
Pagi hari datang. Kokok ayam sahut menyahut mewarnai matahari yang baru mengintip di balik rimbun pohon di belakang bukit.
Di dapur perempuan pemilik rumah mungil di bawah bukit itu sedang menjerang air yang telah diberi jahe bakar, yang dibubuhi gula aren.
Bara api yang berasal dari kayu yang terbakar menjilat pantat panci. Saat air jahe mendidih, segera mengangkat panci, lalu mrnggantinya dengan setengah cangkir beras yang sudah dicampur air untuk bubut. Meniup semprong yang pada kayu bakar yang mulai mengecil nyalanya, terbuat dari bambu yang lingkarannya sepegangan tangan. Saat api membesar segera menambah kau yang dijejalkan pada tungku dimana air yang memasak beras untuk dijadikan bubur bergolak.
Kemudian perempuan itu menuang air jahe ke dalam dua gelas. Aroma jahe memenuhi dapur. Menggoda untuk diseruput. Lslu ditutupnya kedua gelas itu, supaya panas isinya tak cepat menguap. Ditolehnya tungku yang masih menyala api dari kayu kayu kering itu.
Sebelum meninggalkam dapur untuk membawa dua gelas wedang jahe, ia membungkuk di depan tunggu, memasukkan kayu yang terbakar otu jauh lebih ke dalam. Lalu mengaduk beras yang sudah larut dengan air, dan segera meninggalkan dapur.
Di kamar dimana gadis kecil itu sudah terbangun. Merasa aneh juga mendengar kokok ayam. Segera ia duduk, mengamati sekitarnya.
"Aku dimana ini bukan kamarku, " batinnya sambil mengitari sekitarnya dengan bola matanya. Yang ditidurinya sebuah trmpatvtidur kayu yang berkasur busa tipis. Ada meja kecil, ada lemari sederhana dan sebuahbtempat tidur yang lebih besar dari yang ditempatinya, ada di ujung dekat jendela. Udara dingin atap serta dinding papan kamarnya, hingga ia merasa kedinginan.
"Oh...!" Gadis kecil itu kini menangis, "Mama... Mas Jo....!" Lalu menangis ketakutan.
Perempuan yang memasuki kamar dan membawa dua gelas wedang jahe, segera meletakkan kedua gelas yang sebenarnya sangat panas jika dipegang orang lain itu, di atas meja kayu sederhanana. Satu satunya meja yang ada di kamar itu. Memandang gadis kecil itu yang terisak mengucek matanya.
"Adik kecil yang sabar ya, tenangkan hatimu. Jika hatimu tenang apalagi mendoakan mereka, Papamu, mamamu dan kakakmu, mudah mudahan mereka juga tenang..."
."Mama juga bilang begitu..." teringat ucapan mamanya.
"Sayang kalau tidur berdoa, supaya tidur kita tidak diganggu setan. Kalau kita sedang sedih jangan lupa berdoa, supaya hati kita tenang, "
"Ya Mama, " angguk gadis kecil itu mengerjap, "Kalau aku kangen Mama ...?"
"Berdoa juga, " angguk mamanya.
"Ya, Mbah Siti juga bilang begitu anak anak kangen pada orang tua, pada kakak dan adik jangan lupa berdoa..." lanjutnya menirukan ucapan guru mengajinya.
"Anak pintar..." anak dan mama itu berpelukan.
"Nah benarkan dengan berdoa kita tenang, " ujar perempuan itu.
"Guru mengajiku juga bilang begitu, " ujar gadis kecil itu semangat.
"Nah ayo berdoa supaya mereka ..."
"Mama dan Mas Jo akan baik baik ajah, " potong si gadis kecil.
"Ya ayo berdoa..." ujar perempuan itu memberi semangat dengan mengelus pundak gadis yang kemudian menangis lagi.
Berdua mereka memejamkan mata, hingga beberapa menit kemudian perempuan itu bersuara.
"Ya Allah Tuhan kami yang maha pengasih mohon punkan dosa kami, ampunksn dosa papanya adik kecil yang bersedih ini. Berikanlah dia trmpat yang layak di Surgamu, ya, Allah..."
"Aamiin..." sambut gadis kecil itu terisak, lalu ia melanjitkan, "Lindungi juga Mamaku yang baik, Ys Allah, kalakku Mas Johan semoga dia tidak dipukuli lagi kasihan..." isakan gadis kecil menjadi tangus yang sesungguhan.
