Monik Gadis kecilku dulu

Monik Gadis kecilku dulu
Haris akan membuka lagi kasus papanya Monik


__ADS_3

Sudah lama Monik tak jalan jalan dengan mobil pribadi seperti saat ini, dimana Haris membawanya berkeliling Jakarta. Dulu ia kerap bersama papa dan mamanya. Di jok belakang dirinya sering digoda mas Jonya.


"Putri kamu haus?" Haris menoleh sejenak pada gadis di sebelahnya, dan sebelum Monik menyahut, ia langsung menepikan mobilnya di tempat yang memang diperbolehkan mobil pribadi berhenti. Lalu Farel segera keluar mobil membeli tiga cup coklat dingin. Lalu mobil pun kembali bergerak.


"Terima kasih, Pak, " sebelum menyeruput coklat dingin kesukaannya ia berterima kasih dulu pada yang membelikan.


"Oke, nanti kalau kita lapar mampir ke warung bakso, " ujar Haris lalu menyeruput coklat dinginnya dengan tangan kirinya, lalu meletakkan miniman dingin itu di box di sebelahnya.


Monik tersenyum atas tawaran bakso dari Haris, menyeruput lewat sedotan coklat dingin kesukaannya, lalu menoleh pada Farel.


"Segar, kan?" Sambut Farel.


"Banget..." Monik menyeruput lagi. Terasa sangat nikmat, "Dulu kalau aku jalan jalan sama Papa dan Mama, Mas Jo nggak lupa bawain aku coklat dingin, bahkan kadang Mas Jo masukin es batu, kan.makin lama kurang manisnya..." teringat kejadian waktu itu, mas Jonya memasukkan es batu ke tempat coklat susunya, maka ia sempat ngambek pada kakaknya, akibat es batu mencair coklat susunya jadi tak manis lagi.


Mas Jo apa kamu baca pesanku di komentar gadis tupaimu ini...? Tiba tiba saja kerinduannya pada Jo mengaduk aduk isi dadanya.


."Siapa Mas Jo, Put?" Farel ingin tahu.


"Kakakku, " cepat Monik menjawab dengan mata berbinar. Farel hanya merasa suara Monik sangat riang saat menyebut kakaknya, tapi Akp Haris dari spion di depannya bisa melihat betapa mata gadis itu berbinar indah, sehingga wajah cantiknya terlihat sangat sumringah.


"Jadi Putri punya Kakak?" Haris merasa mendapat peluang untuk masuk pada wilayah keluarga Monik.


"Ya, Pak," angguk Monik cepat. Suaranya bernada begitu senang, menandakan betapa ia sayang pada saudaranya.


"Pantaran aku, dong kakakmu itu..." Farel nyelutuk.


Monik menoleh pada Farel, "Emangnya umur kamu berapa?"


"Eng.. dua puluh tahunanlah..."


Monik seperti menghitung, "Tua Mas Jo, deh, sekarang Mas Jo hampir dua dua, deh..."


"Oh ya?" Farel tertarik. Haris senang adiknya membantunya bertanya, sehingga tak tampak kalau itu pertanyaan yang diinginkannya sebagai seorang polisi.


"Yalah..." Monik antusias menjawab.


"Pasti ganteng dong..."


"Kok tahu?" Monik semakin terlihat senang.


"Kan adiknya secantik kamu..." Farel tertawa.


Monik tersipu.


Farel bisa ajah, nih, ngerayu. Haris senyum senyum sendiri.


"Masih kuliah apa sudah selesai kuliahnya, Put?"


Nah pertanyaan ini membuat Monik tersedak karena ia sedang melanjutkan seruputannya.


Huk...huk...huk...

__ADS_1


"Maaf aku..." Monik tak meneruskam suaranya, ia tak tahu harus menjawab apa, kan belum bertemu dengan mas Jonya, lalu air matanya tanpa permisi langsung saja menganak sungai di kedua pipinya.


"Putri ada apa denganmu?" Harus bertanya hati hati.


"Saya belum bertemu Mas Jo selama enam tahun..." Monik semakin menangis, rasanya sudah tak tahan untuk menahannya.


"Putri sampai nggak ketemu enam tahun, memang mas Jo kamu kemana?" Farel sangat perhatian pada Monik.


Monik menggeleng, ia menyimpan rahasia tragis itu sudah enam tahun lebih. Hanya pada kaj Ratunya berbagi. Ia memang tak mau membukanya pada sembarang orang, khawatir justru akan mencelakakan dirinya sendiri.


