
Joan menitikkan air mata saat diwisuda menjadi Sarjana Hukum. Tak ada orang tua dan adiknya yang sangat didamba mendampinginya.
."Mama aku sudah sarjana, Monik lihat mas Jonya ini..."
Diam diam Rinda yang menyambutnya terharu melihat bagaimana pemuda yang dekat dengannya,.walau belum mengutarakan cinta.
Segera didekatinya Joan dan memberinya ucapan selamat.Dirinya juga sama sama diwisuda sebagai lulusan Psikologi.
"Selamat ya, Jo, kamu sudah Sarjana sekarang, " ujar gadis yang beberapa tahun ini memberi perhatian pada Joan.
"Terima kasih, ya, Rinda kamu baik sekali, oh ya kamu kan juga mo diwisuda?"
"Ya, masih setengah jaman kali, " angguk Rinda.
"Mama dan Papamu?"
"Mama sudah di jalan, juga Papa, " berbinar wajah Rinda. Saat inilah papa dan mamanya akan duduk bersanding sebagaimana kedua orang tua yang menyayangi putrinya. Tapi kebersamaan mereka dangat penting untuk mamanya. Ia ingin papa dan mamanya akur seperti dulu.
"Jo..!" Beberapa teman seangkatan melambai pada Jo, mereka menagig janji Joan rupanya untuk makan makan.
"Sori, Rin, tuh para begundal udah pada kelaparan kita ke Cafetaria dulu, ya, gantianlah sekarang kamu dan komunitasmu yang naik panggung wisuda..." Joan menggoda Rinda.
"Kamu nggak langsung pulang, kan?" Rinda khawatir Joan langsung kabur dengan rombongan yang sudah menunggunya itu, "Oh ya aku mau kenalkan kamu sama Mama dan Papaku..."
"Oh ya?" Joan sangat senang, itu artinya gadis yang selalu ada dalam pikirannya ternyata mau memperkenalkan pada orang tuanya. Itu artinya Rinda memperhitungkan dirinya.
"Ya dong..." Rinda tersenyum.
"Nantilah kalau aku sudah bertemu Mama dan adikku, pasti aku undang kamu makan dan berkenalan dengan orang orang yang kucintai, " Joan memang pernah bercerita pada Rinda bahwa ia terpisah dengan mama dan adiknya, sejak kematian papanya. Tapi ia tak menceritakan tentang peristiwa berdarah dalam keluarganya.
"Aku selalu berdoa untuk keselamatan mama dan adikmu, semoga nanti kalian bisa berkumpul lagi, " apa yang diucapkan Rinda bukan hanya semata mata ingin menyenangkan hati Joan, tapi memang keluar dari ketulusan hatinya.
"Terima kasih atas doamu, Rin, yuk aku ke mereka dulu, entar keburu di kanibal kita..." Joan tertawa.
Sebenarnya Joan juga naksir Rinda, tapi belum mau ia berterus terang, atau istilahnya 'nembak', karena belum menuntaskan pekerjaan kotornya memuaskan nafsu para perempuan bejat.
Dan yang paling penting harus menemukan Monik, dan mencari mamanya, barulah ia menyatakan isi hatinya, atau 'menembak' gadis pujaan itu.
"Oke, "
"Bye..." Joan meninggalkan Rinda.
Setelah merayakan hari wisuda dengan teman teman sesama wisudawan, mengadakan pesta ala kadarnya, mentraktir mereka, Joan pun pamit mau menemui Rinda.
"Semoga Rinda jodohmu, Jo, " ujar Sammi melambai.
"Semoga gampang dapat kerja Bro.." teriak Dodi.
"Langgeng dirimu, Jo, " ujar Rinto.
__ADS_1
"Banyak rejeki, " timpal Rifai
"Terima kasih doa kalian, tapi jangan lupa kutunggu traktir kalian digaji pertama..." teriak Joan sambil menjauh.
Langkah Joan mendadak terhenti dengan mata melebar. Betapa tidak, wanita yang dirangkul oleh Rinda pernah dilihatnya, bahkan sempat satu kamar di sebuah hotel. Wanita itu tak lain Indira.
"Ibu Indira...?!" Panik Joan, wanita yang berprofesi Psikolog itu telah membayarnya sepuluh juta untuk memberikan foto selingkuhan suaminya yang sedang di pelukannya. Foto itu untuk membuka mata hati sang suami yang hanya dimamfaatkan belaka oleh perempuan muda bernama Lisa salah satu anggota komunitasnya tante Sirilnya yang agresif. "Itu lelaki yang menyelingkuhinya, " masih sempat Joan melihat papanya Rinda, lalu menghindari Rinda dan mama serta papanya.
