
Ratu terkejut saat di depan rumahnya sudah duduk di atas bale bale Herman. Enam tahun lebih.tak bertemu lelaki itu semakin kekar badannya.
"Hai Ratu mantanku, " sapa lelaki yang menguasai ilmu beka diri, namun masih tak puas sebelum bisa menguasai ilmu warisan Ratu.
"Assalamu'alaikum, Herman, angin apa yang membawamu kemari?"
"Wa'alaikum salam..." Herman berdiri, ia tak boleh kasar pada perempuan yang memiliki ilmu langkah di jaman modern ini.
Ratu duduk di bale bale di sebelah Herman.
"Apa tak boleh silaturahmi. Kita, kan mantan suami isteri, ya, walau semasa kamu jadi isteri aku nggak ada kepercayaan untuk memberiku ilmu yang sangat kuinginkan, " rupanya Herman masih saja mencoba menggugah perasaan Ratu. Siapa tahu selama berpisah mantannya ini berubah pikiran. Namanya coba coba.
"Lupakanlah soal ilmu itu, Her, kayak jaman dulu ajah mau menumpas penjahat..." sengaja Ratu tertawa santai.
"Nggak ada salahnya, kan, untuk jaga jaga, " santai suara Herman mengawasi Ratu yang terlihat tetap muda dan terkesan cuek seperti dulu."Oh ya nggak dipersilahkan masuk, nih..."
"Oh ya silahkan..." Ratu berdiri lalu berjalan ke pintu.
Herman pun ikut berdiri, tapi rupanya kepalanya menyenggol pot kembang yang digantung dan kebetulan basah karena tersiram air hujan. Hal itu membuat bahu kiri jaketnya basa dan kotor oleh air tanah.
."Jaketmu kotor sedikit, kalau mau biar kubersihkan dulu, " ujar Ratu menawari.
."Masih mau nyucui?" Herman berbasa basi.
"Bukalah jaketmu, " ujar Ratu yang diam diam waspada dengan dengan kedatangan lelaki itu.
Ratu terkejut saat Herman mrmbuka jaketnya ada terlihat tatto kalajengking berwarna merah.
"Salah seorang dari mereka ada yang bertatto kalajengking merah di bawah lengan kanannya..." terngiang cerita Monik dulu. Apakah mantan suaminya itu ikut terlibat dalam pembunuhan papanya Monik?
"Kok jadi bengong..." suara Herman mengagetksn Ratu.
Segera ratu menyiramkan air bersih dari pancuran yang tersedia di depan gubuknya. Sambil membersihkan lengan jaket Herman, pikiran terus menebak nebak. Herman yang kerap ikut jaringan penjual narkoba dulu, hal yang memicu pertengkaran mereka, hingga berpisah. Apakah lelaki itu semakin melebarkan sayap kejahatannya dengan menerima order pembunuhan?
Bergidik Ratu. Harus hati hati pasti kedatangannya ada maksudnya. Atau entahlah Ratu tak mau berprasangka buruk. Bahkan jika Allah mengabulkan ia ingin Herman berjalan di jalan.yang diridhoNya.
Selesai bahu dan lengan jaket Herman dibersihkan. Karena masih basah dan tak mungkin bisa kering walau dikipas satu jam. Maka Ratu terpaksa mengerahkan ilmu pembakar sejuk. Terkejut Ratu karena kerahan tenaga dalamnya sudah maksimal, tapi lengan jaket yang basah itu tak langsung hilang seketika.
"Ratu setelah engkau mewariskan semua ilmumu pada seseorang yang kamu percayai, maka kekuatan ilmu yang ada padamu akan berkurang..." teringat ucapan kakeknya dulu.
"Kok bisa, kek?" Ratu terperangah, karena banyak film dilat dan buku silat yang dibacanya.yak demikian. Bahkan sang guru membagikan ilmu kesaktiannya pada banyak muridnya, dan sang guru tetap denga kedigjayaannya.
"Karena ilmu kanuragan warisan keluhur kita bukan untuk dibagi rata. Hanya orang pilihan yang bisa menguasainya. Nah ilmu ini hanya dimiliki tunggal oleh pewarisnya, sementara pemberi warisan ilmu itu sendiri akan kehilangan banyak kekuatannya,"
"Oh begitu, Kek?" Ratu baru mengerti.
"Ya, jadi kamu yang akan mewariskan ilmumu harus berpikir baik baik jangan salah pulih orang..."
Ratu tersenyum, ia merasa tak salah orang. Monik memang murid yang tepat. Gadis malang itu sangat memburuhkan pengamanan untuk dirinya, mengingat musibah yang terjadi pada orang tuanya.
