
Aksi Monik manjat pohon mangga setinggi dua ratus tujuh pulih lima senti meter, dan berhasil memetik mangga dengan gerakan ringan, dan kedua kaki menapak tanah dengan sempurna, telah mengundang decak kagum semuanya. Baik yunior mahasiswa yang baru bergabung di kampus mau pun para senior terutama Farel.
"Hai Putri gerakanmu selain lompat tinggi kayaknya ada kebisaan lainnya, deh..." pancing Farel yang memang sangat jeli memperhatikan rekaman Monik waktu manjat buah mangga.
Putri tersenyum pada Farel."Aku memang lompat tinggi dan sedikit nekat untuk tambahannya, " ujarnya.
"Yakin?" Farel mengerling, "Melihatmu mengingatkanku pada film klasik, deh..."
"Oh ya?" Monik tersenyum.
"Selamat, ya, " walau masih penasaran dengan gerakan nekad menurut Monik, tapi ia tak mau memaksa Monik untuk menjelaskan gerakan nekadnya itu."Oh ya aku ingin membahas tentang aku yang mau dicari, oleh siapa dan kenapa mereka akan mencarimu?"
Monik mulai panik. "Ya akuvtak bohong, Nyonya yang aku peluk yang mengirimi aku WA kamu dicari karena kemungkinan untuk menemukanku, "
..":Nyonya yang kamu peluk nge WA kamu?!" Farel merasa janggal.
Duh seandainya ada Mas Jonya pasti ia berterus tentang si nyonya besar isteri pemilik Mal. Pada Farel yang baru dikenalnya, tak mungkin ia berterus terang tentang kehidupan orang tuanya yang sudah bercerai berai.
"Oh aku tak bisa menjelaskan sekarang, tolong kamu hati hati, " memelas Monik.
"Lalu kamu gimana bukankah jika mereka menemukanku pasti mereka akan bertanya tentang dirimu?"
"Ya, " angguk Monik.
"Ada persoalan apa sebenarnya?" Farel menatap Monik, "Nyonya yang kamu peluk siapa, kamu dan dia saling kenal atau gimana, kok aku jadi bingung...." memang ruwet terasa. Gadis itu dikirimi WA oleh nyonya yang tak mengenalnya, dan tiba tiba saja ia jadi target pencarian, dan dirinya yang nekad mengaku Putri adiknya pun dicari. Huh, membuatnya tak habis pikir.
"Aku belum bisa cerita sekarang, " geleng kepala Monik dengan raut muka sedih dan sepasang matanya berkaca kaca, "Aku minta masalah ini jangan ada yang tahu."
Farel yang tak mengerti gadis itu berada dalam lingkaran macam apa dengan nyonya yang menolaknya, dan orang orang di belakang si nyonya itu merasa ibah. Tampaknya gadis itu memang dalam masalah.
"Kamu punya musuh, Putri?" Farel tampak cemas.
."Aku bukan orang jahat, " geleng kepala Monik. "Mereka yang jahat, " lanjutnya, tapi segera sadar ia tak boleh menangis di depan orang yang baru dikenalnya, "Maaf aku sudah menyeretmu dalam masalah..."
"Tenang ajah jika mereka menemukan aku akan kukatakan kamu memang adikku, tapi kurang waras..." sengaja Farel ingin menghibur Monik.
"Terima kasih, aku pulang dulu..." pamit Monik.
Farel jadi penasaran, ada apa sebenarnya dengan gadis itu. Kenapa dicari orang. Dan siapa yang mencarinya, lalu kenapa pula si nyonya mengirim berita yang membuat Monik panik. Siapa sebenarnya nyonya isteri dari pemilik Mal itu.
Aku harus mencari tahu kenapa Monik jadi target mereka. Dan kayaknya Monik bukan gadis yang hanya menjuarai lompat tinggi. Farel jelas melihat dengan detil gerakan Monik berkali kali dalam rekaman yang dibuat Risman.
Begitu pun dengan Rima sangat kagum pada gerakan Monik saat bergerak bagai terbang ke pohon dan kemudian bergerak lagi memanjat mangga dan mendarat dengan indahnya ke tanah. Beruntung ia tadi walau berdesak desakan berhasil juga mengcopy rekaman atraksi Monik pada Reno yang merekamnya dengan hape. Dan yang berminat sangat banyak, makanya ia rela ngantri demi mendapat gambar atraksi Monik yang disaksikan dengan mata kepala sendiri. Dan sungguh membuatnya kagum.
