Mr. Arrogant

Mr. Arrogant
19


__ADS_3

Sekolah selesai dan aku keluar dari kelas. Hari ini menjadi hari yang buruk dan aku hanya ingin langsung pulang.


"Hyejin! Hyejin babe, tunggu," Seojun menahanku. la menggenggam tanaganku dan memutarku berbalik menatapnya.


"Ada apa? Kau mengabaikanku selama di kelas. Kau baik-baik saja?" tanyanya, peduli.


"Tidak... Aku hanya..."


"Katakan padaku," katanya, "Apa ini karena Taehyung lagi?"


Aku menghela napas dan mengangguk.


"Apa dia mengatakan sesuatu padamu saat berdiri di luar kelas?" la bertanya.


"Sudahlah, biarkan aku pulang." Kemudian, Taehyung berjalan melewati kami dan pergi ke lokernya. "Tunggu di sini," kata Seojun.


"Tunggu, Seojun, apa?! Tidak!" Aku berusaha menghentikan Seojun namun ia sudah menarik kerah baju Taehyung.


Taehyung didorong menghantam loker dan semua orang di sekitar kami tersentak melihat anak baru yang berkelahi dengan bad boy di sekolah.


"Aku peringatkan, jangan sakiti Hyejin!" Seojun berteriak di depan Taehyung.


Taehyung menatapnya, "Sudah selesai?"


Seojun melepaskannya. Taehyung memutar bola matanya dan berjalan pergi, ia berjalan melewatiku dan bahunya menabrakku.


Aku menghela napas. Semua orang masih menatap Seojun. la berjalan ke arahku. "Semuanya baik-baik saja."


"Tidak, kau membuatnya semakin buruk!" Aku berteriak padanya dan berlari, pulang.


...***...


Akhirnya aku sampai di rumah dan aku menghela napas. Permasalahan yang terjadi antara aku dan Taehyung benar-benar membunuhku. Kami selalu bertengkar namun ia tidak pernah jadi dingin sebelumnya. Apa ia tidak akan pernah bicara padaku lagi?


Aku memutuskan untuk menghapus semua yang ada dalam pikiranku dan pergi ke kamarku. Melihat kalender, dengan segera aku mendapat sedikit semangat. Aku akan melihat Halmeoni besok. Segera, aku menghubungi ia.


"Yoboseyo!" la menjawab.


"Halmeoni!" Aku menyapanya dengn semangat. "Aku akan menemuimu besok 'kan?"


Mendadak, Halmeoniku terdiam. "Halo? Halmeoni ada apa?"


"Hyejin ah..." Halmeoni berbicara, "Ibumu baru saja menghubungiku bahwa ia tidak bisa pergi besok.la sibuk."


Hatiku hancur. Benar-benar hari yang buruk. "Halmeoni.." Air mataku mulai turun ketika aku memanggilnya. "Aku benar-benar ingin menemuimu.... bagaimana..."

__ADS_1


"Tenang saja gadis kecilku," ia berhenti dan terbatuk, "Kita akan bertemu hari lain."


Aku menghela napas. Kami sedikit berbincang dan akhirnya menutup telepon karena kedatangannya tamu. Sudah sore dan ibu akhirnya pulang. Ia memasuki kamarku dan aku berpura-pura membaca bukuku.


"Hyejin ah..." katanya dan duduk di tempat tidurku.


la mencoba menggenggam tanganku namun aku menepisnya. "Apa yang Ibu lakukan di sini? Kenapa kau tidak tetap bekerja, kerja sampai kau mati!" Aku berteriak padanya. Aku hanya ingin marah. Aku sudah memiliki hari yang buruk dan ia membuatnya menjadi semakin buruk.


"Hyejin ah-"


"Ibu yang terburuk! Kau berjanji kita akan menemui Halmeoni! Kau membatalkannya demi pekerjaanmu!" Aku tetap berteriak.


"LEE HYEJIN! Ibu bekerja untuk mengisi meja dengan makanan! Aku harus membesarkanmu! Kau hidup dengan baik karena aku dan ayahmu bekerja! Apa yang kurang? Apa yang kau inginkan? Uang?"


Aku menatapnya. "Cinta. Ibu kekurangan cinta. Kau tidak mencintai appa, aku atau Halmeoni lagi. Semua yang kau pedulikan hanya pekerjaanmu."


