Monik Gadis kecilku dulu

Monik Gadis kecilku dulu
Joan ingin meninggalkan pekerjaannya


__ADS_3

Siril menatap Joan dengan muka memerah. Sedangkan suaminya yang hanya menurut apa kata isteri mudanya ini, diam menunggu reaksi perempuan yang berhasil menyihirnya sepuluh tahun lalu. Hingga ia terlupa pada anak dan isterinya, serta menyerahkan berapa banyak harta yang diminta perempuan yang saat ini tak mampu lagi ia bahagiakan secara maksimal di tempat tidur itu.Makanya sekarang ia hanya bagai sapi ompong dicocok hidungnya. Nurut saja apa kata perempuan jelang lima puluh tahun, tiga puluh tahun dibawa umurnya.


"Maafkan saya Tante, saya ingin mencari pekerjaan yang baik dan halal, sudah hampir lima tahun saya melayani usaha Tante..." ujar Joan yang memang tak mendapatkan gaji dalam hal pekerjaan kotornya itu, melainkan dicukupi biaya kuliahnya, dicukupi keperluannya,dan dapat perlindungan keamanan. Begitu perjanjiannya. Jika ia memiliki sedikit uang adalah pemberian dari tante tante yang dipuaskannya atas intruksi Siril.


"Tapi kan kamu belum dapat kerjaan, Jo, nanti kalau sudah dapat baru kamu berhentu, lagipula mereka masih sangat suka dengan dirimu, " ujar Siril yang tak rela melepas Joan, karena para perempuan bejad itu masih rela ngantri untuk dapat kencan dengan Joan. Dengan begitu, maka pundi pundi uangnya pun tetap akan mengalir ke rekeningnya.


Joan menggeleng, "Saya butuh


persiapan mental, Tante, sebelum bekerja, untuk itu saya harus istirahat dan mempersiapkan pula kesehatan saya, " ujarnya sudah tak bisa dibujuk lagi, toh perjanjiannya semua kontrak kerja yang tak jelas kerja apa waktu itu ditanda tangani memang harus berakhir begitu dirinya lulus kuliah.


.."Jo apa kamu nggak kasian sama mereka yang masih sangat memujamu?" Siril bertanya seakan Joan akan meninggalkan sekelompok anak didik yang begitu memerlukan kehadirannya demi ilmu, atau demi kebaikan.


"Tante seharusnya sudah tiba waktunya saya menyadarkan mereka untuk menerima suami mereka adanya, dan menghentikan perbuatan yang sesungguhnya dimurkai Allah, Tante..." hati hati Joan berbicara, khawatir membuat Siril marah, tapi, seandainya perempuan itu tersinggung, ia tak perduli, toh sudah mengatakan yang sebenarnya.


Benar memang muka Siril langsung menampakkan kemarahannya, walau tak bersuara.


."Jo, seharusnya kamu jangan berani bicara lancang begitu pada orang yang telah menolongmu. Coba kalau dulu kamu nggak dibawa ke sini oleh isteriku, mungkin hidupmu buruk. Manamungkin bisa kuliah seperti sekarang, bisa jadi dulu kamu disiksa dan dijadikan sapi perahan mereka mencari uang!" Lelaki tua suami Siril marah, ia merasa harus membela isterinya. Tak boleh ada yang membuat sang isteri tersinggung. Sebagai lelaki ia harus melindungi kewibawaan isterinya.


"Maaf, Om, saya tidak menyinggung siapa pun. Saya hanya mengucapkan yang sebenarnya. Dan saya sudah menerima nasib saya, tapi kita harus berjuang untuk memperbaiki nasib, kalau tidak Allah tak akan merubah nasib kita kalau kita tak ada usaha untuk merubahnya. Maaf sekali, Om..." Joan tak marah olrh ucapan lelaki yang pantas jadi kakeknya itu. Sungguh ia tahu lelaki itu hanya ingin tampak masih ada arti.di depan isterinya yang berkali kali selingkuh dengan pengawal pribadinya itu.


"Sudah, Pa, " ujar Siril menoleh pada suaminya, "Papa masuk ajah isrirahat nanti asmanya kambuh kalau nggak bisa nahan kesel, biar ini urusan Mama sama Joan..."


Entah memang benar khawatir asmanya kumat, atau patuh pada isterinya, lelaki kaya raya itu berdiri, dan tanpa suara meninggalkan isterinya berdua Joan. Lelaki itu tapi sekarang hanya bagai boneka hidup Berkedip dan melihat, tapi tak bisa berbuat apa pun, semua dalam kendali Siril, kecuali bernapas yang bebas ia lakukan.


