
Monik sangat kagum pada Laki laki yang siap menyabetkan parangnya pada kedua kakinya berdiri di bahu temannya yang begitu kuat menyanggahnya, walau kesal dengan penyerangnya. Dan yang dilakukan Monik sungguh membuat laki laki itu hanya menyabet tempat kosong, karena Monik sudah mengerahkan ilmu seringan kapas dengan gerakan menyamping.
Monik meraih ranting kecil dan berayun ayun di sana. Sungguh Haris sangat takjub, begitu pun dengan Farel terngangah melihat gaya gadis itu yang berayun ayun tanpa beban, lalu melompat dan langsung menyerang kedua lelaki yang siaga di bawah. Maka terjadilah saling serang dan saling menghindar. Rasanya sulit kedua lelaki itu untuk melukai Monik. Dan Monik sendiri merasa waktunya sangat mepet, karena tak lama lagi Farel pasti datang, kan kacau kalau sampai pemuda itu tahu perkelahian ini.
."Aku tak punya waktu untuk melayani juwa bejad kalian. Mundur kubilang...!" Teriak Monik marah, sungguh ia khawatir kepergok Farel, kan kan enak kalau sampai pemuda itu tahu dirinya gadis tukang berkelahi. Gak bagus ajah kelihatannya, pikir Monik emosi.
Kedua penyerangnya tertawa, lalu serentak keduanya mengambil pisau kecil dari balik celana yang dikenakannya, pisau ini pun hanya terbuat dari aluminium, supaya berat dan bisa dilempar dengan cepat diberilah gagang kayu besi. Maka kedua pisau itu meluncur dengan pesat ke dua titik tubuh Monik. Satu pisau mengarah ke jantung, dan satunya lagi mengarah ke atas bagian kosong, tapi masih tegak lurus di atas gadis itu. Dalam perhitungannya jika Monik meluncur meluncur ke atas pisau itu masih mengenai bagian bawah tubuhnya.
Monik yang tak mau lagi berpanjang waktu, lagipula dalam perhitungannya kedua penyerangnya ini cukup handal dan kompak kerjasama penyerangannya. Jadi harus segera dituntaskan. Maka bersamaan dua pisau meluncur kearahnya, ia tak menghindar, justru menyatukan kedua telapak tangannya dengan gerakan cepat, dan melemparkan hawa panas yang telah tercipta dari ilmu Pembakar Sejuk. Sebenarnya ia tak harus mengeluarkan jurus itu, makanya hawa panas yang dikeluarkan bercampur angin, sehingga kedua pisau yang meluncur kearahnya itu langsung disambut dengan gulungan hawa panas.
Kedua penyerangnya saling pandang, begitu pun dengan Haris dan Farel hampir tak percaya melihat kedua pisau yang dilempar dengan gaya cepat itu berada dalam gulungan asap putih. Lalu terjatuh ke tanah.
Monik yang merasa waktunya sudah terlalu banya dibuang, segera melompat ke dahan di sampingnya memetik dua ranting lalu diisinya dengan ajian hawa panasnya dan dilemparkannya pada kedua lelaki penyerangnya yang tetap waspada walau kerkesima dengan ilmu lawannya yang bisa menghancurkan sekaligus dua pisau.
"Kalian akan membunuhku, padahal aku tak ada urusan denganmu, terimalah ini....!" Meluncurlah dua ranting yang kini membara itu.
Hup!
Haris yang sejak tadi kagum pada Monik langsung memotong dua ranting membara itu supaya tak mengejar dua anggotanya yang terlatih itu. Didorongnya dua ranring itu dengan tenaga dalam yang dimilikinya kearah Monik.
Farel terkejut melihat apa yang dilakukan kakaknya. Ia khawatir Monik terluka. Hampir saja mulutnya berteriak mengingatkan Monik.
Melihat ada orang ketiga yang melompat dari pohon membuat Monik marah.
"Pengecut kalian!" Monik segera memutar badannya dan saat kembali menghadap ke posisi semula, langsung disambut oleh dua ranting membara kirimannya yang dikembalikan oleh Akp Haris.
