Mr. Arrogant

Mr. Arrogant
15


__ADS_3

Aku melihat pantulan diriku di cermin sembari menyisir rambutku. Mataku yang bengkak dan merah jadi lebih baik setelah mandi.


Melihat jam, dan sekarang pukul setengah enam pagi.


Aku bangun lebih cepat dan sekarang aku telah siap untuk ke sekolah sebab aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena dua hal menangis atau pun mimpi buruk.


Aku meletakkan sisirku. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?


Aku menghela nafas dan duduk di pinggir tempat tidurku. Aku mulai memainkan game di ponselku ketika tiba-tiba aku menerima pesan di akun Kakaotalk milikku.


"HEY LEE HYEJIN AKU DALAM KEADAAN DARURATI- Taehyung.


Mataku membulat dan jantungku berdegup cepat melihat pesannya yang terlalu cepat di pagi hari. Aku sangat khawatir dan tetap membuat typo saat membalas pesannya.


"Ada apa?! Kau baik-baik saja?" - Hyejin.


"Tidak, tolong cepat ke rumahku sekarang!" -Taehyung.


Dengan itu, bergegas aku meraih tasku dan bergegas keluar dari kamarku.


"Pagi Hyejin, kau bangun lebih awal hari ini." Ibuku menyapaku sembari menata meja dengan sarapan, "Ayo duduk?"


"Maaf bu, aku harus pergi," kataku cepat dan bergegas keluar dari rumah.


Aku tergesa keluar dari area rumahku, melewati gang, ke jalan, langkahku semakin cepat.


Ponselku berbunyi.


"HYEJIN CEPATLAH KUMOHON!"- Taehyung.


Aku menelan dan mulai berlari ke rumahnya meskipun kakiku sudah sakit. Pikiranku kacau tentang apa yang terjadi padanya dan mataku sedikit berair karena aku khawatir dan cemas.


Aku akhirnya sampai di gerbang rumahnya. terengah-engah.


"KIM TAEHYUNG BUKA!!" Aku berteriak sembari mengguncang gerbang dengan kasar.


Aku melangkah mundur ketika gerbang terbuka. Lalu aku berlari ke pintu. Aku baru mau mengetuk pintu ketika pintu terbuka, dan aku melihat Taehyung dalam keadaan baik-baik saja berdiri di sana, masih memakai piyama, menatapku.


"BAGUSLAH KAU DI SINI CEPAT MASUK KE DALAM," katanya dan menarikku masuk. la menutup pintu dan berbalik memandangku.


"KAU KENAPA?!" Aku memeriksanya dengan teliti dari atas ke bawah, ia baik-baik saja.


"D-dapur!" la bicara tergagap.


Aku berjalan dengannya ke dapur, di sana gelap. Aku menyalakan lampu.


Semua yang ada di dapur berada di tempatnya. Tidak ada yang aneh.


Aku menatap Taehyung dengan wajah kebingungan. "Apa ada yang salah dengan dapur?"


"lya di sana."


"Apa itu?"


"Tidak ada makanan di meja. Buatkan aku sarapan sementara aku bersiap-siap ke sekolah. Terima kasih," katanya dan menyeringai padaku.


Wajahku langsung cemberut. "BERANINYA KAU MENYERINGAI PADAKU BAJINGAN BODOH! AKU KHAWATIR PADAMU DAN AKU BERLARI KE SINI UNTUK HAL YANG SIA-SIA ASTAGA UGH!"


Aku terus memukulnya sementara ia mencoba untuk menghindar. Lalu, ia tiba-tiba tetap berdiri, aku akhirnya berhenti dan bernapas berat.


"Tunggu," katanya.


"Sekarang apa?" Aku berteriak dan bersedekap.


"Kau khawatir padaku? Kau berlari ke sini untukku?" latanya.


Aku meneguk.


"Jadi kenapa?" kataku.


"Kau peduli padaku! Kau menyukaiku bukan huh Lee Hyejin?" la menggodaku sembari menyikutku.


Jantungku berdetak cepat dan aku menjadi malu terhadap diriku sendiri.

