
Vina menangis dikamarnya. Hatinya pedih tak bisa meraih putri yang begitu dicintai dan dirindukannya. Monik memeluknya, menjerit batin putrinya karena tak mendapat pengakuannya. Rasanya seluruh jiwanya terluka. Darah menetes dan melahirkan perih yang tiada tara. Di depan mata putri tersayangnya tadi, tapi ia telah menyakitinya.
Tangan meraba tubuhnya yang dipeluk Monik penuh rasa kerinduan tadi. Air matanya mengaliri kedua pipinya.
"Maafkan Mama Monik sayang, rasa kangen ini hampir membuat Mama mati, Nak, " jerit pilu Vina , "Kamu sudah remaja, kamu cantik sayang, Alhamdulillah kamu berhijab, Nak..." rasanya Vina ingin menjerit karena tak bisa merangkul Monik untuk menuntaskan kerinduannya pada gadis kecilnya dulu, yang kini sudah remaja."Apakah kamu bersama masmu Jo, Nak...?"
Setidaknya ia merasa bahagia juga mengetahui putrinya masih hidup dan sehat. Berarti orang orangnya Sudibyo tak berhasil menghabisi putrinya.
"Jo..." Hatinya belum tenang karena belum melihat sosok Jian putra tercintanya yang saat ini pastinya sudah menjadi pemuda tampan..
"Jo, Monik anak anakku, bagaimana dengan sekolahmu, Nak," sedih mengingat kelangsungan pendidikan putra putrinya. "Maafkan Mama tak bisa melindungi kalian anak anakku...
Terbayang kembali kejadian tadi di Mal. Seorang gadis berhijab memeluknya. Ada getar bahagia menyelusup ke aliran darahnya. Apalagi saat gadis itu membuka masker yang menutup wajahnya, seketika dadanya bergetar. Menatap buah hati yang enam tahun dirindukannya itu, dengan tatap sarat dengan kangen dan sedih.
"Ma ... ini Monik sudah besar...." pekikan rindu permata hatinya. Menatapnya sepenuh rindu dengan mata mengambang air, dan wajah cantik yang selalu dibayangkannya itu menyelusupkan mengantarkan getar bahagia atas pertemuan mereka.
Vina menahan kedua tangannya untuk tak membalas pelukan putrinya. Bahkan saat Monik menatapnya heran karena tak ada respon, segera ia palingkan wajahnya ke tempat lain.
Vina sebisa mungkin menahan diri. Menekan rasa rindunya yang dalam. Hanya hatinya yang menjerit tadi menerima hangat tubuh yang mengantarkan kasih sayang tak terbatas pada dirinya itu.
"Mama jangan lupakan Monik, Ma..." suara putri sangat memelas. Hangar terasa pelukan Monik begitu nyaman di dadanya. Sengaja ia tak langsung menjauhkan tubuh ramping putrinya dari tubuhnya sendiri. Karena ia sangat bahagia mereka bisa sedekat itu.
Pengawal yang ditugaskan menjaganya belum bertindak, mereka menunggu aba abanya. Biar saja pelukan pelampiasan rindu putrinya ia nikmati dulu tanpa berani membalas pelukannya. Ia tak mau membahayakan putri terkasihnya, walau jiwanya menjerit merasakan betapa Monik sangat sedih karena ibu yang sangat dicintainya tak merespon.
Monik tampak semakin sedih. Oh Monik dada ini mau meledak melihatmu memelas meminta pengakuanku. "Maafkan Mama, sayang..." batinnya menjerit pilu.
"Mama aku Monik anakmu Mama Vina, kita terpisah dulu papa dibunuh ... Mama dibawa pergi dan aku dengan Mas Jo diculik mereka..."
Ungkapan Monik yang ini membuatnya sangat menakutkannya. Makanya dengan terpaksa ia langsung beriaksi untuk melepadkan diri dari pelukan gadis yang sebenarnya tak ingin terlepaskan.
"Sayang mungkin kamu salah orang, ayo lepaskan nanti pengawal Ibu marah...." sangat terpaksa Vina berkata demikian dan saat dua pengawal berusaha untuk melepaskan pelukan Monik pada dirinya, sungguh ia tak sampai hati menyaksikan kepedihan kedua mata penuh kekecewaan putri terkasihnya itu.
"Ayo, Ma aku Monik jangan begini aku rindu Mama..." Monik merontah dalam bopongan kasar dua pengawalnya. Dan suara gadis itu memelas berusaha menggugah hatinya.
Tak sanggup melihat siksa perasaan putrinya, dengan kesakitan bagai ditimpa berton ton paku kepalanya, segera Vina berbalik, bergegas meninggalkan tempat itu.
Kini di kamarnya yang super mewah. Di atas kasur empuk tangis Vina pecah. Dibiarkannya air matanya berurai di pipinya. Hatinya betul betul sakit. Tak sangkah persaingan Jogan dan Sudibyo semasa muda menjadi petaka keluarganya. Menjadi derita nestapa untuk anak anaknya.
