Mr. Arrogant

Mr. Arrogant
10


__ADS_3

Senin tiba dan aku telat ke sekolah setelah K-Drama marathon semalam dan terlambat tidur. Aku mengendap-endap ke kelas, memastikan tidak ada seorang pun melihatku.


"Lee Hyejin!"


Aku meneguk dan berputar kebelakang. Itu Taehyung. Aku menghela napas.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya.


"Aku terlambat." jawabku. "Apa yang kau lakukan disini?"


"Aku baru kembali dari toilet."


"Baiklah terserah, masuklah duluan aku belum mau masuk kelas.".


"Oke, aku akan memberitahu guru." ancamnya.


"APA?! Tidak, tolong." aku berteriak dengan suara berbisik.


"Jadi tolong aku untuk-"


"Hey-hey! Jangan minta aku jadi pelayanmu lagi oke? Aku tahu tidak ada rekaman bodoh itu. Kau tidak punya kamera CCTV dasar orang gila."


"Lee Hyejin!"


Kami berdua menoleh ke kanan, itu Mr. Kim.


"Aku pergi!" kata Taehyung dan berlari ke kelas, meninggalkanku dan Mr. Kim yang berjalan ke arahku. Ugh, master kedisiplinan gendut itu lagi. l


"Kau terlambat masuk kelas bukan?" ia mulai menegur. Aku diberi ceramah dua puluh menit tentang terlambat masuk sekolah dan menjadi murid yang jujur dan juga mengatur waktu dengan tepat. Selama ia bicara, ia menyemprotkan salvinanya padaku secara tidak sengaja dan aku sangat kesal. Aku sudah terlambat masuk kelas dan aku semakin terlambat sekarang.


"Omong-omong Hyejin, kelas detensi sepulang sekolah! 2 jam, arraseo?"


"Nee..." aku membungkukkan badanku dan masuk ke kelas.


Seluruh kelas memandangku dan aku duduk di bangku.


"Halo Lee Hyejin." Mrs. Kim menyapaku Tidak seperti suaminya, ia guru yang baik dan tidak suka marah-marah. Ia ramah kepada banyak murid dan karena itu sering diganggu oleh mereka. Ia baik dan ia tidak akan mengomeliku.


"Kenapa kau terlambat?" tanyanya sopan.


"Saya terlambat karena suami anda memarahi saya di luar dan sekarang saya terlambat masuk kelas anda. Omong-omong selamat pagi Mrs. Kim "


Ia tersenyum. "Oke sayang keluarkan buku pelajaranmu dan kita lanjutkan pelajaran."


...***...


Aku berjalan keluar kanton dengan Mina ke hallway untuk mengambil sesuatu dahulu.


"Astaga aku membeli rok baru ini dan sangat indah dengan motif bunga dan-"


Mina memotong perkataanku ketika kami berdua melihat kerumunan orang ditengah-tengah hallway.


"Hey! Dimana uangku!" aku mendegar suara Taehyung berteriak.

__ADS_1


Anak ini, benar-benar.


"Bukankah itu Taehyung? Astaga dia benar-benar bad boy." kata Mina dan ia menggigit bibir bawahnya. Aku memutar bola mataku.


Aku menyikut orang-orang di kerumunan, meninggalkan Mina dan aku pergi melihat Taehyung memegang kerah baju seorang anak malang dan menghempasnya menabrak loker sementara Jimin dan Jungkook hanya melipat tangan mereka dan hanya melihatnya.


"YAH KIM TAEHYUNG!" aku teriak dan maju menghampirinya namun Jimin dan Jungkook menahanku.


"Woah woah santai saja, kita punya beberapa urusan yang harus diselesaikan." ujar Jimin.


Aku menginjak kaki mereka berdua dan mereka berdua minggir.


"Kau pikir apa yang kau lakukan?!" aku berteriak dan mendorong Taehyung menjauh dari anak malang itu yang aku kenali sebagai Lee Jongsuk. Kerumunan itu memandang ku.


Taehyung marah dan melemparkan tatapan tajamnya padaku. "Dia tidak membayar uangku. Pergilah kau orang yang suka mencampuri urusan orang." katanya, menahan marahnya.


Ia menghampiri Jongsuk untuk memberinya pukulan lain. Aku menahannya. "Hentikan!"


"MINGGIR!" teriaknya di depanku dan kerumunan itu terasa penuh dengan hembusan napas dan bisikan. Aku tersentak. Ia jadi kasar, sangat kasar.


"Apa yang terjadi?!" ketua kedisiplinan berjalan mendekati kerumunan dan menatap kami Lalu menatap Taehyung.


"Ada penjelasan, Kim Taehyung?" ia bertanya dan melihat Jimin dan Jungkook yang melangkah menjauh sambil menggelengkan kepala mereka seolah tidak bersalah.


Aku menjauh dari Taehyung dan menjelaskan pada Mr. Kim tentang apa yang terjadi. Ia menatap Taehyung tajam sementara dia -Taehyung hanya memutar bola matanya.


"Saya tidak akan berkata banyak, kau datang ke kantorku." kata Mr. Kim dan Taehyung menyeret kakinya, mengikutinya.


Kerumunan itu mulai kembali ke kelas mereka masing-masing dan aku buru-buru menghampiri Jongsuk dan sudut bibitnya terluka dan berdarah.


