
Monik jadi tergelitik dengan orang tua Rima. Mamanya mengakui kalau Rima baik. Monik setuju soal itu. Tapi mamanya darimana tahu Rima itu anak baik ( memang baik, sih, ), dan orang tua Rima berbahaya.
Monik membelalakkan mata. Walau informasinya tak komplit, malah buat penasaran, tapi mamanya tak mungkin memberi informasi palsu.
Bahaya.
Monik langsung menghubungkan dengan dirinya. Apalah orang tua Rima bahaya untuk dirimya?
Pastinya.
Monik terdiam. Apakah orang tua Rima ada hubungannya dengan orang yang mencari Farel?
Berpikir keras Monik.
Begitu bersama Rima di kampus, sebenarnya ia ingin mengadakan penyelidikan pertamanya. Tapi Rima justru memberi laporan yang membuatnya geleng geleng kepala.
"Tadi Wanda ngomong sama teman temannya kalau kamu punya ilmu gaib, makanya bisa manjat pohon mangga..." sewot Rima, "Makanya jangan suka ngerjai orang kena sendiri dia. Sekarang jadi tambah kesal sama kamu karena kamu nggak bisa diperdaya, eh malahan kamu jadi ngetop deh..." lanjut gadis itu merasa senang, entah kenapa walau Monik baru dikenalnya tapi langsung suka pada teman barunya itu.
"Wanda benar, Rima, kemarin itu tidak sepenuhnya lompat tinggi yang kuandalkan. Tapi separuh ilmu seringan kapasku pun beraksi. Tapi, bukan ilmu gaib," sergah batin Monik.
Monik tertawa kecil.
"Kok kamu ketawa, sih?" Rima gemes pada Monik yang tak menunjukkan sedikit pun kemarahannya pada Wanda yang telah menyebar issue tentang dirinya itu.
"Lucu ajah mahasiswi bukannya belajar malah suka ghibah, "
"Apa ghibah?" Rima menatap Monik .
"Bergunjing, membicarakan kejelekan orang lain yang dia belum tahu kebenaramnya, " terang Monik.
"Oh gitu..." angguk Rima.
"Hukumnya dosa, " seru Monik.
Beberapa mahasiswa dan mahasiswi tersenyum pada Monik. Bahkan tak sedikit yang menyapanya.
"Hai...." sapa seorang pemuda dengan tatap bersahabat pada Monik.
"Hai..." balas Monik.
"Hai Putri, aku Fara juga anak baru, cuma kita lain jurusan, aku fakultas Sastra Inggeris, " seru gadis manis mengulurkan tangannya pada Monik."Aku suka keberanianmu kemarin manjat mangga, "
Monik tersipu, "Ah itu hanya kebetulan ajah, ya, sedikit nekatlah, abis kalau nggak nekat aku takut kena hukuman..." ujarnya tertawa.
"Kamu bisa ajah," ujar Fara suka pada Monik yang terlihat tak ada kesan untuk menyombongkan diri."Banyak yang kaum lho sama kamu, pokoknya kamu ngetop deh..."
"Aku Monik calon Psikolog...: tertawa Monik "Bercanda..." sambungnya.
"Mudah mudahan terkabul cita citamu, cita cita kita semua..." ujar Fara tersenyum.
"Ini temanku yang cantik ini namanya Rima..." Monik merangkul Rima.
"Hai Rima..."
"Hai Fara...."
Rima dan Fara bersalaman.
"Kayaknya kita pernah bertemu, deh..." Fara memeras ingatannya, "Oh ya...ya...kamu putrinya Om Sudibyo teman papaku, kan?"
Rima mengingat ingat. Muncul dalam bayangannya suasana kemariahan sebuah acara. Dan sosok Fara kini muncul di benaknya. Saat itu Fara membawa dua gelas minuman sirup.
"Kita minum ini ajah yuk..." Fara menarik Rima dan memberikan segelas sirup pada Rima.
"Ya aku ingat sekarang, kamu yang ngasih aku sirup..." Rima menepung lengan Fara.