Memerlukan lima menit untuk mengeringkan lengan baju Herman yang basah. Tak bisa spontan seperti sebelumnya, sebelum kekuatannya ia transfer pada Monik.
Herman menerima jaketnya yang sudah kering seperti semula, "Apa kekuatanmu sudah hilang tak mampu mengeringkan basa seketika seperti dulu?" Sindirnya sambil memasuki gubuk yang dulu pernah ditinggalinya beberapa tahun.
__ADS_1
Ratu hanya tersenyum.
Tapi Herman tak menyangkah kalau Ratu sudah kehilangan srbagian besar kekuatannya. Dari dulu mantan isterinya memang tak tergesa gesa untuk mempergunakan ilmunya kalau tak terpaksa.
"Silahkan duduk, situasinya tetap sama seperti dulu, " ujar Ratu yang telah mengatur kembali semua di gubuknya seperti dulu. Bahkan tempat tidur untuk Monik sudah ia kembalikan ke posisi semula sebagai bale bale bukan tempat tidur. Semua sudah ia pikirkan.
Herman duduk dan Ratu menyajikan wedang jahe andalannya. "Wah masih sedap seperti dulu, " ujar Herman setelah meneguk lebih dari setengah wedang jahe di gelas.
."Ada keperluan lain?" Ratu duduk di ujung bale bale.
.Tempat ini tetap seperti dulu. Apa tak pernah ada yang menginap di sini?" Herman mulai memancing.
Ratu tertawa santai, "Maksudmu suami?" Sengaja memang perempuan itu membelokkan percakapan ketopik suami, "Nantilah muda mudahan ada jodohnya, ".lanjutnya.
"Hem..." hanya itu tanggapan Herman yang sebenarnya dari gerak gerik dan sorot matanya ke bebagai sudut di gubuknya seperti mencari sesuatu.
. "Oh ya terus terang saja, enam tahun lalu ada gadis kecil terjatuh ke jurang terjal dekat parit di ujung sana apa kamu pernah dengar?"
Deg! Ratu terkejut. Tapi pura pura biasa saja.
"Oh kasihan amat pasti sudah matilah, " ujarnya asal nyeplos. Memang disengaja dia berkata begitu."La enam tahun lalu kan udah lama, kok aku nggak dengat, ya..." akhting Ratu sangat sempurna.
"Tapi kayaknya, sih, anak itu selamat, tapi kalau nggak salah dia kurang waras gitu..."
Ratu jadi teringat kejadian yang dialami oleh Monik. Kenapa cerita Herman menjurus ke Monik. Ada dipihak mana Herman sebenarnya, hem hati kecilnya mengatakan bahwa lelaki itu di pihak musuh. Oh!
"Tapi sebenarnya sih, mustahil anak itu bisa selamat sebenarnya, kalau nggak ditolong seseorang yang punya kemampuan ilmu..." Herman mulai menggiring opini sambil memperhatikan Ratu diam diam.
"Kamu benar tempat itu curam dan paling tidak bisa patah tulang, atau terseret air parit yang kadang pasang, tapi Alhamdulillah sekarang jurang itu sudah ditimbun, dan air parit yang curam itu sudah dijadikan aliran untuk mengairi sawah penduduk, "
Malam itu Ratu berkunjung ke rumah pemilik toko tempat ia menjual hasil jahitannya. Anak pemilik toko dikhitan. Pulangnya memang malam dan ia naik angkot tapi angkotnya mogok. Satu jam menunggu, dan saat Ratu akan mempergunakan ilmu seringan kapas miliknya, muncul sebuah angkot dengan satu penumpang lelaki di depan dan satu lagi lelaki di belakang. Tanpa curiga Ratu langsung naik angkot yang berhenti di depannya itu. Dan si angkot ngebut dan tiba tiba saja memasuki jalan yang ditumbuhi pepohonan dan berhenti tak jauh dari jurang.
Ternyata ketiga lelaki di angkot termasuk sang sopir adalah perampok. Salah seorang mengeluarkan pisau menakut nakuti Ratu.
"Turun...!" Bentaknya.
Ratu turun.
"Ikut ke sini..." sipemegang pisau sok sekali menarik tangan Ratu diikuti yang lainnya dengan tertawa senang.
"Kita bersenang senang..." seru salah seorang dari mereka.
"Hem geulis pisan euy...nggak apa kurus juga, " seru satunya satunya memuji kecantikan Ratu.
Tapi sebelum mereka sempat berbuat kurangajar, segera Ratu memberi gebrakan, hingga ketikanya jungkir balik.