__ADS_1
"Monik sayang pasti hatimu terluka, Nak, menganggap Mama lupa padamu. Monik kalau saja nyawamu dan juga Jo kakakmu Jo tak jadi target lelaki yang sangat terpaksa kini menjadi suami Mama, tak akan Mama biarkan tadi kamu memelas di depan ibu kandungmu sendiri sayang..." inilah pedih yang terperih membiarkan putri yang pernah dikandungnya selama sembilan bulan lebih, tercampak karena penolakannya.
"Ingat katakan pada bos kalian selagi anak anakku hidup mereka akan membalas perbuatan kalian...!" Johan memegang perutnya yang berdarah, dan terkulai.
"Papa..." Vina mau mendekat tapi dua orang berbadan kekar membekap mulutnya dan ua tak sadarkan diri.
Rupanya ancaman Johan menjadi mumuk bagi Sudibyo, sehingga ia memerintahkan kaki tangannya untuk menghabisi anak anak Johan, yang tak lain Monik dan Joan, darah dagingnya buah cintanya dengan Johan lelaki yang sejak muda sudah tercipta permusuhan dengan Sudibyo, yang berakhir dengan pertumpahan darah. Begitu sadisnya lelaki yang menikahinya selagi dirinya berada dalam keadaan amnesia.
Amnesia
Saat ia diculik enam tahun lalu, ia berusaha kabur untuk mencari Joan dan Monik. Tapi malang saat menyeberang jalan dalam gelap malam di saat hujan deras, sebuah mobil yang berkecepatan tinggi menabraknya.
Vina koma satu bulan, dan Sudibyo yang memang sangat mencintainya, merawatnya dengan penuh perhatian. Hingga saat siuman keadaannya tak terduga ia lupa siapa dirinya. Semua memori dalam otaknya hilang. Tak lagi mengenali siapa pun. Maka kedua keadaan itu rupanya menjadikan keberuntungan bagi Sudibyo.
Enam bulan amnesia Sudibyo menikahinya, "Kita ini memang suamu isteri sudah sebelas tahun, " ujar Sudibyo."Karena engkau sudah dinyatakan sembuh oleh dokter, kita menikah lagi supaya cinta kasih kita lebih kokoh lagi, "
"Jadi engkau suamiku?" Vina manggut manggut menatap Sudibyo. Tapi hati kecilnya merasakan suatu yang ganjil, tapi ia tak tahu apa itu artinya.
"Ya, kamu tertabrak mobil dan menjadikanmu lupa padaku, " dengan lemah lembut Sudibyo berusaha untuk menciptakan sebuah momentum dalam pikiran dan perasaan Vina yang waktu itu kosong.
"Oh ya?" Vina tampak berpikur tapi tetap tak ingat apa pun, "Aku tak ingat apa apa, " serunya sedih.
"Begitukah kesabaranmu?" Vina menatap Sudibyo, adakah ia cinta pada lelaki yang ternyata suaminya itu? Kenapa tak ada getaran dalam dadanya?
"Kita dulu saling mencintai, tapi setelah kamu kena musibah dan tak ingat dirimu, maka kamu pun melupakan cintamu padaku, tapi karena aku sangat mencintaimu pasti aku bersabar menunggu hatimu terbuka kembali padaku, mencintaiku seperti dulu, dan kita hidup dalam kemesraan yang selalu kamu berikan padaku..." sebisa mungkin Sudibyo mendoktrinkan kemauannya pada Vina dengan kelembutan sikapnya.
"Oh begitu baiknya kamu, " ujar Vina yang saat itu berada di taman belakang rumah Sudibyo yang asri. Dan kebaikan serta perhatian dan kelembutan sikap lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya itu mrmbuat Vina berusaha untuk membalas kebaikannya.
Maka setiap menerima kelembutan dan kebaikan Sudibyo, berusaha pula Vina untuk membuat lelaki itu bahagia dengan memberikan perhatian dan melayaninya sebaik mungkin sebagaimana pengabdian seorang isteri terhadap suaminya.
Hingga suatu hari Sudibyo membawa seorang gadis berumur sebelas tahun lebih. Cantik dan sopan saat dipertemukan dengan Vina.
."Rinda ini anak kita, sayang..." lengan Sudibyo melingkari pundak Vina, "Apakah kamu sudah siap menerimanya?"
..Vina terkejut, "Jadi kita punya anak?" Ditatapnya Rima, tapi perasaannya memang pernah menimang anak, entah kapan, bahkan.bayangan samar anak perempuan yang bermanja manja padanya muncul begitu ia melihat Rinda. Ah, Vina tak menyadari kalau bayangan anak perempuan yang berkelebat itu bukanlah Rima, tapi putrinya Monik.