Farel menahan napas khawatir dua ranting membara itu menusuk dada Monik. Namun berbeda dengan Akp Haris kakaknya. Monik bisa mendatangkan bara, berarti bisa pula menanggulanginya.
Benar saja. Dari kedua tangannya Monik mengeluarkan hawa sejuk yang langsung diarahkan pada dua ranting membara, hingga bara ranting itu melepes dan padam, terjatuh ke tanah.
"Luar biasa..." Haris yang juga bermasker sangat kagum pada Monik.
Tapi gadis itu sudah terlanjur marah dan mengira dirinya telah diserang kelompok penjahat kesal.
"Kalian sudah menghadangku, membuang waktunya...ciaaat...!" Seketika ia menyebar ilmu Penyejuk , Panasnya hingga suasana sekitar menjadi dingin mereka bagai diguyur es. Monik langsung melezat meninggalkan tempat yang dibuatnya dingin selama lima belas menit
__ADS_1
*
Pesta di Marla Diskotik milik Siril dan suaminya Dodi cukup meriah. Acara itu diadakan untuk kelulusan Joan sebagai Sarjana Hukum. Sebenarnya Joan enggan dirayakan begini. Tapi menolak jelas tak enak. Dan ia terkejut jika perayaan itu dihadiri pula oleh perempuan perempuan tak bermoral yang semua beberapa kali mencicipi keranuman kelelakiannya yang berumur jauh dari mereka yang haus birahi busuk itu.
Joan merasa tak nyaman dengan perempuan perempuan penikmat dosa itu. Tapi mau apa itu undangan tante Siril yang berkuasa atas dirinya. Berani melawan Siril maka nyawa taruhannya. Karena itulah Joan masih berada dalam kungkungannya.
"Masih soda, Bos?" Miko menggoda Joan yang tetap minta soda.
"Masilah..." Joan tertawa kecil.
"Selamat, ya, kamu beruntung..."Miko menyalami Joan.
"Kamu juga busa Bro kalau mau..." Joan.menepuk pundak Miko, "Ayo cari waktu..."
"Ya aku akan berusaha, " angguk Miko yang sebagiaan uang jerih payahnya ditabung setelah diambil untuk mengirim orang tuanya di kampung.
Acara dimulai dan para perempuan yang dipanggil tante oleh Joan mengeruminya. Dan satu satunya perempuan paling muda yang berumur tiga puluan bernama Lisa tidak datang. Tapi perempuan yang genit bila bersama Joan itu mengirimkan WA pada Siril, bila pertama Joan aktif dalam komunitas mereka, dialah yang menginginkannya. Untuk itu ia sudah transfer pembayarannya pada Siril seperti biasa. Bayar di muka, dan untuk diloloskan ia tak segan memberikan pembayaran lebih.
."Selamat, ya Jo.." seorang perempuan cantik berumur empat puluhan menyalami Joan. Cium pipi kiribdan kanan.
Joan merasa jijik. Tapi diam saja pura pura sibuk dengan pudingnya. Dan para perempuan tak tahu malu itu. Dan satu persatu mereka memberikan sinyal kerinduan akan belaian anak muda yang mereka gandrungi itu.
"Jo besok malam tugas pertamamu, bisik Siril yang tak mau rugi.
Joan tak menjawab.
"Hargamu semakin tinggi sekarang, kan kamu sudah resmi sarjana...." ujar Siril tak punya perasaan. Ia mengira Joan akan tunduk dengan kekuasaannya. "Ini besok malam menunggumu..." ditunjukkannya foto Lisa.
Mulanya Joan enggan menanggapi, tapi, begitu melihat foto Lisa yang seksi itu ia mulai beriaksi.
"Oke, tranfer aku sekarang, " ujarnya.
"Oke, " angguk Siril tersenyum.
Bagi Joan ini adalah maksiat yang terakhir. Bukan karena keseksian foto Lisa. Tapi karena Indira telah membayarnya untuk foto mesra mereka. Indira mamanya Rinda gadis yang disukainya, bagaimana pun ia harus membantu gadis itu untuk mendapatkan cinya kasih papanya kembali, walau pasti Indira akan menolak dirinya dekat dengan Rinda. Yang pasti pelakor harus dibuat menanggung akibatnya, begitu keputusannya.
