
Di kamar hotel yang remang Joan dan Liza saling pandang. Liza menatapnya dengan sepenuh hasrat untuk bercinta. Rasanya ingin setiap hari bersama pemuda ini.
Lain yang dipikirkan Lisa lain pula yang ada di benak Joan. Ah l, aku melakukannya untuk ibu gadis yang kusukai. Kamu ternyata pelakor. Uang dari suami orang lalu kamu hamburkan membeli tubuhku demi kepuasanmu. Oh celakalah kalau semua perempuan sepertimu..."
"Jo..." merdu mendayu seperti biasa suara Lisa di telingah Joan, dan lengannya merangkul manja pundak pemuda yang selalu saja membuat ingin bermimpi.
"Ya, " Jo sedang memikirkan camera yang terpasang dalam posisi 'on' di sudut kirinya, artinya posisi dirinya menyamping, terlihat di camera hanya bagian samping badan dan belakangnya. Namun tidak bagi Lisa. Perempuan itu jelas penamkannya.
"Apakah kamu mau gini terus, apa nggak mau keluar untuk hidup normal punya isteri gitu?" Lisa mulai mendekatkan wajah ke muka Joan.
"Ya haruslah..." tegas ucapan Joan.
"Kalau gitu kita pisa?" Lisa mulai merajuk, "Atau kita masih bisa bertemu diam diam? Sudah punya kekasih?" Beruntun pertanyaan Lisa, dan Joan tak mau melayani pertanyaan yang terselubung maksud tertentu itu. Ia ingin segera menyudahi permainan kotor yang tak pernah dipungkirinya, walau terjebak dan terpaksan dirinya kelak akan menerima azab pada hari kematiannya. Itulah yang ingin dihindarinya, bertaubat untuk tidak mrngulang, meminta ampun pada Yang Maha Mengetahui, dan Memberinya kehidupan.
Indira tersenyum saat Joan mendatanginya tempat kerjanya, dengan foto adegan ranjang Lisa dengan dirinya. Foto dibuat saat Lisa memeluk Joan yang membelakangi camera, dalam keadaan mereka satu selimut. Wajah Lisa sangat jelas. Ada dua versi. Satunya saat Lisa membelai rambut Joan, yang juga membelakangi camera.
"Terima kasih, ya, Jo, " bagi Indira foto ini cukup membuat suaminya kembali pada rumah tangganya, "Oh ya cutimu sudah selesai hai Sarjana Hukum?"
"Lisa yang terakhir..."
"Maksudmu?" Indira tertarik.
"Saya mau mengakhiri pekerjaan ini, "
"Oh itu bagus, " bukan main senangnya Indira mendengar itu.
"Sudah cukup maksiat dan dosa melumuri tubuh saya, Bu Indira, apa pun alasannya azab Allah pasti saya terima, dan saya yakin gadis yang saya cintai pasti menolak noda yang ada pada diri saya, "
Indira terpanah menatap Joan yang tampak resah raut mukanya itu. Tak salah menilai. Sejak pertama melihat anak muda ini di kamar hotel, ada firasat bahwa Joan pemuda baik. Namun begitu dirinya merasa belum waktunya untuk memberinya nasehat supaya jangan menjadi pemuda yang merugi. Perlahan ia akan mengadakan pendekatan pada Joan untuk menyadarkan pemuda itu. Tapi, rupanya Joan datang dengan niatan mulianya, menjauhkannya dari maksiat.
"Allah maha tahu, semoga kita kita yang salah jalan dapat pengampunan, Jo..."
"Aamiin..."
"Masalah gadis yang kamu cintai memang harus dipilih yang lapang dada menerima masa lalumu..."
.."Apa masih ada yang mau menerima orang sekotor saya, Bu?"
"Tergantung pribadi gadisnya, kalau dia sangat mencintaimu, dan alasanmu terjebak dalam noda hitam bisa diterimanya, atau karena kamu betul betul bertobat, ya, maybe dia bisa terima?"
Joan masih diam.
"Atau arternatif lain barangkali kamu merahasiakannya?"
Joan menghelana napas. Manamungkin aku merahasiakannya, sedangkan gadis yang kutaksir adalah anak gadismu yang bernama Rinda, Bu Indira, keluh batinnya.
