
Aku sedang belajar di kamarku saat ponselku berdering. Aku menjawabnya tanpa melihat pemanggil.
"Yoboseyo, Hyejin disini." kataku.
"Hyejin ah.." suara diujung sana berkata. Aku menjatuhkan pulpenku. Suara ini familiar.
"Siapa ini?" kataku.
"Kenapa kau melupakanku bajingan kecil?" ia melanjutkan berbicara, dalam aksen satori. (satori adalah dialek Korea)
Akhirnya aku tahu siapa itu.
"Nenek!" aku bersemangat. Aku sangat senang mendengar suaranya lagi. Ia tertawa diujung sana.
"Kenapa kau sangat lama tidak menghubungi ku? Aku mencoba menghubungi namun kau tidak pernah menjawab. Kau tahu aku sangat khawatir?" kataku dan berbicara imut.
"Berhenti dengan aegyomu, kapan kau dan orang tuamu datang mengunjungi ku?" tanyanya.
"Aku tidak tahu. Aku sangat ingin pergi ke Busan dan mengunjungi mu. Aku sangat merindukanmu, nek." kataku. Ia terkikik, namun setelah itu ia mulai terbatuk berulang kali dan terdengar serius.
"Helmeoni, kau sakit?" tanyaku.
"Hanya batuk biasa, ini akan segera sembuh. Aku harus pergi memberi makan kucingku. Aku harap bisa segera bertemu denganmu." katanya.
Aku menghela napas. Air mataku mulai mengaburkan pandanganku. "Helmeoni....s-sarangheyo." kataku sembari mencoba menahan air mataku.
"Oh... Nado saranghae, kerja keras, jadilah gadis baik oke. Annyeong." katanya dan kami memutuskan sambungan telpon.
Aku tersenyum namun air mataku telah menetes. Aku senang mendengar suaranya lagi Aku sangat ingin melihatnya lagi. Aku berharap orang tuaku akan membawaku menemuinya lagi. Sudah sembilan bulan semenjak kami mengunjunginya. Sejak aku kecil, aku tidak tahu bagaimana cara pergi jauh ke Busan. Aku merindukannya sangat sangat merindukannya.
...***...
Orang tuaku pulang dan kami makan malam bersama. Meja makan sangat hening. Seluruh rumah hening, hanya suara televisi yang terdengar.
"Eomma... Appa..." panggilku dan orang tuaku menatapku.
"Helmeoni menghubungiku hari ini, ia bertanya kapan kita akan mengunjunginya." kataku.
Ibuku mengangkat alisnya. "Jadi?"
"Jadi... kapan kita akan mengunjunginya?" tanyaku.
Ibuku menghela napas dan kembali makan. "Kau tahu ibu sibukkan?"
"Tapi ibu hanya perlu mengambil satu hari libur untuk menemuinya. Ditambah, sekarang nenek sakit. Tolong Eomma? Appa? Salah satu dari kalian bisa mengantar ku kesana. Kalian bisa pergi bekerja selama aku dirumah helmeoni." kataku dan menatap mereka.
"Sweetie, ibu sibuk oke. Ibu akan mengantarmu kesana lain waktu." kata ibuku, menjatuhkan harapanku.
__ADS_1
"Cuma mengantar Hyejin kesana. Dia ibumu, biarkan dia melihat anaknya." kata ayahku.
Ibuku menatapnya. "Jika kau pikir itu mudah, jadi antar Hyejin sendiri!"
Mulai lagi.
"Aku juga sibuk oke? Kenapa aku harus mengunjungi ibu mertuaku saat anaknya sendiri tidak datang?" ayahku menyerang balik.
Mereka mulai bertengkar, lagi.
Lelah, aku menggebrak meja sembari berdiri. "BISA KALIAN BERDUA BERHENTI BERTENGKAR?!"
Mereka berdua menatapku.
"Lee Hyejin jangan bersikap kasar!" ibu menegurku.
"AKU BENCI KALIAN BERDUA!" aku berteriak dan menghentakkan kakiku pergi.
"Kau mau kemana?" ayahku berdiri dari kursinya dan mengikuti ku.
