Mr. Arrogant

Mr. Arrogant
24


__ADS_3

"Selamat makan," kata kami bersamaan sebelum menyantap makanan lezat kami sementara yang lain hanya makan nasi putih dengan lauknya yaitu sayur, sayur, dan sayur lagi.


Aku merasa canggung karena aku satu-satunya perempuan yang duduk dengan tujuh laki-laki -Taehyung, Jimin, Jungkook, Hoseok, Yoongi, Namjoon dan Jin.


Mereka adalah teman dekat, mereka berbicara sementara aku duduk di salah satu sudut meja, menyantap makananku dalam diam


Tiba-tiba seseorang mengambil makananku dan aku mendongak, menyadari Taehyung duduk di depanku.


"Hey.... Kimchiku," kataku dan mendesis.


"Aku menolongmu menemukan tempat persembunyian jadi aku punya hak dengan separuh bagianmu juga." la membual.


"Wah, kalian berdua samgat pandai bersembunyi, aku tidak bisa menemukan kalian," kata Jimin dan mengisi mulutnya dengan sesendok penuh nasi.


"Jiminnie pabo," kata Taehyung, "Aku tadi di awal di gudang."


Jimin nyaris tersedak makanannya. "Huh? Sepanjang waktu? Tapi aku tidak melihatmu?"


"Aku di belakang kardus-kardus, bodoh," kata Taehyung dan perlahan tertawa.


Jimin menepuk keningnya dan aku perlahan tertawa.


...***...


Malam tiba dan ada acara api unggun sebelum kami kembali besok pagi. Kami semua berkumpul di parade square dan duduk mengelilingi api unggun yang sudah disiapkan. "Kalian siap?" Salah satu pelatih berteriak dan semua orang bersemangat.


Semuanya menghitung mundur dari tiga dan api unggun dinyalakan. Semuanya bersorak dan musik di mainkan. Kami semua menyanyikan lagu api unggun dan bermain beberapa permainan. Kami juga menonton pertujukkan dari kelas lain.


Sekarang sudah pukul sembilan malam tapi semua orang masih menari dan melompat di sekitar api unggun mendengar musik elektro yang diputar keras lewat speaker, bahkan guru pun turut andil.


Aku tidak dalam mood yang baik untuk bermain dan aku merasa sedikit pusing. Aku memutuskan untuk menjauh dari keramaian dan menghilang, pergi ke taman. Sejujurnya, ini bukan benar-benar taman. Ini lebih seperti hutan kecil karena hanya ada pohon tinggi di sini.


Aku berjalan perlahan ke dalam taman dan duduk di bawah pohon, menghela napas. Suara musik masih terdengar.


Aku hanya ingin cepat pulang. Aku merindukan tempat tidurku. Tapi aku tetap tidak ingin bertemu ibuku. Aku masih membencinya. Aku penasaran apa yang sedang nenekku lakukan.


Pikiran-pikiranku terganggu ketika aku mendengar suara gemerisik dari suatu tempat di dekatku, meskipun di sini tidak ada angin. Aku berbalik untuk melihat jika ada seeorang di sekitar sini namun suasana terlalu gelap. Aku jadi sedikit takut.


Aku memutuskan untuk mengabaikannya dan kembali merasa bingung.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Seseorang dengan suara yang dalam, dan manly.


Aku berbalik utuk melihat siapa itu. Aku bisa melihat seseorang yang familiar, dengan sedikit bantuan cahaya bulan.


Itu adalah Taehyung.

__ADS_1


la melangkah menghampiriku dan duduk di sebelahku, bahu kami bersentuhan.


Aku menatapnya, bingung. Apa ia benar-benar Taehyung? Atau ia hantu? Aku menggosok mataku dan kembali menatapnya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanyanya.


"Tidak, kenapa kau di sini?" tanyaku dan melihat ke arah lain.


"Aku tidak tahu. Aku hanya merasa tidak senang," katanya, "Kenapa kau tidak ke sana dan berpesta juga? Seojun mungkin khawatir karena kau tidak ada di sana."


Aku memutar bola mataku. "Tidak masalah soal Seojun. Aku lelah dengannya."


"Kau lelah dengannya? Serius?" tanya Taehyung, perlahan tersenyum, "Kalian putus?"


"Mungkin saja," jawabku.


Aku menatapnya sebelum ia memberiku senyum perseginya yang sudah lama tidak pernah kulihat.


Aku tertawa kecil. "Kenapa kau tersenyum seperti itu?"


la masih tersenyum. "Bukan apa-apa. aku hanya tidak suka Seojun denganmu. Jadi sangat sulit untuk mengganggumu," katanya.