__ADS_1
"Ya, betul kita minum sirup sampai dua gelas dan orang tua kita belum kelar juga berunding..." Fara tertawa. "Put..." menoleh pada Monik, "Papanya Rima pemilik beberapa Mal,.lho..."
Monik terkejut. Mamanya memberi pesan otang tua Rima bahaya. Dan Farel dicari oleh pemilik Mal. Pasti ada hubungannya dengan pesan mamanya.
Setelah Fara pamit, segera Rima menarik tangan Monik, "Yuk kita makan puding buatan mamaku dulu, tadi aku nggak sempat sarapan, aku bawa dua box, satu untukku dan satu untukmu."
"Makasih, ya, Rima kamu baik sekali padaku, " lagi lagi Monik merasakan kalau dia baru saja menikmati puding buatan mamanya.
"Kamu juga baik, dan aku suka berteman denganmu. Oh ya Mama kagum sama kamu, " lalu Rima menceritakan rekamam aksi Monik waktu manjat buah mangga yang diperlihatkan sama mamanya.
"Oh ya, Rima boleh dong aku lihat foto mama dan papa kamu..." berdebar Monik tiba tiba dadanya entah mengapa.
Mata Monik terbelalak dengan napas hampir putus. Betapa tidak, di layar hape milik Rima jelas foto mamanya memeluk anak lelaki umur sekitar empat tahun. Di sebelahnya berdiri Rima memeluk mamanya, dan di belakang mereka berdiri seorang kelaki tinggi kekar.
"Ini Mama, ini adikku Divo dan yang ini Papaku..?" Rima tak tahu jika saat ini Monik serasa keluh tak bisa bersuara melihat wanita yang diakuinya Mama ini adalah mama kandungnya.
"Papanya Rima pemilik beberapa Mal,.lho..." teringat ucapan Fara.
"Yang kamu peluk itu nyonya isterinya pemilik Mal ini..." teringat ucapan si meneger Mal yang memandangnya kesal dan merendahkan.
."Semua mahasiswa fakultas hukum akan diperiksa untuk mencari Farel..." itu WA mamanya.
"Sayang hindari datang ke rumah Rima, dia orang baik tapi orang tuanya berbahaya..." semua WA peringatan mamanya satu persatu bermunculan.
Jadi mama menikah dengan papanya Rima. Dan papanya Rima berarti pemilik Mal waktu ia dibebaskan Farel. Monik jadi tegang. Ada pergolakan. Keringat membasahi wajahnya yang. Dan rasanya seluruh tubuhnya menggigil.
"Putri kamu kenapa?" Rima mengernyitkan alisnya melihat perubahan pada Monik yang terlihat pucat.
"Kepalaku pusing dan perutku sakit, " sebisa mungkin Monik berusaha untuk tidak menunjukkan ketegangannya di depan Rima, "Kamu duluan ajah, biar aku ke toilet dulu..."
"Aku anterin kamu, ya?" Rima menawari tulus. Ia khawatir kalau Monik sakit.
"Nggak usah kamu duluan sana masuk, gih, entar aku nyusul, "
"Kamu yakin nggak kenapa kenapa, Put?" Rima cemas.
Di halaman belakang kampus, yang berada di belakang jejeran toilet untuk mahasiswa, di dekat pohon rindang, disanalah Monik menuju. Dan tanpa setahu dirinya Farel yang kebetulan sedang berdiri membelakangi lorong kampus, melihat kelebat Monik.
Diam diam Farel mengendap endap ingin tahu untuk apa gadis itu bergegas ke pohon yang sudah berumur pulihan tahun, konon sebelum Indonesia merdeka, pohon yang masih kokoh dan berdaun lebat itu sudah ada.
"Oh Rima tahukah kamu bahwa papamu ingin menangkapku. Dan Mamaku kenapa bisa menjadi mamamu?" Monik tak dapat menahan isak tangisnya."Mama kenapa jadi ruwet begini...?" Dadanya sudah penuh sesak oleh kesedihan dan kemarahan menjadi satu. Ingin rasanya berteriak, tapi tak mungkin ini kampus, nanti bisa bisa mengundang tanda tanya semua orang. Wah bisa bisa dirinya dikeluarkan dari fakultasnya, karena dianggap tak layak. Siapa yang mau menerima mahasiswa stress.
