Mr. Arrogant

Mr. Arrogant
35


__ADS_3

Kami menuju ke kedai terdekat. Aku membeli makanan untuk Taehyung dan hanya menyaksikannya makan karena aku tidak lapar.


"Kenapa kau tidak makan juga?" Taehyung bertanya padaku.


"Aku baru saja makan dengan orangtuaku jadi aku tidak akan makan lagi karena aku sudah kenyang," jawabku dan menyandarkan kepalaku di meja sembari menatapnya makan.


"Hey, katakan aahh." Taehyung mengambil sesendok penuh nasi dan mengarahkannya ke mulutku. Aku mengelengkan kepalaku dan mengatupkan bibirku, tidak mau makan.


"Pesawat terbang datanggg weeeeeee." Taehyung berkata dan tiba-tiba berubah menjadi anak kecil. la mulai membuat suara aneh pesawat terbang dan aku malu karena orang-orang mulai menatap kami. Dengan cepat aku melahap sesendok penuh nasi itu.


"Rasanya enak, bukan?" la bertanya dan melanjutkan makan. Aku perlahan mengangguk.


la akhirnya menyelesaikan makanannya. "Ayo pergi," katanya dan kami berjalan ke luar kedai.


"Apa kita pulang sekarang?" tanyaku padanya saat kami di jalan.


"Kenapa? Kau ingin menghabiskan waktu lebih lama denganku huh?"


"Oh ayolah aku lebih baik menjauh darimu," candaku.


"Taehyung tersakiti," katanya dan mencibir. Aku memutar bola mataku dan berpaling, tersenyum.


Tiba-tiba, Taehyung berdiri di depanku, punggungnya menghadapku. "Naik ke belakangku," katanya, "Aku akan membawamu ke suatu tempat."


Aku menyeringai dan meloncat ke punggungnya dengan kekuatan penuh.


"HEY! Kau sangat berat," kata Taehyung dan oleng menyeimbangkan dirinya. Aku terkikik.


"Ayo pergi!" kataku bersemangat. "LARI TAEHYUNG LARI!"


Terkejut, Taehyung bisa berlari cepat sementara membawa aku di punggungnya. Aku memegangnya erat, takut aku mungkin jatuh. Kami akhirnya sampai ke tujuan, yang adalah taman.


la melambat, terengah-engah. "Kau bisa menurunkanku sekarang," kataku.


la perlahan melepasku tanpa peringatan, dan terjatuh dengan pantat lebih dulu. "HEY! KIM TAEHYUNG!" Aku berteriak dan menggosok pantatku kesakitan sementara ia terbahak-bahak.


Aku memutar bola mataku dan mencoba menahan sakit di pantatku. "Oke oke aku minta maaf," Taehyung meminta maaf setelah ia selesai menertawakanku. la menjulurkan tangannya untuk menolongku, namun aku menolaknya.


"Idiot pengganggu." Aku menggerutu dalam hatiku, "Aw, lihat siapa yang marah." Ia mengejekku.


Aku perlahan berdiri dengan kakiku sendiri dan berjalan mendahuluinya, menuju bangku.


Sebelum aku bisa duduk, sepasang tangan melingkari pinggangku dari belakang dan aku merasakan berat di bahuku. Aku mematung dan mataku melebar.


"Taehyung?"


"Hmm?" la menjawab masih memelukku dari belakang.


"Apa yang kau lakukan?" tanyaku.


"Biarkan seperti ini sebentar, ini sedikit dingin," katanya dan mempererat lengannya melingkupiku. Aku tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum lebar.


la akhirnya melepaskanku setelah beberapa waktu dan aku masih kaku. la memutarku dan menghadapnya. "Hey ada sesuatu yang ingin aku beritahu padamu," katanya, mendorongku untuk duduk di bangku.


"Apa itu?" tanyaku dan ia duduk di sebelahku. la menatapku sejenak, mencoba untuk mengatakan sesuatu namun kata-kata itu tidak bisa keluar dari mulutnya.


"Urgghh," la mengerang, membelakangiku dan mendadak ia menjadi frustasi. Aku kebingungan dan menatapnya kosong.


"Michyeoseo?" kataku padanya. "Apa yang ingin kau katakan padaku?"


la menghela napas. "Oke, k-kau m-mungkin menganggap bahwa ini g-gila tapi," ia terdiam, "A-aku t-tidak tahu bagaimana m-mengatakan ini."


