
Joan merasa tak tenang, ia ingin memastikan gadis yang bernama Monik itu betul bukan adiknya. Maka segera ia kembali ke Mal dan langsung mendekatu satpam yang tadi bertugas.
"Maaf, Pak, saya harus melihat cctv rekaman kejadian tadi, Pak, soalnya adik saya nggak ada di ruang rawatnya, " spontan Joan menemukan alasan dan mengatakan kurang waras, "Ya, adik saya begini, Pak, " sambungnya memiringkan jari telunjuknya di dahinya untuk melengkapi ketidakearasan Monik.
Satpam itu manggut manggut, "Pantas, " ujarnya, "Tadi sudah dijemput kakaknya katanya belum minum obat bisa bahaya..."
"Ha!" Joan terkejut. Rupanya ada yang mendului idenya, "Wah saya musti lihat rekaman cctvnya, karena kakaknya cuma saya..."
Mendengar ucapan Joan si satpam terkejut. "Wah orang gila kok direbutin, sih..." serunya geleng geleng kepala.
"Ayo cepat antar saya ke kantornya, Pak, " desak Joan.
Mau tak mau si satpam mengantarkan juga Joan menemui menegernya.
Jawaban sang meneger sama dengan yang diucapkan satpam."Gadis itu sudah diambil kakaknya, orang gila ngaku ngaku anak nyonya isteri pemilik Mal ini!" Dumelnya.
.Joan memperhatikan si meneger yang bersungut kesal. Wah pasti bukan Monik adiknya, karena kalau Monik ketemu Mama nggak mungkinlah ditolak. Lagian perempuan yang diakui mama isteri pemilik Mal ini, mama kan nggak punya suami??
:"Jadi bagaimana gadis tadi adik Mas juga?" Meneger itu menatap Joan, "Kakaknya ganteng ganteng, dan sayang pada adiknya, beruntung gadis itu, makanya Mas punya adik cakep agak kurang begitu dijaga jangan sampai keluyuran sendiri di Mal. Bahaya, coba gara gara adik Mas satpam yang bertugas kena sanksi nanti, "
"Lho kok jadi marah sama aku, ".dumel Joan.
Satpam memberikan kertas yang ditanda tangani Farel tadi, "Ini surat pertanggungan jawab saudara farel atas gadis yang bikin onar tadi, "
Nama Farel mahasiswa fakultas hukum sebuah Universitas yang ada di Jakarta."Kok cuma nama doang, nggak pakek alamat ma copy ktp?" Joan kok ingin lihat rekanan cctv itu, "Bagaimana kalau Farel ini orang jahat? Dan bagaimana kalau gadis itu bukan adiknya Farel, tapi dia Monik adikku, pasti nih anak cuma modus,.Pak bagaimana kalau adik saya diculik dia, terus dijadikan pengemis. Bapak mau tanggung jawab?"
"Lho memangnya sudah jelas Farel ini penculik...?!" Si meneger tak kalah gertak.
"Maaf Pak sebaiknya saya lihat rekaman cctv saja..." pinta Joan.
"Memangnya berapa banyak gadis bernama Monik yang kuranh waras?" Gerutu si meneger sambil memberi isyarat pada operator yang bertanggung jawab pada alat perekam yang bernama cctv itu.
Joan memperhatikan layar yang sudah direwind pada rekaman dua jam yang lalu.
Suasana orang mondar mandir. Lalu muncul seorang wanita berkelas didampingi asistennya, serta dua pengawal di belakangnya yang berbadan tinggi dan kekar. Saat wanita itu semakin dekat, dada Joan berdebar dan tak salag lagi itu mamanya.
"Itu Nyonya Sudibyo, isteri pemilik Mal ini, " ujar Satpam yang berdiri di belakang Joan.
Joan terperangah, ia yakin tak salah. Matanya belum minus, atau plus, bahkan tak menyentuh mata silinder. Kedua matanya normal. Jadi jelas itu mamanya, perpisahan enam tahun tak membuat dirinya lupa raut wajah canrik dan lembut mamanya. Bagaimana mungkin jadi isteri pemilik Mal ini?
