Monik Gadis kecilku dulu

Monik Gadis kecilku dulu
Dalam perjalanan ke Jakarta


__ADS_3

Dalam perjalanan ke Jakarta.


Bus terguncang Monik yang kini bukan gadis kecil lagi duduk diantara penumpang bus yang sudah keluar dari Baranangsiang Bogor menuju Jakarta.


Bayangan Kakak Ratunya yang mengantarkannya dengan angkot ke terminal sudah jauh tertinggal di belakang.


"Namaku sekarang Putri, " gumam Monik tersrnyum kecil.


.."Adik kecilku mulai sekarang namamu Putri, " ujar Ratu enam tahun lalu, tepatnya saat perempuan itu mengangarkannya untuk pertama kali masuk di Sekolah menengah pertama di Alhikmah. Sesuai dengan nama sekolahnya, semua murid wanitanya mengenakan baju panjang dan hijab. Soal pakaian panjanh dan hijab sudah tak asing lagi bagi Monik, toh.di sekolahnya di Jakarta juga dia pakai hijap dan baju panjang, walau di rumah tetap pakai baju umum biasa.


"Ya, Kak Ratu, " angguk gadis yang memiliki nama lengkap Monik Putri Johan. Ratu sudah menjelaskan bahwa dua orang yang menculiknya masih sering datang ke sekitar jurang tempatnya terjatuh dulu.


"Jangan pernah cerita apa pun pada teman temanmu, bahaya, takut diviralkan di sosmed, " ujar Ratu yang membelikan android untuk Monik, dengan catatan tidak boleh terus terusan mempergunakannya.


"Ya Kak Rati, " dan.Monik pun setiap hari diantar jemput Ratu.


Pulang dan.pergi naik angkok. Jalan kaki mendaki atau turun ke jalanan dari dan.ke rumah mereka di lereng bukit setiap hati. Itu untuk menguatkan dan membiasakannya kuat dan bisa mengatasi segala keadaan di luar rumah. Walau terkadang Ratu kerap membawanya dengan ilmu peringan tubuhnya, saat menyadarinya kelelahan.


Sekolah yang berbeda dengan sekolahnya di Jakarta. Teman teman dari pedesaan yang sederhana. Tak ada jemputan mobil di gerbang sekolah. Semua dijalaninya dengan lapang dada.


Dan saat saat yang sangat menyenangkan saat kakak Ratunya sudah mulai memberikam.gemblengan ilmu silat, ilmu kanuragan yang tak gampang. Melalui ketekunan dan tekat serta semangat untuk perlindungan dirinya, atau bila mungkin menolong orang lain, maka semua ilmu yang diturunkan Ratu bisa diserapnya dengan sempurna.


"Ilmu kanuragan dari leluhurku, yang diturunkan lewat Kakekku ini tidak bisa menyerap atau lekat pada orang yang bertabiat jahat, " ucapan permulaan Ratu, "Walau pun bisa memprlajarinya, jika kita memiliki bakat jahat, tak akan sesempurna jika dalam dirimu murni orang baik, "


Monik waktu itu berdebar, khawatir ilmu itu tak mau menyerap dalam jiwanya. "Tapi aku kan baik, " ujarnya menghibur diri.


"Kita lihat seberapa baiknya dirimu ke depannya, Monik, "


Maka dimulailah latihan ketahanan berdiam diru selama satu jam tampa boleh bergerak dan bersuara, mata terpejam, duduk bersimpuh di bawah langit di atas batu besar di dalam rerimbunan pohon.


"Kosongkan pikiranmu, pasrahkan semua pada Sang Pemilik kehidupan ini..." suara Ratu terdengar sayup.


Setelah berhasil dengan gemblengan awal, dilanjutkan dengan ketahanan menahan napas. Satu menit, dua menit, hingga ia bisa bertahan tidak bernapas untuk tiga menit.


"Luar biasa....!" Ratu memeluknya saat selesai keduanya berhadapan dengan menempelkan kedua telapak tangan. Ada getar pada tangan keduanya, itu tandanya Monik bisa menyerap ilmu januragannya, "Kamu muridku semua ilmuku akan kuwariskan padamu..."