"Aamiin..." seru perempuan itu merangkul gadis kecil yang mengakhiri doanya dengan sedunggukan.
"Aamiin..." gadis kecil itu membuka kedua matanya. "Tapi aku takut Mama dan Mas Jo diapa apain mereka, kan, semuanya orang jahat? Hu...hu...hu..."
"Kan kamu tadi sudah berdua, tenang saja serahkan semua pada Allah yang menciptakan seluruh isi dunia ini, oke?"
"Anak papa walau.perempuan nanti harus jadi perempuan yang kuat. Menjaga Mama. Bersama Mas Jo yang akut..." papanya memeluknya penuh sayang. Ingat akan bayangan itu si gadis kecil itu segera menghapus air matanya.
."Ya..." angguknya bergumam pelan.
__ADS_1
.."Nah begitu kan tambah cantik, " puji perempuan itu, "Bagaimana kalau kita minum wedang jahe gula merah dulu supaya udara dingin ini sedikit jadi hangat, "
Gadis kecil itu menurut. Tapi begitu menoleh pada gelas yang berisi wedang jahe, ia urung mengangkat gelasnya, karena isi gelas mengepulkan panas. Melihat itu si perempuan tersenyum. Tanpa ragu mengangkat gelas, lalu disodorkan pada gadis kecil di depannya.
"Masih panas, Kak, " geleng gadis kecil itu.
"Sekarang udah hangat pasti enak dan segar diminum saat dingin begini, " ujar perempuan itu tersenyum.
Gadis kecil itu mengernyitkan alisnya menatap gelas di tangan perempian penolongnya. Berkali mengucek matanya, tapi uap panas yang tadi dilihatnya sudah tak ada lagi. Apakah udara dingin pagi hari bisa langsung melenyapkan uap panas di dalam gelas itu?
"Ayo diminum, ambillah, " suara perempuan itu membuyarkan lamunan si kecil.
"Ya, " ujarnya, dan rasa herannya bertambah lagi saat memegang gelas. "Minum, ya, udah angat, kok, " benar memang tampaknya air di dalam gelas menghangat. Kok bisa, ya? Pikirnya.:Detelah minum wedang jahe kita menyusuri lereng bukit,bdingin, segar, kamu boleh mandi di pancuran, " sangat bersahabat suara perempuan itu.
Perlahan ia meneguk wedang jahenya, rasa hangat menyelusup ke dada dan bersinggasana di perutnya. Tiga tegukan terasa nyaman di tubuhnya. Lalu kembali meneguk wedang jahenya. Dan diam diam dari balik gelasnya ia mencuri pandang pada perempuan di depannya yang juga mengangkat gelasnya yang semula mengepulkan uap panas wedang jahe di dalamnya. Saat dipegang seketika uap itu menghilang, dengan tenang perempuan itu meneguk wedang jahenya yang kelihatannya sudah menghangat.
"Ouf dia bisa sulap..." gadis kecil itu membatin. Teringat akan sulap yang pernah ditontonnya di televisi, dimana si pesulap bisa mendinginkan air panas di gelas dalam sekejap saat gelas itu dipegang. Sama seperti yang dilakukan perempuan di depannya yang masih menikmati wedang jahenya.
."Wow dia orang sakti air panas bisa disulap jadi dingin...." ia bertepuk tangan waktu itu dengan rasa kagum.
"Bukan disulap jadi dingin, Dik, " ujar sang kakak yang panggilan kesayangannya adalah Mas Jo, "Tapi si pesulap sudah menyiapkan gelas yang sama diisi air dingin dengan yang diisi air panas itu...."
"Tapi..."
"Pesulap itu mempunyai kecepatan tangan untuk menukar gelas.yang sudah disiapkan. Mereka sudah terlatih.. hingga kita tak melihatnya, "
Tapi kalau perempuan di depannya tadi nggak nukar gelasnya kan? Atau seperti yang dikatakan mas Jonya sudah tersedia gelas yang lain berisi wedang jahe yang hangat, dan karena kecepatan tangannya ia jadi tak melihat dimana gelas pengganti disembunyikan, dan kapan ditukarnya. Nggak mungkin, kan, air panas langsung jadi hangat cuma dipegang gelasnya. Pasti kakak ini juga pesulap, pikir gadis kecil ini.
"Belum habis wedang jahenya?" Perempuan itu membuyarkan lamunan gadis kecil itu.
.."Belum, "
"Aku terbiasa minum susu kalau pagi hari, " jujur gadis kecil itu.