Seorang gadis berhijab datang menghambur pada wanita itu, "Mama..." dan si wanita tampak terkejut tapi membiarkan dirinya dipeluk gadis yang langsung membuka masker di wajahnya."Ma, ini Monik sudah besar..." mereka bertatapan sebelum si wanita berpaling ke tempat lain.
Joan tergugu. Gadis itu memang Monik yang memeluk erat mamanya. Kalau saja mau mengikuti emosi ia ingin memekik bahwa dua wanita beda usia di layar monitor itu adalah ibu dan anak. Adik dan mamanya.
Tapi kewaspadaan Joan memang sangat tinggi. Ia tak mereka menulisnya nanti di sosial media tentang Nyonya pemilik Mal yang diakui mama oleh gadis kurang waras dan pemuda edan. Itu sangat berbahaya. Bisa menarik perhatian pembunuh papanya. Pada akhirnya Monik tak aman, juga dirinya yang sudah terekam cctv di ruangan ini.
Dengan lunglai karena kabar tentang mamanya, serta gambar Monik yang ditolak mamanya telah membuat persendiannya tiba tiba hampir tak mampu menopang tubuhnya yang berbobot tujuh puluh dua kilogram.
"Bagaimana anak muda, puas?!" Pertanyaan tak sabar dari meneger Mal menyadarkan Joan yang termenung lesuh.
"Oh maaf, Pak, dia bukan adik.saya, permisi," berjalan lesuh Joan keluar dari ruangan, lalu bergegas meninggalkan Mal.
" Gadis itu sudah diambil kakaknya, orang gila ngaku ngaku anak nyonya isteri pemilik Mal ini!" Terngiang ucapan satpam tadi.
"Itu Nyonya Sudibyo, isteri pemilik gedung ini, " terngiang lagi ucapan si meneger.
"Ada apa ini?!" Joan duduk di bangku halte bagai orang linglung. Mamanya sekarang jadi isteri pemilik Mal, seperti mimpi rasanya.
__ADS_1
Lalu rekaman Monik yang berusaha menumpahkan kerinduannya, tapi mamanya seperti menghindar.
Geram dan sedih. Marah pada mamanya yang sudah melupakan papa dan anaknya. Sungguh ini diluar perkiraannya. Mamanya yang penyayang dan wanita lembut yang begitu mencitai keluarga dan anak anaknya, begitu tega tak menghiraukan.kerinduan Monik.
Dan sedih melihat Monik yang histeris menelan kecewa, rindunya tertolak. Dan dirinya sangat marah melihat adiknya kecewa tertolak oleh mamanya.
"Monik adikku kamu sudah remaja, bagaimana sekolahmu, dan dimana kamu tinggal?" Joan sangat ingin bertemu adiknya, ingin menghibur hatinya yang kecewa, "Tegarlah gadis tupai..." serunya memberi kekuatan pada Monik lewat pikirannya.
Monik
Tentu saja peristiwa yang dialami Monik sangat memukul batinnya. Mama yang dirindukannya tak membalas pelukannya. Ia tak keliru, wanita itu bukan isteri pemilik Mal seperti yang disebut si meneger Mal tadi yang menyebutnya gadis stres.
Gadis itu shock dengan peristiwa yang dialaminya bersama mamanya. Hampir tak percaya, tapi nyata terjadi pada dirinya.
"Aku tidak stres!" Pekik batinnya, "Aku tak lupa sosok Mamaku, aku hapal sinar matanya yang lembut...sinar mata yang dulu hampur setiap saat memandangku penuh sayang!" Sungutnya dalam diam.
"Anak cantik aku bukan mamamu, nama anakku bukan Monik...".suara itu punya mamanya, suara yang dirindukannya, suara yang sering bernyanyi lagu anak anak untuknya, suara yang hampir setiap hari mendongeng.
"Mama kenapa jadi begini?" Ingin berontak pada siapa. Sungguh batinnya sangat terpukul, hingga rasanya hampir tak sanggup untuk menerima kenyataan yang dihadapinya.
