
Aku sudah terlelap di ranjangku ketika di saat ponselku berdering. Aku mengerang dan duduk untuk menggapai ponselku.
"Yoboseyo?" ujarku, mataku masih setengah terbuka.
"Hyejin ah! Aku Mina. Kau sudah baikan sekarang?" la berbicara di ujung sana.
"Uh... yah. Kenapa kau menghubungiku?" tanyaku.
"Oh, beri aku waktu," katanya dan aku mendengarnya memekik. Aku kebingungan dan tertawa kecil karena keanehannya tapi tetap menunggunya kembali berbicara.
"Oke, i'm back," katanya. "Aku hanya ingin bilang bahwa...bahwa...AKU PACARNYA TAEHYUNG!"
Senyumku memudar dan hatiku seperti hancur menjadi ribuan keping dalam sekejap. Apa yang kudengar benar? Air mata mulai terbentuk di mataku tanpa aku ketahui. Aku berdeham.
"Jinjja?! Astaga, aku sangat senang untukmu! Langgeng oke!" kataku padanya lewat telfon, mencoba terdengar sangat senang untuknya.
"Terima kasih banyak Hyejin! Aku akan membeli makanan untuk Master Hyejin oke!" katanya.
Aku pura-pura tertawa. "Aku harus pergi sekarang. Annyeong-kataku dan kami memutuskan sambungan.
Aku menghela napas, memeluk bantalku. Air mataku perlahan terbentuk dan mulai jatuh ke pipiku.
Kenapa aku sangat patah hati? Kenapa aku sedih? Semua pertanyaan ini tersisa tanpa jawaban. Aku tidak tahu jika aku harus bahagia untuk sahabatku, saat jauh di dalam hatiku hal ini membunuhku.
Aku pasti gila. Aku berusaha keras menghapus semua pikiran dalam benakku dan tidur.
...***...
Hari Senin tiba dan aku melangkah ke sekolah tetapi aku sudah ingin keluar. Aku berjalan lambat ke lokerku dan baru akan membukanya ketika tiba-tiba pandanganku menangkap sesuatu.
Taehyung berjalan dengan Mina melewati hallway, tangannya di bahu Mina, dan mereka tertawa. bahagia.
Aku merasakan gumpalan di tenggorokanku. Aku berbalik ke lokerku, mencoba untuk tenang dan mengabaikan segalanya. Dengan cepat aku mengambil buku di loker dan membanting lokerku untuk menutupnya, bergegas ke kelas.
Aku akhirnya sampai ke bangkuku dan bermalas-malasan di kursiku, menghela napas.
Semua orang di kelas bermain, sementara aku terlihat seperti manusia yang membusuk duduk di salah satu sudut, menunduk.
Tiba-tiba Taehyung dan Mina memasuki kelas, dan tangannya melingkar di pinggangnya - Mina. Aku meneguk, menghapus kesedihanku.
"OHH! Mina dan Taehyung pasangan!" Anak laki-laki di kelasku menggoda mereka dan melemparkan kertas pada mereka.
"Hentikan!" Taehyung berteriak, semua orang tersentak dan mematuhinya.
Anak perempuan di kelasku memberi Mina selamat saat ia duduk di tempatnya.
"Terima kasih semua. Makasih banyak." la berterima kasih pada semuanya dan menyisir rambutnya dengan jari.
Mina kemudian menoleh padaku, dan aku dengan cepat tersenyum padanya, mengucapakn 'selamat' padanya. la tersenyum balik dan berterima kasih padaku.
Aku berbalik, merasa sangat munafik.
...***...
__ADS_1
Jam istirahat dan aku tidak memiliki ***** makan. Dengan lambat aku menuju lantai tiga.
Aku melewati piano dan masih berjalan, ketika tiba-tiba aku mendengar langkah kaki di belakangku. Aku berbalik dan tidak ada seorang pun. Aku kembali menghadap ke depan dan kembali berjalan.
Tiba-tiba, aku didorong ke tembok. Ia menatapku dan memerangkapku dengan dua tangannya, menekan dinding.
Aku menatapnya. "Minggir, Kim Taehyung," kataku dan berusaha mendorongnya menjauh. "Aku bilang minggir!"
"DIAM!" la berteriak di depanku dan aku terdiam, menatapnya. Pandanganku mulai kabur karena air mata yang mulai terbentuk di mataku siap meluap.
"Aku memberimu kesempatan terakhir untuk bicara," katanya dan menatap mataku dalam, terlihat serius.
"Kau menyukaiku bukan?" tanya Taehyung.
Aku menghela napas. "Aku bilang aku tidak menyukaimu! Bisakah kau berhenti! Kau sudah punya pacar! Apa yang kau lakukan?!"
la tertawa sarkastis dan menyelipkan tangannya di saku.
"Aku hanya bertanya apakah kau menyukaiku. Aku tidak bilang aku akan meninggalkan pacarku dan pergi denganmu. Aku bahkan tidak menyukaimu," katanya padaku, dingin.
Aku menghapus air mataku dan menatapnya. "Aku tidak menyukaimu. Seperti itu, jadi berhenti menggangguku," kataku padanya dan berlari menjauh.
...***...
"Baiklah jadi ujian kalian adalah minggu depan. Ingat untuk belajar dan lakukan yang terbaik berhubung ini adalah ujian tengah semester, yang berarti ini sangat penting meningkatkan performa kalian, persiapan kalian untuk ujian masuk," kata Ms Jaei.
Semua orang menggerutu. Aku menyenderkan kepalaku di meja, merasa lemah.
