Mr. Arrogant

Mr. Arrogant
21


__ADS_3

Keesokan paginya, semua orang berkumpul di lapangan. "Baiklah anak-anak kemari." Pelatih memanggil. Kami menarik bag pack kami dan menuju ke sana.


"Saya adalah Pelatih Soohyun. Saya akan menjadi pelatih kalian untuk camp tigahari dua malam ini." Pelatih berbicara dan tidak banyak respon dari kami.


"Baik anak-anak, letakkan tas kalian di pinggir lapangan, kembali ke sini dan membentuk lingkaran. Kita akan bermain permainan ice breaker" la memberi instruksi dan kami melakukan semua yang ia lakukan.


Kami semua berkumpul kembali dalam lingkaran di atas rumput.


"Baik. Saat saya bilang 'bubar' kalian semua mengubah posisi tempat duduk kalian dan duduk secara acak dalam lingkaran, cepat. Lalu, kita akan bermain permainan kecil di mana kalian harus menyebut nama teman yang duduk di sisi kanan kalian, lalu berjabat tangan dengan dia. Dan, kalian semua kembali mengubah posisi duduk kalian dan itu akan diulang beberapa kali," kata Pelatih.


Kami semua mengangguk dan mengerti. "BUBAR," ia berteriak dan kami semua berlari untuk duduk secara acak daam lingkaran. Orang di sebelah kananku adalah Hoseok. Semua orang memainkannya begitu saja, mengetahui nama satu sama lain dan beberapa memliki cara yang unik berjabat tangan. Setiap orang mulai dengan gaya yang keren dan menyenangkan untuk berjabat tangan di setiap ronde. Sangat menyenangkan.


"Baiklah ronde terakhir, bubar!"


Kami semua berlari lagi dan tersandung menemukan tempat. Aku akhirnya menemukan tempat kosong dan duduk dengan cepat. Seojun duduk di sebelah kiriku dan aku tersenyum padanya. Semua orang akhirnya mendapatkan tempat, lalu aku berbalik ke kananku untuk melihat siapa yang duduk di sana.


Aku meneguk, itu Taehyung.


"Oke Hyejin, kau bisa mulai pertama," kata pelatih. Ugh, sial. Seojun dan aku bertukar pandangan. Aku tidak berani untuk memandang Taehyung.


Semua orang bertepuk tangan dengan irama dan aku harus menyebut namanya mengikuti irama, lalu berjabat tangan dengannya.


(Clap-clap) "Kim-Tae-Hyung." Aku bergumam.


Aku berbalik padanya dan mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengan cara yang sederhana. la menjabat tanganku cepat dan segera berpaling, berbalik pada pasangan di sebelah kanannya.


Aku menghela napas lega saat permainan berakhir. Kami semua pergi minum.


Dalam lima menit kemudian, kami kembali ke lapangan.


Kami diberitahu untuk memasang tenda, perempuan di sebelah kiri lapangan dan laki-laki tempat di lapangan.


Setelah itu, kami ke lapangan basket.

__ADS_1


"Baik anak-anak," Pelatih berbicara, "Sekarang kita akan mengadakan aktivitas memasak outdoor. Saya akan membagi kalian ke dalam grup lebih dulu."


"Mina, Jin, Jungkook, Shinhye, Jongsuk. Grup 1."


Ada tujuh grup dan yang tersisa hanya aku dan orang-orang yang akan menjadi teman grupku. Aku tersenyum saat melihat Seojun.


Anggotaku adalah Seojun, Jimin, Hoseok. Oh ada satu lagi. Jantungku berdetak cepat saat aku menyadari ia akan satu grup denganku.


Taehyung.


"Oh, hai manusia." Jimin meletakkan lengannya di bahu Taehyung.


"Kau terlalu pendek untuk meletakkan tanganmu di bahuku," kata Taehyung pada Jimin. Dengan segera Jimin menyingkirkan tangannya dan memasukkan tangannya di sakunya.


Taehyung dan aku saling melempar pandang, namun aku mencoba sebisa mungkin untuk menghindari kontak mata yang canggung ini.


Kita harus berkumpul dengan kelompok, dan Seojun berdiri di dekatku. Ia hanya bilang bahwa Taehyung akan menyakitiku, dan ia akan ada di sana untuk melindungiku. Aku memutar bola mataku karena ia terlalu khawatir tentang itu.


Aku menghela napas dan baru akan pergi ketika Seojun menyuruhku untuk duduk dan ia pergi mengambilnya.


"Pacarmu sangat membantu huh," Jimin menggodaku.


"Yah, itulah kenapa ia memiliki pacar dan kau tidak punya satupun." Aku mendesis.


"Hey kau!" Jimin ingin berdebat denganku tapi Seojun kembali pada kami membawa bahan masakan.


Kami duduk di sudut lapangan dan menyalakan lilin kubus. Dengan 'kompor mini' kami.. kami memasak air di atas api.


"Oh ya, aku lupa untuk mengambil mi instan dan hotdog," kata Seojun. Hoseok dan Jimin pergi mengikuti Seojun mengambil bahan makanan, meninggalkan aku dan Taehyung sendirian.


Sangat canggung, Taehyung melihat ke arah lain dan aku hanya mengatur panci dengan air mendidih, berpura-pura untuk mengeceknya jika apinya masih menyala.


Kemudian, secara tidak sengaja aku menjatuhkan panci, dan sangat sial tumpah dan panas, air mendidih itu mengenai tanganku.

__ADS_1


"Aaahhhh!" Aku panik dengan keadaan tanganku. Taehyung berbalik dan melihatku kesakitan.


"Ada apa?" tanyanya dan melihat panci tumpah dan tanganku yang tersiram air panas. "Astaga." la memegang tanganku dan membuatku berdiri. la meminta izin pada pelatih untuk membawaku ke ruang kesehatan.


...***...


"Auw!" Aku menjerit. Taehyung menekan handuk basah di tanganku yang tersiram air panas -sedikit keras.


"Oke aku akan berhati-hati," katanya. Saat luka di tanganku sudah dingin, ia memberikan parasetamol lalu menutup lukaku.


"Sudah," katanya dan membelai tanganku, dan aku gelagapan.


"Terima kasih," kataku, kami keluar dari ruang kesehatan dan kembali ke lapangan basket.


...***...


"Hyejin!" Seojun memanggilku saat ia melihatku kembali. la memegang tanganku lembut. "Ada apa?"


"Bukan apa-apa, aku hanya melukai tanganku sedikit.Seharusnya baik-baik saja," kataku dan memberi Seojun senyum aneh.


Aku melihat Seojun membocorkan Taehyung.


Kami melanjutkan masak seperti biasa. Beberapa saat kemudian, masakan kami selesai dan kami makan bersama.


"Katakan ahh," kata Seojun padaku. Aku terenyum, membuka mulutku dan ia menyuapiku.


"Aigoo, sangat lucu." Jimin menggoda kami lagi.


"Hey Taehyung katakan ahh," kata Jimin dan menyendok sesendok penuh kacang bakar dan membawanya ke mulut Taehyung. Taehyung memutar bola matanya.


Aku perlahan tersenyum, namun perhatianku tertuju pada Taehyung yang tidak terlihat senang.


...***...

__ADS_1


__ADS_2