Air mata Monik mengaliri kedua pipinya, bayangan tadi di Mal terus melekat di pelupuk matanya. Dadanya sangat tertekan, hingga perlahan isakannya terdengar.
"Mama kenapa melupakan Monik, kenapa begitu, Ma?" Dan khawatir isakannya terdengar oleh kamar sebelahnya, maka segera Monik menekankan wajahnya ke bantal. Tangisnya semakin menjadi. Dadanya serasa sakit menerima kenyataan yang telah dilaluinya itu.
"Sayang mungkin kamu salah orang, ayo lepaskan nanti pengawal Ibu marah..." isakannya semakin menjadi saat teringat permintaan mamanya supaya ia melepaskan pelukannya.
Rasanya sangat sakit. Pedih bagai teris iris pisau hatinya. Penolakan mamanya adalah pukulan yang sangat berpotensi pada perasaan sia sia dalam penantiannya selama ini.
"Mas Jo Mama lupa padaku...Mama tak sayang aku lagi... dimana kamu Mas Jo..." perasaan yang kecewa, sedih tak alang kepalang menghujam jantungnya, sehingga membuat Monik ingin kembali ke Leuwiliang.
Ratu
Menerima WA dari Monik tentu saja Ratu terkejut. Monik yang sudah setuju untuk kuliah di Jakarta, sekalian mencari jejak kakaknya, serta keinginannya bertemu mamanya begitu menggebu. Tapi kenapa mengirim WA begini?
Segera dihubunginya Monik. Tak diangkat walau panggilan masuk berulang kali terdengar. Berkali kali Ratu coba menghubungi Monik. Belum juga diangkat. Mungkin sedang ke kamar mandi, pikirnya. Tapi panggilannya yang berpuluh kali dan sudah hampir dua jam tak diangkat oleh Monik, membuat Ratu cemas.
Malam itu juga Ratu berangkat ke Jakarta. Sepanjang perjalanan yang memakan waktu tiga jam lebih itu, terus menerus ia menghungi Monik. Tapi tak tetap Monik tak mengangkat teleponnya.
Sampai ke kamar kos Monik yang tak sempat dikunci oleh Monik, ternyata gadis itu pinsan.
"Monik...bangun Monik..." panik Ratu Monik bagai orang tidur, " Maka sadarlah Ratu bahwa Monik pinsan, apalagi saat merasakan denyut nadi Monik sangat lemah. Kalau dihitung dari pertama menelepon Monik hingga saat ini, berarti gadis yang begitu disayanginya itu pinsan selama lima jam lebih.
Dibantu oleh penghuni kamar kos lainnya Ratu membawa Monik kr Klinik. Maka segerakah diambil tindakan. Keadaan Monik yang sangat lemah segera diberi infus.
"Adik Mbak Ratu ini perlu istirahat di sini dulu malam ini, karena sangat lemah, " dokter yang bertugas memberitahu.
."ya, Dok, ".angguk Ratu, "Tapi keadaannya bagaimana, Dok?"
"Adik ini sebentar lagi juga siuman, fisiknya terlalu lelah, jadi biar malam ini sampai besok istirahat total di sini..."
"Ya, Dok, terima kasih, " angguk Ratu legah.
."Nanti kalau sudah siuman tolong dibantu untuk minum teh dan makan bubur, ya, " ujar dokter saat suster meletakkan segelas teh panas dan semangkok bubur.
"Ya, Dok, "
"Adik ini dari pagi belum makan, ya, itu yang membuatnya lemah, tapi nanti juga akan kembali seperti biasa, " lalu memeriksa denyut nadi Monik, "Sudah stabil, " ujarnya menoleh pada suster yang mencatat riwayat kondisi pasien barunya itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian Monik sadar. Ratu sangat senang menatap gadis yang sembab matanya,.karena kebanyakan menangis tadi.
Ratu langsung mencium pipi Monik dengan senang.
"Kak Ratu di sini, atau aku sudah di rumag bukit Kak Ratu?" Mata Monik mengitari sekitarnya.