"Tapi biasanya kita itu selalu resah dan merasa bersalah jika menyembunyikan masa lalu kita pada pasangan. Tapi sebaiknya kita menyimpan aib kita serapih mungkin, " ujar Indira karena memang sebaiknya seseorang itu jangan menyebar aibnya sendiri pada orang lain.
"Jo..."
__ADS_1
"Ya, Bu..."
"Kalau ibu bertanya boleh?"
"Masalah aib tadi, Bu?" Joan tampak lesu.
"Maaf Ibu sudah terlanjur tahu apa masih boleh bertanya?" Indira juga tak memaksa jika Joan tak mau melanjutkan percakapan seputar kehidupannya."Tapi tak apa kalau pembicaraan sampai di sini saja, " lanjutnya tak membuat pemuda itu serba salah.
"Ih silahkan, Bu tak mengapa, barangkali Ibu Indira bisa memberi solusi pada saya..." ujar Joan buru buru dan membuang jauh kelesuan yang menderanya sejak kemarin Siril memulai "jadwal kerjanya'
"Bagaimana ceritanya sampai kamu berada dalam komunitas yang akan kamu tinggalkan itu...?" Pertanyaan pertama Indira.
"Papa saya dibunuh orang waktu saya umur sekitar lima belas tahun lebih..." raut muka Joan tampak sedih, lalu menceritakan kisah tragis keluarganya.
"Oh maafkan Ibu telah membuatmu teringat kisah sedih itu, Jo, " sungguh Indira tak menyangkah pemuda itu mengalami masa kecil yang menyedihkan.
"Saya menyetujui permintaan tante Siril untuk patuh dan menurut perintahnya asal disekolahkan dan dilindungi dari penculik. Dan setelah lulus es em u, aku dikuliahkan dengan catatan harus mau melayani komunitasnya, " terdiam Joan, tampak sedih, "Terpaksa, Bu, karena saya sambil mencari adik dan Mama saya, dan maaf saya melakukan itu dengan obat perangsang, karena jika tidak saya jijik..." tertunduk Joan.
Indira mengangguk anggukkan kepala merasa ibah dan terharu pada jalan hidup Joan.
"Saya tahu tak muda bagi tante Siril melepaskan saya, resikonya nyawa saya..." apa yang dikatakan Joan itu bukan mengada ada. Tapi nyata. Siril dan suaminya yang sudah tua itu mempunyai beberapa body guard. Atau bisa saja Siril mendatangi penculiknya dulu, karena waktu itu Siril sempat berbicara dengan penculiknya saat dirinya sembunyi di bawah jok belakang mobil perempuan itu.
"Oh saya tidak lihat, " itu jawaban Siril waktu penculik dirinya bertanya.
"Kalau begitu ini no telepon saya jika Anda barangkali melihatnya, " dan penculik itu memberikan nomor teleponnya. Dan Siril menyimpan nomor penculik dirinya.
Mendengar semua itu Indira semakin cemas akan keselamatan Joan. Namun jika tak nekat maka selamanya akan berada di bawah perintah perumpuan yang memperbudaknya sebagai pemuas nafsu perempuan perempuan yang menyetor uang demi nafsu terlampiaskan.
"Dimana ada niat baik di sana ada jalan..." gumam Joan. Ia sudah tak bisa lagi berdiam diri. Adik dan mamanya kini prioritas utamanya. Sebagai sarjana paling tidak dirinya bisa menanggung hidup mama dan adiknya walau dalam kesederhanaan.
"Aku mendoakanmu, Jo, " sungguh Indira sangat terharu dan salut pada tekat pemuda di depannya.
"Ibu Indira saya pamit, dan ini..." Joan mengeluarkan amplop diletakkan di meja.
"Apa ini, Jo?"
"Ibu tak perlu membayar saya..."
"Jo, ambillah Ibu ikhlas, kok..." Indira memaksa supaya uang yang sepuluh juta yang diberikan pada Jo malam itu diterima pemuda itu.
"Maaf Bu saya nggak bisa menerima uang itu, lagipula perempuan nggak beres seperti Lisa memang perlu dibuat kapok," dan ucapan Jo tak salah, karena semalam menawarkan rumah dan mobil jika saja pemuda itu mau menikah dengannya.
