Monik Gadis kecilku dulu

Monik Gadis kecilku dulu
Keinginan Ratu pada Monik


__ADS_3

Monik untuk pertama kalinya makan tanpa sendok. Mempergunakan tangannya mengikuti Ratu. Duduk berdua di bale bale menghadapi nasi liwet serta sayur daun singkong yang disanten kental. Sambel dan goreng ayam .


Ratu tertawa kecil melihat Monik yang kaku makan tanpa sendok.


"Mau pakai sendok?"


Monik menggeleng, "Enak juga makan pakai tangan, " walau pada mulanya merasa lucu juga kelima jarinya masuk mengantarkan nasi dan lauk ke dalam mulutnya. Dua kali jari tengahnya tergigit, tapi, kemudian ia sudah fasih.


"Nikmat, kan, makan pake tangan?" Ratu tersenyum menatap Monik yang baru saja menarik kelima jari tangan kanannya dari mulutnya.


Sebelum menjawab Monik, gadis kecil itu mengunyah terlebih dulu makanannya.


Pernah dulu selagi makan masih penuh di mulutnya ia berdebat masalah film kungfu kidsnya dengan mas Jo kakaknya, akibatnya ia keselek.


"Monik sayang habiskan dulu makanan di mulutmu, baru berbicara, " sambil menasehati mamanya menyodorkan gekas yang berisi air putih.


"Ya, Ma, " angguk Monik, sedangkan mas Jonya yang duduk di samping kursi papanya, mengernyitkan hidung menggoda. Ingat akan itu rasanya ingin menangis Monik.


"Ya, Kak enak makan pake tangan unik, " angguk Monik, "Maaf, ys, Kak Ratu aku agak lama baru nyahut, soalnya kata Mama kalau mau berbicara habiskan dulu makanan di mulut, " lanjutnya dengan gaya polosnya.


Ratu tersenyum, "Oh ya bagus mrmsng seharusnya begitu. Gimana enak sayur daun singkongnya?"


"Enak, " angguk Monik, "Hasil krbun sendiri, "


"Ya, kalau yang mau dimasak nggak ada di kebun sendiri baru aku ke pasar. "


"Ya Kak Ratu hebat, " puji Monik yang sudah melihat beragam tumbuhan yang bisa dimakam kebun depan rumah perempuan itu.


"Kita harus mempergunakan tempat yang ada, wah repot setiap hari harus bolak balik ke pasar, apalagi aku nggak punya kulkas, kan nggak ada saluran listrik, ayo tambah ayamnya empuk, kan?" Ratu menambahkan ayam ke piring Monik.


"Empuk dan lezat, wah sedaap..." Monik sangat menikmati ayam goreng biatan Ratu serta sayur singkong yang juga sangat enak menurut gadis kecil itu.


"Ayam kampung piaraan sendiri, " ujar Ratu.

__ADS_1


"Oh ya?" Monik tertarik.


"Ya, ada kandang ayam di belakang rumah, kalau pagi ayam ayam aku lepas, nanti jelang magrib mereka ngandang sendiri..."


Setelah makan siang Ratu menjahit baju Monik yang sudah dicuci.


"Bajumu ini terbuat dari bahan yang bagus dan merknya juga terkenal, " ujarnya pada Monik yang duduk memperhatikannya menjahit, "Besok kita ke pasar untuk membeli bahan baju untukmu biar kujahit sendiri, tapi tentu saja bahan yang ada di.pasar sini bahan biasa, kamu mau makenya, kan?"


Monik mengangguk. Ia tahu dirinya sudah tak punya papa, jauh dari mamanya, bahkan tak tahu akan nasib kakaknya, semua kehidupan mewah bersama kedua orang tuanya sudah terlewati. Kini ia hanya anak kecil sebatang kara yang numpang di rumah perempuan yang baik hati.


"Kak Ratu..." panggil Monik lirih.


Ratu menghentikan gerakan kakinya sehingga gerakan jarum di mesin jahitnya pun terhenti. Dipandangnya Monik. Tampak gadis itu berwajah muram.


"Kak Ratu terima kasih sudah menampungku memberiku makan dan mau dibuatkan baju, ya, " lalu dipeluknya Ratu, "Baju dari bahan apa pun akan kupakai dengan senang hati..."


"Monik sayang..." Ratu terharu mendengar ucapan gadis kecil itu, dielusnya rambut Monik penuh sayang.


Saat Monik tidur siang, segera Ratu mengambil handphonenya. Ia browsing tentang kejadian yang menimpa keluarga Monik. Medsos sudah canggih pasti peristiwa semalam sudah beredar luas, pikirnya.


Dalam berita kriminal itu disebut Johan seorang arsitek yang yelah berhasil mendesain gedung pencakar langit di Jakarta dibunuh orang tak dikenal, yang ditengarai masih ada hubungan dengan sepak terjangnya di dunia properti. Karena selain sebagai seorang arsitek, lelaki itu memiliki usaha properti. Sedangkan isterinya seorang penerjemah. Diberitakan Vina Sarjana sastra Inggeris itu menghilang bersama ketiga anaknya. Pemakaman Johan diselenggarakan oleh tiga asistennya, disrbut Karta sebagai sopir kekuarganya, Bik Ti asisten rumah tangga, dan Yam pelayan keluarga kaya raya itu, dan para tetangga.