."Ya, selama ini aku tak membertahumu, karena khawatir nanti kamu masih lupa juga pada anak kita, " kerling Sudibyo yang sudah merasa memiliki Vina seutuhnya.
__ADS_1
.."Sini sayang..." Vina memeluk penuh sayang pada Rima yang juga mengira Vina adalah ibu kandungnya, seperti yang diceritakan oleh papanya sepanjang jalan tadi.
"Mama..." Rima balas memeluk Vina.
"Sayang maafkan Mama, ya, karena Mama sakit selama ini..." dielusnya Rima yang dikiranya memang putri kandungnya itu.
Lengkaplah sudah kebahagiaan Vina. Memiliki suami yang sangat mencintainya. Putri cantik yang baik dan penurut. Hingga satu tahun kemudian ia melahikan anak Sudibyo. Bayi laki laki yang sehatvdan tampan. Betapa Sudibyo sangat bahagia, dan semakin memanjakan isteri tercintanya itu. Bayi mereka diberi nama Divo.
Tapi siapa sangka setelah setahun umur jelang setahun umur Divo, sesuatu yang tak terduga terjadi. Ada perampok yang masuk kerumahnya, saat itu Sudibyo sedang keluar negeri. Kedatangan perampok itu diketahui oleh pengawal yang ditugaskan menjaga Vina dan Divo serta Rima.
Saat itulah terjadi perkelahian. Dan perampok mengeluarkan parang. Tentu saja si pengawal tak tinggal diam. Dan perampok itu tertusuk pisau sang pengawal kepercayaan Sudibyo, kebetulan saat itu Vina keluar dari kamarnya dan menyaksikan penusukan itu. Seketika bayangan penusukan yang terjadi pada Johan suaminya dulu masuk pada memori otaknya.
"Oh..." Vina langsung pinsan. Dan saat siuman ia kembali mendapatkan semua ingatannya yang menghilang.
Tentang pembunuhan suaminya, tentang penculikan Monik dan Joan, dan secara perlahan pula kejadian yang dialaminya dengan Sudibyo.yang begitu memanjakan dirinya, hingga terlahir bayi dari rahimnya.
.Vina mengalami tekanan batin luar biasa. Hingga ia jatuh sakit satu minggu. Saat Sudibyo pulang ia tak berani menunjukkan kalau ingatannya sudah kembali. Ia terus berpura pura amnesia. Merinding saat suami barunya itu merangkulnya. Namun walau perasaannya menolak, ia berpura pura tak ada masalah.
Menjalani kemesraan suami isteri dalam keterpaksaan. Berontak dan pergi dari dari Sudibyo, jelas Monik dan Joan yang waktu itu belum ketahuan nasibnya adalah taruhannya. Adanya Divo membuatnya semakin terimbang ambing.
Sydah empat tahun ia sembuh dari amnesianya. Tapi akhtingnya kalau ia masih amnesia tak ada yang curiga. Dan tadi di depan pengawal suaminya ia berpura pura tak mengenal Monik. Semua untuk melengkapi pura pura amnesianya.
Pintu diketuk dari luar, "Mama..." suara Rima.
Segera Vina berbaring membelakangi pintu dan menarik selimut untuk menutupi badannya dari kaki sampai ke leher. Lalu pura pura tidur.
Perlahan Rima mendorong pintu dan ketika melihat Vina tidur ia hanya mendekat dan mencium rambut wanita yang begitu disayanginya itu.
Vina berbalik saat Rima sudah keluar kamat. Gadis lembut dan berprilaku baik itu tak bisa merubah kasih sayangnya menjadi tak perduli. Bukan salah Rima kalau dia memiliki papa pembunuh. Bukan salah gadis itu jika tetap menganggapnya mamanya.
Sekarang timbul permasalahan baru untuk berhadapan dengan Monik dan Joan. Anak anaknya itu tak akan bisa menerima hubungan dirinya dengan Sudibyo sebagai suami isteri. Dan ia harus lapang dada jika nanti kedua buah hatinya itu tak mau menerima Divo sebagai adiknya.
Vina dapat memahami situasi anak anaknya. Siapa pun tak akan ada yang menerima pembunuh ayahnya sebagai suami ibunya, dan hal itu pun dirasakan selama empat tahun tersiksa menjalani hari hari sebagai isteri pembunuh suaminya, dan yang telah mengantarkan Monik dan Joan menjadi yatim.
ini pukulan terberat Vina. Rindu tak tertahan pada dua buah hatinya, namun juga harus menerima resiko kemurkaan mereka. Ia harus ikhlas jika kerinduan dan kasih sayang Monik dan Joan berbalik jadi benci, begitu tahu dirinya menjadi isteri dari pembunuh papa mereka.
Rasanya tak sanggup membayangkan hari itu datang. Hari pengadilan dari anak anak buah hatinya
__ADS_1
Bersambung