
Monik kecewa karena email barunya untuk menunggu email dari mas Jonya, ternyata banyak email yang masuk dari orang lain.
"Mau dong jadi kakaknya, "
"Aku Riyan, tampan lho, aku ajah.kakakmu, ya..."
"Hi kakak elo katro masa main fusal sepatunya copot. Ganti ama guwa ajah kakaknya, deh..."
"Hai Jovi sayang, gimana gimana kakaknya suruh belajar sama aku main futsalnya, tapi kamu kudu jadi pacarku dulu..."
Banyak lagi email yang lucu, yang ngajak pacaran, yang minta fotonya. Tapi semua hanya bagai angun lalu dan Monik membalas bukan satu persatu, tapi membalasnya lewat kolom komentar di artikel 'Gadis Tupai'
"Untuk semua yang telah menyapaku yang bukan siapa siapa, terima kasih perkenalan dan perhatian kalian. Salam bunga Melati dariku.
Bunga melati memiliki arti khusus jika mas Jonya yang membaca. Karena Melati bunga kesayangan mamanya. Dan mas Jonya tahu itu. Monik berharap kakaknya membaca kolom komentar 'Gadis Tupai'
Email yang masuk sebenarnya membuat Monik senyum senyum. Tapi tetap saja sedih karena mas Jonya yang dituju itu belum juga mengiriminya email. Huh, Mas Jo kemana, sih, kamu..?
"Ayo dong Mas Jo, ke kolom komentar, masa udah lupa sama Gadis Tupaimu ini...!"
Ting tong...
Ada WA masuk.
"Dari mama..."
"Semua mahasiswa Fakultas hukum akan didatangi untuk menemukan Farel. Hati hati!"
"Duh apa apaan ini?!" Monik panik. Gila kali orang itu. Sebenarnya siapa sih yang mau nangkap Farel?"
Monik tercengang dan dadanya berdebar kencang pasti gambar dirinya dan Farel sudah mereka ketahui dari cctv.
Memangnya apa salahnya si Farel? Kalau seandainya dia memang kakakku betulan kenapa dipersalahkan menjeput adiknya sendiri..." gerutu Monik kesal.
"Aku bilang kamu itu kalau belum minum obat bisa ngamuk..." teringat ucapan Farel yang akan akalan supaya bisa membebaskan dirinya itu.
"Huh ide siapa, sih, yang sampai mau cari Farel ke semua fakultas hukum, huh, keterlaluan..."
"Yang kamu anggap Mama itu isterinya Bos yang punya Mal ini, " terngiang ucapan satpam.
"Jadi suami Mama yang mencari Farel, alasannya?
Monik membelalakkan kedua matanya. Suaminya Mama pasti mencariku. Dan Monik langsung tanggap, mereka mencari Farel karena ingin Farel menyerahkan aku.
."Oh bahaya, jika mereka menemukan Farel pasti juga menemukanku.
Monik tengah berpikir tentang kemungkinannya dirinya adalah target suami mamanya, pasti ada sesuatu dengan suami mamanya. Tak salah lagi dia pasti terlibat dengan pebunuhan papa. Semua analysanya kak Ratunya benar kalau begitu, mamanya pun dalam bahaya.
"Aduh bagaimana caranya mengasitahu Farel kalau pemuda itu dicari, dan apakah Farel akan memberitahu tentang dirinya?
Makanya saat hari kedua orientasi sengaja Monik mencari Farel.
"Ada apa kamu cari Farel?" Wanda cewek yang ada hati sama Farel menatap Monik kesal.
"Hanya ada sedikit keperluan, Mbak, " ujar Monik ragu ragu.
"Ya keperluannya apa, masa anak baru udah tebar pesona sama seniornya..." ujar Wanda.
"Duh bukan begitu, Mbak, saya ada kepentingan teramat sangat..." Monik jadi serba salah menghadapi Wanda yang sangat sulit menarik perhatian Farel.
"Hai Putri..." Farel tahu tahu sudah melambai dekat ruang panitia pelaksana orintasi.
"Maaf, ya, Mbak permisi aku mau ke Farel dulu, " pamit Monik dan tanpa menunggu jawaban Wanda segera kakinya berlari lari kecil menuju ke tempat Farel yang juga berjalan mendekat kearahnya.