Tapi dadanya rasanya mau meledak melihat nyata yang ada. Dan foto keluarga itu harusnya mamanya bersanding dengan papanya, dan dirinya bersama mas Jonya ada di depan mereka. Tapi kini mamanya telah memiliki keluarga baru. Bukan keluarga intinya yang dulu. Dan lebih menyakitkan lagi suami mamanya sedang mengejar dirinya. Memangnya salah jika ia memeluk mama kandunhnya yang telah lama terpisah?
Oh tak salah lagi. Pasti papanya Rima terlibat dengan kematian papanya, atau jangan jangan justru papamya Rima adalah pembunuh papanya?
"Mama apa yang terjadi pada Mama?" Monik tak henti hentinya bertanya tanya. "Mama bagaimana mungkin mama punya anak Rima. Kenapa bisa begini, kenapa Mama nggak mau jelasi sama Monik... ...huk...hukkk...." Monik terisak isak.
Monik terus memeras otak. Wajahnya sangat resah.dan sikapnya gelisah. Ya bisa jadi mama ditekan jadi isterinya, atau diancam. Lalu sekarang memburuku dan mas Jo, dan Farel yang sudah terekam raut mukanya jadi sasaran pula karena dikira mas Jonya. Lelaki itu ingin menghabisi dirinya dan Joan kemungkinan karena ketakutan merampas mamanya dan membongkar kejahatannya.
Monik menyeka air matanya. Dan saat berbalik ia melihat Farel berdiri jarak tiga meter memperhatikannya lekat.
"Putri...?!" Farel terkejut melihat wajah gadis itu sembab, "Kamu sakit?" Ditatapnya wajah yang pucat itu.
Monik menggeleng, "Nggak apa apa, " serunya.
"Putri..." Farel mrngulurkan sapu tangan, "Hapus air matamu nanti dilihat anak anak dikira diapa apain aku..." lanjutnya menggoda Monik.
Malu malu Monik menerima uluran sapu tangan Fal. Lalu dihapusnya air matanya. "Kotor besok aku kembalikan, " ujarnya memandang Farel.
"Nggak masalah, " angguk Farel, "Ada hubungannya dengan pencarian kita?" Pancingnya.
"Maafkan aku telah menyeretmu.pada masalahku...orang itu semakin dekat kayaknya..." petlahan suara Monik. Lalu gadis itu seperti menyadari sesuatu. Ia sudah terlalu banyak bicara."Aku harus kr kelas nanti.saputanganmu aku cuci dulu..." Monik berlari meninggalkan Farel yang tertegun.
Di pertigaan lorong hampir saja menabrak Wanda yang sedang membawa tumpukan buku.
__ADS_1
"Oh maaf mbak Wanda..." gugup Monik.
"Buru buru amat, sih, kayaj dikejar.. " suara Wanda terhenti saat melihat Farel berjalan.di ujung lorong. Jadi benar Farel dan Monik baru ketemuan di belakang sana. Huh, tuh anak baru berani juga...!
Hari pertama kuliah, jelas Monik tak begitu menyimak kata perkenalan dua dosen yang bakalan menjadi sumber ilmunya. Pikirannya terus menerus tertuju pada mamanya dan suami barunya yang tak lain papanya Rima.
Jika Monik tengah berkecamuk perpaduan geram, sedih.dan rindu.pada mamanya isi dadanya, begitu pun dengan Vina.
Antara cemas pada keselamatan Monik, rindu dan geram pada suaminya, serta sedih.karena belum bisa menemukan jalan menolong putrinya. Dan rasa rindu bertemu Monik tak tertahankan. Maka ia sengaja menjemput Rima di kampus. Saat dua pengawal pribadinya mau ke halaman kampus ia melarang.
