Monik Gadis kecilku dulu

Monik Gadis kecilku dulu
Gadis tupai adik kecilku dulu


__ADS_3

"Halo, Rinda, " sapa Joan pada gadis yang beberapa bulan ini menjadi teman diskusinya.


"Wah lagi nyantai, Jo, " segera Rinda mengambil tempat duduk yang berseberangan dengan Joan.


"Kamu pesan minum apa?" Joan menatap gadis cantik satu kampus lain jurusan dengan dirinya, tapi sama sama menunggu hari wisudah.


"Juice apukat, " ujar Rinda.


"Makan?" Joan menawari.


"Cemilan ajah, deh, " sahut Rinda.


"Ayo pilih cemilan sesukamu, aku yang traktir, " tertawa Joan, dan kali ini uang yang kudapat halal, batinnya berseru. Memang begitu adanya, semalam mendapat sepuluh juta tanpa kerja.


"Wow udah keluar gaji mingguanmu?" Rinda yang tahunya Joan ikut bantu bantu temannya kerja, dan dibayar mingguan itu menggoda.


"Ya rejeki nomplok, " Joan tersenyum.


"Alhamdulillah aku selalu berdoa untuk pekerjaanmu, Jo..." senyum Rinda tulus pada pemuda yang ditunggu tunggu untuk menyatakan isi hatinya itu, tapi sampai mereka berteman dekat hampir tujuh bulan, tak ada ungkapan apa pun.


Joan meringis, duh, Rin, kamu jangan doain aku begitu, dong, oh Rinda masa aku harus jadi pekerja sek untuk tante tante tak bermoral itu?


Terus emang kamu mau punya temen dekat pemuda pemuas nafsu tante tante bejad itu?


"Heh kok nggak diminum, sih..." Rinda mengejutkan Joan dari lamunan buruknya.


"Oh ya, " segera Joan menyeruput juice jeruknya, lalu menghabiskan semangkok bubur kacang hijau.


"Lahap amat, ya," tersenyum Rinda melihat Joan lahap sekali makan bubur kacang hijau, hingga dalam waktu beberapa menit sudah tuntas, begitu juga juice jeruknya, fan sekarang memesan air mineral.


"Maklum anak kos, " ujar Joan melap mulutnya. Padahal ia patuh pada tip memelihara kesehatan, bahwa ia harus mengkomsumsi makanan yang bermanfaat untuk mengganti staminanya yang kerap terkuras selain vitamin yang memadai kalau tak mau badannya loyo.


"Iya, deh..".Rinda tersenyum.


"Doakan, ya, semoga aku dapat pekerjaan yang bagus..."


"Lho memangnya pekerjaanmu yang sekarang nggak bagus?" Rinda menatap Joan yang sedang meneguk air mineralnya.


"Ih maksudku kalau aku suda diwisudah bisa pindah kerja yang lebih sesuailah..." ujar pemuda yang selalu rajin memeriksakan kesehatan bagian organ intimnya pada dokter spesialis kulit dan kelamin itu.


"Oh gitu, pastilah aku doakan, " angguk Rinda menatap penuh perhatian pada pemuda yang kerap konsultasi pula ke dokter tentang dampak pemakaian obat perangsang pada tubuhnya itu.


"Terima kasih, ya, " Joan tersemyum, "Oh ya, kamu rencananya kuliah lagi atau magang dulu?"


"Mungkin magang di kantor Mama dulu, ya, sekalian bantu bantu Mama, dan cari pengalaman, " ujar gadis yang berkuliah di jurusan Psikologi, yang akan melanjutkan ke Psikologi klinis.


"Mamamu juga dari Psikologi?" Joan tertarik.


"Mama Psikolog, dan punya klinik dan pasiennya lumayan, "


"Oh ya?" Joan kagum.


"Aku suka ajah melihat Mama yang sering menangani mereka yang berkebutuhan secara spikis, " ujar Rinda yang memang memiliki tingkat keperdulian tinggi pada sesamanya.


"Kamu orang baik, kamu sangat perduli pada orang lain, nah coba pandang aku menurutmu apa yang kurang dan butuhkan padaku, Ibu calon konseling?" Joan lebih mendekat pada Rinda yang menyambutnya dengan tertawa kecil.


"Kalau pasiennya sepertimu begini para konseling langsung memutuskan..." diam Rinda menyembunyikan senyumnya.

__ADS_1


"Bilang apa?" Joan mendesak, bahkan lebih mendekatkan dirinya pada gadis yang tersipu itu.


"Angin anginan..." ujar Rinda tertawa kecil.


"Masak sih aku angin anginan?".Joan bertanya seakan dirinya betul betul pasiennya Rinda.


"Emang kamu angin anginan, terkadang tampak suntuk, terkadang terlihat banyak pikiran, kadang seperti kesal, dan sering pula ceriah..." Rinda terkejut menyadari apa yang diucapkannya adalah hasil pengamatannya pada pemuda yang sering dilihatnya termenung itu.