"Huh kecentilan awas ajah kamu, " sungut Wanda yang cemburu pada Monik, dan sebagai yang tergabung sebagai panitia orientasi, ia harus mengerjai gadis yang sudah membuatnya kesal itu.
"Hai Putri..." Farel mengulurkan tangannya dan Monik ragu ragu menerimanya. Dan tanpa tahu mereka Wanda memperhatikan dari tempatnya berdiri dengan cemberut.
"Apa kabar Putri, " tersenyum Farel, "Katanya nyari aku, ya?" Kerlingnya menggoda.
"Maaf, ya...eng...kak..."
"Panggil saja Farel," ujar Farel cepat karena Monik tampak bingung.
"Oh ...ya..." Monik jadi sedikit gugup, "Maaf aku terpaksa mencari kamu eng nggak apa apa aku langsung berkamu?" Monik sedikit tak enak kesannya kok nyeloncong amat.
Farel tertawa, "Santai ajah kali..." ujarnya merasa lucu dengan tingkah Monik, "Umur kamu berapa, Putri?" Tanya pemuda dua puluh tahun itu.
."Tujuh belas tahun, " hawab Monik jujur dan malu malu.
"Pantas malu malu..." ujar Farel, "Oh ya ada yang penting tentunya sampai kamu nyari aku, kan?" Goda Farel.
"Begini Farel..."
"Santai ajah dong nggak usah grogi, jangan takut ayo ngomong ajah, " sengaja Farel bersikap santai supaya Monik tak memandangnya sebagai panitia pelaksana masa perkenalan calon mahasiswa yang galak dan arogan lagi.
__ADS_1
"Aku takut kamu nggak percaya, ".ujar Monik merasa ragu untuk memberitahu yang harus diketahui oleh Farel.
Farel tersenyum."Lho belum ngomong sudah tak percaya..." ujarnya pelan, "Ayo katakan saja nggak jangan ragu siapa tahu itu memang harus kita ketahui..." ujarnya bergaya membujuk.
"Kita dalam bahaya..."
"Apa kita dalam bahaya...?!" Farel terkejut.
"Ya, " menunduk sedih Monik. Sebenarnya Farel ingin tertawa, tapi melihat Monik menunduk sedih ia jadi terdiam juga.
"Putri..."
"Aku minta maaf semua gara gara aku jadi kamu tersangkut bahaya," Monik merasa sangat tak nyaman karena telah menyeret Farel pada urusan pribadinya.
"Lho coba ceritakan dulu, gimana permasalahannya, kok tiba tiba kamu dan aku dalam bahaya, "
Monik mengangkat kepalanya, dan pandangannya bertemu dengan mata Farel yang tengah memandangnya.
"Ceritakanlah, " pinta Farel.
"Karena kamu telah menolongku waktu di Mal, makanya kamu mau dicari..."
.."Lho kok aneh urusannya apa, kamu kan nggak merusak apa pun, terus dimananya yang akan membuat kita dalam bahaya?" Farel tak habis mengerti, semua sudah selesai.
"Permasalahannya ada di aku, mereka mencarimu karena mereka tahu statusmu, lalu setelah bertemu denganmu mereka akan meminta kamu menunjukkan keberadaanku..." lirih suara Monik.
"Lho permasalahannya kok jadi serumit itu, Putri, memangnya ada urusan apa antara kamu dengan pihak Mal?"
Monik menatap Farel. Cerita keluarganya tak bisa ia ceritakan pada orang lain.
"Aku hanya mau pesan padamu, mereka itu berbahaya, kamu hati hati jika nanti mereka menemukanmu...sekali lagi aku minta maaf..." Monik tampak merasa bersalah. "Biar hanya kita saja yang tahu, "
Farel sebenarnya ingin bertanya lebih detail pada Monik, mereka itu siapa, dan kenapa gadis itu harus dicari. Tapi acara akan segera dimulai. Mau tak mau Farel.
Sepanjang acara perkenalan atau upaya untuk mengakrabkan para yunior dan seniornya, pikiran Farel terus berputar pada pembicaraannya dengan Monik.
Seharusnya acara sudah selesai tapi rupanya Wanda menaruh rasa cemburu pada Monik secara mendadak menambah satu acara lagi.
"Satu acara lagi, ya , kali untuk Saudari Putri yang berhijab cantik warna biru langit..." ujar Wanda yang membuat beberapa panita saling tatap tak mengerti acara tambahan apa yang dimaksud Wanda. Tapi mereka diam saja tak protes atau berdebat. Tak terkecuali Farel yang terkejut menatap Wanda.