"Nggak usah dikawal sampai dalam, kan nggak enak sama teman temannya Rima, " untunglah alasan itu bisa masuk akal bayaran suaminya. Tujuannya adalah supaya mereka tak melihat Monik.
"Putri.yuk aku kenali sama Mamaku...".Rima yang tak tahi menahu tentang rahasia keluarganya itu menarik tangan Monik drngan riang.
"Mamamu ke sini?!" Monik panik itu berarti dua pengawalnya ikut. Duh, bahaya bila mereka melihatku.
"Lho kamu kok panik sih, ya mamaku..."
Ting tong ting..
Ada WA masuk di hape Monik. Hem dari mamanya. "Sayang Mama kangen, kita bisa bertemu walau sebentar, prngawal di luar gerbang , "
Berdebar Monik mengikuti langkah Rima. Dan saat melihat sosok mamanya,.sungguh ingin rasanya ia berlari menghambur ke pelukan yang telah lama dirindukan. Namun ia terpaksa membiarkan Rima berlari dan memeluk mamanya dengan hati pedih.
"Mama..." Rima memeluk Vina, dan menarik tangan wanita itu ke dekat Monik yang hampir saja menangis. "Mama ini Putri sahabatku yang suka sekali dengan puding buatan Mama..."
Monik terhenyak menatap mamanya dengan mata hampir menangis. Begitu pun Vina menatap Monik. Sebenarnya ia ingin memeluk putrinya, tapi ada Rima. Ditahannya keinginannya itu.
"Hai Putri senang bertemu denganmu..." diraihnya tangan Monik. Digengamnya erat. Begini dulu menyalurkan kerinduan lewat genggam erat tangan putrinya, maafkan Mama sayang, percayalah Mama ingin membebaskanmu dari pembunuh papamu, dimana mas Jomu...? Batinnya berseru.
"Tante ..." tak bisa lagi Monik berkata kata, suaranya terkumpul di tenggorokan. Ia tak mau meneruskan ucapannya takut suaranya bergetar dan keburu menangis.
Vina tahu situasi perasaan putrinya yang menahan desakan dada yang penuh rindu, serta cemas seperti dirinya. Makanya ia harus segera meninggalkan tempat itu, jangan sampai air mata Monik tergulir. Ia menoleh pada Rima, "Ayo kita pulang Rima, "
"Ya, Ma, "
"Sampai jumpa lagi Putri..." Vina melepaskan tangan Monik.
Farel yang memang mencari Monik ingin tahu keadaan gadis itu, mrnghentikan langkahnya tertegun. Ia mengingat ingat wanita yang baru saja menggenggam tangan Monik. Bukankah itu Nyonya yang menolak pelukan Putri?
Tapi ia ragu.
Monik tertegun tak mampu mengeluarkan suara hanya memandang langkah Rima yang menggandengan tangan mamanya.
"Hai Putri..kalau tak salah itu Nyonya yang menolak pelukanmu di Mal, untuk apa dia ke sini, marah padamu tapi tadi kayaknya dia baik padamu..?" Farel merasa aneh. Waktu di Mal menolak dipeluk, hingga ia dan Monik dalam masalah, sekarang datang dan sikapnya baik. Sebenarnya ada apa, sih?
"Mama sangat tertekan..." oh Monik kelepasan lagi. Segera ia berbalik dan menghapus air matanya.
.."Mama...?" Farel memutari bafan Monik hingga kini ia berhadapan dengan gadis yang menghapus air matanya dengan saputangan miliknya. Ada rasa bahagia di hatinya karena Monik mau mempergunakan saputangannya.
"Maaf ya Farel, saputanganmu masih kupakai karena aku lupa bawa saputangan, "
"Nggak.apa apa, " angguk Farel.
"Lupakan ucapanku barusan, aku pulang dulu, Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam..." Farel semakin bingung. Monik menyebut nyonya yang menolak pelukannya di Mal dengan panggilan 'Mama'
"Mama dalam tekanan..." teringat ucapan gadis yang telah menjauh itu.
"Duh Putri kamu adalah misteri..." gumam Farel.
Ikuti terus ceritanya, ya
Makacih...
__ADS_1
.