__ADS_1


"Kau gila? Kau masih tidur atau apa? Aku tidak akan pernah menyukaimu." Kataku dan memutar bola mataku.


"Yahyah terserah. Lebih baik kau membuat sarapan sementara aku bersiap-siap," katanya dan meninggalkan dapur.


Mataku menelusuri sekitar dapur. Haruskah aku benar-benar memasak untuk anak tak tahu malu itu? Mungkin aku harus karena aku juga tengah lapar.


Aku mengambil panci serta beberapa bahan makanan dan membuat omelet serta roti bakar. Itu semua yang bisa aku buat shh.


la turun dua puluh menit kemudian, menggunakan seragamnya. Seragamnya tidak dimasukkan. Dasinya tidak terpasang dan kerahnya tidak terlipat dengan baik. Rambutnya, aku menghela napas, jangan membuatku memulai, rambutnya seperti habitat simpanse.


la pergi ke dapur dan melihat sarapan yang aku buat. "Ini lagi? Kau membuat ini saat kau datang dulu." la protes.


"Jangan jadi anak yang suka merengek, tapi akhirnya kau punya makanan untuk sarapan," lataku sembari pergi ke ruang makan dan ia mengikutiku.


Kami berdua duduk dan makan.


"Jin memasak lebih baik daripada kau," katanya tiba-tiba.


"Jin? Bagaimana kau kenal dia?" tanyaku.


"Dulu aku menjadi pasangannya untuk Ekonomi Rumah dan dia yang memasak semuanya. Aku mencoba makanan yang dia buat dan rasanya sangat enak," katanya.


"Yah aku tidak peduli. Aku menyukai masakanku sendiri."


"Yah, kau hanya bisa membuat omelet dan roti bakar huh?"' la tertawa kecil.


Aku memutar bola mataku. "Ayo pergi, sebelum kita terlambat ke sekolah," kataku dan kami berdua keluar dari rumah.


...***...


Kami berangkat bersama. Aku merasa aneh karena sebelumnya tidak pernah pergi sekolah dengannya. Kami bahkan tidak berbicara, justru melihat ke sekeliling dengan canggung.


Keheningan pecah saat Taehyung berbicara. "Jadi, bagaimana Lee Seojun itu?"


"Aku tidak tahu. la membuatku gila. la tetap mengikutiku dan memberitahuku untuk jadi pemandunya. Tapi, ia baik, dan good looking juga. Aku akan mengenalnya lebih baik cepat atau lambat," kataku.


"Jadi kau suka dia?" tanyanya.


"Yah tentu saja tidak, aku bahkan tidak mengenalnya," kataku. "tapi sejujurnya, ia cukup lucu."


"Aku pergi ke tempat persembunyian," katanya.


"Tapi kita harus masuk dalam lima belas menit," nalasku. "Kau mau merokok lagi?!"


"Shh... tidak. Aku hanya tidak suka masuk terlalu cepat," katanya.


"Terserah. bye," kataku dan kami berpisah.


...***...


Aku memasuki kelas. berjalan ke mejaku yang berada di sebelah Seojun dan duduk.


"Pagil" la menyapaku dengan sebuah senyuman.


Aku menggeram. "Terserah."


"Bagaimana lututmu?" tanyanya.


"Baik-baik saja dan tidak butuh perhatianmu."


Aku memutar bola mataku padanya dan mengabaikannya selama sisa pelajaran.


Kemudian istirahat tiba dan aku bergegas keluar kelas lalu pergi ke loker untuk meletakkan beberapa barang.


Tapi kemudian aku sadar, gadis-gadis di sekitarku berbisik-bisik, tertuju pada seseorang. Aku melihat ke mana mereka menunjuk. Seojun, meletakkan barang-barangnya di loker.


"Astaga, dia tampan!"


"Yah aku dengar dia pindahanl Murid baru yang menggemaskan!"


"Lihat otot lengannya waaah!"


Aku kebingungan mendengar bisikan gadis-gadis itu. Mereka sebenarnya tidak berbisik, suara mereka sudah cukup untuk aku dengar.