Seojun mengguncangku. "Hyejin? Kau baik-baik saja?" tanyanya.
la terlihat bingung awalnya namun kemudian mengangguk.
Seusai sekolah, Seojun dan aku pergi ke perpustakaan dan duduk di meja kosong. Kami mengambil buku pelajaran kami dan memulai perbaikan kami.
"Apa yang ingin kau beritahu padaku?" Seojun bertanya padaku.
"Aku hanya ingin untuk... memberitahumu bahwa..." Dengan gugup aku meletakkan pulpenku. "Bisakah kita kembali bersama lagi?"
Mata Seojun terbelak, ia tersedak salivanya dan terus batuk sampai penjagaan perpustakaan menyuruhnya diam.
"K-kenapa?"
Aku tersenyum padanya, "Aku hanya merindukanmu. Maaf karena meninggalkanmu, aku membuat kesalahan yang sangat bodoh."
la balas tersenyum padaku, lebar. "Uh... Aku tidak tahu," katanya saat ia meletakkan jarinya ke rambutnya, menjadi malu.
"Oh ayolah, babe" kataku dan mengedip padanya.
Tulang pipinya terangkat saat ia tersenyum, malu. "Oke," ujarnya.
"Sekarang ayo belajar."
Aku menyeringai padanya dan mengambil pulpenku, melihat bukuku dan kembali belajar.
__ADS_1
Tiba-tiba, senyumku memudar dan aku tidak bisa konsentrasi belajar. Aku menatap kosong pada halaman buku, memikirkan sesuatu yang lain. Aku menghela napas. Sejujurnya, aku bukan mulai jatuh pada Seojun atau apapun seperti itu. Aku kem padanya unt melupakan Taehyung. Bahkan jika aku tidak mencintainya dengan cara yang pasti, aku tahu aku bisa menumbuhkan perasaan untuknya, dan melupakan tentang Taehyung.
Satu setengah jam kemudian kami sudah lelah belajar dan menutup buku kami. Aku membunyikan jari-jariku.
"Bisa kita berjalan di sekitar perpustakaan?" Aku bertanya pada Seojun.
la mengangguk dan kami berdiri. Aku ingin berjalan menuju rak buku ketika tiba-tiba aku merasakan tangannya melingkari pinggangku. Aku sedikit tersentak, namun aku menatapnya dan tersenyum. Aku harus dapat memanfaatkan ini.
Tiba-tiba, beberapa gadis berjalan melewati kami dan melemparkan tatapan berapi-api padaku.
"Seojun ah? Kau punya hubungan sekarang? Dengan sampah... ini?" Salah satu dari gadis itu berbicara padanya saat ia memutar-mutar rambutnya meneliti dan menghakimiku dari atas hingga ke jari kaki.
Seojun mengangguk dan menarikku lebih dekat dengannya. "Yah, kalian ingin mengambil gambar lain denganku atau apa?" Seojun bertanya.
Gadis lain mendekat padanya dan melingkarkan tangannya di milik Seojun. "Seojun ah, bisa tidak kau menghabiskan waktu dengan kami hari ini?" katanya.
Aku menatapnya jijik. Apa mereka belum tahu kalau aku pacarnya?! Aku menghela napas dan menunggunya selesai menggoda Seojun.
Karena penampilannya, gadis-gadis di sekolah mulai mengelilinginya, mengambil gambar dan makan dengannya selama istirahat. Flirts.
Aku berdeham. "Seojun, ayo pergi," kataku padanya dan menariknya. Aku bisa merasakan gadis-gadis itu melubangi punggungku dengan tatapan mereka.
Aku berpegangan tangan denganya dan berjalan ke sekitar perpustakaan, beradaptasi dengan skinship. Aku melihat-lihat ke sekitar mencari novel yang bagus dan ia juga.
Kami berjalan ketika tiba-tiba kami bertemua dua orang yang kami kenali.
Mina dan Taehyung.
Mereka juga berpegangan tangan. Aku merasakan genggaman Seojun lebih erat.
"Oh? Kalian di sini juga?" kata Mina pada kami.
Aku menatap Seojun, kemudian kembali padanya. "Iya, kami hanya menyelesaikan perbaikan kami untuk ujian mendatang. Hanya beristirahat sekarang," jelaaku padanya.
"Ahh... Aku mengerti. Oh, kalian sekarang pasangan huh. Bagaimana kau tidak pernah memberitahuku tentang ini, Hyejinnie." Mina menggodaku.
Aku pura-pura tersenyum dan mencuri pandang ke Taehyung. Aku melihatnya menatap tanganku yang dipegang Seojun. Aku berpaling dan dengan canggung menatap rak buku.
"Uh. Sampai jumpa lain waktu. Kami pergi sekarang," kataku dan ia mengangguk. Kami berpapasan, ketika tiba-tiba bahu Taehyung membentur bahuku. Mataku sedikit berair, jantungku berdetak cepat.
"Seojun?"
"Hmm?"
"Boleh aku ke toilet sebentar?" tanyaku padanya dan ia mengangguk. Dengan cepat aku bergegas pergi ke toilet membasuh wajahku.
Aku bisa merasakan air mata yang hangat jatuh di pipiku. Tidak, aku tidak bisa menangis lagi. Aku harus mendapatkan yang lebih dari Taehyung. Aku membasuh wajahku lagi dan menghapus air mataku, mencoba terlihat baik.
Aku keluar dari toilet dan melihat Seojun menungguku di luar.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Yap. Ayo pulang sekarang," kataku. la tersenyum dan meletakkan tangannya di bahuku saat kami berjalan ke meja mengambil tas kami.
__ADS_1
...***...