Dan Rima pun menceritakan tentang kejadian yang sangat membuatnya berdebar, sekaligus mengagungkan itu pada Vina mamanya.
"Bagaimana orientasi kampusmu, Rima, " saat itu Vina hanya tinggal berdua dengan Rima. Sudibyo belum datang, sedangkan Divo sedang tidur siang.
"Semua lancar, Mam, dan tadi pada penutupan ada kejadian yang sangat mengagungkan.itu, Mam ingat temam Rima yang Mama kirimi puding kemarin?"
"Oh yang namamya Putri?" Vina memang sangat senang saat Rima bercerita bahwa temannya yang bernama Putri sangat senang makan puding buatannya.
"Ya, Ma, dia dikerjai sama cewek kakak kelas, kayaknya sih nggak suka deh sama Putri, dia nyuruh putri manjat mangga yang tingginya dua ratus tujuh puluh sentimeter...."
__ADS_1
"Pakek tangga?" Vina tampak terbawa emosi mendengar Putri yang belum dikenalnya itu disuruh manjat.
"Nggak..." geleng kepala Rima.
"Jadi ...?" Vina menunggu kelanjutan cerita Rima.
"Putri nerima tantangan itu, Ma, kan Putri itu juara lompat tinggi seratus enam puluh empat sentimeter, Ma, sedangkan mangganya di ketinggian dua ratus tujuh puluh sentimeter...coba, Ma lihat nih rekamannya lompatannya indah dan hebat banget...!"
"Oh....!" Kedua mata Vina terbelalak dengan dada terguncang. Gadis itu adalah gadis yang merangkulnya di Mal.
Monik.
Mendadak wajah Vina pucat. Betapa tidak gadis itu putrinya. Ternyata gadis teman Rima yang dipanggil Putri ternyata Monik. Putrinya sendiri.
Betapa ingin ia berteriak memanggil putrinya. Duh, ternyata pudingnya dimakan Monik kemarin. Ingatkah putrinya pada puding buatan mamanya?
Tergetar ia melihat Monik putrinya tengah beraksi dengan tangkas, dan lincah serta terlihat bagai melayang memetik mangga, dan mendarat dengan indahnya ke tanah.
"Ah sayangku..." pekik batinnya pilu dan tanpa sadar tangannya mengusap lembut layar hape yang mengulang rekaman aksi Monik.
"Mama...?" Rima heran memandang kedua mata mamanya yang memerah dengan tatap lekat ke video aksi Monik.
"Oh mata Mama ini gatel..." Vina mengucek kedua matanya, dan.air mata yang sejak tadi ditahannya.kini membasahi kedua matanya.
"Sudah ke dokter, Ma?" Rima panik menatap mata mamanya yang kini betul betul menangis.
"Sudah, kata dokter hanya iritasi, " dan Vina membiarkan air matanya semakin membanjiri kedua pipinya. Ah, Rima tak tahu kalau perempuan yang dianggap ibu kandungnya itu tengah menangisi putrinya sendiri.
"Rima ambilkan tissue, Ma..." Rima yang memang selalu berkelakuan manis itu segera meninggalkan mamanya, dan tak lama kemudian kembali membawa tissue, dengan lembut dihapusnya air mata mamanya.
"Bagaimana hebat, kan, Putri, Ma?" Rima kembali tenggelam memperhatikan rekaman video Monik.
"Ya, gerakannya lincah sekali, " angguk Vina sangat bersemangat membicarakan Monik, walau hatinya cemas dan begitu khawatir akan keselamatannya Monik.
"Tapi Rima curiga, deh, Ma..."
Vina menatap Rima..
"Jangan jangan Putri punya ilmu untuk manjat..." Rima tertawa, ia tak serius. Tapi justru Vina menanggapinya dengan serius. Semoga saja putrinya benar memiliki ilmu bela diri, paling tidak bisa untuk melindungi dirinya sendiri, "Kasihan, Ma, ayahnya Putri sudah meninggal.."
Vina terbelalak. Monik cerita apa saja pada Rima?
"Putri sangat kangen pada kakaknya, "
"Memangnya Kakaknya kemana?" Vina sangat ingin tahu, pasti yang dikangeni Putri adalah Joan.