Tapi bukankah Haris polisi, apakah minta bantuan sekalian untuk menyelidiki siapa pembunuh papanya?


Bukankah jika kita berbicara dengan polisi semua derita kita akan tetatasi? Dengan ilmu kanuragannya memang mungkin saja ia mampu menghadapi lawan, mengahadapi pembunuh papanya, tapi polisi punya cara lain untuk menelusurinya.


Tanpa sadar ia menoleh pada Haris. Benarkah polisi bisa meringankan tugasku untuk mencaru pembunuh papa, dan membebaskan mama yang tampaknya tertekan itu?


"Kalau kamu mau cerita ayo ceritalanlah supaya batinmu legah, dan aku berjanji untuk membantumu, Putri, " ujar Haris membuat Monik lebih yakin lagi bahwa kasus kematian papanya bisa terbantu.


Monik menoleh lagi pada Haris seakan ingin lebih meyakinkan hatinya.


"Ayo ceritalah, kalau memang bisa aku bantu pasti pihak kepolisian akan membantumu, " ujar Haris mengulang lagi.


Monik menatap Haris lekat, dia tak berbohong, buktinya dia bertanggung jawab tentang Farel pada pimpinan universitas dia menjaminkan dirinya, padahal, kan Farel dicari.karena aku.


"Aku Monik, dan nama lengkapku Monik Putri Johan, papaku Johan arsitek, aku dan Mas Jo diculik enam tahun lalu..." tangis Monik pecah lagi.


"Diculik?!" Farel terkejut langsung menatap pundak Monik yang naik turun,.karena saat ini gadis itu memang sedang menangis, rasanya tak sanggup lagi meneruskan terbayang akan pembunuhan terhadap papanya. Ia ingat waktu di Mal gadis yang sedang bersedih itu menyebut dirinya Monik.


"Saya tidak tahu, tapi, pasti mereka pembunuh papaku..."


"Papamu dibunuh?" Haris lebih serius suaranya, sedangkan Farel terkejut mendengar papanya Monik dibunuh.


"Ya, " lalu dengan suara bergetar Monik menceritakan kronologi penikaman dan penculikan dirinya bersama mas Jonya, hingga ia lari dan mobil penculiknya dan terjatuh ke jurang.


Monik terdiam tapi masih terisak. Haris penuh perhatian pada cerita pembunuhan papanya Monik dan penculikan gadis itu. Jiwa polisinya mulai kepermukaan. Ada yang harus dilakukan dengan kejadian di keluarga Monik.


"Monik..." panggil Farel merasa ibah pada gadis itu.


"Kalau di kampus tolong panggil aku Putri, ya, "


"Oh ya...ya..." angguk Farel. Rasanya ingin sekali menguatkan hati gadis malang itu, tapi, ia teringat bahwa Monik gadis yang kuat, "Oh ya bukankah mamamu datang ke kampus bersama teman satu kelasmu?" Farel ingat waktu Monik bertemu nyonya yang menolak pelukannya, dan Monik hampir menangis saat ketelepasan itu mamanya.


"Entah bagaimana ceritanya jadi berbelit, tahu tahu mamaku jadi mama kandungnya Rima..."


"Kamu yang sabar, ya, Monik, " sungguh Farel ibah pada Monik. Walau gadis itu jago ilmu bela diri dan sanggup menghadapi pembunuh papanya dengan ilmu langkah yang dimilikinya, tapi tak urung batinnya tersiksa dipisahkan dengan keluarga."Kamu hebat Monik, kamu gadis luar biasa, semoga, ya, mas Jomu cepat ditemukan." Harap Farel bukam.hanya basa basi, tapi keluar dari lubuk hatinya semoga gadis yang sebenarnya mencuri hatinya itu, segera bertemu dengan kakaknya, dan berkumpul pula dengan mamanya.


Farel mengunci rekaman percakapan Monik dan kakaknya. Ia tahu sebagai polisi, walau Monik tak melapor secara resmi, pasti kakaknya itu akan menindaklanjutinya.


Memang benar Akp Haris sedang fokus pada cerita cerita Monik. Ada pembunuhan. Ada penculikan anak dibawah umur. Peristiwa berdarah itu enam tahun yang lalu.


Ingat kini, peristiwa yang menewaskan seorang arsitek serta pebisnis bernama Johan pernah ditangani polisi. Tapi ada pihak keluarga yang datang mengatakan bahwa keluarga sudah ikhlas supaya kasusnya ditutup, karena akan membuat isteri dan dua anak korban menderita jika polisi datang terus ke rumah dan menanyakan ini dan itu.