"Oh serius?" Joan tertarik.


"Ah itu kan hanya tebak main main saja, " ujar Rinda tak mau ucapannya itu membuat Joan tak nyaman.


"Aku percaya padamu, " ujar Joan serius.


"Ah lupakan saja, " sergah Rinda, "Oh ya kamu sudah lihat aksi gadis rupai?" Segera gadis itu memindahkan topik pembicaraan.


Joan terkejut, justru topik baru ini membuat jantung Joan berdebar. Kerinduan pada Monik yang diyakininya sebagai gadis tupai itu, begitu menggebu. Tapi demi masa lalu keluarganya, tentu saja Joan tak mau mengutarakan tentang penemuannya siapa sebenarnya gadis tupai yang sedang viral itu.


"Heh, kok malah bengong...?" Rinda mengejutkan Joan.


"Ya...ya... aku lihat, kagum...kagum..." ujar Joan seperti bergumam.


Rinda melihat ada gejolak dalam diri Joan, itu jelas pada sinar matanya yang menunjukkan sentimentil.


"Banyak yang ingin mencari gadis tupai itu..." ujar Rinda seperti.yang dibacanya dari berbagai sumber berits.


"Apa?!" Joan tampak terkejut, "Kenapa gadis itu harus diburu, biar saja toh nggak ngeganggu siapa pun..." sungguh pemuda itu resah jika sampai adiknya dijadikan target untuk ditemukan, "Keterlaluan..?!" Dengusnya tanpa sadar. Tapi segera ia tertawa begitu menyadari Rinda memperhatikannya, "Ah ada ada ajah, itu namanya kepo sama kebisaan orang lain..."


Tapi diam diam Rinda heran respon Joan yang tadi seperti begitu melindungi atau berpihak pada si gadis tupai.


Ada nada masuk pada hape Rinda. Segera gadis itu membuka WAnya.


"Mama nunggu aku di depan, " ujar Rinda memberitahu.


"Oh ya?"


.."ya, mobilku di bengkel, kebetulan mama lewat sini, oke aku duluan, serius aku ditraktit, kan?" Rinda berdiri.


.."Untukmu apa yang nggak, " tertawa Joan.


Rinda mengeluh dalam diam, ah seandainya kata katamu itu benar, Jo, alangkah senangnya aku.


"Oke salam untuk calon mertus, ya, " lagi lagi candaan Joan membuat jantung Rinda berdetak lebih kencang.


"Kusampaikan pastinya.." Rinda melambai dan meninggalkan Joan yang memikirjan si gadis tupai bagaimana cara menemuinya secara pribadi?


Indra menyambut putrinya yang duduk di sebelahnya. Tak lama kemudian mobil yang disetirnya meninggalkan depan kampus.


."Dapat salam dari temanku, Ma, " saat mengucapkan salam wajah Rinda berseri seri.


. Indira melihat ada bahagia di wajah putrinya lewat spion di depannya.


"Dari teman cowok apa cewek?" Indira ingin tahu.


"Cowok, " dan wajah Rinda tersipu.


."Teman apa spesial teman?" Goda Indira sengaja rupanya.

__ADS_1


"Temen doangan..." Rinda serba salah tampaknya. Dan Indira tahu anak gadisnya mulai jatuh cinta.


"Setelah diwisudah undang temanmu itu untuk makan malam di rumah, ya, " ujar Indira ingin tahu pemuda macam bagaimana yang telah membuat putrinya salah tingkah ini.


Monik di tempat kosnya yang sederhana memandang ke lanfit langit kamarnya. Gadis yang kini berumur tujuh belas tahun itu tak lagi membandingkan kamar kosnya dengan kamarnya dulu di rumah mewah orang tuanya. Kedewasaan pikirannya bisa mengenyampingkan keadaannnya dulu. Semua sudah terjadi. Ia menerima keadaannya kini.


Namun yang ada dalam pikirannya adalah ingin tahu kabar mamanya serta mas Jonya. Satu lagi dimana papanya dikuburkan oleh para asisten orang tuanya dulu.


Ah, besok aku coba lewat depan rumah pakai ojek saja, batinnya .


"Mama semoga Monik bisa bertemu Mama..." kerinduannya yang dalam pada mamanya membuat Monik menangis, dan saat melihat gelang di pergelangan tangannya, ingatannya pada mas Jonya pun sangat mengganggu pikirannya, terbayang saat Joan memakaikan gelang di tangannya.


"Untuk Princesku ini gelang spesial untukmu, dan jika kamu bertambah besar gelang ini bisa ditarik lebih besar lagi lingkarannya. Pakai, ya, jangan sampai hilang..."


"Terima kasih, Mas Jo, aku akan memakainya terus, " angguk Monik kecil dulu.


Joan memeluk Monik penuh sayang saat itu.