Aku menghapus air mataku dan berlari keluar dari kamarku, mengambil jaketku dan berlari keluar mencari udara segar.


...***...


Aku berjalan, mencoba menenangkan diriku. Sedikt dingin di luar sini, dan langit semakin gelap karena matahari perlahan tenggelam.


Aku berharap bisa berlari pada Taehyung dan memberitahunya semuanya. Namun fakta bahwa Taehyung dan aku sedang perang dingin menggangguku.


Aku duduk di luar, enggan membunyikan bel. Aku mulai menangis di sana, aku tidak tahu kenapa. Aku hanya merasa bingung dan kacau. Aku mengubur wajahku di antara tanganku. Ada apa denganku?


Tiba-tiba pintu terbuka. Aku tersentak, baru akan berdiri dan lari, namun Taehyung sudah melihatku. "Hey... Apa yang kau lakukan di sini?"


Aku berdiri dan membersihkan diriku. "Uh... Bukan apa-apa. Aku hanya, hanya..."


"Menangis lagi? Kenapa kau tidak bersandar pada bahu pacarmu." la berkata terang-terangan dan bersedekap.


Aku memutar bola mataku.


"Bukan. Aku hanya mau minta maaf," kataku dan melihat ke bawah.


"Oh.. terserah. Tapi aku tidak akan memaafkanmu," katanya.


"Yah a-aku tidak memintamu untuk memaafkanku..." balasku.


la menghela napas. "Ikut aku beli makan lalu kita bicara di dalam," katanya.


Aku megangguk dan kami pergi.


...***...

__ADS_1


"..Jadi dia membatalkan rencana mengunjungi Halmeoniku demi pekerjaannya! Bagaimana aku tidak kesal?!" Aku mengeluarkan semuanya pada Taehyung sementara ia memakan jjajjangmyeon (black noodle). Aku mengerutkan dahiku, "Kau mendengarku?!"


"Uhuh..." katanya dan kembali mengunyah.


Aku berdecak dan beristirahat di sofa. "Orangtuamu pulang atau bagaimana? Aku tidak pernah melihat mereka"


"Mereka bilang mereka akan datang dua minggu atau lebih, entahlah," balasnya.


"Baguslah, orangtuamu ingat dan mereka tidak terlalu mengaturmu, atau merusak perasaanmu." kataku.


"lya, tapi aku merasa kesepian, bagaimanapun kau melihat orangtuamu setiap hari," katanya, dan meneguk air minumnya.


Aku meneguk. Mungkin aku tidak berterima kasih.


"Ay Hyejin, bersihkan ini sebelum kau pergi," kata Taehyung dan bersendawa.


"Hey! Kenapa aku harus membersihkan sisa makananmu?!"


"Tentu saja, aku mendengarkan semua yang kau katakan sekarang kau harus menolongku membersihkan ini," katanya dan menyeringai, ia duduk di sofa di depanku.


Aku memutar bola mataku.


Tiba-tiba, ponselku berdering. "Yoboseyo?" jawabku.


"Hyejin, kau baik-baik saja?" Seojun berbicara padaku di telfon.


"Aku baik-baik saja Seojun, aku hanya-"


Aku berhenti berbicara saat Taehyung memberiku tatapan dingin. la sangat membenci Seojun untuk alasan yang tak seorang pun mengerti. Aku menggigit bibirku dan aku tetap diam.


"Hyejin? Kau di sana?" Seojun berbicara.


Aku meletakkan jariku di bibir, memberitahu Taehyung untuk tidak membuat suara atau Seojun mungkin mengenali suara Taehyung. Taehyung menyeringai.


"-Aku baik-baik saja, apa yang kau lakukan sekarang? Apakah ka-" Ucapanku terpotong saat Taehyung mulai membuat suara aneh, dengan keras, mengganggu pembicaraanku, dan aku mencoba sebisaku menghentikannya.


"Siapa itu?" Seojun bertanya padaku.


"Kututup dulu, bye," kataku dan menutup telfon. "KIM TAEHYUNG!" Aku menghampirinya dan memukulnya.


"Apa? Ini rumahku dan kau berbicara dengan pacarmu di depanku. Kau ingin menyombongkan diri?" Katanya dan mendorongku.


"Terserah! Aku mau pulang," kataku dan pergi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2