
Monik masih tenang, tapi otaknya mulai berpikir, mau diapakan nih keduanya, huh, mau punya uang bukannya cari kerja halal malah main todong pisau. Dan tekanan ujung pisau di pinggangnya mulai menekan serius. Hrm, kalau dilawan dengan perkelahian pasti menarik perhatian orang banyak. Jaman sekarang jangan ngarep langsung dapat pertolongan, respon masyarakat paling tidak yang pertama dilakikan saat mendengar teriakannya adalah berketumun, dan salah seorang dari mereka, atau mungkin lebih akan mengeluarkan hape untuk membuat vedio dirinya yang diserang dua rampok, atau begal ini. Dan perjelahiannya dengan dua orang yang menginginkan dompetnya ini pasti disebar di medsos. Wow menjadi tontonan orang banyak. Itu yangbtidak disukainya. Lagipula pasti Kak Ratunya marah. Lalu harus bagaimana caranya menghalau dua tikus got berujud manusia ini?
Segera Monik menghimpun udara panas pada tangannya, dan sekarang ilmu pembakar sejuknya sudah terkumpul di telunjuknya, maka ia pura pura mau membuka tasnya untuk mengambil dompet sesuai permintaan rampok tanggung itu. Diliriknya kedua pemuda kurus itu saling tatap.
"Buruan...!" Seru pemuda yang tidak menodongkan pisau, tapi bertugas menerima dompetnya. Sok galak suaranya walau tidak terlalu keras.
"Nah siap siaplah menerima hawa panasku..." batin Monik berseru. Gerakannya telunjuknya yang sudah dialiri hawa panas secepat kilat diarahkan pada tangan pemuda yang menekankan pisau ke pinggangnya.
"Aduh panaass...!" Prang. Pisau terjatuh dan pemuda itu kelojotan merasakan panas di tangannya, hingga temannya yang semula bersiap menerima dompet dari calon korban rampokannya, mendekat.
"Kenapa kamu?!"
"Tanganku panas seperti dibakar, aduh air...suram air...!!" Pemuda itu sangat tersiksa merasakan panas membara pada tangannya. Diam diam Monik merasa ibah juga, habis elo, sih mau jahati aku...!
Ada bus Ac datang, segera Monik memberi tanda supaya bus yang entah jurusan mana itu berhenti. Yang penting bisa pergi dari hadapan dua pemuda brengsek ini, pikirnya.
Bus Ac tanpa kondektur atau kenek itu berhenti, pintu depan bus terbuka. Dan sebelum Monik naik ke bus itu, segera tangannya yang sudah dialiri ilmu 'Penyejuk Panas' ia arahkan pada tangan pemuda yang masih mengerang kesakitan.
Dari balik kaca bus yang sudah bergerak Monik melihat pemuda yang tadi kelojotan kepanasan.teranat sangat itu, sudah berdiri dan tak terlihat kesakitan lagi. Diam diam Monik tersenyum.
Pandangan Monik terarah pada running tex yang berwarna merah di layar mini memanjang di atas kepala sopir. 'Bayarlah dengan yang pas delapan ribu rupiah, jurusan Thamrin, Kebon Kacang, Tanah Abang.
Monik tersenyum legah. Wilayah tempat tinggalnya ada diantara yang tertulis warna merah itu.
Ada masalah lagi, dimana ia membayar, atau.pada sopirnya saja? Huh, kok jadi bingung gini, ya...
"Uangnya dimasukkan di bix itu, Nrng, " ujar si sopir pada Monik.
"Ya, Pak, " segera pandangan Monik pada box ukuran sekitar dua puluh sentimeter lebarbdan panjang sekitar empat puluh meter, serta tinggi tiga puluh senti meteran, yang di bagian atasnya terdapat celah untuk memasukkan uang. Monik memasukkan uang sesuai yang tertulis tadi. Setelah itu ia melenggang mencari tempat kosong, hem beruntung ada dua kursi kosong. Ia memilih salah satunya, duduk menyandarkan kepala ke belakang. Jika dilihat dari penampilan penumpangnya sepertinya mereka.kelas karyawan, rapih semua, dan semiga saja tudak ada pemuda berjiwa rampok yang menyusup.
__ADS_1
"Hem Kak Ratu hari pertama di Jakarta hampir dirampok. Tapi nggak usah cemas, nasehat Kak Ratu kujalankan dengan baik. Memberi pelajaran tanpa orang lain tahu..." segera ketikan WAnya ia enter dan terkirim ke hapenya Ratu.
Sekarang kita kembali pada Joan yang sudah sampai di pelataran parkir hotel.
Sebelum turun pemuda itu sudah menelan obat senjatanya memuaskan pelanggan yang disodorkan padanya. Dan tidak boleh menolak.
"Pak aku ke dalam dulu, " pamitnya pada pak Min.
"Ya, Den hatu hati..." pesan orang tua itu yang merasa nadibnya sama dengan Joan. Tergadai tenaganya pada majikan yang telah menolong mereka. "Ah anak muda nasibmu sampai kapan bergelung nikmat terlarang, berselimut dosa..." batinnya terenyuh .
Joan disambut oleh seorang tante usia empat puluh lima tahun. Hem ini wajah baru dalam komunitas pemesannya. Yang kan dan sebelumnya ada yang sudah tujuh jali pertemuan, bahkan satu irang bisa berbelas kali pertemuan di atas tempat tidur. Mencipta dosa, mebabung tiket di nerakanya Allah pada kematian datang.