Tubuh Joan gemetar. Segera ia berlindung pada tembok kampus supaya tak terlihat Rinda dan juga mamanya. Ia mengirim WA pada gadis lembut itu.
"Selamat Rinda...tapi maaf, Rinda, aku harus cepat pulang, ada kabar Mama dan adikku ada di Jakarta. Salam hormatku untuk mama dan papamu..." lalu dibubuhi emotion tanda bersalah.
Hanya dengan kalimat itulah yang paling pantas meninggalkan Rinda saat ini. Semoga gadis itu mengerti.
"Oke Jo, kalian dipertemukan. Sampaikan juga salam hormatku pada mamamu, dan salam sayang untuk adikmu tersayang..." emotion daun waru tanda cinta berwarna merah.
.Oh Rinda kalau begini manamungkin aku bisa menyuntingmu walau aku menyelesaikan pekerjaan nista itu?
Oh Rinda mamamu yang terhormat itu tak akan sudih menerima ukuran tanganku. Mamamu tahu aku kotor. Aku tak bermoral. Manalah sudih menyerahkan anak gadisnya padaku?
Meninggalkan halaman kampus dengan perasaan tak menentu. Kesempatan untuk mempersunting Rinda jika sudah bertemu mama dan Monik adiknya, kandas sudah. Dirinya yang kotor manamungkin bisa diterima ibu Indira sang Psikolog yang juga telah membayarnya untuk merekam salah seorang perempuan yang dipuaskannya.
*
Farel baru saja keluar dari kantor polisi menemui kakaknya Ajun Komisaris Polisi Haris Sukamto. Kedatangannya menemui perwira polisi berpangkat balok tiga keemasan itu bukan untuk melaporkan seseorang. Tapi dia berdiskusi dengan kakak kandungnya masalah yang dihadapinya bersama Monik.
"Kita sudah menemukan nama pemilik Mal yang akan menangkapmu dengan Monik, " ujar Akp Haris, serahkan padaku untuk lebih mendalam lagi siapa Sudibyo itu."
"Nggak usah takut kalau ada yang mencarimu, menjemputmu je kampus, segera hubungi Kakak, atau polisi, masalah ini kita hadapi bersama, kalau yang namanya penangkapan atas dasar kecurigaan polisi harus turun tangan..."
"Ya, Kak, " angguk Farel, "Ohbya, Kak bagaimana gaya loncatannya Monik itu apa murni lompat tinggi, Kak?"
Akp Haris memperhatikan berulang ulang gaya lompatan Monik. Lelaki tiga puluh tahun lebih itu sangat kagum pada cara Monik memanjat mangga. Haris Sukamto yang jago silat dan sudah berbekal pelatihan sebagai calon polisi itu yakin kalau Monik bukan gadis sembarangan.
"Ini nggak murni lompat tinggi, hem gayanya hampir sama dengan gadis tupai yang viral itu..."
Farel langsung mencari video yang beberapa hari viral itu. Dan saat sudah menemukan segera membandingkannya dengan gerakan Monik menclok di pohon mangga gengan cara gadis tupai mendarat di pohon waktu ada cipratan air.
"Mereka sama berhijab. Sama rampingnya...tapi untuk lebih meyakinkan kita bawa dua video ini pada pakar telematika, " usul Haris.
"Ya, Kak benar, " angguk Farel penuh semangat. Maka jadilah mereka membawa video Monik dalam dua versi untuk diperiksa kesamaannya.
Dan ternyata jawaban pakar telematika dan pakar IT yang mereka percayakan memeriksa kesamaan dari pelaku loncatan itu memang satu orang.
Dari gestur, dan tinggi badan serta ukuran tangan, dan bagian bagian yang ditelusuri secara ilmu yang mereka miliki dengan bantuan monitor yang mumpuni, didapat kepastian pelaku loncatan adalah orang yang sama.
"Artinya gadis itu memang memiliki kekebihan, ada ilmu bela diri yang boleh diandalkan..." ujar Haris pada adik bungsunya itu.
"Jadi Putri bukan gadis sembarangan..." gumam Farel.
__ADS_1
"Ya loncatannya ringan bagai kapas tubuhnya..." gumam Haris, "Dia punya gaya untuk meringankan tubuhnya..."
"Kakak yakin?!" Farel mengernyitkan alis.
"Coba serang dia untuk mengetesnya, " saran Haris.
"Kita jebak dia?"
"Boleh, " angguk Haris setuju.
Maka malamnya Farel menghubungi Monik. "Putri ini penting ada yang ingin kusampaikan, kita ketemu di ujung jalan kampus, kamu takut, gak, kan sepi,"
Monik menyanggupi. Kalau gadis tak memiliki ilmu tak mungkin mau datang ke tempat sepi, pikirnya, atau Putri percaya padaku.