."Katanya sih kerja di pedalaman Kalimantan, udah ebam tahun nggak pulang, " cerita Rima sesuai yang didengarnya dari Monik.
Vina terkejut. Benarkah kamu tidak di Jakarta, Jo?
"Mama tahu, nggak Putri itu darimana?"
"Darimana katanya, " mata Vina yang sejak tadi maunya nangis saja itu menatap Monik lekat.
__ADS_1
"Putri itu dari desa, Ma..."
"Dari desa mana?"
"Dari desa Leuwiliang..."
"Oh ternyata putrinya selama ini menetap di desa. Ah tak mengapa yang penting Monik selamat dan bisa kuliah. Lalu siapa yang membiayai hidupnya selama enam tahun, dan sungguh orang yang telah mengasuh dan membiayai putrinya itu adalah seorang yang budiman. Orang yang dipilih Allah berhati mulia.
"Mama istirahat ajah, ya, biar mata Mama cepat sembuh, " lembut suara Rima. Dan Vina yang mendadak sakit kepala segera berlalu ke kamarnya.
Di kamar justru kecemasan Vina terhadap Monik dan Joan semakin menjadi jadi. Terutama pada Monik yang berteman dengan Rima. Bagaimana ini jika Sudibyo tahu gadis yang dicarinya adalah teman kuliah putrinya.
"Ya Tuhan mohon lindungi anak anak hamba dari marah bahaya, dari kebutaan hati lelaki yang terpaksa menjadi suami hamba. Mohon lindungi Monik..." dan air matanya kembali berlinang.
Vina mencar cara bagaimana caranya supaya Sudibyo melepaskan Monik. Tapi kan selama ini dirinya pura pura amnesia?
Vina yang sebenarnya sangat tersiksa begitu kesadarannya pulih menemukan dirinya menjadi isteri dari pembunuh suaminya. Jika ia mengatakan sudah sadar kemungkinan besar dirinya pun dalam bahaya, jika terjadi apa apa dengannya bagaimana dengan Divo, anaknya bersama Sudibyo. Bagaimana pun bocah tak berdosa itu adalah darah dagingnya.
Vina berpikir keras untuk mencari akal supaya putrinya terlepas dari kecemasan Sudibyo tentang balas dendam.
Tak menentu pikiran Monik saat sampai di kamar kosnya. Segera melihat email barangkali ada balasan dari mas Jonya. Tapi tak ada kakaknya itu membalas komentarnya di email.
."Mas Jo kemana kamu?" Dan Monik melewati banyaknya email yang masuk tapi bukan dari mas Jonya, hanya dari orang orang yang mengajak kenalan dan minta fotonya.
Tiba tiba hapenya memberitahu ada WA masuk .
"Sayang hindari datang ke rumah Rima, dia orang baik, tapi orang tuanya bahaya..."
. "Mama?" Monik mengernyitkan alisnya membaca WA mamanya. Duh Mama kenapa nggak cerita lebih banyak?
Monik jadi bertanya tanya darimana mamanya tahu orang tua Rima berbahaya?
Ini merupakan berita baru bagi Monik tentang teman barunya yang lembut, dan sepertinya baik hati. Darimana mamanya tahu tentang Rima?
Duh Monik jadi sakit kepala mikirin berita baru dari mamanya. Memangnya orang tua Rima siapa. Kok mamanya tahu tentang keluarga gadis yang memang terlihat sangat perduli dan baik pada dirinya.
kenapa, sih mama nggak ngejelasin siapa orang tua Rima. Rasanya kok nggak pantas bila Rima yang baik itu terlahir dari keluarga bahaya.
monik tergugu.
Orang tua Rima berbahaya. Yang dimaksud mamanya berbahaya untuk dirinya karena apa?
Duh Mama kenapa, sih nggak lebih jelas kalau ngirim berita. Mana sulit dihubungi lagi. Berbahaya untuk semua orang atau berbahaya.untuk dirinya?
Monik terkejut.
.... Kalau maksud mamanya berbahaya untuk dirinya, itu artinya orang tua Rima adalah salah satu dari komplotan pembunuh papanya.
Oh...
Monik terkejut!
ikuti terus kelanjutannya,nya
__ADS_1
Makacih....