"Benarkah itu?" Monik berdecak bahagia, saat itu ia bersama Ratu pada hitungan ke enam bulan, dan sejak saat itu ia rajin berlatih.


"Karcisnya, Neng, " kernet bus mengagetjan lamunan Monik.


"Oh ya..." segera gadis yang keterusan berkerudung itu menyerahkannya pada kernet, lalu si kernet menyobek sebagian karcisnya, lalu dikembalikan lagi.


Monik kembali menyandarkan kepalanya ke belakang. Dan bayangan latihan giatnya bersama Ratu berkelebat di benaknya.


"Ayo, Monik tingkatkan kemampuanmu kalau kau ingin ke Jakarta, jangan menyerah … ya terus berusaha…" seru Ratu dari tempatnya berayun sambil terus tangannya memetik daun dan ranting dilemparkan pada Monik.

__ADS_1


Monik terus berusaha. Kadang ia berlari mengejar daun yang melayang di tempat yang agak menyamping dari posisinya. Terkadang ia harus jungkir balik, karena Ratu meniupkan ranting kearah belakangnya. Sehingga terkadang ia bagai menari ballet untuk dapat menangkap ranting dan dedaunan yang beterbangan itu. Dari usahanya itu semakin lama ia semakin dapat menangkap semua ranting dan daun yang ditiupkan Ratu.


"Bagus, Monik… ayo terus…" Ratu bertepuk tangan memandang Monik jumpalitan dan terkadang melompat serta bersalto ke depan untuk menangkap daun dan ranting yang semakin banyak ditebarkan di sekeliling muridnya. Melihat kemahiran Monik dari hari ke hari, membuat Ratu semakin semangat melatihnya.


Sedangkan Monik terus berputar, bersalto di udara, serta melompat dari ranting ke dahan,bahkan hinggap di ujung dedaunan. Bukan hanya kedua tangannya yang berhasil menangkap ranting yang dilemparkan Ratu. Tapi giginya pun ia perbantukan untuk menangkap ranting runcing yang dilemparkan Ratu menyusul lemparan lainnya.


Ratu sangat menikmati Aria yang jumpalitan di udara. Bahkan tubuh mungil rampingnya itu bak penari balet yang begitu lincah di kegelapan. Bahkan terkadang bagai bidadari yang bermain di dalam kabut tebal yang menutupinya. Gerakan tubuh Monik yang cekatan sangat cepat. Hingga terkadang bagai siluit yang meliuk-liuk di ruang kosong yang gelap.


"Monik kamu sudah membuat aku bahagia..." seru Nek Ratu sambil memetik ranting yang lebih besar dari ranting yang dilemparkan tadi pada Monik Lalu beberapa ranting itu ditiupkan sekaligus. Hingga melayang-layang di udara. Monik yang baru akan menjejakkan kakinya di atas ranting di hadapan Ratu, yang berayun di akar pohon menjuntai dari atas ke bawah, segera melompat. Bersalto dengan menjulurkan kakinya ke depan untuk menjepit beberapat ranting yang mengeluarkan api. Namun Ratu langsung mengirimkan ranting ranting api yang membentuk lingkaran mengelilingi tubuh Monik.


Sejenak sepasang mata Monik terbeliak. Namun . Sedetik kemudian bibirnya tersenyum. Tubuhnya melenting dan bibirnya meniup api yang memelingkariny. Bagai tersiram hujan, ia berhasil mengeluarkan jurus penyejuk panas yang diajarkan Ratu. Setelah itu mlompat indah dan melayang tepat di hadapan Ratu. Meninggalkan lingkaran ranting berapi yang telah berubah menjadi ranting basah. Ranting itu berjatuhan ke tanah.


Ratu akan menghentikan latihan . Begitu pun dengan Monik.


Hari hari dilaluinya dengan bersekolah, membantunpekerjaan rumah, dan malam hari latihan ilmu silat di balik bukit.


"Ingat jangan sembarangan mengeluarkan.jurus penyejuk panas, atau jurus pembakar sejuk kalau terpaksa. Jangan mengumbar jurus, jangan cepat tertantang emosi."


"Ya, Kak, " angguk Monik patuh dalam hati untuk mengingat saran gurunya.