Ratu menoleh pada Monik di tempat tidur. Anak itu anak.orang kaya raya. Terbiasa hidup mewah. Kini harus menjalani kehidupan baru. Tanpa orang tua, dan harus meninggalkan kebiasaannya sebagai putri yang dimanja dan krmeeahan yang mengelilinginya.


Setelah tahu tentang keluarga gadis kecil itu, timbul rasa kadihan yang teramat sangat pada gadus kecil yang harus menerima nasib buruk yang menimpa kekuarganya. Pun rasa cemas akan Monik yang kemungkinan tidak aman, pasti dicari oleh musuh orang tuanya, pikirnya. Nalurinya ingin melindungi gadis kecil yang cantik itu.


"Monik harus memiliki daya untuk melindungi dirinya, " timbul keinginannya untuk mengajari gadis kecil itu untuk menguasai ilmu kanuragan yang dimilikinya, merupakan warisan dari kakeknya.


"Kek jika kelak suatu hari aku ingin mengangkat murid dan menurunkan ilmu yang Kakek wariskan boleh?" Suatu hari setelah berakhir latihan menerima ilmu pamungkas dari kakeknya yang berupa pembakar sejuk, dimana ilmu ini menciptakan hawa panas dari tangannya, yang jika diarahkan pada es, maka es akan mencair seketika. Dan ilmu penyejuk panas kebalikan dari ilmu pembakat sejuk, dimana dari tangannya bisa keluar hawa dingin yang dapat bisa membuka air mendidih.


"Itu namanya niat mulia, berikanlah ilmu untuk berbagi dengan orang baik dalam rangka kebaikan, " ujar kakeknya yang waktu itu sudah berumur tujuh puluh lima tahun.


"Aku kan menerima warisan ilmu ini dari Kakek, bagaimana jika ilmu ini diturunkan bukan pada keturunan kita, Kek?"

__ADS_1


Kakeknya tertawa, "Tentu boleh, " ujarnya, "Pilihlah anak yang baik prilakunya, karena ilmu bela diri ini tidak berdasarkan dari hubungan darah. Walau sedara sekali pun, kalau sekiranya akan menyalagunakan ilmu ini, itu tidak disarankan, " sambjng kakeknya, "Seandainya kelakuanmu tidak baik cucuku, tentu aku tak akan pernah kuturunkan ilmuku ini, "


Ratu mendengarkan wejangan kakeknya.


"Cari.anak yang berakhlak mulia, supaya ilmumu tidak disalah gunakan, karena jika engkau menurunkan ilmu pada anak yang memiliki perangai buruk, maka kelak sama saja engkau membantunya dalam keburukan, dan setiap perbuatan buruknya engkau, Cu, tak luput dari pembagian dosanya, " ujar sang kakek lagi mengingatkan cucunya.


."Ya, Kek, " angguk Ratu.


"Ingat jangan sembarangan kau berikan ilmumu, Cucu, " pesan kakeknya lagi.


Ratu selama ini tak yergetak untuk mengambil murit walau dirinya bertemu dengan berbagai umur remaja. Entah kenapa ia merasa srek dengan Monik. Hati kecilnya mengatakan kalau gadis kecil itu memiliki kemuliaan hati.


Terlebih lagi Monik sedang dalam keadaan tidak baik. Artinya kapan saja bahaya yang datang dari pembunuh papanya tak bisa lagi dipungkiri. Maka itu gadis kecil itu harus dibekali imu bela diri untuk memperisai dirinya.


"Mungkin sudah jodoh dia datang ke sini, " gumam Ratu yang merasa pertemuaannya dengan Monik adalah pertanda gadis kecil itulah yang telah ditunjuk sebagai penerima ilmu kanuragan miliknya.


Timbul keraguan di hatinya, "Bagaimana jika Monik menolaknya? Padahal hatinya sudah sangat pasrah dan bahagia jika Monik menjadi penerima ilmu bela diri miliknya. Duh, muda mudahan saja gadis kecil itu mau diajari ilmu kanuragan untuk melindungi keselamatannya sendiri.


Ah, Ratu menghela napas panjang mengingat ilmu kanuragan miliknya ini pula yang memisahkan dirinya dengan sang suami yang menuntutnya untuk bisa menerima ilmunya.


Lelaki yang belakangan ketahuan memiliki sepak terjang tak baik itu, memilih meninggalkannya karena kecewa keinginannya menguasai ilmu milik Ratu tak mendapat ijin dari pemiliknya.


Walau lelaki berbadan tegap bernama Herman itu sangat ia cintai, bukan berarti bisa dengan mudah menjadi pewaris ilmu kanuragannya.


"Wejangan kakeknya tetap dipegangnya kuat, bahwa jika dirinya salah memilih orang untuk mewariskan ilmu kanuragannya, maka akibatnya ilmunya akan dijadikan senjata dalam menjalankan keburukan, demi untuk memuaskan pribadinya. Itu yang tak dimauinya. Ratu tak mau ilmu milik leluhurnya itu hanya dijadikan alat untuk memperkaya diri sendiri, dan menjadi pendukung dari kegiatan yang bertentangan dengan agama.


Herman yang semula berkedok sebagai laki laki baik, ternyata tak lepas dari **** yang bersembunyi dibalik ketampanan serta sosok tegapnya.


Ratu lebih baik memilih berpisah daripada harus menurunkan ilmunya untuk mendukung sepanjang perbuatan buruk Herman.


maukah Monik menerima ilmu kanuragan milik Ratu?


bersambung

__ADS_1


vote, ya, terima kasih


__ADS_2