
Farel, maaf aku nggak bisa ke tempat yang kamu tunjuk. Aku takut tempatnya sepi, ih sereem..." emotion takut.
Farel menerim pesan di WAnya dari Monik. Ia tersenyum, dan Akp Haris kakaknya yang ikut membaca pesan itu geleng geleng kepala.
"Rahasiakan jangan sampai dia tahu kalau kita sebenarnya sudah tahu kehebatannya. Kamu mata matai dia, apa dan kenapa sampai dia ditolak mamanya dan dicari pemilik Mal?"
"Ya, Kak, " angguk Farel yang merasa senang mendapat tugas untuk menjadi detektif untuk Monik, gadis yang dinilainya unik itu.
"Aku akan cari tahu dari mana Putri mempelajari ilmu unik begitu, dan siapa pemilik Mal itu, " ujar Haris yang langsung mengajak dua anggota polisi pilihannya yang tadi mempertontonkan perlawanan tangguh pada Monik.
Kemudian Farel menulis pesan lagi pada Monik. "Putri belum terlambat, kok, kita ketemuan dekat taman, yuk sambil makan kacang rebus, kan ada yang jualan, " ih kok anak itu ngegemesin, ya, nggak kelihatan punya ilmu silat tangguh. Farel kagum pada Monik yang tampak santai seperti gadis krbanyakan. Bahkan tampak sederhana.
"Oke siapa takut..." balasan Monik.
."Oce..." balas Farel.
Tak sampai lima menit Monik sudah ada di depan Farel. "Sori, ya, aku nggak berani ke tempat itu, sepi..." ujar Monik dengan lugunya membuat Farel senyum senyum.
"Kok kamu senyum.senyum, sih, " seru Monik cemberut.
"Ya udah nggak deh, "
Monik tersenyum.
"Ampun, Bang...!" Tiba tiba terdengar teriakan dari ujung taman. Farel dan Monik langsung menengok mencari tahu apa yang terjadi.
"Oh...!" Monik terkejut melihat seseorang sedang dihajar oleh tiga orang.
"Yuk kita ke sana...!" Farel tanpa sadar menarik tangan Monik, dan Monik pun tak protes menurut saja.
Ternyata tiga anak preman sedang menghajar penjual kacang rebus yang sudah tudak muda lagi.
"Ampun, Bang, sungguh saya belum dapat uang, makan saja kacang itu kalau Abang abang mau..." ujar lelaki penjual kacang yang ketakutan dipukul keroyokan lagi.
"Heh gua nggak butuh kacang elo, gua minta duit elo kalau mau aman jualan di sini!" Bentak salah seorang dari mereka.
"Beri lagi!" Seru satunya lagi dengan beringas.
"Ampun Bang, sumpah saya belum dapat uang..."sangat ketakutan si abang yang berumur sekitar empat puluh tahun itu, sedangkan pecinya sudah ada di tanah dan kancing bajunya terlepas. Ada darah di bibirnya, mungkin bekas tonjokan salah seorang dari tiga pemuda acak acakan itu, sepertinya mereka sedang mabuk.
Kalau saja tak ada Farel ingin rasanya Monik langsung memberi pelajaran ketiga berandalan yang seenak memukul orang yang berjualan.
"Oke...!" Saat pemuda yang paling tinggi badannya dari dua lainnya berancang ancang untuk menendang pedagang yang sudah mengkeret ketakutan.
__ADS_1
"Heh tunggu jangan main tendang, dong...!" Farel langsung menyongsong tendangan yang ditujukan pada si pedagang.
Karena tak menyangkah akan dihadang, maka pemuda yang sudah bergerak dan siap menendang terjatuh.
"Siapa kau?!" Sergah pemuda itu pada Farel sambil berdiri lagi. Tatapannya marah orang yang telah menggagalkan aksinya, dan kedua temannya tak tinggal diam, segera ikutan berdiri dengan muka garang di depan Farel.
