Mr. Arrogant

Mr. Arrogant
31


__ADS_3

Aku makan malam bersama orangtuaku malam itu. Aku memainkan sumpit, tidak memiliki ***** makan meskipun makanan yang tersaji adalah kesukaanku.


"Lee Hyejin? Kenapa kau tidak makan?" Ayahku bertanya padaku.


"Tidak apa-apa. Eomma, appa, aku akan ke kamarku duluan," kataku. Dengan begitu, aku berdiri dan pergi ke kamarku.


Aku duduk di tempat tidurku. menghela napas. Sepertinya senyumku tidak akan pernah kembali. Aku belum tertawa atau tersenyum, selalu senyum palsu yang kutunjukkam hari ini. Aku berbaring di ranjangku, menangisi kisah cintaku yang menyedihkan. Air mata merembes di bantalku. Aku belum pernah merasa sangat kesepian sebelumnya.


...***...


Seminggu lebih berlalu, dan ini adalah hari untuk ujian tengah semester kami. Suara-suara obrolan menggaung di hallway. Aku sedang berjalan menuju kelasku ketika tiba-tiba tali sepatuku terlepas. Aku menunduk untuk mengikat tali sepatuku ketika aku melihat seseorang dari balik rokku. Aku berbalik dan mendapati Taehyung berdiri di sana, memandang rendah padaku.


"Oh, maaf, aku tidak melihatmu di sana." la meminta maaf sarkastis.


Aku berdiri dan menatapnya. "Kau pikir aku tidak bisa mengerti sarkasmemu?"


"Jadi aku harus bertepuk tangan untukmu?" la menaikkan alisnya dan menatapku. la bertepuk tangan keras, menarik banyak perhatian.


Aku memutar bola mataku dan akan menuju ke kelas, saat ia menghadapi tantangan dan menghadapinya.


"Kim Taehyung, lepaskan aku," kataku dan mencoba lepas dari cengkeramannya.


"Kau menyedihkan. Kau memanfaatkan Seojun lagi?" katanya padaku.


Aku menarik tanganku dan berlari ke kelas.


...***...


"....Siapapun yang tertangkap curang akan mendapat nol untuk ujian ini." Pengawas ujian memberi kami peringatan keras.


Aku sejujurnya sangat gugup. Beberapa hari ini aku tidak pernah belajar. Aku hanya tidak bisa konsentrasi.


"Kalian bisa mulai, sekarang," kata pengawas ujian dan semua orang segera membuka halaman pertama.


Baru pertanyaan pertama dan aku sudah menggaruk kepalaku. Aku lupa banyak belajar dari soal. Aku berkeringat dingin dan menatap jam. Aku mulai khawatir karena waktu hampir habis.


Setelah banyak perjuangan, waktu akhirnya selesai dan pengawas ujian sudah mengambil tulisan kami. Aku menghela napas. Aku tahu aku akan gagal dalam ujian ini.


...***...


Hari berlalu dan akhirnya ini adalah ujian terakhir, Sains. Aku menjawab hal yang kutahu dan menyelesaikan ujian. Akhirnya, kebebasan!


Setelah pengawas ujian mengumpulkan kertas ujian, semua orang bergegas keluar kelas dan pulang ke rumah. Aku mengemasi barang-barangku dan berjalan keluar kelas.


Aku memutuskan ini terlalu cepat untuk pulang. Aku harus merayakan dengan teman karena ujian telah berakhir, tapi aku tidak tahu di mana keberadaan Seojun. Dan untuk Mina, aku tahu ia dengan Taehyung.

__ADS_1


Aku menuju ke lantai tiga untuk bermain di sekitar ruang seni. Aku berjalan menuju piano, dan duduk di sana. Aku menekan tuts-tuts untuk bermain pertama dan satu-satunya lagu kesukaanku.


Mataku berair. Segalanya menyakitiku sampai ke titik di mana aku merasa seperti mati. Ada banyak yang ingin kukatakan, namun tidak ada seorang pun yang dapat diajak bicara.


Aku menghela napas, berjalan menjauh, berjalan ke mana pun di lantai tiga.


Kemudian, tanganku digenggam dan aku berbalik, melihat Taehyung.


"Lee Hyejin..." katanya terengah-engah, nampak bahwa ia berlari ke sini. Aku mengerutkan dahi dan menarik tanganku, mencoba untuk berlari, namun ia menangkap pergelangan tanganku lagi.


"APA YANG KAU INGINKAN LEPASKAN AKU!" Aku berteriak padanya.


"CUKUP DENGARKAN AKU, KALI INI SAJA." la juga berteriak.