"Lelaki tua yang menikahiku secara sirih ada isterinya, Jo, biar ajah dia kembali ke isterinya setelah seluruh hartanya pindah padaku..." begitu ucapan Lisa, "Manamungkin aku puas dengan lelaki itu, dia hampir tiga puluh tahun di atasku umurnya..." dan Joan semakin geram saja mendengarnya.
Joan meninggalkan ruang tamu di ruang kerja Indira dalam pandangan haru perempuan itu.
"Semoga kamu baik baik saja, Jo, dan bisa bertemu mama dan adikmu..."
\*
__ADS_1
Sudibyo serta Herman dan dua anak buah Herman sedang berunding. Sungguh mereka tak tahu kalau Vina sudah meletakkan alat rekam di balik pajangan yang menempel di dinding, sehingga apa yang mereka rencanakan semua dapat diketahui Vina.
"Si Varel itu kokbelum terlacak, ya..." Sudibyo tampak tak sabar.
"Fakultas hukum di Jakarta ini banyak, Pak, berapa puluh Universitas yang ada di Jakarta ini, tenang saja, polisi pasti bekerja dengan cermat, "
"Betul juga, " angguk Sudibyo yang selalu terbayang ucapan terakhir Johan.
"Anak anakku akan menuntut balas padamu..!"
"Lalu bagaimana dengan mantan isterimu yang tinggal di perbukitan itu?" Sudibyo menatap Herman, bukankah dulu Monik hilang di sekitar sana, Her?" Sudibyo menatap tangan kanannya itu.
"Ya, Bos, tapi kayaknya Ratu nggak tinggal dengan anak itu, tapi bisa saja Ratu berbohong, saya akan ke sana lagi, Bos "
"Oke datangi lagi, " ujar Sudibyo."Segala cara kita usahakan menemukan anak.itu
"Baik, Bos, " angguk Herman.
"Semua jalan kita lakukan, kalau anak perempuan itu kita temukan, tinggal cari kakaknya, atau benar Farel itu anak pertama Johan, kalau begitu mereka sudah membayangi kita.."
Vina sangat geram akan pencarian kedua anaknya itu. Sebagai seorang ibu ia yakin Farel bukanlah Joan. Sudibyo yang dibayang bayangi ucapan Johan itu tak tahu kalau Vina memata matai tencananya.
Sebenarnya Vina sudah lelah berpura pura hilang ingatan. Ia merasa tersiksa menanggung rindu pada Moniknya, juga cemas memikirkan Joan yang belum ketahuan keberasaannya.
Terlebih adalah sebuah siksaan batin yang teramat sangat saat harus melayani lelaki itu sebagai isterinya. Batinnya menjerit setiap bersama Sudibyo. Luka berdarah darah sanubarinya setiap menerima kasih sayang lelaki yang menginginkan kematian kedua anaknya.
Monik, Jo, maafkan mama belum bisa menolong kalian. Tapi percayalah Mama masih akan mencari cara pembunuh papa kalian diseret ke penjara.
"Hei belum tidur sayang..." Sudibyo masuk ke kamar, beruntung lampu kamar sudah berganti dengan lampu redup untuk tidur. Sehingga resah di wajah Vina tak terlihat.
"Belum..." tapi suara Vina yang agak bergetar tak dapat ditutupi, hingga membuat Sudibyo langsung mendekat.
"Kenapa suaramu sayang, apa yang dirasakan?" Sudibyo duduk di tepi tempat tidur, membungkuk hingga raut mukanya tepat berada di atas wajah Vina.
Sungguh Vina ingin berpaling, bahkan menonjok muka yang masih menatapnya lekat itu.
"Aku tadi batuk jadi tenggorokanku masih gatal..." sebisanya Vina memberi alasan.
"Aku telpon dokter..."
"Nggak usah...!" Vina terkejut, reflek tangannya menarik tangan Sudibyo yang akan menyalakan lampu. Huh, segera ia lepas tangan itu."Aku sudah minum obat mau tidur ngantuk..."
"Yakin?" Sudibyo malah mengelus rambutnya dengan tatap penuh perhatian. Huh jijik rasanya tangan kotor itu menyentuh rambutnya.
Pura pura menguap, lalu menarik selimut dan berbalik membelakangi Sudibyo yang kini malah berbaring di sebelahnya.
"Johan maafkan aku bukan bermaksud mengkhianati cinta kita..." pilu batinnya menyerukan nama suami yang begitu dicintainya.
ikuti terus ceritanya, ya....
__ADS_1