Siril terdiam. Ia tahu sulit mempengaruhi Joan untuk tetap patuh. Perjanjian mereka memang sudah pada waktunya. Tapi kok tak rela melepas Joan di alam bebas tanpa kendalinya.


Begitu pun Joan sudah bulat tekatnya untuk bekerja secara halal. Mencari mamanya, dan menemukan adiknya.


"Percayalah aku nggak akan melupakan Tante, kita tetap berkawan, dan sesekali aku datang ke sini atau ke bar, " pada akhirnya Joan bersikap lunak, "Aku akan mencari adik dan mamaku. Mereka keluargaku dan harus kutemukan. Aku rindu.pada mereka, aku khawatir dengan keadaan mereka, Tante, tolong dimaklumi..."


Pertemuan itu berakhir dengan saling menunjukkan muka sedih. Joan melangkah dalam tatapan Siril yang harus kehilangan penfhasilan besarnya dari keringat Joan


*


Dodi lelaki lima puluh lima tahun itu geram. Napasnya tak beraturan. Matanya memerah dan hampir melompat keluar menatap foto di tanga gemetarnya, dimana Liza yang setengah bugil sedang berada dalam pelukan laki laki yang juga bertelanjang dada. Mereka berada dalam satu selimut di atas tempat tidur di sebuah kamar.


Kemarahan Dodi tak dapat lagi ditahan. Begitu melihat isteri sirinya yang begitu dipunya itu baru saja datang bepergian.

__ADS_1


"Papa..." seperti biasa Lisa yang tak punya firasat buruk itu, bersikap manja, langsung bergelayut di pundak Dodi yang berdiri memandangnya. Dan saat mau mencium pipi suami yang sesungguhnya hanya ia cinta uangnya itu, ada penolakan. Karuan saja perempuan muda yang jelita itu terkejut. Tak biasanya suami kayanya itu bersikap demikian. Hari hari tak pernah sekali pun menjauhinya, atau bersikap kasar.


"Pa ada apa sayang...?" Duh merdunya suara Lisa yang selalu melenakan Dodi dalam segala hal itu. Biasanya mendengar siara merdu merayu seperti ini, Dodi tak berlama lama membiarkan perempuan yang telah membuatnya selingkuh dari cinta murni sang isteri itu, hanya saling menatap. Seluruh yang ada pada diri Lisa adalah magnet yang telah membuatnya terlena. Dalam.usianya yang lima puluh lima tahun itu kembali teraliri semangat muda. Dan pada akhirnya ia merasa dirinya perkasa.


Tapi sekarang justru ia mendorong Lisa yang memeluknya erat, bahkan Dodi berusaha untuk tidak menuruti hentakan jiwa lelakinya menuruti isyarat mata Lisa. Dan ia berhasil. Baginya secantik dan semenarik apa pun perempuan jika sudah selingkuh, tak ada lagi artinya.


"Ada apa, Pa, yuk ke kamar mungkin Papa kelelahan kerja, ya, jadi begini?" Bujuk Lisa yang penuh tanda tanya, karena lelaki yang telah berhasil ia rebut dari isterinya itu, begitu memujanya. "Yuk.sayang..." lagi lagi ciumannya ditolak.


Kata kamar sangat ampuh bagi Lisa. Dodi akan bertekuk lutut di sana. Tapi kali ini kata ampuh itu tak lagi berpengaruh. Bahkan Dodi yang biasanya bersikap mesra tak mau jauh darinya, bahkan terlihat bagai abg jatuh cinta itu, kini garang. Kedua matanya marah. Menatapnya dengan bara yang siap menelannnya jadi debu.


"Ini...!!" Dodi mencampakkan foto Lisa yang berada dalam satu selimut dengan lelaki (Joan).


"Oh...!" Lisa terbelalak.


Dodi sudah keluar ruangan.


Bergetar tangan Lisa memperhatikan foto di tangannya. Siapa yang berbuat ini?!


"Aku memujamu sepenuh hari. Kutinggaljan isteriku untuk bahagia kita berdua..." terngiang ucapan Dodi saat melamarnya. "Semua yang kamu ibginkan, uang, harta,.pasti kuturuti, asal jangan ada selingkuh..."


*


Joan bersiap untuk pindah kos. Tentu saja mencari kos murahan, kan sudah tak ditanggung Siril lagi semua kebutuhannya. Tapi ini membuatnya lebih nyaman. Ia bagai terlepas dari tindigan berton ton bara api yang siap melumatnya.