Aku menatapnya sembari berusaha keras menahan air mataku. Aku menunggunya melanjutkan bicara.


"Kau harus melihat ini," katanya, menarikku turun ke lantai dua. Lalu aku sadar, kami menuju toilet laki-laki.


Aku melangkah mundur, "Kau gila?!"


la menyuruhku diam, "Percaya padaku, kau sangat, sangat harus melihat ini."


Aku sedikit ragu namun akhirnya masuk ke toilet.


"Lihat bilik pertama di sana?" Taehyung berbisik padaku. Aku mengangguk. "Letakkan telingamu di pintu dan dengarkan apa yang di dalam."


Mataku membelak dan aku menatap Taehyung.


Taehyung melemparkan seringai. "Mau lihat siapa itu?" bisiknya.


Aku ragu, namun sejujurnya aku penasaran.


Tiba-tiba, ia menendang pintu dan pintu terbuka rusak.


Napasku tercekat. Terkejut, aku melihat Seojun, making out dengan gadis lain. Aku tidak berkedip saat menatap mereka. Seojun melepaskannya, dan menatapku.


Aku sangat terkejut, aku nyaris ambruk ke lantai.


"Bersenang-senang huh?" kata Taehyung padanya dan melemparan seringai.


Aku melihat Seojun menatap Taehyung tajam. Gadis yang making out dengannya adalah salah satu gadis yang kami jumpai di perpustakaan. la segera mengancing seragamnya dan berlari keluar dari toilet.


"l-ini tidak seperti yang kau pikirkan, babe" kata Seojun padaku.


"JANGAN PANGGIL AKU SEPERTI ITU. AKU MEMBENCIMU!" Aku berteriak padanya dan berlari keluar dari toilet. Taehyung mengerjarku.

__ADS_1


Aku berlari ke lantai tiga dan pergi ke gudang. Aku tahu ini tempat persembunyian Taehyung. Aku tidak bisa memerangkap diriku di sini. Satu demi satu, orang yang aku cintai, mengecewakanku.


Aku duduk di atas tumpukan koran, membenanka wajahku di antara kedua tanganku, menangis. Aku mendesak diriku dan mencoba menyayangi Seojun. Bagaimana aku akan mengalihkan diriku dari Taehyung sekarang?


Kemudian, kenop pintu berbunyi. Taehyung masuk ke gudang, duduk di sebelahku. Aku menjauh, namun tetap menutupi wajahku. Aku malu pada diriku. Aku bahkan tidak bisa memandangnya.


"Sekarang kau tahu siapa dia," kata Taehyung.


"Terserah, tinggalkan saja aku sendiri."


"Permisi? Ini tempat persembunyianku, kaulah yang seharusnya keluar," kata Taehyung dingin padaku.


Aku memutar bola mataku dan berdiri, menuju ke pintu.


Kemudian, Taehyung memutarku menghadapnya. la melingkarkan lengannya di sekitarku dan memberiku pelukan erat.


Aku mencoba menggeliat lepas dari pelukannya, namun ia masih memelukku erat. Aku menyerah, dan memutuskan bahwa aku juga membutuhkannya. Aku memeluknya balik, dan kembali menangis.


"Kenapa kau menyakiti dirimu seperti ini huh?" katanya padaku dan dengan lembut mengusap kepalaku.


Aku tidak bisa menjawab melainkan tetap terisak.


Saat perlahan aku merasa lebih baik, aku kembali duduk, dan ia duduk di sebelahku. "Maaf untuk semuanya. Aku sedang kacau," kataku.


"Kau hanya bodoh bukan?"


"lya, aku tidak bisa mengatasinya."


"Yahyah, aku tidak mencoba membuatmu emosi dan menangis keras," katanya, "Hapus air matamu atau aku akan menendangmu."


Aku perlahan tertawa dan menghapus airmataku. Apakah aku benar-benar tersenyum?


"Aku akan pulang sekarang, terima kasih," kataku padanya dan pergi.


...***...


Aku memasuki kamarku dan melempar diriku ke atas tempat tidur. Sudah sangat lama sejak aku tersenyum pada Taehyung, dan aku merindukannya. Namun Taehyung belum putus dengan Mina, yang berarti aku harus tetap mengambil jarak aman dari Taehyung.


Itu semua terserah padaku sekarang.


...***...


*udah dengerin lagu yours belum?


enak banget lagunya•́ ‿ ,•̀

__ADS_1


apa lagi kalo di dengerin pas lagi gerimis-gerimis gitu•́ ‿ ,•̀


lagunya permisi dulu sebelum masuk terlinga•́ ‿ ,•̀*


__ADS_2