"Nanti ajah ngobrolnya, ya, sekarang yang harus dilakukan minum teh dulu..." sambut Ratu langsung menyendokkan teh ke mulut Monik beberapa kali.
Perut kosong Monik langsung terasa hangat saat teh setengah panas beberapa sendok masuk je lambungnya.
"Aku dinfus, Kak Ratu?" Monik terbelalak.
"Ya, karena badanmu lemah belum makan dari pagi, kenapa mau diet." canda Ratu, "Ayo sekarang makan buburnya, " disodorkannya mangkok bubur pada Monik.
"Maaf Kak Ratu aku sangat Shock, jadi aku nggak kuat lagi tadi, " ujar Monik.
"Ya, ayo dimakan dulu biar pulih tenagamu,"
"Ya Kak Ratu, " pikirannya yang tak sesuntuk saat sendirian di kamar menangisi kesedihannya, membuatnya menghabiskan semangkok kecil bubur nasi yang disediakan klinik.
"Hem sudah agak segar..."
"Jadi Kak Ratu dari Leuwiliang ke tempat kosku, Kak?"
"Ya, sudah nggak usah dibahas, sekarang yang penting kamu bisa jaga staminamu. Hidup dengan pola pikir yang optimis, jangan ada kepesimisan, semangat dan penuh percaya diri, biar selanjutnya keberhasilan kita Yang Maha Esa yang menentukan, " ujar Ratu memberikan pandangan pada Monik.
"Ya, Kak," angguk Monik.
"bBagaimana mau melawan musuh kalau tubuhmu lemah, kan aku sudah katakan, jangan lupa minum teh atau apalah kesukaan kamu, makan yang cukup bagaimana pun keadaan hati kita, jangan terlalu terbawa perasaan, hal begini sering terabaikan, nah, badanmu lemah jadinya, seorang yang memiliki ilmu bela diri atau kanuragan harus menjaga keadaan emosinya..." lagi nasehat Ratu.
"Ys, Kak, "
Saat Monik sudah kembali ke kosnya, barulah gadis itu menceritakan kejadian di Mal.
"Mama tak mau mengakuiku..." lagi lagi Monik menangis.
"Tenang Monik, perpisahan kalian kan tak seperti perpisahan pulang kampung, tapi dengan air mata dan tragis," ujar Ratu dengan pola pikir yang berbeda dengan Monik. "Nanti bakalan banyak kejadian yang akan kamu alami, jangan langsung memvonis..."
Monik menatap Ratu serius.
"Jangan langsung menerima mentah mentah sikap mamamu, mungkin ada penyebabnya, ada yang harus dipertimbangkab, atau ekstrimnya mungkin demi nyawamu dan nyawa kakakmu makanya mamamu bersikap menyakitkan begitu, " hati hati Ratu menjabarkan, "Tak ada seorang ibu yang akan membuang anaknya..."
Monik terdiam. Berarti mamanya pura pura tak kenal dengan dirinya karena diancam seseorang. Tapi mungkin juga bisa begitu.
"Padahal hati mamamu itu sangat hancur memperlakukanmu seperti itu, " lanjut Ratu lagi.
Monik terdiam. Ucapan Ratu ia cernah baik baik.
"Umurmu masih muda, tapi ayolah belajar untuk menyikapi sikap mamamu itu dengan pikiran jernih, jangan kedepankan kecengengan, dan harus diingat mama itu wanita yang mengandungmu dulu, "
Setelah dapat pencerahan dari Ratu, barulah pikiran Monik terbuka, dan ia setuju mamanya ditekan atau diancam seseorang..."
"Lalu tentang kabar yang menyebut Mama isteri dari pemilik Mal?" Monik tampak tak suka.
"Ini juga ujian untukmu kalau memang benar. Bersabarlah dengan kesabaran kita bisa berpikir jernih. Nah setelah itu baru kamu selidiki apa yang melatarbelakangi sikap mamamu, dan kenapa mamamu tahu tahu sudah menikah lagi..."
Bersambung
__ADS_1