Mr. Arrogant

Mr. Arrogant
29


__ADS_3

Jam pelajaran selesai dan sangat disayangkan bagiku, aku ada detensi. Aku melapor ke Mr. Kim dan dibawa ke kelas.


"Masuk," katanya dan aku melangkah masuk ke dalam kelas detensi dan menghela napas. la menutup pintu dan menguncinya.


Kemudian, aku melihat Taehyung tidur di meja yang ada di tengah kelas. Sekali lagi aku tidak sendiri selama detensi. Aku tersenyum dan menghampirinya. Aku ingin duduk di sebelahnya ketika tiba-tiba sebuah hal membentur pikiranku.


'Choi Mina.'


Tidak, aku tidak boleh dekat dengan Taehyung. Aku tidak bisa mengkhianati Mina.


Aku menghela napas dan berjingkak menjauh ke bangku lain. Aku menarik keluar kursi hati-hati dan duduk, menyandarkan kepalaku di meja.


Baiklah, sejujurnya, aku harus bilang, aku punya perasaan pada Taehyung. Hanya, sedikit. Aku tahu ia orang yang dingin dan kasar. Tapi ketika ia baik, ia benar-benar baik.


Mengetahui Mina juga menyukainya, aku mencoba menjauh dari Taehyung jadi aku tidak akan jatuh hati padanya dan mengkhianati Mina. Aku tidak bisa, Mina adalah sahabatku.


Aku tetap berpikir tentang hal itu dan mataku jadi berair ketika tiba-tiba seseorang menepuk tangannya di depan wajahku hingga membuatku terperangah.


"Lingkaran cahaya?" kata Taehyung.


"Oh, hei," jawabku dan berpura-pura tersenyum.


la duduk di sebelahku dan aku merasa tidak enak, dengan cepat aku berdiri dan memastikan ada jarak aman di antara kami.


"Kenapa kau juga di sini?" tanyanya.


"Aku terlambat ke sekolah, ingat?" jawabku.


"Tck, kenapa kau sering terlambat sekarang," katanya dan menyodok tanganku, dan aku menjauh.


"Aku di sini karena aku ditangkap merusak meja guru lagi. Tidak beruntung huh." la memberitahuku.


Aku berpura-pura tersenyum lagi dan mengabaikannya, berbalik. Aku gugup mencengkram sisi kursi.


"Hey, biarkan aku melihat tanganmu," katanya.


Aku panik dan mengabaikannya lagi. la menggenggam tanganku yang masih memiliki bekas memar. Dengan cepat aku menariknya.


la menatapku, bingung. "Aku hanya ingin melihat bekas memar itu, kau kenapa?"


Aku menggigit bibirku dan menunduk. "Tidak perlu. Aku baik-baik saja," kataku.


"Hey... Kenapa kau dicambuk? Apa karena kau pulang telat semalam?" tanyanya.


Aku perlahan mengangguk, namun aku tidak menatapnya.


"Kau sangat aneh hari ini. Pabo Hyejinnie." katanya dan menyelidiki wajahku.


"Tinggalkan saja aku sendiri, aku butuh istirahat," kataku dan menyandarkan kepalaku di meja. la juga menyandarkan kepalanya di meja selagi menatapku. Aku bahkan tidak bisa berhenti merasakan kehadirannya di dekatku. Aku hanya merasa sangat salah.


Aku menyerah dan menatapnya, mataku sedikit berair. Nampaknya aku hanya tidak bisa menutupi perasaan ini.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya, masih menatapku, "Kau tidak seperti biasanya."


"Taehyung ah..." Aku memanggilnya.


"Apa?" jawabnya.


"Mulai sekarang, bisa kau menjauh dariku? Maksudku, tidak bicara sama sekali atau makan bersama selama istirahat. Dan aku akan mencoba tidak mendapatkan detensi sama sepertimu," kataku padanya sambil menahan air mataku. Sejujurnya, aku tidak tahu kenapa aku sedih.


