
Kabar dari tentang pelaporan Farel ke pihak kepolisian sampai juga ke Polres dimana Akp Haris sebagai pimpinannya. Pencarian akan dilakukan pada setiap fakultas hukum pada semua Universitas yang ada di Jakarta. Pencarian akan dilakukan secara diam diam, supaya tidak menimbulkan keresahan pada mahasiswa yang sedang menuntut ilmu. Hal itu atas inisiatif pihak kepolisian.
Tentu saja Haris geram, tapi ia tak bisa berbuat semaunya untuk mematahkan rencana pencarian yang telah dijadwalkan. Maka Haris pun segera melaporkan pencarian ini pada pimpinan kampus. Untuk itu ia memintakan ijin supaya Farel tidak terciduk, karena bisa menimbulkan bahaya untuk Farel.
Saat itu pun Farel dan Monik bersaksi kejadian yang sebenarnya di Mal tempo hari, hingga Farel mengaku kakaknya Monik.
"Aneh juga kalau hanya itu kalian diburu..." tak habis pikir juga pimpinan universitas dimana Farel dan Monik berkuliah.
"Saya mohon maaf karena ketedoran saya mengakui nyonya isteri pemilik Mal sebagai mama saya, habis mirip, Pak, dan saya sangat kangen pada mama saya..." Monik hampir menangis, dan Haris bisa terkecoh Monik sebagai gadis yang tak tahu apa apa, seandainya saja tak menyaksikan sendiri atraksi gadis cantik itu.
"Ya sudah ini namanya musibah, dan aku pasti melindungi anak anak didikku..." rupanya pimpinan kampus bisa memaklumi kekhawatiran mereka.
"Terima kasih, Pak, " ujar Farel pada pimpinan kampusnya.
"Aku percaya karena selain mahasiswa berdedikasih kamu juga cerdas dan bisa diandalkan, "
"Terima kasih, Pak, " tersipu Farel.
"Dan kamu Putri hobby manjat pohon mangga, ya?" Kini perhatian pimpinan kampus beralih ke Monik, rupanya lelaki setengah abad itu mengikuti kejadian pada hari penutupan masa perkenalan mahasiswa baru.
Monik tersipu.
"Juara lompat tinggi, gadis berprestasi, ya..."
Monik tersenyum malu malu.
Karena yang dilaporkan ke polisi hanya Farel, tanpa Monik, maka hanya Farel yang diminta untuk beberapa hari tidak kuliah dulu, sampai masa pemeriksaan polisi selesai dan sudah diputuskan bersama seakan akan tidak ada nama Farel di kampus itu. Sehingga nantinya terkesan Farel hanya mengaku ngaku sebagai mahasiswa fakultas hukum.
"Saya Akp Haris yang akan menjamin bahwa Farel tidak yerlibat tindak kriminal, dan murni hanya ingin menolong Putri yang dibawa ke kantor pihak Mal waktu itu. Dan Farel tak akan kabur, jika kelak dibutuhkan atau terpaksa harus bersaksi maka ia akan datang, ini untuk mencegah segala sesuatu yang tak diinginkan, " ujar Akp Haris, dan untuk lebih meyakinkan pihak kampus, maka ia mrmbuat surat pernyataan untuk bertanggung jawab dengan tindakan Farel seandainya memang bersalah, dan sama sekali tak akan melibatkan pihak kampus.
Setelah pamit pada pimpinan kampus, Haris mengajak Farel dan Monik ke sebuah rumah sakit tak jauh dari kampus mereka.
"Farel aku minta maaf, ya?" Monik merasa bersalah karena telah melibatkan Farel. Wajahnya mendung dan air matanya mengambang di pelupuk matanya.
"Biasa ajah kali, Put, aku kan cuma ngindari kedatangan polisi ajah, kok, " ujar Farel tersenyum dan bersikap santai.
"Ya kamu juga hati hati, ya, Put, " walau jelas percaya kemampuan.dan ilmu langkah Monik, tapi, tetap harus mengingatkan gadis belia itu.
"Ya, Pak, ".angguk Monik.