Sedangkan pedagang kacang segera berdiri dan mundur dan tangannya mengambil potongan dahan, mungkin untuk jaga jaga, atau merasa ada yang datang membantu keberaniannya muncul, bisa jadi begitu, pikir Monik. Melihat cara Farel tadi menyanggah tendangan jelas terlihat kalau pemuda itu tak kosong, tapi memiliki ilmu bela diri. Jadi ia bisa tenang mengawasi saja.
"Aku pemuda sepertimu, hanya bedanya kalian tega menyiksa orang tak berdaya, memalak orang yang sedang mencari rejeki..."
"Banyak bacot, sikaat...!" Seru salah seorang dari mereka, yang langsung disetujui kedua temannya dan mereka serentak menyerang Farel dari tiga arah. Depan dan belakang serta samping, bahkan gerakan mereka membentuk segitiga, hingga Farel mereka kepung dengan serangan yang bersamaan. Dari depan tendangan yang menuju dada, dan dari kiri tendangan arah rusuk kiri, sedangkan dari kanan tendangan kearah paha. Namun Farel rupanya cukup tangkas memelentingkan tubuhnya ke tempat kosong, bukan saja menghindar, saat tubuhnya turun ke tanah ia mengibaskan kaki kanannya memutar dan tangannya pun tak tinggal diam, hingga ketiganya terpental, ada yang terkena kibasan kaki Farel yang secepat baling baling itu, ada juga yang kena kibasan tangan punggungnya. Saat itulah si pedagang yang memegang patahan dahan pohon ikutan mengayunkan dahan di tangannya, saat salah seorang yang terpental dekat dengannya.
"Nih rasain...!" Serunya.
"Sial!" Seru pemuda yang digebuk lengannya oleh lelaki pedagang kacang yang tadi ditendang dan ditonjoknya itu.
Monik tertawa tanpa suara melihat adegan itu. Lalu diam diam ia menyelinap ke balik pohon dan dengan ilmu ringan tubuhnya, ia sudah bertengger di atas dahan tanpa ada yang tahu.
Dari atas dahan ia leluasa menyaksikan tendangan dan jurus tangan kosong Farel yang selalu tepat sasaran, sehingga walau dikeroyok bertiga tak perlu turun tangan orang lain. Dengan tangkas dan cerdik pemuda itu berkelit dan memberikan serangan dengan jurus yang sudah diperhitungkan, tidak seperti tiga lawannya yang berkelahi acsk acakan, hanya berdasarkan kekuatan badannya, dan keberanian semata,.serangannya sering menemui tempat kosong, bahkan mereka sendiri yang terkena pukulan Farel. Hal ini mengingatkan Monik pada wejangan kak Ratunya.
"Jangan takut pada tinggi dan besarnya lawan, jika kita kosentrasi dan memiliki bekal ilmu bela diri, maka kita bisa mengatasinya..."
Ternyata benar ketiga lawan Farel hanya mengandalkan tenaga, serangannya ngawur, keroyokan.
"Terima kasih Kak Ratu baik sekali..."
Monik terbelalak saat melihat dua orang dari ketiga yang berkelahi dengan Farel mengeluarkan pisau.
Pedagang kacang pun sangat terkejut melihat pisau yang berkilau dalam cahaya malam. Segera ia menyelinap ke balik pohon lalu mengeluarkan hapenya.
"Habisi ajah nih orang songong...!" Lamgsung saja mereka bersamaan menyerang Farel. Monik ingin melompat ke tengah perkelahian yang tak seimbang itu, tiga lawan satu dan lawan bersenjata, ia masih tak mau memperlihatkan identitas atau kebisaan dirinya pada Farel. Tapi bagaimana bila Farel.tak bisa mengimbangi serangan serangan penuh kecurangan dari ketiga pemuda yang tampak sangat bernafsu ingin membunuh Farel. Duh gimana ini?
Begini saja, aku siapkan jurus Pembakar sejuk, bila diperlukan langsung kirim pada musuhnya Farel. Monik lalu melakukan gerakan tangan memutar, dan kosentrasi pada gerakan menyerang ketiga pemuda itu.