Monik sebenarnya terkejut. Tapi gadis itu tetap tenang. Sedangkan Rima di sebelahnya berbisik.
"Dari tadi sepanjang acara dia itu ngeliati kamu terus, Put..."
"Berarti tadi kamu juga ngeliati dia, dong..." Monik tertsenyum.
"Mungkin juga, biar nanti aku jelaskan aku sama Farel nggak ada apa apa, " tapi nanti kalau dia maksa aku cerita tadi aku urusan apa sama Farel repot juga. Monik bingung karena soal Farel dan dirinya dicari oleh pemilik Mal itu tak boleh orang lain tahu.
."Yang bernama Putri silakan maju, dan yang lain tolong diam karena ini atraksi penutup yang akan berkesan untuk kita semua..." ujar Wanda, lagi lagi membuat panitia lainnya celingak celinguk.
Farel tak bisa tinggal diam. Seharusnya atraksi tambahan dilaporkan terlebih dulu, lalu dirunding bersama.
"Wanda apa apaan kamu?!" Farel menatap Wanda yang tampak tenang."Jangan buat macam.macam, ah..."
"Tenang ajalah kamu, santai lihat pasti menarik..." ujar Wanda tersenyum."Putri mana?" Pandangannya melebar ke depan.
Putri siap melangkah, tapi tangan Rima menahannya.
"Hati hati..." Rima cemas.
"Ya, bantu doa ajah, ya...".angguk Monik.
."Ya, Putri, "
Monik berjalan keluar dari barisan dan melangkah ke depan dan berhenti tepat di depan Wanda.
"Kamu Putri?" Wanda menatap putri yang tampak tenang, "Jangan sok tenang kamu entar juga pasti tahu rasa..."
"Ya, " angguk Putri.
"Hobbynya katanya olah raga, ya?" Wanda menatap Monik yang pada perkenalan Monik menyebutkan hobbynya.
"Prestasi kemarin apa?" Wanda menatap Monik.
"Lompat tinggi, " ujar Monik.
"Berapa ketinggian yang dicapai?"
"Seratus enampuluh empat meter, " jawab Monik jujur, dan saat berlangsungnya lomba sama sekali Monik tak mempergunakan ilmu meringsnkan tubuhnya. Murni lompatannya sendiri. Dari kecil sudah terbiasa dididik jujur oleh mama papanya, dan kak Ratu pun selalu menekankan bahwa ilmunya bukan untuk mengambil keuntungan.
"Woow..." berdengung rasa kagum.
"Baiklah coba sekarang ingin sekali menyaksikan lompatanmu, dan mungkin juga panitia yang lain dan teman teman yunior, mau..?"
"Mauuuu..."
__ADS_1
Hanya Rima yang diam tercekat.
Panita lainnya saling tatap dan langsung berdiri mendekat pada Wanda, begitu Farel denga muka tak suka ingin mencegah Wanda berlaku diluar prosedur.
"Wanda...!" Farel ingin mencegah.
"Nggak usah khawatir Farel pelompat tinggi kita ini mahir, dan ini menjadi atraksi yang menarik, serta sebuah kehormatan untuk kita dari Putri..."
"Kita belum mempersiapkan tempatnya!" Protes panitia lainnya.
"Jangan bermain main dengan bahaya, Wanda...!" Protes keras Farel.
Wanda menatap Monik, "Bagaimana Putri?"
."Ya aku siap, " jawab Putri mantap, ia tahu kalau Monik sengaja untuk membuatnya celaka atau entah apa namanya. Makanya ia akan menerima tantangan gadis yang jutek pada dirinya itu.
"Nah kamu dengar sendiri kan, Farel?" Wanda tersenyum pada Farel.
"Putri...?" Farel menatap Monik yang dijawab gadis itu dengan anggukan dan senyuman.
"Kita siapkan alatnya dulu Wanda, " ujar Risman ketua panitia membuka suaranya, karena semua atraksi atau permainan harus mengikuti prosedur yang layak.
"Benar, " seru Guntur.
Mereka sepakat tambahan permainan apa pun harus melalui kelayakan. Jangan sampai acara yang semula berniat dan bertujuan baik ini menjadi ternoda, dan cacat di mata Yunior.