"Aku akan mencaritahu siapa pemilik Mal yang begitu mempersoalkan pelukanmu pada isterinya, "Putri bisa bicara jujur padaku, betul kenalkah kamu pada nyonya yang kamu peluk?" Ini adalah pertanyaan polisi untuk lebih mendalami penyelidikannya terhadap Sudibyo.
Sebelum menjawab Monik menoleh pada Farel di sampingnya. Farel mengangguk. Entah mengapa dirinya begitu percaya pada Farel.
"Wanita itu mama..." air mata Monik mengaliri pipinya, wajahnya tampak sedih, dengam tissue dihapusnya air mata itu, "Saya sangat Rindu, Pak pada mama saya, sudah enam tahun terpisah..."
__ADS_1
"Oh...!" Haris terkejut.
Begitu juga Farel, ditatapnya Putri yang tertunduk, lalu diangsurkannya segelas teh manis yang tadi dipesan gadis itu, "Minum dulu, Put, biar hatimu tenang..."
Monik menerima gelas berisi teh dari tangan Farel. Meneguk dua kali. Memang bisa membantunya lebih tenang daripada tadi.
"Putri kamu baik baik saja?" Haris menatap Monik lekat.
."Ya, saya baik baik saja, Pak, " angguk Monik.
."Putri..." Farel menatap Putri penuh perhatian. Dari cara menatap Haris jelas dapat melihat ada sesuatu di mata adik bungsunya itu.
"Sungguh aku nggak apa apa, kok, he... he... he..." Monik mencoba tertawa. Karena hatinya sedang sedih dan resah , maka tawanya itu jadi lucu. Membuat Haris dan Farel tersenyum.
Setelah Haris merasa Monik lebih tenang, maka dengan membujuk dan hati hati mulai menanyakan keluarga Monik.
"Lalu kalau nyonya itu mamamu berarti pemilik Mal suami wanita itu berarti...?" Haris melihat perubahan pada wajah Monik, antara sedih dan marah. Kilatan mata gadis itu adalah gemuruh kemarahan yang terpendam.
Haris terdiam.
Farel mulai cemas.
Monik memang marah atas status mamanya yang menikah lagi, papanya meninggal dengan tragis, tak adil rasanya jika mamanya kini menjadi nyonya besar yang nggak boleh mengenalnya. Karena cinta kasih pada mamanyalah serta rindu yang tak terkirakan, menjadikannya pasrah, dan keadaan mamanya yang tak bebas itulah yang membuatnya ingin segera tahu ada apa dengan mamanya. Monik menangis lagi dan segera menghapus air mata dengan tissue.
"Kosrntrasi Monik, lapanfkan dadamu jangan pikirkan soal duniamu yang telah membuatmu sedih dan marah serta kecewa. Berpasrah diri pada Allah, karena Dia yang maha tahu segala tentang takdirmu..." terngiang ucapan kak Ratunya beberapa waktu lalu, tepatnya setiap ia terlihat sedih.
Maka Monik kosentrasi dengan memasrahkan semua kehidupannya pada Yang Maha Memiki kehidupan ini. Mengosongkan amarahnya. Menerima takdir yang menimpa keluarganya.
"Ya Allah ampunkan hambaMu ini jika masih ada kecewa dan amarah. Hamba hanya manusia biasa, ya Allah..."
Setelah beberapa detik kemudian ia sudah bersikap biasa lagi. Senyum tersungging di bibirnya. Menatap pada Haris dan Farel yang serius memperhatikannya.
"Maaf, ya, aku tadi terbawa emosi, padahal aku tak boleh dikalahkan emosi..." itu juga ajaran jak Ratunya yang tetap melekat dalam benaknya.
"Apa pun situasinya kita dituntut untuk tetap tenang, jangan sampai kita dikalahkan emosi.." ujar Ratu satu bulan jelang ia mau berangkat ke Jakarta.
"Ya Kak Ratu, " patuh Monik.
"Karena emosi hanya akan membuat kita lengah dan lemah..." pesan itulah yang kerap membuat Monik bersikap netral seakan tak ada beban yang menghimpit jiwanya.
Melihat sikap Monik yang kembali cair membuat Haris dan Farel legah.