"Meringankan tubuhmu penting, tapi jika tak perlu jangan dilakukan. Sering serunglah berlatih dengan kosentrasi pada keringanan badanmu…!" Ratu tanpa disangka melempat ranting dengan tenaga dalamnya.


melihat itu segera Monik mengejar dengan mengerahkan hampir seluruh ilmu meringankan tubuhnya. Hampir terjatuh mengejar ranting yang menukik ke tanah.


"Aku menghendaki kamu menangkapnya di udara, bukan di bawah.. ayo atau aku akan menghentikan latihanmu?x


Diam-diam Ratu di tempatnya nangkring di tas pohon tersenyum melihat keseriusan anak didiknya itu. Dan dari tangannya bermunculan ranting dan daun yang lalu disambung dengan tiupannya . Maka melayang-layanglah berpuluh daun dan berpuluh ranting di udara.


Monik berusaha untuk menangkap semuanya dengan berjumpalitan di udara, sehingga pakaian berterbangan pula oleh angin. Gerakannya semakin lama semakin ringan, sehingga semakin gesit dia menangkap semua ranting dan daun yang ditiupkan dan dilempar Ratu ke segala arah itu.


"Ya, Monik ini yang terakhir, coba kamu tangkap…" tak disangka oleh Monik, Ratu melemparkan beberapa ranting panjang ke udara dalam jarak yang agak jauh dari posisinya


Monik terkesiap sejenak, tapi langsung dia melompat ke udara dengan lincahnya."Yak… aku harus bisa… yak…!" Teriaknya membelah gelap malam di belakang bukit, dan bersamaan dengan itu badannya yang ringan bersalto di udara berjumpalitan berkali-kali untuk mengejar ranting-ranting memanjang di sana- sini itu. Dan semuanya tertangkap. Belum lagi sedetik, Ratu kembali melayangkan sesuatu. Kali ini yang dilayangkan Ratu adalah cabang dahan yang berkali lipat besarnya dari beberapa ranting panjang tadi. Tapi, Monik pantang menyerah, dia segera mengejar cabang dahan sebanyak tiga dahan itu..Bahkan salah satu dahan berhasil ia jadikan kendaraan untuk mengejar dua dahan yang menjauh dengan kecepatan tinggi dari dirinya, tentu saja dalam kendali tiupan Ratu yang sengaja ingin menguji ketangkasan Monik di udara.


"Terus Monik…" seru Ratu dengan tertawa bangga melihat bagaimana Monik berhasil berdiri di atas dahan yang ditiupnya tadi dan mengejar kedua dahan yang semakin menjauh.


Monik memasang ancang ancang untuk mengejar kedua dahan yang semakin meluncur jauh dari dirinya itu. Bersama kendaraan dahan yang dibuatnya berdiri itu, ia meluncur cepat."Aku harus bisa menangkapmu, aku tak boleh kalah… aku akan menangkapmu, tunggu…yaaaaakk…!" Pekiknya lalu ia merentangkan kedua tangannya dan membawa dahan di kakinya itu meluncur cepat , dan tertangkaplah kedua dahan itu lalu dia meluncur dengan cepat kearah Ratu dan bersamaan dengan itu dia balas meniup kedua dahan itu ke Ratu, bahkan melompat meninggalkan dahan yang dibuat kendaraan tadi, lalu sedetik kemudian dahan yang ia tinggalkan itu ia tiup pula kearah Ratu.


Ratu terkejut melihat kepiawaian Monik. Dia lalu menyambut ketiga dahan itu dengan meniupnya pula kearah Monik dengan membentuk lingkaran yang akan menjebak muridnya itu yang sedang berdiri melayang-layang di udara memperhatikannya itu.


Monik terkejut melihat tiga dahan tadi membentuk lingkaran dan siap untuk menangkapnya. Wah, gawat, pikirnya, jangan sampai lingkaran dahan itu menjepit tubuhnya. Memang jika nanti ia tak sanggup pasti Ratu tak akan membiarkan badannya terjepit. Memang gampang saja ia mempergunakan jurus menghindar. Tapi, Ratu tak menghendakinya pasti.