__ADS_1


Bagaimana mereka bisa menyukai Seojun?


Aku melihat Seojun lagi.menelitinya dari atas ke bawah. Yah, sebenarnya, tidak buruk. Perawakan tingginya cukup menarik. Tapi aku tidak akan suka padanya.


Aku akhirnya berpaling sebelum menutup lokerku.


Aku tidak berencana untuk makan jadi aku memutuskan untuk berjalan keliling sekolah.


Aku pergi ke lantai tiga, ke piano, sekali lagi. Aku mendapatkan tempat yang paling aku sukai.


Seperti yang biasa aku lakukan, aku memainkan lagu yang sama. Ingatan tentang nenekku sekali lagi bermain di pikiranku.


Setelah aku selesai bermain, sebuah suara berbicara. "Itu sangat indah."


Aku terkejut dan menoleh ke belakang untuk melihat Seojun. Ugh.


"Berhenti mengikutikul" Aku berteriak.


"Aku hanya tidak memiliki teman dan aku hanyabingin kau untuk menunjukkan seisi sekolah padaku." katanya dan berdiri jauh dariku karena aku mengerutkan keningku.


Aku menghela napas dan berbalik menghadap piano. Lalu aku merasa ia datang mendekat.


"Boleh aku duduk di sebelahmu?" tanyanya. Aku mendongak dan ia menatapku. Alisnya tebal dan senyumnya indah. la menyisir rambutnya ke belakang, membuatnya terlihat ribuan kali lebih menarik. Tunggu. Aku tidak tertarik kan?


Aku menunduk melihat piano. "Yah terserah." kataku dan membuat jarak dengannya di kursi yang kecil ini.


la duduk, dan bahu kami bersentuhan. "Jadi, kau bermain cukup baik huh?"


"Yah, tentu saja. Aku yakin kau tidak bisa memainkan instrumen musikal" kataku dan menyeringai.


"Yah... Aku tidak tahu..." katanya dan melekkan jemarinya di tuts-tuts piano..


Aku terkagum ketika ia bermain dengan sempurna. Aku hanya duduk dan menatap pada jemarinya. la memainkan melodi yang aku yakini adalah karya agung Mozart.


Aku mulai memandang wajahnya, dan menyadari, ia sejujurnya terlihat sangat karismatik. Aku punya kekaguman pada laki-laki yang bisa bermain piano.


la mengakhirinya dengan indah dan mengeringai.


Aku berpaling dan secara otomatis tersenyum. Entahlah, aku menjadi malu dan malu.


"Bagaimana?" tanyanya.


"Kau sedang mcoba membual?" tanyaku dan ia tertawa.


la menghela napas. Lalu kami berdua tetap diam, menatap piano.


"Kenapa kau sangat dingin padaku?" tanyanya.


"Apa maksudmu?"


"Kau sangat... maaf tapi, sangat tidak bersahabat," katanya.


Aku menggigit bibirku. "Itulah aku dan kau harus tahan dengan itu."


"Jadi, bisa kita menjadi teman?"


"Kenapa aku? Kau bisa berteman dengan teman kelas kita, Hoseok, Jin, Yoongi..." kataku


"Yah aku hanya ingin berteman denganmu, kau tampak lucu," katanya dan mengedipkan sebelah matanya.


Tunggu pretty boy, kau tidak bisa hanya mengedip padaku seperti itu.


Aku menahan senyumku. Aku bisa merasakan pipiku berubah merah. Ada apa denganku. Kadang aku merasa terganggu dengan kehadirannya, namun setelah itu, aku tidak bisa menahan berpikir bahwa ia baik.


"Terserah," balasku.


la mengulurkan tangannya untuk aku jabat. "Halo, Hyejin." la berbicara informal


Aku dengan enggan menjabat tangannya. "Yah, hai Seojun."


Suasana menjadi canggung karena kami terus berjabat tangan, dan kami kemudian tertawa.


Bel berbunyi dan kami berdua berdiri.

__ADS_1


"Senang bertemu denganmu Hyejin," katanya. la memberiku senyum dan kami berdua berjalan kembali ke kelas bersama.


__ADS_2