"Terima kasih. Aku akan kembali ke kelas sekarang." katanya dan meninggalkan ku.


Aku menghela napas dan berjalan ke kelas.


...***...


Pelajaran Matematika berakhir dan selanjutnya pelajaran Olahraga. Kami semua sudan berganti dan berkumpul di lapangan.


"Baiklah hari ini kita akan bermain sepak bola, semuanya ambil sebuah bola dan coba untuk menendangnya ke sekitar lapangan untuk pemanasan." guru olahraga kami menyuruh kami dan semua orang melakukan hal yang disuruh.


Aku terkikik sambil menendang bolaku di sekitar Mina ketika aku tiba-tiba merasakan sesuatu datang kearahku.


Sebuah bola mengenai wajahku dengan kekuatan penuh, dan aku jatuh ke rumput, hidungku mulai berdarah.


"Hyejin!" Mina berseru dan berlutut melihatku yang terbaring.


Aku sedikit pusing tapi aku melihat guru Olahraga kami datang melihatku.


"Kau tidak apa?! Mina, bantu dia dan bawa dia ke ruang kesehatan." instruksi guru kami dan Kina melakukan yang disuruhkan.


Aku menutup hidungku yang berdarah dan berdiri. Dia depanku ada Taehyung sedikit jauh namun aku yakin dialah orang yang menendang bola padaku karena ia menatapku dengan seringai diwajahnya.


...***...

__ADS_1


"Ugh bajingan itu." omelku kesal sambil mengompres hidungku. Aku berbaring diranjang, merasa frustasi tentang Taehyung.


"Kau tidak seharunya menghadapi dia hari ini." kata Mina.


"Hah! kau sudah di butakan oleh cinta atau apa?!" teriakku padanya.


"Tidak..." sambungnya. "Omong-omong hidungmu sudah membaik. Ayo ganti baju dan kembali karena pelajaran Olahraga sudah selesai.


Hidungku berhenti berdarah dan aku kembali ke kelas melanjutkan pelajaran yang tersisa sampai sekolah akhirnya usai. Sayangnya, aku ingat bahwa aku memiliki kelas detensi dan menuju ke kelas detensi dimana Mr. Kim menungguku.


"Baik, masuk." katanya dan mengunci pintu setelah aku sudan masuk ke dalam.


Lalu aku sadar, aku tidak akan melakukan detensi sendirian. Lagi-lagi ada Taehyung. Aku mencoba yang terbaik untuk mengabaikan eksistensinya, aku mengambil bangku di tempat yang jauh dari dia.


Aku duduk di belakang kelas sementara ia duduk di depan. Tiba-tiba ia menoleh dan melihatku.


"Kenapa kau disini?" ia bertanya padaku.


Aku ragu, tidak tahu apakah aku harus mengabaikannya atau menjawabnya. "Aku telat." kataku, sebuah jawaban singkat namun seharusnya dimengerti dengan jelas.


Ia mengangguk dan kembali berputar menghadap kedepan. Aku menduga ia ada disini karena apa yang terjadi selama istirahat tadi.


Keheningan diruang detensi, yang bercampur dengan kecanggungan.


"Apa kau tidak bosan?" ia tiba-tiba bertanya padaku.


Aku memilih mengabaikannya dan pura-pura membaca buku ku. Ia berbalik kebelakang dan bertanya padaku lagi, dan tentu saja aku mengabaikannya.


Frustasi, ia mendatangiku dan duduk di depanku. "Hey, aku berbicara padamu." katanya.


Aku memberinya muka kesal, dan kembali melihat buku ku, mengabaikannya namun jantungku berdetak cepat, sedikit gugup.


"Kau marah padaku?" tanyanya.


Aku menghela napas. "Apa yang kau pikirkan hah? Berteriak padaku layaknya orang tidak ada urusan lalu kau menendang bola sepak padaku dan hidung ku berdarah."


"Awhh Hyejin kami kesal." ia menggodaku dan aku memutar bola mataku.


"Baik baik, aku minta maaf." katanya dan menatapku namun aku mengabaikannya dan melanjutkan membaca buku ku. ia merampas dan menjauhkan buku ku dan menatapku.


"Apa." kataku dan melipat tanganku. Ia mulai memanyunkan bibirnya dan melakukan killer aegyo miliknya.


"Aku tidak tergoda." kataku dan menaikkan alisku. Ia akhirnya berhenti. Lalu ia memindahkan meja di depanku kesebelah dan menarik bangkunya dekat denganku sampai kaki kami bersentuhan.


Kemudian ia memelukku.


"Maaf." bisiknya. Jantungku berdegup kencang. Aku bisa mendengarnya. Ada apa dengan anak ini? Aku masih duduk sementara lengannya masih memelukku.


Setelah aku mendapatkan kembali kesadaranku, aku mendorongnya menjauh dan ia kembali duduk dengan benar dikursinya. "Hey! Aoa yang kau lakukan.." kataku dan mengusap bahuku namun aku sudah memerah saat ini. Ia memberiku senyum lebarnya.


"Maaf?" katanya lagi.


Aku tersenyum kecil. "Iya iya terserah. Sekarang kembalikan meja itu ke posisinya semula." kataku.

__ADS_1


Dasar orang berkepribadian ganda.


__ADS_2