"Kalau kamu selalu menggunakan jurus menghindar, pasti kamu akan disebut pengecut dan tak bisa mengentikan serangan!" Pernah Ratu berkata demikian, saat ia masih ragu untuk menyambut serangan gurunya itu.


Apalagi di luar sana musuhmu tak akan membiarkanmu bebas. Banyak orang jahat yang akan kamu temui nanti, " Ratu pernah berpesan demikian, makanya perempuan itu sudah mengajarinya ilmu menangkap dan ilmu melayang.

__ADS_1


Seketika Monik langsung berputar dengan cepat beberapa kali, sehingga pada putaran terakhir dirinya sudah siap menyambut lingkaran dahan yang mengarah kearahnya itu. Seluruh pikirannya ia pusatkan di kedua tangannya, dan ketiga dahan itu langsung saja tertangkap oleh kesepuluh jarinya, bukan itu saja sekaligus ia menghancurkan ketiga dahan itu menjadi debu, dengan mempergunakan salah satu ilmu pamungkasnya pembakar sejuk, yang tak hanya bisa memanaskan suasana sesuatu yang dingin. Namun juga bisa membakar sesuatu hingga jadi debu dengan tangannya.


Ratu tertawa senang melihat kelihaian Monik. Lalu mengirimkan pohon tempatnya berayun berikut akarnya pada Monik . Monik terbelalak sesaat. Tepat saat pohon itu akan menerjang tubuhnya dan Ratu sudah bersiap untuk menolongnya jika gagal, tapi Monik langsung menyambut pohon itu dengan teriakannya yang nyaring.


Ratu terbelalak melihat apa yang dilakukan Monik.


"Hiaaatttt….!!" Monik melompat di atas pohon dan saat tangannya siap untuk menghancurkan pohon itu, Ratu langsung berteriak.


"Jangan hancurkan pohon tempat Kak Ratumu duduk, Monik…!"


Monik tersenyum masih di atas pohon, dengan sekali memutar tubuhnya di udara, ia dorong pohon itu dengan ujung kaki kanannya meluncur kembali ke Ratu, yang menyambutnya dengan memutar pohon itu dan meluncurlah pohon itu kembali tertancap di tempatnya semula tertanam.


Monik turun ke tanah dan berdiri di depan Ratu yang langsung memeluknya.


"Hebat kamu gadis kecilku yang cantik…" lalu dibawanya Monik berputar-putar diudara.


"Aku sudah besar Kak Ratu, " protes Monik yang memang sudah lulus sekolah menengah atas, memasuki umur tujuh belas tahun.


Ratu tersenyum.


"Jadi aku sudah menguasai semuanya Kak Ratu?" Mata Monik mengerjap indah menyungging senyum.


"Ya, sayangku…" Ratu menangis haru memeluk erat Monik dan Monikpun balas memeluk Ratunya yang selama enam tahun telah merawatnya.


Monik tersenyum mengingat hari harinya bersama Ratu, perempuan yang mengasihinya, dan mendukungnya untuk mencari Kak Jonya dan sang Mama.


"Sekarang aku pasrahkan semua pada ketangkasanmu menghadapi kehidupan di Jakarta. Waspada, jangan gampang percaya orang, hati hati, selalu ingat Tuhan, "


Bus agak terguncang membuat Monik menoleh keluar bus lewat jendela kaca yang tertutup. Hrm rupanya ada beberapa ekor kambing terlepas dan memasuki jalan tol, hingga sopir menghindari kawanan kambing yang seenaknya itu.


Rupanya bus sudah meninggalkan Bogor jauh di belakang, terlebih desa Leuwiliang di perbukitan sana.


"Kak Ratu aku sudah mau sampai di Jakarta ❤ " pesan WA dikirim dengan emotion love warna merah.


"Selamat berjuang di Jakarta, hati hati, semoga bertemu dengan orang orang tersayang ❤" tak mau kalah Ratu pun memasang emotion love.


"Ehemmm cup ...cup..." terkirim pesan Monik.


"Cup...cup...bye jangan lengah..." balasan Ratu.


Bagaimana sesampainya Monik di Jakarta?


Ikuti terus, ya?


Dan.jangan lupa vote

__ADS_1


Terima kasih


Bersambung.


__ADS_2