengan tendangannya.
Joan terkejut, langsung menjatuhkan diri ke tanah, sehingga serangan yang mempergunakan kesempatan itu gagal. Dan bagai banteng di arena, segera kedua lelaki itu memburu Joan yang masih bergulingan di tanah.
Saat Joan bangkit si guru bela diri tak membuang kesempatan langsung melayangkan tendangan, mengenai rusuk Joan, hingga terjatuh ke tanah dan saat Joan mau berdiri, segera laki laki satunya melayangkan tinjunya. Sedangkan si guru ilmu bela diri Joan memberikan sodokan kearah kaki Joan yang baru berdiri.
Seharusnya tinju yang diayunkan dengan sepenuh tenaga itu sudah mendarat di kepala Joan, dan sodokan pada kaki pemuda itu sudah merobohkan posisinya. Namun dua serangan lain arah itu tak mengenai Joan sama sekali. Yang terjadi adalah sebaliknya. Kedua penyerang Joan terpental ke dua arah yang berlawanan, sedangkan Joan terkejut melihat bayangan secepat kilat melakukan terjangan pada dua lawannya.
"Siapa pun dirimu terima kasih..." ujar Joan pada penolongnya, lalu memasang kuda kuda karena kedua lelaki yang terpental itu sudah bersiap menyerangnya lagi.
Tanpa ampun lagi Monik yang malam itu mengenakan celana panjang serta jaket dan masker, segera menerjang pada kedua penyerang Joan yang masih dikiranya begal itu. Dan terjangannya secepat angin, hingga membuat kedua lelaki itu terperangah.
Begitu pun dengan Joan terbelalak. Sungguh kagum kecepatan penolongnya, hingga ia tak kebagian jatah untuk melawan salah satu dari penyerangnya, kesannya hanya berjaga jaga saja.
Kedua lelaki itu dengan berang serentak menyerang Monik. Tapi Monik menghindar, dan melompat ke dahan. Semua terkesima, karena dahan kecil itu tak mungkin kuat menampung berat tubuh ramping Monik, tapi sedetik kemudian sudah meluncur dengan menyodokkan kedua tangannya pada penyerangnya, yang tadi serangannya menemui tempat kosong. Sehingga mereka terkejut tak sempat menghindar, dan masing masing sebelah bahunya terkena sodokan tangan Monik yang cukup kencang.
"Oh..." Joan mengernyitkan dahinya melihat gaya berkelahi penolongnya sama sekali tak disangka itu Monik adiknya yang selama ini dicarinya. Tadi saat kaki Monik hinggap ke dahan ia sempat kaget teringat gadis tupai yang diyakini Monik. "Tapi dia bukan Monik, pasti berilmu tinggi..." sergahnya, "Tapi Monik juga bisa nempel di pohon kedua kakinya, " semakin diperhatikannya penolongnya itu, bentuk badannya langsing seperti body perempuan. Joan menerka nerka.
"Ini anak nggak bisa diajak main main, kita serius...." seru lelaki yang mengajari ilmu bela diri Joan marah.
Maka mereka serentak mengeluarkan pisau. Cahaya kedua pisau di tangan kedua lelaki itu berkilau saat tertimpa sinar rembulan.
Joan terkejut. Ia bersiap siap untuk membantu Monik. Maka saat kedua penyerangnya itu bergerak menyerang Monik, segera ia maju, hingga serangan terpecah jadi dua.
Perkelahian seru dua lawan dua berlangsung seimbang. Dari gerakan serta tendangannya, segera Monik tahu bahwa kedua lelaki yang mengenakan masker itu menguasai ilmu bela diri. Serangan lelaki itu sebenarnya cukup merepotkan.
Dan saat melihat lawannya begitu ingin melukainya, membuatnya berpikir untuk segera menyudahi perkelahian itu, mengingat dirinya harus segera sampai dipenyetopan bus di pinggir jalan untuk ke Bogor, ia harus membuat lebih cepat selesai perkelahiannya.
Tak ada waktu untuk bermain main dengan dua begal ini. Monik masih mengira mereka adalah begal yang mengincar motor calon korbannya. Maka segera ia melakukan lompatan, memetik ranting pohon dan tangannya bergerak cepat mematahkan ranting menjadi dua. Lalu dua ranting yang diisi dengan ilmu Pembakar sejuk, langsung membara, ditiupnya kearah dua lelaki penyerangnya.
ikuti terus ceritanya, ya
__ADS_1
makasih....