__ADS_1


"Sekarang saja isteri korban dan kedua anaknya sembunyi, Pak, pihak keluarga saja tidak tahu, tapi ibu Vina mengirim pesan bahwa beliau dan anak anaknya tak mau diganggu, " ujar lelaki yang mengaku sebagai keluarga.


Polisi pun menghentikan penyelidikan itu. Gigi Haris generutuk? Geram dan marah. Rupanya yang datang ke kantor polisi waktu itu bukanlah pihak keluarga, tapi, justru pihak pembunuh. Mereka telah mengelabuhi polisi. Haris waktu itu belum berpangkat Ajun Komisaris Polisi, tapi dirinya sudah lulus dari akademi polisi dan sedang bertugas di wilayah dimana pembunuhan Johan terjadi.


Kasus yang ditutup itu harus dibuka kembali. Dan ia akan berkoordinasi dengan polres yang dulu menangani kasus orang tua Monik.


"Monik, aku akan berkoordinir dengan kepolisian yang dulu menangani kasus papamu, kamu tenang dan tetap hati hati dan waspada..."


"Ya terima kasih, Pak Haris...eh...Pak Ajun Komisaris polisi..."


"Panggil saja Pak Haris," ujar Haris tersenyum."Oh ya selama enam tahun kamu tinggal dimana?"


"Di desa Leuwiliang, Pak, "


"Di Bogor?"


"Ya di desa di perbukitan, ada wanita berhati mulia menolong saya, bahkan menanggung hidup saya, menyekolahkan dan membiayai kuliah saya..."


"Siapa wanita itu, Nik?"


Monik menoleh pada Haris


"Masih ragu?" Haris tersenyum.


"Kak Ratu..."


"Ratu...?!" Haris terkejut, lalu terbayang seorang gadis dewasa yang sabar dan pendiam, dan tentu saja jago silat, serta memiliki ilmu langkah. Kakek gadis itu berkawan akrab dengan guru silatnya.


"Hanya dia yang memiliki ilmu yang bisa mendatangkan panas dan menciptakan dingin, " ujar kakek Anom guru silatnya yang juga mewariskan ilmu Angin puyuh, yang mana sudah dipergunakan mendorong ranting berapi yang diciptakan Monik dua malam lalu. Berarti Ratu menurunkan ilmunya pada Monik. Hebat. Kenapa tak ia berikan pada lelaki yang menikahinya?


"Pak Haris kenal dengan Kak Ratu?" Monik berharap kak Ratunya dan polisi baik serta penuh perhatian itu saling kenal.


"Ya..."Haris menghela napas panjang, karena cintanya ditolak Ratulah dirinya fokus pada pendidikan polisinya.


Monik sangat senang ternyata polisi yang berjanji untuk mengungkap pembunuh papanya kenal dengan kak Ratunya.


"Kok kamu senyum senyum, Monik?" Farel sangat senang melihat Monik bibirnya tersenyum dan bola matanya berbinar, tak semuram.dan sesedih tadi.


"Aku bahagia karena Pak Haris ternyata kenal dengan kak Ratu, " ujat Monik tersenyum menoleh pada Farel.


"Kamu bukan seleraku, Haris, " ujar Ratu saat sembilan tahun lalu mengutarakan isi hatinya, "Aku terlalu tua untukmu, "


"Tapi..."


"Haris umur kita beda lima tahun, aku sudah dua puluh enam tahun dan kamu baru dua puluh satu, apalagi aku perempuan pastinya lebih cepat tua darimu laki laki, sudah lupskan aku dan pasti kamu dapat yang sepadan..."


Haris yang terlanjur jatuh cinta sangat kecewa, maka sejak itu ia fokus ke pendidikan. Pernah sekali mencoba dekat dengan seorang gadis, hampir pada jenjang bertunangan. Tapi berpisah, karena ternyata mereka saling yak bisa mengalah, sang gadis tak mau tahu tugas seorang polisi.


Sejak saat itu tak memikirkan untuk jatuh cinta lagi, hingga Kakek Anom memberi kabar kalau Ratu menikah dengan lelaki sebayanya bernama Herman. Setelah kakek Anom meninggal ia tak pernah mendengar lagi berita tentang Ratu. Dan kini gadis asuhannya ada di sampingnya, yang membuatnya teringat kembali pada cintanya yang tertolak.


ikuti terus ceritanya, ya

__ADS_1


maksih


__ADS_2