Aku tertawa melihatnya bicara terbata-bata. Aku tidak pernah melihatnya sangat gugup sebelumnya, Aku menunggunya selesai bicara.


"Oke baiklah. Sebenarnya aku sepertinya menyukaimu," katanya dan menatap lurus ke dalam mataku.


Jantungku berdetak cepat karena pengakuan mendadak ini. Aku terkejut dan tersedak salivaku. Aku terus terbatuk, diikuti tawa gugup.


la hanya menatapku, kosong.

__ADS_1


"A-apa yang tadi kau bilang?"


"Aku bilang aku menyukaimu."


Aku terus tertawa gugup. Sejujurnya aku berpikir bagaimana cara meresponnya sembari tertawa. Aku berhenti tertawa saat aku melihat Taehyung menatapku, sedikit mengerutkan dahinya.


"hey, aku serius oke. Kau tidak sebagus itu tapi aku hanya menyukaimu. Kupikir aku gila," katanya, dan aku menahan tawaku.


"Jadi, apa?"


"Mau jadi pacarku?" tanyanya dan menyeringai padaku.


Tawaku pecah lagi, "Kau sangat cheesy."


la melipat lengannya dan melihat ke arah lain. "Ugh. Lupakan saja apapun yang aku katakan dan bersiap seolah tidak ada apapun yang terjadi."


Aku tersenyum malu dan meletakkan lenganku di bahunya, "Sudah menyerah Kim Taehyung?" Aku menggodanya namun ia tidak menatapku.


"Kau sudah menertawaiku," katanya dengan nada merajuk.


"Tapi aku belum menjawabmu 'kan?" Aku sepertinya menyukaimu juga," jawabku dan menyeringai padanya. Dengan cepat ia berbalik menghadapku dan matanya berbinar.


"Jadi itu artinya iya?" tanyanya, menatapku tanpa berkedip, mengantisipasi jawabanku.


Aku berpikir sejenak dan tersenyum. "Yah yah terserah."


Matanya melebar, "Jinja?" tanyanya, dan aku mengangguk. Ia menyeringai, mencoba menunjukkan kebahagiaannya.


"Oke, ayo pulang. Aku terlambat," kataku padanya dan beranjak, ia melakukannya juga.


Aku berjalan beberapa langkah ketika tiba-tiba Taehyung berdiri di depanku. Aku menatapnya,


"Apa?"


la memberiku senyum lebarnya. la tiba-tiba memelukku, mengangkat lalu memutar-mutarku.


"Heyhey! Turunkan aku!" Aku berteriak dan ia melakukannya.


Kami akhirnya sampai di gerbangku setelah beberapa menit berjalan. "Terima kasih untuk makan malamnya," kata Taehyung padaku.


"Yah ini aneh, kau tidak pernah berterima kasih padaku sebelumnya." Aku menggodanya.


la memainkan pipiku, "Diam dan masuklah."


la mencubit hidungku dan tersenyum. Aku baru akan membuka gerbang ketika tiba-tiba Taehyung menghentikanku dan memegang pergelangan tanganku. "Apa?" tanyaku.


"Kau hanya masuk begitu saja?"


Aku bingung, "lya..?"


Tiba-tiba, ia memutarku untuk menghadapnya dan menarikku lebih dekat. la maju dan memberiku kecupan singkat di bibir.


"Selamat malam," katanya padaku dan tersenyum.


Dengan tersipu aku berbalik dan meraba-raba untuk membuka pagar. la berjalan pergi dariku dan aku menatapnya sementara ia berjalan mundur untuk melihatku masuk. Aku melambai padanya dan akhirnya masuk ke dalam rumah, masih dengan sebuah senyum di wajahku.


...***...


Hari berikutnya di sekolah, sekarang waktu istirahat. Aku baru saja keluar dari toilet ketika tiba-tiba Shinhye berlari ke arahku, terengah-engah.


"HYEJIN! HYEJIN!" la memanggilku dan memegang bahuku.


"Apaapa?" Aku menatapnya saat ia mencoba untuk mengatur napasnya.


"M-mina... R-Rooftop," katanya di sela nafasnya.


"Apa yang kau bicarakan?"


"M-mina di rooftop. Aku pikir akan bunuh diri." Shinhye akhirnya bicara padaku.

__ADS_1


Mataku terbelak. "APA?!"


Aku berlari cepat ke lantai atas dan ke tangga, Shinhye mengikutiku di belakang.


Aku melihat Mina berdiri di pinggir bangunan. Jantungku berdetak cepat, takut ia akan melompat kapan saja.