"Nggak apa kadangkala kita memang suka terbebani oleh duka yang muncul tanpa dapat kita cegah, itu manusiawi, Putri, " sikap Haris sangat memaklumi duka dan emosi Monik.
"Ya," angguk Monik.
__ADS_1
"Apalagi usiamu masih sangat muda..." tersenyum Haris.
Monik tersipu.
Farel sangat legah hatinya melihat Monik sudah tersenyum dan riang lagi.
"Kita sekarang makan dulu, tuh, pesanan soto kita sudah datang..." Haris menoleh pada dua pelayan yang membawa tiga mangkok soto, dan tiga piring berisi nasi putih.
Tiba tiba saja Monik merasa sangat lapar saat aroma khas soto andalan di rumah makan itu menyeruak ke hidungnya.
"Hem pasti sedap..." keceplosan Monik yang disambut Farel dengan senyum.
"Yoi ... pastinya..."
Huh Monik sudah tak sabar untuk menikmati soto yang menggodanya itu, rupanya cacing di perutnya sudah pada resah. Kalau saja tak menahan malu dan etika majan sopan di depan orang lain, huh, pasti sudah dikebut suapannya. Apalagi ia baru ingat sejak pagi hanya terisi segelas air putih dan sepotong kue piah. Mau minum teh manis ke warung ngantri, ogah. Mau buat sendiri di kamar kosnya nggak boleh mempergunakan alat pemanas, nanti listriknya nggak kuat, huh, namanya juga kos kosan murah.
Padahal kak Ratunya menyarankan pindah kos yang lebih nyaman. Tapi Monik kamar itu saja sudah cukup. Walau sederhana yang penting bisa belajar dan tidur. Tak perlu pemborosan, dirinya belum kerja, kasihan kak Ratu kalau harus mengirim biaya bulanan dirinya terlalu besar, begitu pikir Monik. Ia harus tahu diri. Ratu sudah banyak berkorban. Tenaga, uang, dan kasih sayang tentunya.
"Wah cocok nggak dengan seleramu sotonya, Putri?" Haris yang lebih dulu menghabiskan sotonya menatap Monik yang juga hampir menghabiskan semangkok sotonya, hanya nasinya masih tersisa.
"Ya sedaaap..." seru Monik jujur. Memang lidah Monik berkecap nikmat merasakan bumbu soto yang betul betul berasa.
"Soto ini langganannya Kak Haris, dan aku ikutan jadi demrn, deh..." Farel menyusul Haris, tuntas sudah isi mangkok soto dan sepiring nasinya.
"Nasimu tak dihabiskan, Putri?" Haris memandang Putri yang melakukan suapan terakhirnya, isi mangkok sotonya habis, tapi nasi di piring masih tersisa.
"Wow nasinya angkatan cowok, kebanyakan..." Monik tertawa.
"Bisa ajah kamu, Put, " Farel ikut tertawa.
Haris tersenyum dan ia merasa suka pada kepolosan Monik yang baru dikenalnya itu. Dan perwira polisi itu merasa suasana hati Monik sepertinya bisa diajak untuk bercakap cakap. Makanya ia bertanya pada Monik.
"Bagaimana kalau kita keliling Jakarta dulu supaya makanan kita turun, setuju, Putri?"
Putri tak langsung menjawab, ia melempar pandang pada Farel terlebih dulu. Dan Farel pun mendukung kakaknya tentu saja. Ia mengangguk.
Setelah mereka menikmati soto, sengaja Haris membawa Monik keliling dengan mobilnya. Ia ingin mengorek keterangan gadis itu tentang mamanya dan kenapa sampai terpisah enam tahun lamamya.
Bersama Farel yang duduk di belakang, dimana tadi sudah dipesan via WA harus merekam semua pembicaraannya dengan Monik. Sebagai polisi ia merasa ada yang ganjil dalam kehidupan keluarga Monik, yang harus digali. Terlebih lagi kini Farel tersangkut di dalamnya.
Jika memang mengandung muatan kriminal di dalamnya, adalah tugasnya untuk membongkar kejahatan yang tersembunyi selama enam tahun...
Ikuti terus ceritanya, ya.
Makasih
__ADS_1