"Mas Jo dimana..." isak tangis Monik tertahan, "Mama...Mas Jo...kalian aku rindukan..." agak lama Monik membiarkan air matanya mengaliri kedua pipinya. Rasa rindunya pada orang tua dan kakaknya membuatnya begitu tertekan dan sedih. "Hu...hu...hu...." isaknya, tapi segera ia tahan, khawatir kamar sebelah mendengar tangisannya.


Monik menghapus air matanya, dan sebisa mungkin menghentikan tangisan sedihnya. Bagaimana sedihnys, perih dan tertekan karena belum mendapatkan jejak mama dan mad Jonya, tapi Monik harus bisa menyimpan rapat kesedihannya itu.


Ada WA masuk, dari Ratu.


"Hai adik kecilku dulu kabarmu baik, kan, udah kelar semua urusan kuliahmu,ya, jangan malas kuliah, oh ya coba kamu lihat di sosmed rupanya kamu dapat julukan baru di Jakarta, ya, hem gadis tupai...coba baca banyak komentar di sana, banyak yang ingin kenal denganmu, gadis tupai, "


Monik tersenyum langsung menjawab.


"Terima kasih Kakak cantikku, semua beres sesuai harapanmu, aku akan rajin kuliah dan tentang gadus tupai lucu juga..."


Penasaran Monik mencari berita tentang gadis tupai di hape yang dibelikan Ratu saat ia sudah duduk di bangku sekolah lanjutan umumnya, karena saat itu banyak mata pelajaran tentang pengetahuan umum, yang dibrowsing di internit. Selain dirinya juga kursus secara online waktu itu untuk menambah kecerdasannya, begitu saran kak Ratunya.


Wow...!


Monik tercengang mengetahui betapa bertebarannya foto dan video atraksi sepontannya naik ke pohon. Hem gadis tupai jadi terkenal. Hem banyak komentar. Satu persatu ia baca. Rata rata menyanjung dan ingin ia memperkenalkan diri. Atau menyapa penggemar dadakannya.


"Melihat gestur tubuhmu pasti kamu masih masih muda, kenalan, dong..." pengirimnya Nestor mahasiswa.


"Hai gadis tupai ayo dong perlihatkan wajahmu pasti cantik, deh... aku suka gayamu..." hem pengirimnya menamakan diri Kumbang jalanan tapi tak suka mengisap madu bunga di jalan. Monik senyum senyum merasa lucu.


"Di jaman now ada gadis seringan kapas. Tabek, Nona..." dari Heri.


"Hai aku suka kamu gadis tupai, semoga kapan waktu kita bisa kenalan, " Rinda yang mengirim tulisan.


"He para begal hati hati kalian! Nih gadis tupai akan menumpasmu..." tulisan yang sangat menginginkan Monik berbuat sesuatu untuk keamanan. Ditulis oleh Pandu.


Banyak beragam.tulisan, pujian dan kagum dan penuh harap pada sigadis tupai. Monik merasa bahagia dan penuh rasa terima kasih atas semua sanjungan itu. Sayang dirinya tak bisa membalas, kan harus masukkan emailnya dulu kalau mau komentar. Wah kacau deh kalau sampai email dirinya kesebar. Mau tak mau ia harus memohon maaf dalam hati atas ketidak sanggupannya melayani kebaikan mereka.


Tapi ada komentar yang membuat hati Monik tercekat. Dibacanya berulang ulang tulisan yang menarik perhatiannya, dan menariknya ke masa kecil.


"Hai gadis tupai, kaukah gadis kecilku yang lucu dulu? Ha...ha...ha becanda... dulu aku punya adik yang cantik dan baik hati, dia suka ngumpet di lemari gantung baju mama kalau menjahiliku, hingga suatu hari dia ke kunci oleh mama secara nggak sengaja, namanya ada deh... dan namaku ada deh, tapi adikku memanggilku dengan panggilan mesra ada deh... itu rahasia kita berdua, karena kita memang harus berahasia, he...he...he..." dariku kakak dari adik kecilku dulu yang nakal tapi baik hati.


Monik tercekat. Dan senyumnya terkembang. "Mas Jo..!" Pekiknya bahagia. Ya tulisan itu dari mas Jonya. Cerita di atas adalah tentang dirinya dulu yang memang sering jahil dan ngumpet di lemari gantung mamanya. Dan suatu hari tanpa sengaja mama menguncinya dari luar.


Seperti ada sesuatu yang mengaliri seluruh tubuhnya. Hangat dan membuatnya begitu bersemangat. Tak salah lagi itu mas Jonya. Berarti kakaknya masih hidup dan mengenalinya. Oh infjn rasanya membalas tulisan yang penuh rahasia, dan hanya dirinya yang mengerti. Oh, berarti mas Jonya pun dalam penyamaran. Jadi mereka sama sama tak boleh tampil dalam keadaan nyata di muka umum.


"Mas Jo benar aku adikmu Monik..." lagi Monik menangis, rasa rindu itu begitu menggebu dalam dadanya pada mas Jonya...

__ADS_1


Ikuti terus ya


Bersambung


__ADS_2