."kita tanya sama Putri dulu, " ujar Wanda, " lalu memandang putri, " Aku mau bertanya pada Putri dan tolong semuanya mendengarkan..." lalu Wanda meminta mik pada Guntur, sehingga kini suaranya menjadi bisa didengar oleh para yunior atau mahasiswa baru .
Wanda lalu memandang Monik. Keduanya saling tatap.
"Monik maaf bukan aku tak percaya padamu, tapi, aku mengagumimu,.makanya aku akan menonton keahlianmu berlompat tinggi, kamu bersediah?" Wanda mengarahkan mik di tangannya ke Monik.
"Ya, "
"Dengan rela hati?" Wanda ingin meyakinkan.
"Ya, " jawab Monik."Dengan rela dan senang hati, "
"Nah coba lihat pohon mangga yang ada buahnya itu.." Wanda menunjuk pada pohon mangga yang memang sedang berbuah.
Bukan hanya Monik yang menoleh pada pohon mangga yang sedang berbuah itu. Semua menoleh ke satu jurusan,.yaitu pohon mangga yang berbuah yang sedang jadi target.
"Buah pohon mangga yang paling bawah itu tingginya sekitar dua ratus tujuh puluh lima sentimeter. Sedangkan kamu lompatan kakimu serarus enampuluh empat sentimeter, jika ditambah dengan tinggi badanmu serta panjang lenganmu, pastilah bunga mangga itu terjangkau olehmu..."
"Gila kamu Wanda...!" Farel tak setuju.
"Itu tidak benar Wanda!" Risman juga tak setuju.
"Bahaya Wanda!" Guntur ikut melarang.
"Jangan nekat, elo, Wanda..." Sinta yang sejak tadi hanya memperhatikan merasa cara Wanda sudah tak sehat, "Bisa celaka dia..."
Monik yang merasa kalau Wanda sengaja ingin membuatnya malu jika ia gagal,.maka segera maju dan mendekatkan wajahnya ke mik dan langsung bersuara, "Aku siap..."
"Oh...!" Farel terkejut, begitu pun yang lain, sedangkan mahasiswa baru bergumam antara kagum dan genes serta cemas.
"Putri jangan...!" Rima berteriak.
Monik menoleh pada Rima, dan melambaikan tangannya dengan tersenyum.
"Serius Putri?" Sebenarnya Wanda sendiri merasa heran pada kenekatan putri yang menerima tantangannya. Hem kamu mau action di depan Farel, ya, silahkan,.kamu kira lompat tinggi seratus enam puluh empat centimeter sama dengan ketinggian dua ratus tujuh puluh lima sentimeter, apa, rasain kamu, paling terjatuh dan disorakin...!
"Kita pakai matras dulu..." usul Farel yang sudah tak bisa mencegah karena baik Wanda mau pun Monik sepakat.
"Ya kita ambil matras..." seru Risman.
"Tak usah, Kak, " cegah Monik.
Farel dan Risman saling tatap dengan resah. Begitu pun Guntur dan Sinta terlihat khawatir pada Monik. Sedangkan para yunior dag dig dug juga. Tetutama Rima, ia berdoa untuk keselamatan Monik.
"Kak Ratu maafkan aku sedikit mempergunakan ilmu seringan kapas dipadu dengan kemampuanku melompat, " batinnya berseru.
Lalu Monik memasang ancang ancang .
Satu
Dua
Tiga
Tubuh Monik dengan indahnya melayang ke pohon dengan sedikit ilmu kapasnya, ia mendarat indah di pohon di sekitar ketinggian seratus tujuh puluh sentimeter, lalu melaju lagi bagai melayang menuju pada buah mangga yang menggelantung di tangkai pohon memetiknya. Gerakannya begitu cepat dan mendarat di tanah dengan posisi kedua kaki tegak, dan tangan memegang mangga yang diminta Wanda.
"Putriiiii...." sorak sorai para yunior dan Rima melompat senang. Sedangkan Farel yang tadi menahan napas itu, tercengang melihat gerakan Monik bagai kapas melayang. Sedangkan Risman yang deg deg gan saat merekam video atraksi Monik tercengang, ia bagai melihat seorang jagoan wanita di film kungfu klasik Cina yang sedang terbang.
Tinggallah Wanda yang menerima mangga dari Monik ternganga tak percaya tapi nyata...
__ADS_1
Bersambung