Dengan cepat aku berlari ke luar rumah dan ia tidak bisa menangkap ku. Aku berlari sangat jauh, melewati gang dan jalan-jalan.
Aku berjalan dan air mataku keluar tanpa aku sadari. Dingin, dan aku tidak menggunakan alas kaki. Aku seperti anak hilang. Tidak tahu harus kemana, namun aku tidak pulang kerumah saat ini. Aku butuh waktu sendiri.
Jalan-jalan penuh dengan orang membeli makanan dan barang-barang lainnya. Beberapa dalam perjalanan pulang, mungkin untuk memeluk orang tercinta mereka setelah hari melelahkan di tempat kerja.
Kenapa keluargaku tidak bisa saling menyayangi? Aku menghela napas, masih menangis. Aku melangkah tidak kemana pun juga ketika tiba-tiba seseorang menepuk bahuku.
Aku tertarik keluar dari pikiranku dan menghapus air mataku. "Oh, hey." kataku.
"Yah... kenapa kau menangis." tanyanya.
"Bukan apa-apa, ini hanya karena dingin." kataku.
"Kenapa kau keluar rumah seperti pengemis, tidak memakai jaket atau paling tidak sepatu." tanyanya, melihat jari kakiku.
Aku tetap diam, aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak menangis tapi aku tidak bisa.
"Ini sangat buruk." gumamku berbisik dan melihat kebawah.
"Ay... Hyejin bodoh, ada apa denganmu?" tanyanya dan aku masih diam.
Ia menghela napas dan kemudian berputar memunggungiku.
"Naik, aku akan menggendongmu." katanya.
"A-aku tidak mau pulang." jawabku.
__ADS_1
"Naik saja, aku tidak akan membawamu pulang, bodoh." katanya dan sedikit berjongkok agat aku bisa menggapai punggungnya.
Aku kembali menangis selagi ia berjalan perlahan sambil menggendongku.
Aku sampai di tempatnya dan ia memasukkan sandi. Pintu terbuka dan kami masuk.
Ia membantuku duduk dikursi.
"Uah! Lihat pundakku. Semuanya basah kerana air matamu." ia merengek.
"M-maaf."
Ia duduk disebelah ku. "Jadi, kau mau memberi tahuku apa yang terjadi?"
Dan aku melakukannya. Entah mengapa aku percaya padanya dan memberi tahunya segala tentang pertengkaran orang tuaku setiap hari dirumah dan bagaimana aku sangat merindukan nenekku. Aku merasa lebih baik setelah mengungkapkan semuanya.
Ia perlahan menepuk pundakku untuk menenangkan.
"Aku hanya ingin merasakan kasih sayang. Aku hanya ingin melihat Helmeoni karena hanya dia satu-satunya yang menyayangi ku." kataku mengeluarkan kesedihan ku.
Aku menghapus air mataku dan menghela napas.
"Jadi, bisa kau bicara padaku?" katanya. Dengan canggung aku menatapnya.
"Tapi kau sangat baik padaku dan aku hany-"
Aku memotong ucapanku ketika ia menarikku dalam sebuah pelukannya.
"Diam, kau hanya butuh waktu, bodoh." katanya. Lagi, aku mulai menangis.
Ia melepasku. "Hey, kau terlihat sangat jelek saat menangis. Bisa kau berhenti?"
Perlahan aku tertawa dan berhenti menangis, tetapi mataku memerah dan bengkak. Ia memberi cemilan sementara kami berbincang-bincang.
"Bagaimana aku pulang sekarang?" tanyaku.
"Bisa kau tinggal lebih lama. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang.
...***...
Pukul sembilan malam saat Taehyung mengantarku pulang.
"Terima kasih Taehyung. Kau sangat baik ternyata." kataku dan ia tertawa kecil.
"Sampai jumpa besok di sekolah, pabo Hyejin." katanya dan pergi.
Aku berbalik ke pintu, dan mengetok. Pintu terbuka.
__ADS_1
"Hyejin ah!" ibuku memelukku. "Ibu minta maaf oke."
Aku menghela napas, memberinya sebuah senyuman lemah.