Monik celingak celinguk mencari Farel. Tapi tiba tiba ada dua orang mengenakan melompat yang langsung menyerangnya. Tak tanggung tanggung kedua penyerangnya mempergunakan parang. Dasar Monik masih abg dia tak menyadari kalau parang yang dipegang masing masing penyerangnya itu hanyalah parang palsu. Namun terkena bias cahaya malam kedua parang dari almunium itu berkilau.
Akp Haris menperhatikan dari atad pohon. Sedangkan Farel yang berbekal camera untuk merekan memperhatikan dari balik semak semak. Kedua kakak beradik itu hanya ingin tahu benarkah Monik memiliki kepandaian yang mumpuni tentang ilmu bela diri?
Tentu saja mendapat serangan dadakan dalam keadaan santai Monik terkejut. Seketika menggunakan ilmu seringan kapasnya untuk menghindaru sabetan parang dari dua arah, depan dan belakang. Tubuhnya berputar di udara dan mendarat dengan indah di hadapan kedua penyerangnya yang terkejut melihat gaya mrnghindar dengan melentingkan tubuh rampingnya ke udara.
Begitu pun dengan Akp Haris dangat terpesona dengan gaya menghindar Monik yang tak biasa. Dan Farel tercengang melihat lentingan tubuh ramping itu ke udara tadi. Mereka semakin penasaran akan gadis itu.
"Tunggu, kalian begal, ya, mundur deh aku nggak mau urusan sama orang jahat..!" Seiring ucapannya berakhir, kedua tangannya melakukan kibasan menyilang serta lompatan menyerang pada kedua penyerangnya.
Bruuk...
Monik tertawa melihat kedua penyerangnya terjengkang ke belakang. "Sudah kubilang pergi lagian aku nggak punya apa pun yang bisa kalian rampok. Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran..."
"Serang...!" Salah satu penyerangnya langsung memberi aba aba untuk menyerbu Monik.
Monik bersiap untuk menghindar sekaligus mengirim balasan pada dua penyerangnya yang menyerbu drngan cepat dengan parang yang disodokkan ke bagian punggang kanan dan kirinya.
Tahap pertama Monik berkelit dengan gerakan setengah memutari kedua tubuh penyerangnya, yang kehilangan buruannya. Dan saat mereka dengan gerakan terlatih dan gesit, kembali menyerbu dwngan lompatan cukup tinggi menyerang dari arah depab dan belakang Monik, yang membuat Farel cemas, walau telah jelas dalam brifing tadi mereka tak akan melukai Monik, jika gadis itu gagal, karena yang dipilih Haris kakaknya adalah polisi dari taruna terlatih, yang biasa dengan reflek menarik serangan jika lawan tak berdaya.
Makanya sesekali ia melihat melongokkan kepalanya mengintip langsung Monik dengan pandangannya langsung, dan membiarkan camera canggihnya melakukan tugas perekaman secara otomatis.
Tapi apa yang dilihatnya sungguh membuat Farel tercengang, begitu pun dengan Akp Haris. Mereka kakak beradik yang sempat tegang, menggeleng kagum.
Serbuah parang dengan kecepatan tinggi yang datang dari arah depan dan belakang Monik, bisa dihindari oleh gadis itu dengan meluncurkan tubuhnya tegak lurus ke atas, seakan ada daya yang menarik tubuhnya begitu sempurna melewati dua kepala penyerangnya. Hingga serangan mereka menemui tempat kosong.
Atraksi yang dipertunjukkan Monik membuat Farel terbelalak. Bagaimana mungkin gadis itu melewati tinggi penyerangnya dengan tegak lurus begitu, seakan ada seling seperti menariknya, sebagaimana saat shooting film laga.
Begitu juga Haris. Perwira di kepolisian itu semakin yakin jika Monik bukam hanya menguasai.ilmu bela diri, namun ada ilmu gaya klasik yang dikuasai gadis itu.
Gaya tegak lurus meluncur ke atas yang diperlihatkan Monik, tentu saya membuat kagum kedua penyerangnya terkejut, karena inilah pertama kalinya ia menghadapi lawan yang bisa melakukan gaya seakan ada yang menariknya ke atas.
Namun mereka tak boleh terlena oleh gaya lawan, setinggi atau semenarik apa pun. Segera mereka saling memberi kode untuk menyongsong Monik . Mereka tak mau memberi kesempatan pada Monik untuk menjejakkan kakinya ke tanah. Maka salah satu dari mereka menyediakan bahunya untuk dijadikan topangan yang lainnya dalam menyongsong Monik yang pasti meluncur turun.
Farel menahan napas melihat adegan berbahaya dan begitu pun Haris dari dahan pohon bersiap siap untuk berbuat sesuatu jika Monik gagal menghindar.
__ADS_1
ikuti terus ya
makacih...