"Eh ayak imuna...".seru salah seorang dari mereka yang menyadari kalau perempuan yang akan dilecehkannya punya ilmu.
Mereka serentak menyerang Ratu membabi buta dan serabutan, sehingga membuat Ratu tak menemukan kesulitan untuk mengadukan kepala mereka bertiga.
"Auuuww...!"
"Sakit euy...!"
__ADS_1
"Aduh...!"
Tak mau memberi ampun untuk ketiga cecunguk supaya jerah tak meremehkan perempuan, maka segera Ratu mengibaskan kakivdan tangannya dengan sedikit mempergunakan ilmu Seringan Kapasnya. Hingga bersamaan mereka bertiga terpental oleh kibasan dan tendangan sabetan kedua kakinya yang telah pula sedikit ia aliri Ilmu Pembakar Sejuk, hingga ketiganya merasa kepanasan, dan ambruk ke tanah. Dan tertatih menghambur menjauh dari Ratu yang berdiri sambil tertawa.
"Kakiku panas...!"
"Kakiku terbakar...!"
"Ih demit...!".seru salah satu dari mereka . Dan sengaja Ratu semakin menertawakan mereka yang semakin ketakutan.
Saat itulah Ratu melihat sesuatu menggelinding dan masuk ke jurang. Tapi disertai jeritan anak keci menanggil seseorang.
"Mas Jo...!"
Ratu langsung melompatbke jurang, dan ternyata gadis kecil yang terguling ke jurang itu nyangkut di ranting. Segera Ratu mematahkan ranting dan menyanggah tubuh Monik yang sudah tak sadarkan diri.
Itulah awal mulanya Ratu tahu Monik terjatuh ke jurang dan segera menolongnya.
Herman tampak kecewa.
Ratu pun semakin kecewa karena ternyata mantan suaminya itu tak juga insyaf, bahkan memata matai Monik.
Setelah Herman pulang, segera Ratu menelepon Monik, "Monik sayang semakin hati hati, ya, barusan ada yang mencari tahu tentang dirimu yang jatuh ke jurang dulu, ada tatto kajengking merah di bawah lengan kanannya..."
"Ya, kak Ratu, tapi kak Ratu nggak diapa apain, kan?" Monik tak sadar akan kemampuan Ratu ia cemas.
"Tenang sajalah, " seru Ratu.
"Ya Mama juga kirim WA, kayaknya Kak Ratu benar, Mama dalam masalah..."
"Hati hati sayang, ingat jaga stamina, jangan sedihmu mempengaruhi kekuatanmu..."
Hubungan telepon terputus. Ratu sadar kekuatannya jauh dibawah Monik saat ini. Tapi, paling masih bisa membantu gadis itu kelak jika memang dibutuhkan.
Ada WA masuk dari mamanya.
"Tak perlu dibalas, hati hati sayang kamu mulai jadi target!"
"Oh!" Monik terkejut. Aku jadi target. Tapi target siapa, duh Mama kenapa nggak ngejelasin, siapa yang memburu aku?
Pembunuh papakah atau siapa orangnya.
"Farel juga dicari..." WA mamanya lagi.
Farel juga diburu?!
Monik panik. Kenapa pemuda itu jadi diburu? Apa karena menolong membebaskanku dari si meneger yang menahanku?
Monik bingung. Bagaimana caranya memberitahukan pada Farel supaya hati hati. Duh, kenapa orang nggak salah jadi target juga. Kan kasihan. Duh gimana caranya untuk memberitahu dia, terus gimana kalau dia menertawakanku. Farelkan nggak boleh tahu kisah orang tuaku.
Tiba tiba Monik teringat pada gadus tupai. Di komentar ada mas Jonya yang mengirim sinyal. Hem, gimana caranya untuk bisa komunikasi dengan mas Jo. Sebaiknya aku buat email baru untuk login membalas komentar mas Jo. Hem maafkan aku harus pakai alamat rumah papa dan mama yang dulu. Jadi kalau dilacak biar ke sana. Dan nomor telepon aku pakai telepon papa yang dulu. Dan aku akan memakan akun Jovi, yang artinya Johan Vina.
Monik tersenyum menemukan ide untuk komunikasi diemail dengan kakaknya, dan bisa janjian bertemu.
__ADS_1
"Duh kenapa aku jadi telme sih, dari kemarin?" Monik menepuk jidatnya sendiri. Kata Kak Ratu aku tak boleh terbawa perasaan. Itu bisa membuat badanku lemah. "Yes mas Jo kita bermain kata..." ujarnya sangat gembira menemukan ide untuk membuka percakapan dengan mas Jonya.
Bersambung