"Hai Jo selamat malam..." sapa perempuan cantik ramah dan terbalut baju mahal, tapi dandanannya tidak menor, alias tipis tipis saja. Namun kecantikannya tetap bersinar di kanar yang terang benderang. Ini lain dari biasanya. Kalau yang sudah sudah si tante akan menyambutnya dengan pelukan mesra dan rangkulan rapat ke tubuhnya, yang terpaksa pura pura menyambutnya, dan obat perangsang pada akhirnya menyelesaikan keinginan para tante cantik tapi gatel ingin menikmati geliat anak muda yang masih fresh.
"Selamat malam..." sahut Joan melangkah masuk.
"Silahkan, Jo, ".aku panggil Jo ajah, ya?" Perempuan itu menunjuk kursi yang berseberangan dengan kursi tempatnya duduk tadi.
Perempuan itu mengambil minuman bersoda dari kulkas, dan dua gelas ukuran sedang. Di ketakkannya dua gelas itu di meja.
"Oh ya, Jo, aku nggak minum alkohol, kita minum yang bersoda ajah, ya? Atau kamu perlu tambahan es?"
"Cukup itu saja, Tante, "
Sungguh Jo tak pernah lupa pertama kali meneguk minuman yang beralkohol, parah. Kepalanya pusing. Perutnya bagai diaduk aduk. Mual mulutnya, dan akibatnya ia muntah di atas sepreu warna pink, dan kamar yang ditata seromantis mungkin itu menjadi berantakan oleh muntahannya yang bau. Dan endingnya ia ngorok nggak ingat lagi dirinya, hingga seember aur dingin mengguyurnya.
Bukan maun murkanya tante Siril yang sok perhatian itu. Wajah cantiknya bak monster wanita dari pelanit lain. Bertanduk dan bercula di pandangan.Joan yang saat itu ada diantara sadar dan tiada. Itulah pertama kalinya ia menerima order pemuas syahwat perempuan bertopeng iman dibalik penimbun dosa yang harus dipertanggung jawabkan nanti di akhir hidupnya.
Order pertama berantakan. Ditatar dengan selipan ancaman dari Siril. Huh pada akhirnya Siril yang memberinya pelajaran bercumbu. Dan perempuan empat puluh lima tahun yang masih montok itu yang merenggut keperjakaan Joan. Tentu saja otak liciknya bekerja dengan cepat. Satu pil obat perangsang membuatnya merasa puas dengan perjaka tujuh belas tahun itu.
__ADS_1
Bukan berhenti sampai di situ. Rupanya Siril sudah mempersiapkan. Sepanjang kejadian di atas tempat tidur dengan Joan masuk dalam rekamannya. Makanya saat obat perangsang sudah pamit pada Joan,.bukan.main berangnya pemuda itu. Mengamuk, semua barang dibuangnya. Namun saat melihat rekamannya bersama Siril, ia terkesiap.
"Jika kau tak menurut padaku akan kusebarkan ini ke dunia maya, supaya adik kesayanganmu yang masih hidup itu bisa melihatnta dan dia membencimu!"
Joan terduduk lesuh. Ancaman baru di atas ancaman lama, supaya ia tunduk pada semua perintahnya. Dan mulailah ia menjadi sapi perahan Suril. Semua demi bertemu mamanya, memeluk kembali adiknya. Dan beruntung Siril masih baik hati permintaannya untuk kuliah dikabulkan.
Bagi Siril sendiri dengan Joan berkuliah, maka nilai jual pemuda itu semakin tinggi. Anak kuliahan, myda tampan dan berotak cerdas. Maka pundi pundi uang Siril akan semakin meningkat dari hasil pemasukan menjual Joan yang mahasiswa pada komunitas perempuan pencipta dosa.
"Jo..." panggil perempuan itu dengan suaranya yang lembut tanpa dibuat buat.
"Oh ya... ya... Tante..." lamunan Joan buyar, dan di depannya perempuan yang berwajah bagai senantiasa tersenyum itu, mengulurjan segelas minuman bersoda ke tangan Joan.
"Minumlah...." ujar perempuan itu.
Joan langsung menghabisjan isi gelasnya, dan bunyi yang tak bagus keluar dari mulutnya, itu akibat reaksi dari minuman bersoda yang masuk ke lambungnya.
"Maaf... "ujar Joan.
Perempuan itu hanya tersenyum kecil, lalu meneruskan tegukan kecilnya sebanyak tiga kali. Lalu meletakkan gelas yang masih berisi minuman bersoda di atas meja.
Joan menunggu tak sabar. Ingin segera menyelesaikan tugasnya dengan perempuan yang sejak tadi repot dengan sikap basa basinya. Udah serang ajah aku. Atau kamu menungguku menyerangmu, Tante?
Perempuan itu duduk dengan tenang. Masih dengan pakaian sopannya. Bahkan sekarang dia mengupas apel.
"Huh sengaja mengulur waktu untuk meningkatkan memberikan kesan kalau dirinya perempuan yang tagan goda.
Ah, bagaimana pun dirimu mencipta image di depanku, tetap saja kalian perempuan rakus birahi, dan penggalang dosa..." dumel batin Joan, "Atau engkau sudahbtak berdaya tanpa obatvkuatcdan perangsang? Dan sambil menunggu semua senjatamu beriaksi engkau sibukkan menservice perutku dulu?" Batin Joan semakin liar menebak nebak.
Bagaimana kelanjutan Joan dengan perempuan yang tak menyambutnya dengan gayutan manja seperti yang lain?
__ADS_1
Ikuti lanjutannya, ya...
Bersambung.