"Apa yang kau bicarakan? Apa orangtuamu menyuruhmu untuk menjauhiku? Mereka tahu semalam kau keluar karena menemuiku? Kenapa? Kenapa kita harus menjauh satu sama lain?" la menyerangku dengan banyak pertanyaan.


"Lakukan saja oke," kataku.


"Kapan? Sekarang?" tanyanya.

__ADS_1


"Iya, sekarang."


la beranjak dari tempatnya dan berjalan menjauh, duduk jauh dariku. Hatiku sedikit sakit. Ini mudah untuknya bukan? Aku ragu ia menyukaiku atau apapun itu. Aku beharap yang terbaik untuk Mina. Aku menghela napas dan mengistirahatkan kepalaku di meja, menunggu detensi berakhir.


...***...


Dua atau tiga hari berlalu dan aku masih belum bicara pada Taehyung, atau melihatnya, sama sekali. Sekarang Jumat pagi dan aku berjalan ke hallway. Pelajaran belum dimulai tapi aku sudah berharap jam pelajaran sudah berakhir jadi aku bisa berbaring di tempat tidurku sepanjang hari dan hanya bangun di hari Minggu.


Aku menyeret kakiku ke lokerku, merasa sedikit sakit dan muak.


"Hyejin ah!" Seseorang memanggilku. Itu Mina.


Aku tersenyum lemah padanya. "Oh, hei."


"Kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat dan nampak kelelahan."


"Bukan apa-apa, aku hanya sedikit demam," kataku.


"Ah... Cepat sembuh. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa, aku mungkin..." la diam dan menatap ke kiri dan kanan sebelum kembali melanjutkan, "Aku mungkin menyatakan perasaanku pada Taehyung pulang sekolah hari ini."


"Benarkah? Bagus! All the best!" Aku berharap, senang untuknya.


"Thanks. Aku butuh dorongan darimu~ dan tolong berikan aku saran, Master Hyejin." Godanya dan melingkarkan tangannya di tanganku.


Aku perlahan tertawa. "Lakukan saja dan percaya diri. Ini pertama kalinya kau mengaku, bukan?"


"Kau mengenalku dengan baik. Aku harap dia menerimaku. Aku sangat gugup," katanya, terdengar sangat bersemangat.


Aku tersenyum palsu.


"Hyejin... kau benar-benar terlihat tidak baik. Aku akan membawamu ke UKS," kata Mina dan menatap wajahku, khawatir.


"Tidak. Aku bilang aku baik-baik saja. Ayo ke kelas


"Kau baik-baik saja?" Seojun bertanya padaku.


Aku mengangguk. Tiba-tiba, bel berdering. Sekarang jam istirahat. Semua orang berdiri dan bergegas ke kantin. Aku perlahan bangkit dari bangkuku.


Mina datang ke arahku sementara semua orang sudah pergi.


"Hey... Kenapa kau sangat lemah hari ini?" tanyanya sembari merasakan suhu di dahiku.


"Suhumu pasti sangat tinggi."


"Aku baik, sangat baik," kataku dan menyeka keringat turun di dahiku.


"Kau berkeringat, mulutmu kering, kau pucat. Kau benar-benar sakit," tujas Seojun.


"KUBILANG AKU BAIK-BAIK SAJA! MINGGIR!" Aku menaikkan suaraku pada mereka, mendorong mereka minggir.


Aku berjalan beberapa langkah, sedikit oleng. Padanganku mulai kabur dan kakiku menjadi lemah. Tiba-tiba, aku merasa ambruk dan semuanya gelap.


...***...


Aku perlahan membuka mataku dan kepalaku terasa sakit. Aku menyesuaikan pandanganku dengan cahaya di ruangan dan aku melihat dua sosok dalam ruangan tempatku berada.


Siapa itu? Di mana aku?


Aku melihat ke sekitar dan aku mengenali ranjang yang kutempati berbaring. Aku di UKS. Aku perlahan duduk dan mengenakan sepatuku. Aku merasa sedikit lemah, namun aku sungguh ingin keluar dari sini.


Aku hampir melangkah keluar ruang kesehatan ketika tiba-tiba aku melihat dua orang yang aku kenali -Taehyung dan Mina, berdiri di luar, berbicara.