"Kalau begitu biar nanti kubelikan susu untukmu, "
"Oh maaf, Kak, jangan merepotkan, aku beberapa kali pernah juga dikasih Bik Ti minuman seperti ini, "
"Siapa Bik Ti?" Perempuan itu menatap si gadis kecil.
"Juru masak di rumah kami, "
"Oh begitu, "
."Ya, " tiba tiba gadis kecil itu menangis lagi, "Hu.. hu...hu..."
"Gadis kecilku kenapa kamu menangis, ingin minum susu, ya, nanti kubelikan..."
. "Bukan," geleng gadis kecil itu, "Aku kasihan Bik Ti, apakah dia juga diculk? Mang Karta sopir yang mengantarku dan Mas Jo sekolah, lalu Mbak Yam yang suka bersih bersih di rumah...."
Perempuan itu meraih bahu si gadis kecil, "Kita doakan semoga mereka tidak diculik, ya, "
"Ya, Kak..." lalu gadis itu membaca surat Al-fateha hingga selesai, "
"Aamiin ya Allah mohon lindungi Bik Ti, Mang Karta dan Mbak Yam dari orang jahat, " seru perempuan itu.
"Aamiin..." gadis kecil itu mengaminkan, dan perempuan itu semakin gemes dan suka pada si gadis kecil yang cantik dan berkulit bersih, serta berhati mulia menurut penilaiannya.
__ADS_1
Sejenak mereka berpelukan.
"Sudah tenang hatimu?" Bisik perempuam itu di telingah.si gadis kecil yang telah memikatnya.
"Masih sedih sebenarnya, " ujar gadis kecil itu jujur dan polos, membuat si perempuan tersenyum.
Perempuan itu mengambil gelas yang masih berisi setengah wedang jahe dari tangan gadis kecil itu, diletakkannya di meja.
"Jika aku menjadi dirimu mungkin tidak kuat, tapi Allah memberimu kekuatan. Kamu anak baik. Kamu anak manis..."
"Karena aku dipesan Papa untuk menjaga Mama, tapi..." lalu menangis lagi,"Hu..hu...hu... aku nggak bisa menjaga Mama, aku juga kehilangan Mas Jo..."
"Sayang antara mama dan anak itu memiliki ikatan batin yang kuat, nah jika kamu terus terusan menangis dan bersedih, maka batin mamamu tergetar, lalu kesedihanmu akan terkirim pada perasaannya,"
Rupanya ucapan perempuan itu mengena pada perasaan si gadis kecil. Seketika tangisnya terhenti. Sepasang mata bulatnya yang bersimbah air mata menatapnya lekat.
"Ya, " angguk perempuan yang mengerti arti tatapan gadis di hadapannya.
"Mau mamamu bersedih?"
"Nggak mau, "
"Nah jangan selalu bersedih dan menangis. Isi dadamu dengan mendoakan Papa supaya di terima di Surganya Allah, dan berdoa untuk Mama dan Mas Jo, minta Allah menolongnya..."
"Ya, Kak, " angguk gadis itu.
"Sekarang bagaimana kedua pipimu sudah tidak nyilu lagi?"
Gadis kecil itu merabah kedua pipinya bekas tamparan penculiknya semalam, "Masih sedikit nyilu, Kak, "
"Sabar, ya, besok juga sudah sembuh, aku membalurnya dengan tumbukan dedaunan supaya jangan membengkak, "
..."Terima kasih, Kak, " ucapan gadis kecil itu tulus.
"Bagaimana kakimu yang terluka?"
"Cuma beset dikit, kok, nggak apa, " ujar gadis kecil.
"Kalau begitu kita menghirup udara segar dulu, ya?"
"Kemana?" Gadis kecil itu tampak antusias.
"Di sekitar sini ajah, mau?" Ajak.perempuan itu.
"Mau..."
"Yuk..."
Gadis kecil turun perlahan dari tempat tidurnya dibimbing perempuan itu.
"Oh bajuku...?!" Gadis kecil itu memperhatikan baju yang kebesaran di badannya.
"Oh maaf, ya, semalam bajumu kotor dan sobek, sedangkan.aku nggak punya baju kecil untuk salinmu. Jadinya aku makaikan baju atasanku deh,"
"Nggak apa, Kak, lucu jadinya..." ujar gadis kecil itu tertawa sambil memperhatikan baju bercorak kbamg kembamg kecil warna hijau muda.
betakah gadis kecil itu di bukit?
__ADS_1
bersambung