Aku berjalan pelan di belakangnya, dan aku mendengar ia terisak. Aku perlahan ke dekatnya. Saat aku sudah siap, aku dengan cepat melingkarkan tangannku di sekitarnya dan menariknya ke tempat yang aman.


la berteriak kaget.


"Mina dengarkan aku!" Aku berteriak. Shinhye dan aku memegangnya erat untuk mengontrolnya. la tetap berteriak dan menangis keras.


"KENAPA KAU TIDAK MEMBIARKANKU MATI?! TIDAK ADA YANG MENYUKAIKU! TIDAK ADA YANG PEDULI PADAKU!" la berteriak di depanku.


"Jangan melakukan hal bodoh! Aku masih peduli padamu!" kataku padanya.


la terus menangis. "KAU MEMBENCIKU BUKAN?!"


Aku menghela nafas dan menatap matanya. "Lihat, Mina, aku sahabatmu, tidak peduli apapun. Aku akan selalu di sini untukmu. Aku masih peduli padamu. Ini adalah janji."


la tetap diam dan hanya terisak. la ambruk ke tanganku untuk sebuah pelukan. Aku balas memeluknya dengan erat, dan memberi kode lewat mata pada Shinhye kalau ia bisa pergi. Shinhye lalu meninggalkan rooftop, meninggalkan kami berdua di rooftop.


Aku membawa Mina duduk di kursi. la tenang perlahan, namun masih emosional.


"Kau mungkin sangat membenciku sekarang," katanya dan air mata kembali membasahi pipinya.


"Tidak. Bagaiana bisa aku membencimu? Aku minta maaf jika aku pernah melukaimu entah bagaimana," kataku padanya.


Tangisnya semakin keras. "Aku yang seharusnya minta maaf. Aku tidak bisa menolong diriku sendiri. Aku pikir aku akhirnya bisa merasakan cinta tapi... Aku menjadi putus asa dan egois."


Aku menghapus air matanya dengan ibu jariku. "Tidak lama." apa-apa. Aku sudah memaafkanmu sejak


"Hyejin, aku minta maaf. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku tidak seharusnya menamparmu atau kasar padamu. Aku sangat menyesal Aku sangat malu terhadap diriku sendiri." la terus menangis.


"Oke oke sudah cukup. Semuanya baik-baik saja sekarang," kataku dan memeluknya. Aku menepuk punggungnya dan menghiburnya. Ia akhirnya menarik diri saat ia sudah tenang.


Aku tersenyum padanya. "Sekarang tidak ada lagi tangisan. Kau bisa menemukan laki-laki lain yang lebih baik daripada Taehyung," kataku.


"Aku tidak akan jatuh cinta pada laki-laki lagi mulai sekarang," latanya dan melipat lengannya.


"Yah benar, bagaimana dengan Jungkook?" Au menggodanya, dan ia perlahan tersenyum.


Kami berbicara sebentar, sampai waktu istirahat selesai.


...***...


Aku hanya bersantai di ruang tamu dengan orangtuaku pada malam hari, menonton televisi.


"Hyejin ah..." Ibuku memanggilku.


"Eomma dan Appa harus memberitahumu sesuatu."


"Ibumu dan aku akan memulai sebuah bisnis luar negeri, di Amerika. Jadi kita harus pindah bulan depan," kata ayahku.


Ekspresiku kosong. Aku tidak tahu bagaimana harus memberi reaksi padanya.


"Kita meninggalkan Korea?" tanyaku, tidak percaya padanya.


"lya sayang, kita. Kau bisa mulai mengemasi barang-barangmu jika kau mau," kata ibuku.


Aku meneguk. Aku tidak mau pergi. "Tidak bisa aku tetap di sini?"


"Tidak bisa. Kau masih terlalu muda untuk tinggal sendiri. Aku yakin kau bisa mendapat teman di Amerika," kata ayah.


"Tapi Eomma, Appa.... tidak bisakah menunggu sampai aku selesai ujian akhir tahun? Atau boleh aku tinggal dengan tante?" tanyaku, menyerah mencari cara untuk tetap di Korea.


"Lee Hyejin, ikut dengan kami. Kau tidak punya pilihan." Ayah berkata dengan kejam.


Aku menghela napas dan berjalan ke kamarku, kecewa.

__ADS_1


Aku tidak bisa percaya aku akan meninggalkan Korea, meningalkan rumahku. Meinggalkan teman-temanku.


Dan meninggalkan Taehyung.


__ADS_2