"Terima kasih ya Allah atas hidup yang Engkau berikan. Ampunkan segala salah yang sekama ini gamba lakukan. Mohon tuntun hamba ke jalan yang benar..."


Joan tahu dosanya sangatlah besar. Tak bisa terhapus hanya dengan memohon ampun begitu saja. Ia tahu ada siksa yang harus diterimanya di akhir hidupnya kelak. Ia mengerti khisap atas dirinya tentu sangat menyakitkan setelah kematiannya. Namub yang lebih membuat hatinya tersiksa saat ini, adalah rasa malu dan hinanya di hadapan Yang Maha Memiliki aksm semesta yang telah memberinya napas kehidupan, yaitu Allah Yang Esa.


Menitik air matanya kesedihan serta penyesalannya karena telah melangkah jauh tersesat.


"Seandainya saat ini ada hukum yang dapat membersihkan dosa hamba padaMu ya Allah, aku ikhlas, tapi aku tahu tak semudah itu kematian yang akan melebur dosaku kepadaMu..."


Melangkah keluar kosnya yang mewah yang selama ini diberikan oleh Siril sebagai fasilitas. Entah kemana ia akan tinggal. Dan sebelum ia memutuskan untuk mencari kos ia singgah di sebuah rumah ibadah. Mendengarkan alunan qalam Ilahi dari teras mesjid.


Ada desir lembut di hatinya. Sekaligus ada getar rasa takut yang tak alang kepalang di dadanya saat ceramah tentang penerima siksa bagi pendosa.


"Namun Allah Subhanahu wata alah itu maha pengampun. Bersujudlah mrmohin ampunan atas dosa dosa kita, dan jangan melakukannya lagi..." ucapan Ustadz membuat hati Joan masih memiliki harapan.

__ADS_1


Maka saat sholat berjamaah dimulai, bergegas ia memasuki rumah Tuhan itu, setelah dirinya berwudhu. Dan pada akhir sholatnya tanpa sadar ia terisak usak saat memohon pengampunan atas semua yang telah dilakukannya selama ini.


Beberapa orang menoleh kepadanya dengan tatap hetan. Tapi sebagian hanya mengangguk dan tersenyum atas apa yang terjadi pada dirinya.


Joan terus dan terus berdzikir memohon ampunan Tuhannya. Hatinya sudah mantap bahwa penyerahan diri atas nama Tuhan adalah yang terbaik.


Setelah hampir satu jam ia berdzikir dan berdoa memohon ampunan atas dosa dosa yang telah melumuri dirinya, seseorang menyodorkan segelas.


Joan memiringkan kepalanya.


"Minumlah, Nak, sejak tadi kamu berdoa..." rupanya ustadz yang tadi berceramah memperhatikan Joan yang sangat khusuk berdoa.


"Terima kasih Pak Ustadz, " segera Joan menghabiskan segelas air putih pemberian pak Ustadz. Kebetulan tenggorokannya memang serasa kering.


"Anak darimana?" Ustadz duduk di sebelah Joan.


"Bukan dari sekitar sini, Pak Ustadz, ".maka Joan menggeser duduknya menghadap pada si ustadz. "Terima kasih Pak Ustadz. Saya Jo, lengkapnya Joan Johan, " dengan santun Joan mengulurkan tangannya pada ustadz ramah itu.


"Saya Rahman, ya, mereka memanggil saya Ustadz Rahman, " "Oh Nak Jo sedang melakukan.perjalanan?"


Joan mengangguk, "Ya, Pak Ustadz, " terdiam beberapa saat, lalu menatap ustadz yang sudah berumur sekitar empat puluh lima tahun itu.


"Pak Ustadz..."


"Ya, "


"Maaf, Pak Ustadz Rahman apakah saya boleh numpang di sini ya mungkin satu sampai dua jam?"


Ustadz Rahman tersenyum, "Silahkan anak muda, "


..."Terima kasih Pak Ustadz Rahman, " senang sekali Joan dapat ijin melepas lelah di mesjid. Bisa saja dirinya duduk manis di cafe samvil menikmati kopi susu, atau chek in di hotel sambil berpikir mau ngekos dimana,.toh di dompetnya masih ada uang bisa dipakai keperluannya, walau tak banyak. Tapi ia tertarik untuk istirahat di mesjid saja, sekalian ia beribadah dengan khusuk.


Dan tanpa setahu Joan Siril sudah mempersiapkan dua orang setianya, membuntutinya.


ikuti terus ceritanya, ya...


makasih udah mampir...

__ADS_1


__ADS_2