Aku dengan cepat melangkah mundur diam-diam dan bersembunyi di balik dinding, mencoba mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Taehyung... Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." Aku mendengar Mina berbicara.

__ADS_1


"Apa?"


"Sebenarnya aku..." la terdiam, aku mengintip ke luar dan melihatnya mencengkram bajunya erat, jadi gugup.


"Aku menyukaimu."


Hatiku jatuh mendengar kata yang keluar dari mulutnya, meskipun aku sudah tahu mengenai ini. Aku menunggu dengan sabar jawaban Taehyung. Aku melihat wajahnya kosong.


"Jadi... aku tahu ini canggung tapi bisakah aku menjadi pacarmu?" Mina dengan berani mengaku padanya.


Sebelum ia -Taehyung- menjawabnya, kaki bodohku tidak sengaja menendang meja di belakangku dan vas di atasnya jatuh dan pecah.


Perhatian mereka terarah pada ruang kesehatan. "Hyejin l?" Aku mendengar Taehyung memanggilku.


Sialsiasialsial


Dengan cepat aku melepas sepatuku dan melompat kembali ke ranjang.


Mereka berdua bergegas ke dalam ruang kesehatan. "Hyejin?" Mina memanggilku. la tersentak melihat vas yang pecah.


"Apa yang terjadi?" tanya Taehyung. Aku mencoba untuk tidak terengah dan menenangkan diriku. Aku menatap mereka berdua. lalu menunduk.


"Aku tidak tahu, meja itu pasti bergoncang jadi vas itu jatuh. Kenapa aku di sini, aku mau pulang," kataku dan duduk.


"Kau pingsan di kelas. Aku lega kau sudah sadar. Aku dan Taehyung bicara memastikan kau baik-baik saja. Kau bisa pulang jika kau mau," katanya dan menepuk punggungku.


"Aku mau pulang ... sekarang. Ambil tasku," kataku.


"Oke, aku akan mengambil tasmu. Taehyung kau tetap di sini oke." katanya.


"Tidaktidak aku akan mengambilnya," kata Taehyung namun terlambat karena Mina sudah pergi.


Ruangan terasa penuh dengan atmosfer canggung di antara aku dan Taehyung. Aku menatap ke bawah dan ia berpaling dariku.


"Kenapa kau sakit?" la tiba-tiba bertanya dan jantungku berdetak cepat.


"Uh, aku tidak tahu," jawabku.


la tiba-tiba menatapku, kemudian ia duduk di sebelah ranjangku. Aku meneguk. Aku gugup dan bergeser beberapa inci.


"Itu kenapa kau menghindariku?" tanyanya. Aku menatapnya balik, bingung.


"Hah? Apa?" tanyaku, berpura-pura tidah mengerti.


"Kau mendengar Mina mengaku padaku 'kan? Kau menghindariku jadi kau tidak akan meyakiti Mina 'kan? Kau mulai menyukaiku bukan?!"


"DIAM!" Aku berteriak padanya dan menutup telingaku, mataku berair. "Aku tidak menyukaimu! Jangan bicara omong kosong!"


la menatapku dengan mata dingin. "Jadi kenapa kau menghindariku? Katakan padaku."


Mina tiba-tiba masuk ke UKS. Dengan cepat aku memakai sepatuku dan menggenggam tasku darinya.


"Terima kasih," kataku padanya dan bergegas keluar dari ruang kesehatan, berjalan pulang.


...***...


Aku akhirnya sampai di rumah dan berlari masuk ke kamarku. Aku melempar tasku ke lantai dan mencari obat di laciku. Aku menelan pil anti-biotik dan berbaring di tempat tidurku, kelelahan. Tanpa aku tahu, air mata jatuh dari mataku.


Bagaimana Taehyung membaca pikiranku? Aku harus membencinya. Aku tidak bisa baik padanya, aku harus benar-benar menghindarinya.


Aku menghela napas, menutup mataku, dan air mata terus jatuh ke pipiku.


Aku akan melupakanmu, Kim Taehyung.


...***...

__ADS_1


__ADS_2