Monik terus mengawasi perkelahian satu lawan tiga itu. Bibirnya tersenyum, tampaknya Farel masih tangguh dan bisa menghindari serangan tiga pemuda yang makin beringas itu. Bahkan serangan kedua pisau yang serempak itu dapat dipatahkan. Mereka terpental, bahkan dua pisau di tangan di tangan mereka terpental dan terlempar menancap di lengan pemuda yang menyerang Farel dari belakang tanpa pisau.
"Aouw...!" Pekik pemuda yang tak bisa menghindari pisau yang mental kearahnya.
Melihat temannya terluka, salah satu dari pemuda pemegang pisau yang terpental, segera mengambil pisau kecil dari sakunya, dan langsung dilemparkan kearah Farel yang terkejut.
"Mampus kau..!"
Farel terkejut, dan Monik yang sejak tadi bersiap siap dengan ilmu Pembakar sejuknya sudah bersiap untuk mengirin angin panas untuk memapak pisau yang meluncur, tapi ia menahannya saat dilihatnya sebuah bayangan berkelebat menuju pisau yang meluncur dan langsung menangkapnya.
__ADS_1
"Kak...".Farel melihat Akp Haris memegang pisau kecil yang berhasil ditangkapnya.
Dua anggotanya langsung membekuk ketiga pemuda itu dibantu Farel.
"Aku mendapat laporan dari kantor ada perkelahian di sini, kebetulan kami masih di sekitar sini, "
"Saya tadi yang menelepon ke kantor polisi, Pak, " ujar pedagang kacang menghadap pada Haris yang mengenakan jaket yang punggungnya bertuliskan polisi.
"Bagus selalu sigap melapor ke kantor polisi, ya, Pak, " ujar Haris, "Luka Bapak nanti kita obati, " lanjutnya.
"Terima kasih, Pak..." angguk penjual kacang.
Datang mobil polisi, dan Monik yang sudah mempersiapkan jurus Pembakar sejuk itu segera kosentrasi untuk menormalkan kedua tangannya yang telah terisi hawa panas untuk menolong Farel. Lalu betsamaan dengan para polisi yang menarik ketiga pemuda brandalan ke dalam mobil, ia turun dengan lompatan ringan untuk tak menarik perhatian.
Mobil yang membawa ketiga pemuda itu berlalu. Farel memanggil Monik yang sudah berdiri di bawah pohon.
"Kenalkan, Kak, ini Putri temanku, " ujar Farel pada Haris.
"Hai Putri..." sapa Haris memperhatikan Monik yang tersenyum santun. Sekilas gadis mungil itu terkesan lugu. Sungguh tak menyangkah gadis ini tadi yang hampir menaklukkan kedua anggotanya, bahkan meninggaljan hawa sejuk hampir lima belas menit lamanya. Hem, gadis manis, lucu dan lugu...
"Ya hai juga..." Monik menjawab agak kikuk.
Farel tersenyum melihat sikap Monik yang agak gugup."Kak Haris ni polisi, dia kakakku, Put, "
"Wah hebat Pak Polisi..." Monik mengangguk santun pada Akp Haris, "Aku sangat salut pada Polisi, tangkas, tanggap dan teladan..." sambungnya.
"Terima kasih atas pujiannya, jarang lho orang muji tanggungjawabnya polisi..." ujar Haris menyukai sikap ramah gadis cantik berhijab warna cream semburat coklat yang dipadu dengan jaket dingin warna gelap, dan celana panjang longkar sewarna semburat hijabnya coklat.
"Yaudah yuk Putri aku tadi janji mau belikan kamu kacang, " lalu Farel melangkah ke gerobak kacang diikuti Monik. Setelah mendapatkan masing masing sebungkus, segera Farel memberikan uang melebihi harga dua bungkus kacang.
"Ini kebanyakan,.Dik,"
"Ambil ajah, Bang gak apa, " ujar Farel.
"Terima kasih, duh udah ganteng berhati baik mau menolong Abang tadi.." ujar si abang terharu masih ada pemuda yang rela menerjang bahaya demi menolong orang lemah seperti dirinya.
Farel segera mengajak Monik meninggalkan tempat itu untuk mencari tempat duduk berdua Monik untuk menikmati kacang rebus.
\*
ikuti terus, ya ceritanya.
Makacih...
__ADS_1