__ADS_1
Besok malam tak perlu obat perangsang, karena ia tak perlu memuaskan perempuan itu. Biar saja, toh dirinya sudah mau mengakhiri kemaksiatan yang selama ini diterimanya dari order Siril.
Keluar dari tempat Siril, bukan tanpa resiko. Perempuan itu memang banyak jasanya. Bersediah menyekolahkannya ke sekolah lanjutan umum. Mengantarkannya menjadi seorang sarjana hukum. Tapi bukan tanpa pengorbanan. Selama empat tahun dirinya harus rela jadi ******. Meneras tenaganya untuk memuaskan kelimpok perempuan yang tak bermoral. Membuatnya selalu mengkomsumsi obat kuat atau obat perangsang. Karena tanpa obat itu ia merasa jijik harus memberikan tubuh mudanya pada perempuan yang seharusnya tinggal di rumah dan beribadah pada Tuhannya.
Lalu apakah dirinya suci?
Joan tahu dirinya pun tak luput dari dosa. Walau yang dilakukannya adalah tekanan dan demi keselamatannya, tapi bukam berarti dirinya pun bersih dari hitungan dosa yang dicatat Malaikat. Tentunya ia akan menerima murka Allah atas dosa dosa yang telah tercatat setiap saay tetes keringatnya jatuh di tubuh perempuan yang pada haus tubuh mudanya itu.
"Aku akan menyekolahkanmu dan akan melindungimu, tapi setelah itu kamu juga harus membantuku, " ujar Siril perempuan lewat dari empat puluh tahun, enam tahun lalu itu didampingi suaminya yang sepantasnya menjadi ayahnya.
."Ya, " angguk Joan.
"Kalau kamu berkhianat, maka aku akan memberikanmu pada prnculikmu!" Ancam Siril yang hanya tahu kalau Joan diculik dan berusaha kabur. Selebihnya ia tak bercerita apa pun, dan Siril juga tak mau tahu apa pun juga tentang anak remaja yang tiba tiba masuk ke mobilnya saat ia selesai mengisi mobil.
"Tante...eh Nyonya tolong lindungi saya dari penculik penculik itu.." enam tahun lalu Joan remaja memohon dengan muka memelas.
"Kamu bukan anak nakal yang dikejar sebagai pencuri, kan?" Siril menelitit kukit bersih serta eajah tampan dan muka terawat Joan yang ketakutan. Hati kecilnya mengatakan bahwa Joan anak baik.
."Oh bukan Nyonya saya...saya..."
"Baiklah duduklah di situ aku akan membawamu ke rumahku, " ujar Siril langsung menjalankan mobilnya.
"Terima kasih, Nyonya, " bukan main senangnya hati Joan yang bisa lolos dari penculiknya tadi yang sedang makan, dan salah satu dari mereka meleng maka segeralah Joan mengambil makanan mereka lalu melemparkan pada dua penculiknya yang saat itu memberinya pula makan. Dan mereka makan bersama di dalam mobil.
Saat mereka merasa perih matanya segera Joan berlari, dan saat kebingungan ia melihat perempuan yang tak lain Siril mengisi bensin mobilnya, segera saja ia masuk ke belakang mobil dan bersembunyi.
Tapi setelah Joan lulus sekolah dan menjelma menjadi pemuda tampan dan gagah, maka Siril ysng tak punya anak itu, segera melempar aksinya, mengeluarkan jaring jebakannya.
"Kau akan terus hidup amsn di sini, bahkan bisa kuliah sesuai cita citamu, tapi untuk semuanya itu ada bayarannya..."
."Aku akan bekerja di bar milik Tante, " seru Joan dengan senang hati.
."Bukan jadi pelayan, kamu terlalu tampan, tapi tugasmu melayani kimunitas yang baru kubentuk? Sejumlah perempuan kaya tapi haus lelaki yang akan kau puaskan...!"
ikuti terus ceritanya ya
__ADS_1
makacih...