Aku menyikutnya dan ia terkikik.


"Mau ke sana dan berdansa dengan yang lain?" tanyaku dan akan berdiri ketika Taehyung menarik tanganku, membuatku kembali duduk.


Aku mengangguk. Kami berbicara sampai api unggun dipadamkan dan semua orang pergi mandi sebelum tidur.


...***...


Aku keluar dari kamar mandi, merasa segar setelah keramas dan mengeringkan rambutku dengan handuk ketika tiba-tiba Seojun mendekatiku.


"Hyejin? Kau di mana? Aku ingin berdansa denganmu tapi aku tidak bisa menemukanmu," katanya dan memegang bahuku.


"Ah.. Aku sakit perut jadi aku ada di kamar mandi," dustaku. "Maaf Seojun."


la mengangguk, "Oke. Kembalilah dan tidur, selamat malam," katanya dan ingin memelukku sebelum aku mendorongnya.


"Um, Seojun, Ada yang harus aku katakan padamu."


"Apa itu?"


Aku menggigit bibirku, tidak bisa mengatakannya. Aku menatapnya untuk beberapa saat dan menghela nafas. "Bukan apa-apa, aku akan memberitahumu setelah camping berakhir oke?" lataku.


"Tentu saja tuan putri," jawabnya dan mencubit hidungku. Aku perlahan tersenyum dan berjalan menuju lapangan kembali ke tendaku.

__ADS_1


...***...


Keesokan paginya, semua orang bersorak dan amat girang.


"WAKTUNYA PULANG!" Anak laki-laki di kelasku bersorak keras dan semua orang bergegas meninggalkan sekolah, semangat untuk pulang.


Aku tersenyum lebar dan membawa bag pack


milikku, berjalan ke luar sekolah.


Tiba-tiba, seseorang menepuk bahuku. "Hyejin," panggilnya.


"Oh? Seojun, ada apa?" tanyaku.


"Kau bilang semalam ingin memberitahuku sesuatu," kata Seojun. la tersenyum, dan aku merasa sedikit bersalah.


"Uh.. Baiklah." Aku menggigit bibir bawahku. "Ayo bicara di suatu tempat."


Kami tiba di sebuah cafe dan aku menarik napas dalam mencium aroma manis dari kopi yan baru dibuat.


"Sekarang bisa beritahu aku? Aku sangat penasaran dan nyaris mati." katanya, dan aku tertawa palsu.


"Kita bicarakan itu nanti, aku di sini untuk break denganmu." Aku perlahan tersenyum


Kami berbincang untuk sementara dan menghabiskan kopi kami, saat akhirnya aku memutuskan untuk memberitahunya apa yang aku pikirkan.


"Baiklah, Seojun, aku akan memberitahumu sesuatu," kataku, dan ia menatapku penuh antisipasi.


Aku menghela nafas dan lututku bergetar gugup mencoba untuk jujur padanya.


"Ingat apa yang Taehyung katakan padamu? Tentang aku yang memanfaatkanmu dan tidak benar-benar mencitaimu sebagai pacar?" kataku, ia perlahan kehilangan senyumnya. Ia mengangguk.


"...Baiklah. Aku minta maaf soal ini. Aku menemukan sedikit kebenaran. Aku sadar, aku tidak bisa membantu tapi berteman dengan Taehyung mungkin terlihat buruk, tapi sebenarnya ia sangat baik, dan aku tidak bisa benar-benar menghindarinya meskipun ia menyakitiku. Aku tidak mau kau mengaturku lagi soal Taehyung lagi, tapi terima kasih karena sudah melindungiku selama ini...." Aku berbicara banyak dan berhenti saat napasnya berat.


"Aku takut kita harus mengakhiri hubungan kita di sini. Maaf Seojun, aku benar-benar minta maaf," kataku dan menggigit bibirku. "Kita masih berteman 'kan?"


la hanya menatapku, terkejut. Mataku jadi sdikit berair, khawatir dengan perasaannya. "Maaf, aku minta maaf." Aku meminta maaf lagi dan lagi.


Aku perlahan beranjak dari tempatku. membawa bag pacarku, berjalan keluar cafe dan meninggalkannya sendiri.


Aku merasa seperti ada jutaann beban terangkat dari pundakku. Aku akhirnya bernapas tanpa berpikir aku harus menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak aku cintai. Aku merasa lega, meskipun aku sedikit khawatir tentang perasaan Seojun.


Aku menghilangkan semua pikiranku tentang Seojun dan memutuskan untuk pulang, bersantai.


Sedikit tahu kalau pikiranku akan menjadi kacau, sekali lagi.

__ADS_1


...***...


__ADS_2